BIOGRAFI AL-IMAM ASY-SYAFI’I RAHIMAHULLAH & KEISTIMEWAANNYA BAGIAN-1


Alhamdulilah

*_Wahai Kaum Muslimin yang Dirahmati Oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, beliaulah pendiri dan pemrakasa madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab yangbanyak&tersebar di negara-negara Asia tenggara_*

*5 keistimewaan yang dimiliki Beliau adalah* *PERTAMA : Al-Imam Asy-Syafi’i adalah imam dalam lugoh (bahasa).*

*KEDUA : Sya’ir-sya’ir beliau yang istimewa*

*KETIGA : Tegar Di Atas Sunnah dan Memerangi Bid’ah*

*KEEMPAT : Kharismatik Al-Imam Asy-Syafi’i*

*KELIMA : Inovasi Spektakuler*

*Ceramah Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat-Riwayat Hidup Imam Syafii*

*Riwayat Hidup Imam Syafii Pembela Sunnah(1) 16MB*

Riwayat Hidup Imam Syafii Pembela Sunnah(1)

*Riwayat Hidup Imam Syafii Pembela Sunnah(2)*

Riwayat Hidup Imam Syafii Pembela Sunnah(2)

_Sesungguhnya diantara *tanda Allah menghendaki kebaikan bagi hambaNya adalah Allah menjadikannya cinta dengan ilmu.*Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :_

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

*_”Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan menjadikannya faqih/faham tentang agama”_ (HR Al-Bukhari)

_Dan diantara keagungan agama ini Allah telah menjadikan *adanya para imam yang memikul ilmu agama, yang menjelaskan kepada umat tentang urusan agama. Merekalah cahaya yang menerangi jalan menuju kebaikan…merekalah yang sangat dibutuhkan oleh orang yang menghadapi kebingungan dalam urusan agama mereka…, merekalah penyejuk hati bagi orang yang menghadapi problematika kehidupan dan berusaha mencari solusi agamis…, merekalah para pejuang yang memerangi jalan-jalan kesesatan yang selalu siap menyimpangkan umat ini…, merekalah yang Allah perintahkan umat agar bertanya kepada mereka *dalam firmanNya :_

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

*_”Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan/ilmu jika kamu tidak mengetahui”_* (QS An-Nahl : 43)

_Banyak para imam umat ini yang kita banggakan, akan tetapi diantara mereka *ada 4 imam yang tersohor, yaitu para pendiri 4 madzhab. Mereka itu adalah Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik bin Anas, Al-Imam Asy-Syaf’i dan Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumullah.*_

_Meskipun ada madzhab-madzhab fikih yang lain akan tetapi keempat madzhab inilah yang diterima secara luas dalam dunia Islam hingga saat ini. Bahkan sebagian negeri dikenal dengan madzhab tertentu. *Madzhab Syafi’i banyak tersebar di negara-negara Asia tenggara, madzhab Maliki banyak tersebar di negeri-negeri Afrika, madzhab Hanafi banyak tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dan juga di China, adapun madzhab Hanbali banyak tersebar di negeri-negeri Arab, khususnya Arab Saudi*._

          _Diantara keempat imam tersebut yang sangat cemerlang adalah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah, beliaulah pendiri dan pemrakasa madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi pertiwi nusantara ini._

_Nama lengkap beliau adalah *Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin As-Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthollib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Muthollib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthholib kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi’ bin As-Saaib penisbatan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah* (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 10/5-6 dan Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 2/71-72)^

_Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Mekah akan tetapi *beliau tidak lahir di Mekah, karena ayah beliau Idris merantau di Palestina. Sehingga beliau dilahirkan di Ghozza (Palestina) dan ada yang mengatakan bahwa beliau lahir di ‘Asqolan pada tahun 150 Hijriah, tahun dimana wafatnya Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsaabit Al-Kuufi rahimahullah, bahkan ada pendapat yang menyatakan di hari wafatnya Al-Imam Abu Hanifah*._

_Ayah beliau Idris meninggal dalam keadaan masih muda, hingga akhirnya *Imam Asy-Syafi’i dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yatim. Karena khawatir terhadap anaknya maka sang ibu membawa beliau –yang masih berumur 2 tahun- ke kampung halaman aslinya yaitu Mekah, sehingga beliau tumbuh berkembang di Mekah dalam kondisi yatim. Beliau menghafal Al-Qur’an  tatkala berusia 7 tahun, dan menghafal kitab Al-Muwattho’ karya Imam Malik tatkala umur beliau 10 tahun.* Ini menunjukkan betapa cerdasnya Al-Imam Asy-Syafi’i._

_Beliaupun belajar dari para ulama Mekah, diantaranya *Muslim bin Kholid Az-Zanji Al-Makky yang telah memberi ijazah kepada Al-Imam Asy-Syafi’i untuk boleh berfatwa padahal umur beliau masih 15 tahun. Lalu setelah itu beliau bersafar ke Madinah dan berguru bertahun-tahun kepada Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah*._

_Pada tahun 195 H beliau *pergi ke Baghdad, dan beliau mengajar di sana sehingga banyak ulama yang berputar haluan dari madzhab ahli ro’yu menuju madzhab Syafi’i. di Baghdad beliau banyak menulis buku-buku lama beliau, setelah itu beliaupun kembali ke Mekah. Pada tahun 198 beliau kembali lagi ke Baghdad dan menetap di sana selama sebulan lalu beliau pergi ke Mesir dan menetap di sana meneruskan dakwah beliau hingga akhirnya beliau sakit bawasir yang menyebabkan beliau meninggal dunia pada tahu 204 Hijriyah,* rahimahullah rahmatan waasi’ah._

