*Membentengi Aqidah Dari Aneka Serangan bag-2*

Alhamdulillah…

_Wahai Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Di samping yang demikian itu *Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sungguh bersemangat selama hidupnya sebagai Rasul untuk mengabadikan dua pokok tauhid itu: Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah. Agar keduanya tetap bersih lagi jernih, maka beliau sama sekali tidak membolehkkan pengotoran dua pokok tauhid ini., walaupun terhadap orang yang paling dicintai dan paling terkesan baginya.*_

_Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali *tidak membolehkan pengotoran pokok yang paling pokok dalam Islam, yaitu tauhidullah (mengesakan Allah) Subhanahu Wa Ta’ala dan mengatakan atas nama Allah tanpa ilmu, dan mencari petunjuk (hidayah) kepada selain (Kitab)Nya  Subhanahu Wa Ta’ala , dan (Sunnah) RasulNya shalallahu ‘alaihi wa sallam*_

_*Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa agama yang suci murni, tidak dikaburkan oleh pembuat kekaburan berupa perubahan, penggantian, atau penyelewengan.*- Bahwa *Nabi Musa as sendiri yang dituruni Kitab Taurat seandainya dia masih hidup pasti dia wajib mengikuti Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam* , dan *meninggalkan syari’at yang telah dia sampaikan kepada manusia*._

_*Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menutup pintu perdukunan, peramalan, dan pengaku-ngaku berilmu gaib. Dan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa orang yang mengaku-ngaku demikian itu kafir. Dan orang yang membenarkan peramal atau dukun maka sungguh ia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan atas Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam*_

_*kepercayaan dan keimanan terhadap yang ghaib itu sumbernya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak boleh sama sekali seorang Muslim mengambil jalan lain untuk perkara yang ghaib. Dan barangsiapa mengerjakan yang demikian itu (mengambil jalan selain jalan Allah) maka sungguh ia telah keluar dari iman kepada Allah Ta’ala*._

*Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA.*

*Ceramah agama Tentang Tauhid Bagian 2*

*download audio.mp3 16MB*

Tauhid Bagian 02

*Bukti kegigihan Rasul dalam menjaga Tauhid*

*5 Bukti-Buktinya;*

    _*a. Beliau pada suatu hari melihat di tangan Umar bin Khathab radhiallahu’anhu ada selembar kertas (waraqah) dari Taurat*, dan *Umar telah mengagumi apa yang ada di dalamnya,* maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam *marah dengan kemarahan yang keras,* dan beliau berkata:_

_*“Apa (apaan) ini! Sedangkan aku ada di belakang kalian. Sungguh telah aku bawakan dia (pengganti Taurat) dengan keadaan putih lagi suci… Demi Allah seandainya Musa  hidup (sekarang ini) pasti dia tidak ada kelonggarannya kecuali dia harus mengikutiku.”* (Sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/387, dan Al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman, dan Ad-Darimi 1/115-116 dengan lebih sempurna. Hadits ini menurut Abdur Rahman Abdul Khaliq yang menulis makalah ini, berderajat Hasan, karena punya banyak jalan menurut Al-Lalkai dan Al-Harwi dan lainnya)._

Dalam Hadits itu terdapat pengertian sebagai berikut:

_*Pertama: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam heran adanya orang yang mulai mencari petunjuk kepada selain Al-Quran dan As-Sunnah sedangkan beliau masih hidup.* Termasuk tuntutan iman kepada Al-Quran dan As-Sunnah adalah *meyakini bahwa petunjuk itu adanya hanyalah pada keduanya (Al-Quran dan As-Sunnah) itu.*

   _*Kedua: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah membawa agama yang suci murni, tidak dikaburkan oleh pembuat kekaburan berupa perubahan, penggantian, atau penyelewengan.*Sedang para sahabat *menerima agama Islam itu dengan wungkul (utuh) dan murni.* Maka bagaimana *mereka akan berpaling darinya dan mencari petunjuk kepada hal-hal yang menyerupai penyelewengan, penggantian, dan penambahan serta pengurangan*.

   _*Ketiga: Bahwa Nabi Musa as sendiri yang dituruni Kitab Taurat seandainya dia masih hidup pasti dia wajib mengikuti Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam , dan meninggalkan syari’at yang telah dia sampaikan kepada manusia.*

   _Hadits ini adalah pokok mengenai penjelasan manhaj (pola) Al-Quran dan As-Sunnah. *Tidak boleh seorangpun mencari petunjuk -untuk mengetahui bagaimana cara mendekatkan diri pada Allah dan memperbaiki diri- kepada ajaran yang tidak dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, hatta walaupun dulunya termasuk syari’at yang diturunkan atas salah satu nabi yang dahulu.*_

_*b. Dalil yang kedua bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mendengar khathib yang berkhutbah di hadapan beliau,* di antaranya ia berkata: *“ Barangsiapa taat pada Allah dan rasulNya maka sungguh ia telah mendaopat ppetunjuk, dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya  (waman ya’shihimaa)  maka sungguh dia telah sesat.”* Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya:_

_*“Seburuk-buruk khathib kaum adalah kamu.* Katakanlah: *”Barangsiapa bermaksiat pada Allah dan rasulNya maka sungguh dia telah sesat.”* (HR Muslim 6/159-di Syarah An-Nawawi, dan Ahmad 4/256 dan 379)._

_Khatib ini *telah memotong lafal “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ” (tidak diucapkan tetapi diganti dengan dhamir/ kata ganti dan digandengkan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala ).* Maka beliau *mencelanya di depan orang banyak, karena khatib itu mengumpulkan antara Allah dan rasulNya* dalam satu kata ganti *“waman ya’shihimaa”* lalu Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam *menyuruhnya untuk mengulangi penyebutan nama yang jelas bagi Allah dan bagi rasulNya, sehingga tidak akan dikira walau dari jauh bahwa kedudukan Rasul seperti kedudukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala .* Semangat Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam ” ini adalah dalil atas *wajibnya menjaga ketauhidan Allah Ta’ala dengan penjagaan yang sempurna, dan kewajiban membedakan dengan sempurna antara hal yang wajib untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan   yang wajib untuk RasulNya shalallahu ‘alaihi wa sallam* ._

   

*c. Dalil ketiga*:* Bahwa seorang lelaki datang kepada Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

    _*“Apa yang Allah kehendaki dan engkau kehendaki.”* Maka Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:_

     _*“Apakah kamu menjadikan aku sebagai tandingan bagi Allah? Katakanlah: “Apa yang Allah kehendaki sendiri.”*(HR Ahmad 1/214,224,283,347, Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad 783 dan selain keduanya.)_

    _Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam *telah menjadikan kehendak itu bagi Allah sendiri, sehingga mengajarkannya kepada mukminin bahwa tiada kemauan seorangpun yang bersama kemauan Allah shalallahu ‘alaihi wa sallam* ._

sumber: Buku Tasawuf Belitan Iblis Karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz Lanjut di halaman 2