Hari Ibu Bagi Semua Muslim Adalah Setiap Hari, Bukan Setahun Sekali
 & Pandangan islam terhadap perayaan Hari Ibu

Alhamdulillah….. 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Aku Adalah Pembantu Ibuku https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Ahmad%20Zainuddin/Aku%20Adalah%20Pembantu%20Ibuku/Aku%20Adalah%20Pembantu%20Ibuku.MP3

Aku Adalah Pembantu Ibuku

Ustadz · Abu Zubeir al-Hawaary · Kasih Ibu Sepanjang Zaman https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Abu%20Zubeir%20al-Hawaary/Kasih%20Ibu%20Sepanjang%20Zaman/Kasih%20Ibu%20Sepanjang%20Zaman.mp3

Kasih Ibu Sepanjang Zaman

Ustadz Ahmad Zainuddin · Wahai Anakku Kasihanilah Ibu Bapakmu https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Ahmad%20Zainuddin/Wahai%20Anakku%20Kasihanilah%20Ibu%20Bapakmu/Wahai%20Anakku%20Kasihanilah%20Ibu%20Bapakmu.mp3

Wahai Anakku, Kasihanilah Ibu Bapakmu

Ustadz Ahmad Zainuddin · Wahai Ibu dan Ayah Tuntun Anakmu KeSurga

Ustadz Ahmad Zainuddin · Wahai Ibu dan Ayah Tuntun Anakmu KeSurga 


Ustadz Abu Zubeir al-Hawaary · Cintailah Orangtuamu 

Jika Tidak Bisa Download, Coba Buka Link Di Tab Baru
Semua perayaan yang tidakk diajarkan oleh syariat agama adalah perayaan-perayaan bid’ah, tidak dikenal pada masa as-Salafush Shalih, dan sangat mungkin awalnya berasal dari selain kaum Muslimin. Maka, selain hal itu merupakan perbuatan bid’ah, juga berarti  menyerupai musuh-musuh Allah.

Perayaan-perayaan Soyar’i itu telah diketahui oleh semua pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha serta hari raya Pekanan, yaitu “hari Jum’at”.
Dalam Islam, tidak ada perayaan-perayaan yang lain selain yang tiga ini, maka semua perayaan baru selainyang tiga itu adalah tertolak kepada yang mengadakannya dan hukumnya batil dalam syariat Allah.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shalallah ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (bagian) darinya maka hal itu tertolak.” (HR. Bukhari Muslim)

Maksudnya adalah ditolak dan tidak diterima di sisi Allah. Dalam lafazh lain disebutkan,

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Syaikh Musthofa Al ‘Adawi, ulama besar dari Mesir pernah ditanya mengenai hukum perayaan hari Ibu. Beliau hafizhohullah menjawab, “Tidak ada dalam syari’at kita peringatan hari Ibu. Namun kita.memang diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua kita. Dan ibu lebih utama untuk kita berbakti. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapakah yang lebih utama bagi kita untuk berbuat baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa.sallam menjawab, ibumu sebanyak tiga kali, lalu bapakmu.” (Youtube: Hukmul Ihtifal bi ‘Iedil Umm )

Agama Islam dan tabiat hati nurani manusia mengajarkan bahwa Ibu memang harus dihormati dan wajib berbakti kepada Ibu mengingat jasa Ibu yang tidak akan bisa terbalaskan. Bahkan kita tidak akan bisa membalas jasa kabaikan Ibu sebagai orang tua kita walaupun kita berbuat baik dengan segala upaya kita.

Diriwayatkan Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung,

ﺇِﻧِّﻲ ﻟَﻬَﺎ ﺑَﻌِﻴْﺮُﻫَﺎ ﺍﻟْﻤُـﺬِﻟَّﻞُ – ﺇِﻥْ ﺃُﺫْﻋِﺮْﺕُﺭِﻛَﺎﺑُﻬَﺎ ﻟَﻢْ ﺃُﺫْﻋَﺮُ

Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh.

Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari.

Orang itu lalu bertanya kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” [1]

Hari Ibu setiap hari 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata,

ﻭﺍﻷﻡ ﺃﺣﻖ ﻣﻦ ﺃﻥ ﻳﺤﺘﻔﻰ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣًﻭﺍﺣﺪًﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ، ﺑﻞ ﺍﻷﻡ ﻟﻬﺎ ﺍﻟﺤﻖ ﻋﻠﻰﺃﻭﻻﺩﻫﺎ ﺃﻥ ﻳﺮﻋﻮﻫﺎ، ﻭﺃﻥ ﻳﻌﺘﻨﻮﺍ ﺑﻬﺎ، ﻭﺃﻥﻳﻘﻮﻣﻮﺍ ﺑﻄﺎﻋﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﺍﻟﻠﻪ -ﻋﺰ ﻭﺟﻞ – ﻓﻲ ﻛﻞ ﺯﻣﺎﻥ ﻭﻣﻜﺎﻥ.

“Seorang ibu lebih berhak untuk senantiasa dihormati sepanjang tahun, daripada hanya satu hari itu saja, bahkan seorang ibu mempunyai hak terhadap anak-anaknya untuk dijaga dan dihormati serta ditaati selama bukan dalam kemaksiatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala, di setiap waktu dan tempat.”