 

_Imam Syafi’i adalah seorang sosok yang memiliki banyak keistimewaan, diantaranya :_

*PERTAMA : Al-Imam Asy-Syafi’i adalah imam dalam lugoh (bahasa).* Beliau telah banyak tinggal bersama Qobilah Hudzal dan menghafalkan banyak qoshidah (bait-bait sya’ir) mereka, sehingga hal ini sangat mempengaruhi kekuatan bahasa Arab beliau. Karenanya tidak pernah ditemukan kesalahan bahasa dari beliau sebagaimana ditemukan dari para ulama yang lain. Ibnu Hisyaam (penulis siroh Nabi) berkata الشَّافِعِيُّ حُجَّةٌ فِي اللُّغَةِ  “Asy-Syafi’i hujjah dalam bahasa Arab” (Al-Waafi bil Wafaayaat 19/143).

Adapun kritikan terhadap Al-Imam Asy-Syafi’i dalam masalah bahasa maka tidak mematahkan keimaman beliau dalam bahasa Arab. Diantara kritikan tersebut :

–         _Beliau dikritik karena menyatakan *bahwa huruf jar baa’ (الباء) memberikan faedah التَّبْعِيْض “sebagian/parsial”. Karenanya beliau menyatakan bolehnya mengusap sebagian kepala tatkala berwudu karena Allah berfirman (وَامْسَحُوا بِـرُؤُوْسِكُمْ). Maka beliaupun diingkari oleh sebagian ulama, mereka menyatakan bahwa huruf baa’ tidak mengandung makna “parsial”, dan ini tidak dikenal dalam bahasa Arab, dan tidak ada ahli bahasa yang menyebutkan bahwa diantara makna-makna yang dikandung huruf baa’ adalah untuk parsial. Akan tetapi kenyataannya ternyata banyak ahli bahasa yang menetapkan makna ini (huruf baa’ memberi makna faedah parsial) diantaranya adalah Al-Ashma’i dan ulama Kufiyiin* (lihat Al-Bahr Al-Muhiith fi Ushuul Al-Fiqh li Az-Zarkasyi 2/15-16)._

_Ternyata juga setelah diamati ada bukti yang tegas bahwasanya Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan bahwa huruf baa’ memberi faedah “parsial”. Dan penisbatan hal ini kepada Al-Imam Asy-Syafi’i merupakan kekeliruan sebagaimana dijelaskan oleh Az-Zarkasy (Al-Bahrul Al-Muhiith (2/15). Bahkan jika kita kembali kepada kitab Al-Umm kita akan dapati bahwasanya Asy-Syafi’i berkata :_

وَدَلَّتْ السُّنَّةُ على أَنْ ليس على الْمَرْءِ مَسْحُ الرَّأْسِ كُلِّهِ وإذا دَلَّتْ السُّنَّةُ على ذلك فَمَعْنَى الْآيَةِ أَنَّ مَن مَسَحَ شيئا من رَأْسِهِ أَجْزَأَهُ

*_”Sunnah menunjukkan bahwasanya tidak wajib bagi seseorang untuk mengusap seluruh kepalanya, dan jika sunnah telah menunjukkan demikian maka makna ayat adalah barang siapa yang mengusap sesuatupun dari kepalanya maka sudah cukup/sah)_* (lihat Al-Umm 1/26)

-Yang dimaksud dengan sunnah oleh Al-Imam Asy-Syafi’i di sini adalah hadits tentang Nabi yang berwudu dengan mengusap ubun-ubun beliau saja tatkala beliau memakai sorban.-

–         -Beliau dikritik karena menafsirkan kata “الْعَوْلُ” dalam firman Allah-

ذَلِكَ أَدْنَى أَلا تَعُولُوا (٣)

*”Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”* (QS An-Nisaa :3).

*Beliau tafsirkan dengan “كَثْرَةُ الْعِيَالِ” (banyaknya anak).*

_Tafsiran Asy-Syafi’i ini *diingkari dengan keras oleh Ibnul ‘Arobi yang bermadzhab Maliki, dan menyatakan bahwa tidak ada ahli bahasa yang berpendapat dengan pendapat Asy-Syafi’i (lihat Ahkaamul Qur’an li Ibnil ‘Arobi 1/411). Akan tetapi perkataan Ibnul ‘Arobi ini telah dibantah oleh para ulama. Makna tersebut ternyata telah disebutkan oleh Al-Kisaai dan Al-Farroo’ (lihat Al-Haawi fi Fiqh Asy-Syaafi’i 11/415 dan Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzab 16/125). Bahkan Al-Qurthubi yang juga bermadzhab Malikiyah telah membantah perkataan Ibnul ‘Arobi dengan menjelaskan bahwa tafsiran Asy-Syafi’i bukanlah tafsiran yang baru, telah mendahului beliau dua imam besar yaitu Zaid bin Aslam dan Jaabir bin Zaid* (lihat Tafsiir Al-Qurthubi 5/21-22)_ Lanjut di halaman 2