*AJARAN-AJARAN MADZHAB SYAFI’I yang DILANGGAR oleh SEBAGIAN PENGIKUTNYA 11 – DZIKIR SENDIRI-SENDIRI setelah SHOLAT BERJAMA’AH dengan tidak MENGERASKAN SUARA*

Alhamdulillah…

_Wahai Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,.Merupakan perkara yang *sering kita dapati di masjid-masjid orang-orang yang mengaku bermadzhab syafi’iyyah adalah berdzikir dengan keras, baik sebelum adzan, atau sesudah adzan sambil menunggu ditegakan sholat,*demikian juga *dzikir dan do’a berjama’ah setelah sholat fardu dengan suara yang keras*._

_Tentunya hal ini –terutama dzikir yang keras setelah adzan sambil menunggu sholat- *sangatlah mengganggu orang-orang yang mungkin sedang sholat sunnah, atau sedang membaca Al-Qur’an atau sedang berdoa atau sedang berdzikir sendiri*._

_Demikian juga kita sering melihat *pengingkaran yang muncul dari para jama’ah sholat tersebut tatkala ada seseorang yang berdzikir sendiri dengan suara yang pelan…,* seakan-akan *orang tersebut telah menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam..???,* bahkan seakan-akan *orang tersebut telah melakukan bid’ah* dengan membawa ajaran baru *karena menyelisihi jama’ah sholat yang berdzikir dengan keras tersebut*!!!._

_Lantas bagaiamanakah *petunjuk Al-Imam Asy-Syafi’i dalam berdzikir dan berdoa setelah sholat fardlu?* Apakah dengan dikeraskan dan dikerjakan secara berjama’ah??!_

*Yang sunnah secara asal adalah berdzikir dan berdoa dengan sir (perlahan) dan bukan dengan dikeraskan, Membaca (termasuk membaca dzikir dan doa) dengan keras jika mengganggu orang yang sedang sholat atau sedang tidur bisa hukumnya makruh atau haram jika gangguannya parah, Yang sunnah adalah sang imam setelah salam adalah balik menghadap para makmum Yang sunnah asalnya adalah sang imam setelah sholat berdzikir dan berdoa dengan suara yang pelan (sir) dan tidak dikeraskan.*

*Ceramah Ustadz Riyadh Badr Bajrey Lc*
*Dzikir Berjama’ah Dizaman Sahabat*

Dzikir Berjmaah di Zaman Sahabat

Kajian Fikih Doa dan Dzikir: Berdzikir Berjamaah -Abdullah Zaen https://m.youtube.com/watch?v=R0mBpnBFXwY

Berdzikir Berjamaah

Pengajian Hukum Dzikir Berjamaah – Dr. MuhammadArifin Badri https://m.youtube.com/watch?v=_95mpsWyw8A

Hukum Dzikir Berjmaah

Awal mula Dzikir Bersama, Dzikir Berjamaah, Dzikir Bareng adalah Khawarij. Muhtarom

Awal Mula Dzikir Berjmaah

Bidahkah.dzikir.berjamaah-Ustadz Yazid.Jawas

Bid’ahkah Dzikir Berjama’ah?

Apakah Boleh.Dzikir Berjammaah-Ustadz Abdul Hakim Amir Abda

Apakah Boleh Dzikir Berjmaah?

*Al-Imam Asy-Syafi’i* rahimahullah berkata :

_*Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar bacaan-bacaan dzikir tersebut, maka ketika itu dzikir dikeraskanlah, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (bacaan-bacaan dzikir tersebut-pen), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya.* Karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا

*”Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya”* (QS Al-Isroo’ : 110) (Al-Umm 2/288).

_Yaitu –wallahu A’lam- tatkala berdoa, *”Dan janganlah engkau keraskan suaramu” yaitu “Jangan kau angkat suaramu”, dan “Janganlah engkau merendahkannya” sehingga engkau sendiri tidak mendengar”*_

Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi terdengar suara dzikirnya maka Imam Syafi’i menjelaskan seperti berikut:=

_*Menurutku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang bisa belajar dari beliau.* Kerana kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadang-kala riwayat menyebut Nabi berdzikir selepas solat seperti yang aku nyatakan, kadang-kala disebut bahwa Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras). Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan dzikir yang tidak dikeraskan/dijaharkan._

_Jika seseorang berkata: *“Seperti apa?”- (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan apa yang lain?-pen). *Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersolat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah solat di atas mimbar pada kebanyakan usia beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau, dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam sholat), rukuk dan bangun (dari rukuk).* Beliau ingin mengajarkan mereka keluasan dalam itu semua_

_*Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar hingga perginya jama’ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum boleh pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia tunda/akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu lebih aku sukai untuknya. “*_ (Al-Umm 2/288-289)

_Perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah di atas juga dinukil oleh Al-Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab (3/468-469), setelah itu Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :_

_”Al-Baihaqi dan yang lainnya berhujjah untuk tafsiran (yang disebutkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’i-pen) dengan hadits Aisyah semoga Allah meridhoinya, beliau berkata tentang firman Allah_

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا

*”Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya”* (QS Al-Isroo’ : 110)

_”Ayat ini turun tentang perihal berdo’a”, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Lanjut di Halaman 2