Wahai Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Semua bid’ah pada agama, hukumnya haram dan sesat. karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

_*“Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan, maka sesungguhnya tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat”* (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)_

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: :

_Artinya: *“Barangsiapa yang mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan perkara dari kami, maka itu adalah tertolak”.* Dan dalam riwayat lain: *“Barangsiapa yang mengamalkan amalan bukan atas perkara kami, maka yang demikian itu tertolak”*._

_Hadits itu menunjukkan bahwa *tiap-tiap sesuatu yang diada-adakan pada agama, maka itu adalah bid’ah dan tiap-tiap bid’ah adalah sesat dan tertolak. Dan makna yang demikian, sesungguhnya bid’ah pada ibadah dan i’tiqad , yang itu semua sudah jelas diharamkannya.* Akan tetapi pengharamannya bertingkat-tingkat, sesuai dengan macam bid’ahnya._

*Baca Artikel Lainnya di FansPage & Tolong bantuan like nya, :* https://mobile.facebook.com/Dakwah-Sunnah-669017623305594

*Pengertian Bid’ah*

*Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang diadakan tanpa ada contoh sebelumnya.*(1) Ini bisa dilihat dalam firman Allah:

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ وَ اِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

_badii’us-samaawaati wal-ardh, wa izaa qodhooo amron fa innamaa yaquulu lahuu kun fa yakuun_

_*”(Allah) Pencipta langit dan bumi.* Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 117)_

Maksudnya, *Allah yang menciptakan langit dan bumi, tanpa didahului suatu contoh apapun.*

_*Bid’ah menurut syara’, sebagaimana penjelasan Ibnu Taimiyah Rahimahullah: Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi atau menyimpang dari Al-Qur’an atau As-Sunnah dan ijma’ salaful ummah, baik i’tiqadat (sesuatu yang harus diyakini) maupun ibadah (sesuatu yang harus diamalkan).*(2)_

_*Imam Syatibi* dalam kitab “Al-I’tisham” menjelaskan bahwa *bid’ah adalah mengadakan cara agama yang dibikin-bikin, yang diadakan (oleh manusia), yang menyerupai syariah.* Dan yang dimaksud dengan perilaku tersebut adalah berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah Ta’ala.(3)_

_*Bid’ah itu ada dua: menyangkut keduniaan dan menyangkut agama. Bid’ah (penciptaan) yang mengenai keduniaan itu boleh, selama tidak bertentangan dengan Islam.* Misalnya mengadakan pembangunan, menciptakan teknologi baru dsb._

_Adapun bid’ah yang menyangkut agama itu haram, tidak dibolehkan.* Karena, *agama itu harus berdasarkan wahyu dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Manusia tidak berhak membuat syari’at (peraturan agama). Itu hanya hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala.* Maka membuat bid’ah dalam agama itu melanggar hak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:_

_“Wa iyyaakum wa muhdatsaatil umuuri fainna kulla muhdatsatin bid’atun wa kulla bid’atin dholaalah.”_

_*“Dan jauhilah olehmu hal-hal (ciptaan) yang baru (dalam agama). Maka sesungguhnya setiap hal (ciptaan) baru (dalam agama) itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”* (HR Abu daud dan At-Tirmidzi, dia berkata Hadits hasan shahih)._

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

_Artinya: *“Barangsiapa mengada-adakan pada perkara kami ini, sesuatu yang bukan darinya, maka itu adalah tertolak”* (HR Bukhari dan Muslim)._

Dan pada riwayat lain:

_Artinya: *“Barangsiapa melakukan amalan, bukan atas perintah kami, maka amalan itu tertolak”* (HR Muslim).(4)_

*Macam-macam Bid’ah-

_Bid’ah dalam agama ada dua macam, yaitu: Pertama, Bid’ah Qauliyah I’tiqadiyah (Bid’ah ucapan atau perkataan yang bersifat keyakinan), seperti perkataan-perkataan Jahmiyah dan Mu’tazilah dan Rafidhah dan seluruh kelompok yang sesat aqidahnya.(5) Dan kedua, Bid’ah pada ibada-ibadah seperti beribadah karena Allah dengan cara-cara yang tidak disyariatkan.(5)_

_Dan macam-macam bid’ah pada ibadah yang bersifat amalan, ada beberapa macam, yaitu:_

_*Pertama, Bid’ah berupa ibadah yang tidak pernah ada asalnya dalam Islam, yaitu membuat-buat atau mengada-adakan amalan ibadah yang tidak ada dasarnya pada syara’.* Seperti *mengada-adakan shalat bikinan yang memang tidak disyariatkan, atau puasa bikinan yang memang tidak ada tuntunannya, atau hari raya (A’yad) yang memang tidak dituntunkan /tidak disyariatkan.* Misalnya, mengadakan *perayaan maulid dan yang semacamnya.*_

_*Kedua, Bid’ah berupa menambahkan sesuatu atas ibadah yang sudah ada asalnya dalam syari’at Islam.* Misalnya, *menambah raka’at jadi lima pada shalat Dhuhur atau pada shalat Ashar.*_

_*Ketiga, Bid’ah berupa mengerjakan ibadah yang telah disyari’atkan tetapi dengan cara yang tidak ada dasarnya dari syari’at Islam.* Misalnya melakukan *dzikir-dzikir yang disyariatkan tetapi dengan dibikin cara: bersama-sama dan disertai rebana, dan dibikin cara: dengan suara yang keras.* Dan misalnya pula, *memaksakan diri dalam beribadah , sampai keluar dari batas sunnah* Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ._

_*Keempat, Bid’ah berupa mengkhususkan waktu-waktu tertentu untuk mengerjakan ibadah yang disyari’atkan, padahal tidak ada pengkhususan dari syari’at Islam.* Misalnya *mengkhususkan hari dan malam nshfu Sya’ban dengan puasa dan shalat malam.* Padahal 3shiyam dan qiyam disyariatkan tetapi mengkhususkan pada waktu-waktu tertentu, diperlukan dalil.(5)_

*Baca Sambungn di halaman 2…..*