*Sirah Nabi 10 – Nasab Nabi Muhammad

Alhamdulillah…

*Ustadz Firanda Andirja, MA.*

*Siroh nabawiyah 10 16 MB*

Siroh Nabawiyah 13 mp3

*Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah manusia termulia yang memiliki nasab yang mulia.* Nasab beliau adalah sebagai berikut:

مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيِّ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ بْنِ كَعبِ بْنِ لؤَيِّ بْنِ غالِبِ بْنِ فِهْرِ بْنِ مَالِكِ بْنِ النَّضْرِ بْنِ كِنَانَةَ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ مُدْرِكَةَ بْنِ إِلْيَاسَ بْنِ مُضَرَ بْنِ نِزَارِ بْنِ مَعَدِّ بْنِ عَدْنَانَ

_*Muhammad bin ‘Abdillāh bin ‘Abdil Muththalib bin Hāsyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ghālib bin Fihr bin Nadhar bin Kinānah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyās bin Mudhar bin Nizār bin Ma’ad bin Adnān.* (Shahih Al-Bukhari 5/45)_

*Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa Qushay bin Kilab adalah kakek dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang mengumpulkan orang-orang Quraisy yang tercerai berai untuk merebut kekuasaan Ka’bah yang sebelumnya dikuasai oleh Bani Khuzā’ah.*

_*Para ulama telah ijmak (sepakat) tentang nasab Nabi hingga Adnān.* Adapun dari Adnān sampai ke Ismā’īl ‘alayhissalām maka terdapat khilaf di kalangan para ulama. Selain itu tidak ada hadits shahīh yang menjelaskan tentang hal ini._

Ada yang berpendapat bahwa dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām ada 40 bapak atau kakek.

_Ada yang mengatakan bahwa jumlah kakek Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām adalah 7 atau 9 atau 10._

Pada intinya tidak ada kesepakatan di antara para ulama mengenai nasab beliau dari Adnān sampai Ismā’īl ‘alayhissalām. Adapun dari Ismā’īl ‘alayhissalām bin Ibrāhīm ‘alayhissalām sampai ke Ādam ‘alayhissalām lebih tidak pasti lagi. Sedangkan yang dipastikan oleh para ulama yaitu dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sampa Adnān.

Di dalam hadits Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda :

إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى بَنِي هَاشِمٍ مِنْ قُرَيْشٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِم

_*”Sesungguhnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah memilih Bani Kinānah dari anak-anak Ismā’īl ‘alayhissalām dan dari keturunan Kinānah Allāh memilih suku Quraisy dan Allāh memilih dari suku Quraisy Bani Hāsyim dan Allāh memilih aku dari Bani Hāsyim.”* (HR Muslim no 2276)_

Hadits di atas menunjukkan betapa mulianya nasab Rasūlullāh ﷺ dimana beliau terlahir dari jalur nasab yang kesemuanya merupakan manusia terpilih.

_*Diantara kakek-kakek Nabi yang terkenal selain Qushay bin Kilab adalah ‘Abdul Muththalib.* Dia semakin terkenal kedudukannya di kalangan orang-orang Arab karena dia bertemu langsung dengan Abrahah ketika meminta kembali 200 ekor untanya. Dan semakin terpandang ketika dia menemukan sumur zamzam._

*Sumur zamzam muncul di zaman Nabi Ismā’īl ‘alayhissalām (sebagaimana telah dijelaskan di bab yang telah lalu).* Kemudian sumur zamzam itu sempat menghilang selama beberapa abad sebagaimana dijelaskan oleh para ulama, *disebabkan oleh kemaksiatan yang mereka lakukan di Mekkah.* Sehingga lama kelamaan, sumur zamzam kehilangan air dan dilupakan dimana posisinya.

_Tatkala Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam akan dilahirkan, *maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla ingin mengembalikan zamzam tersebut yang tadinya surut dan tertutup agar keluar lagi airnya.* Dan *orang yang menemukan air zamzam tersebut adalah kakek Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri yaitu ‘Abdul Muththalib.*_

Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibnu Ishāq dalam sirahnya dengan tashrih bissamā’ (penegasan mendengarnya), dan beliau (Ibnu Ishaq) adalah seorang yang shadūq. *Menurut penilaian para ulama jarh wa ta’dil, apabila Ibnu Ishāq mengatakan “haddatsanii” (telah menyampaikan kepadaku) atau “sami’tu” (aku telah mendengar) maka sanadnya menjadi hasan.* Adapun *jika dia mengatakan “‘an” (dari) maka sanadnya lemah* karena dia seorang mudallis. Di dalam riwayat ini, beliau menyampaikan secara tashrih bit tahdīts, dengan mengatakan “haddatsanii Yazīd bin Abī Habīb Al-Mishriy” hingga menyebutkan sanadnya kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu. Riwayat ini berasal dari kisah ‘Ali bin Abi Thālib yang mana beliau adalah putra dari Abū Thālib, sedangkan Abū Thālib adalah putra ‘Abdul Muththalib. Sehingga ‘Ali bin Abi Thālib menceritakan tentang kisah kakeknya. Riwayat ini bukanlah hadits tapi sekedar cerita tentang kisah kakeknya yaitu ‘Abdul Muththalib. Karena ‘Ali bin Abi Thālib sepupunya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Berikut ini kisahnya sebagaimana disebutkan dalam Sirah Ibnu Ishāq, ‘Abdul Muththalib bercerita:


_*”Suatu hari aku tidur di Hijr Ismā’il (dekat Ka’bah),* kemudian ada yang mengatakan kepadaku *’Gali-lah thayyibah.‘* Aku bertanya: *’Apa itu thayyibah?’* namun dia malah pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tersebut. Kemudian suara itu datang kembali dan mengatakan *’Galilah barrah’,* maka aku berkata *’Apa itu barrah?’* Dia pun pergi tidak menjelaskan. Besoknya aku tidur lagi, lalu datang lagi suara itu, dan berkata *‘galilah al-madhnunah’,* maka aku berkata, *”Apa itu al-madhnuunah?”,* lalu ia pun pergi. Keesokan harinya aku kembali tidur di tempat tidurku, kemudian ia kembali berkata *’Galilah zamzam’,* maka aku bertanya *’Apa itu zamzam?’* Lalu ia berkata, *“Zamzam adalah air yang tidak akan surut, dengan air tersebut kau akan memberi minum para jama’ah haji.”* Kemudian *disebutkan posisinya, yaitu di tempat sarang semut.*_

Bersambung ke halaman 2………