Hukum Beli Barang yang Didiskon Menyambut Hari Raya Orang Kafir & Ijma’ larangan mengucapkan “selamat” pada hari raya non-muslim

Alhamdulillah…

# Hukum Membeli Diskon Natal dan Hari Raya Non-.Muslim

Baca Juga Artikel Tentang “Selamat Natal”

1. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/22/08-siapa-bilang-tidak-ada-larangan-memberi-salam-natal/

2. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/22/08-nasehat-sebelum-mengucapkan-selamat-natal/

3. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/21/06-haramnya-memberi-ucapan-selamat-natal-dan-bolehkah-menghadiri-peringatannya/

4. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/21/05-sejumlah-hujjah-larangan-ikut-perayaan-natal-tahun-baru/

5. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/20/04-ucapan-selamat-natal-ringan-biasa-fatal-masuk-neraka/

6. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/19/03-natal-hari-raya-siapa-haramnya-mengunjungi-natalan-dan-tempat-peribadatan-orang-kafir/

“Maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya”

Perlu diketahui bahwa hukum asal muamalah dengan non-muslim adalah boleh. Sebagaimana dalam hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bermuamalah dengan yahudi di Madinah dan orang kafir Quraisy, baik dalam jual beli, pinjam-meminjam, gadai dan dalam muamalah lainnya.

Ustadz Dzulqarnain Muhammad Sunusi -Hukum Beli Barang yang Didiskon Menyambut Hari Raya Orang Kafir https://m.youtube.com/watch?v=mRK3kDOObz8

Berikur hadits mengenai muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana baju perang beliau masih dalam keadaantergadaikan pada seorang Yahudi ketika beliau meninggal.

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

ﺗُﻮُﻓِّﻰَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻭَﺩِﺭْﻋُﻪُ ﻣَﺮْﻫُﻮﻧَﺔٌ ﻋِﻨْﺪَﻳَﻬُﻮﺩِﻯٍّ ﺑِﺜَﻼَﺛِﻴﻦَ ﺻَﺎﻋًﺎ ﻣِﻦْ ﺷَﻌِﻴﺮٍ

Ketika Rasulullah wafat, baju besi beliau tergadaikan pada orang Yahudi sebagai jaminan untuk 30 sha’ gandum.”[1]

Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa berdasarkan hadits ini bolehnya bermuamalah dengan dengan orang.kafir, beliau berkata

ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺟﻮﺍﺯ ﻣﻌﺎﻣﻠﺔ ﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻴﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﺘﺤﻘﻖ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻋﻴﻦﺍﻟﻤﺘﻌﺎﻣﻞ ﻓﻴﻪ

“Hadits ini merupakan dalil bolehnya bermuamalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.”[2]

Boleh membeli diskon natal dan perayaan non-muslim dengan syarat berikut

Sebagaimana kita ketahui bahwa agama kita melarang ikut serta dalam perayaan agama orang kafir dan tidak boleh mengucapkan selamat kepada mereka walaupun sekedar formalitas karena ini menunjukkan bentuk ridha pada perayaan agama mereka. Silahkan baca tulisan kami berikut: https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/20/04-ucapan-selamat-natal-ringan-biasa-fatal-masuk-neraka/

Muncul pertanyaan, ketika ada perayaan agama mereka, terkadang ada diskon pada beberapa toko dan penjualan produk, apakah muslim boleh membelinya atau tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bolehnya hal ini dengan membawa kisah imam Ahmad yangditanya, apakah boleh datang ke pasar mereka untuk membeli saja dan tidak sampai masuk ke gereja mereka, yaitu ketika ada perayaan agama mereka. Imam Ahmad membolehkan hal ini, kemudian Ibnu Taimiyyah berkata,

ﻓﻤﺎ ﺃﺟﺎﺏ ﺑﻪ ﺃﺣﻤﺪ ﻣﻦ ﺟﻮﺍﺯ ﺷﻬﻮﺩ ﺍﻟﺴﻮﻕ ﻓﻘﻂ ﻟﻠﺸﺮﺍﺀ ﻣﻨﻬﺎ،ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺩﺧﻮﻝ ﺍﻟﻜﻨﻴﺴﺔ، ﻓﻴﺠﻮﺯ؛ ﻷﻥ ﺫﻟﻚ ﻟﻴﺲ ﻓﻴﻪ ﺷﻬﻮﺩ ﻣﻨﻜﺮ،ﻭﻻ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ؛

“Adapun jawaban Imam Ahmad yang membolehkan datang ke pasar saja untuk menbeli tanpa masuk ke gereja, maka boleh saja, karena tidak termasuk menghadiri acara kemungkaran dan tidak membantu mereka dalam kemaksiatan.”[3]

Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid juga menjelaskan bahwa hal ini boleh dengan dua syarat, beliau berkata:

ﻻ ﺣﺮﺝ ﻓﻲ ﺷﺮﺍﺀ ﺍﻟﻤﻼﺑﺲ ﻭﺍﻷﺛﺎﺙ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻲ ﻣﻮﺳﻢ ﺃﻋﻴﺎﺩﺍﻟﻜﻔﺎﺭ ﻛﺎﻟﻜﺮﻳﺴﻤﺲ ، ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻻ ﻳﺸﺘﺮﻱ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﻌﺎﻥ ﺑﻪﻋﻠﻰ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻌﻴﺪ ﺃﻭ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎﺭ ﻓﻲ ﻋﻴﺪﻫﻢ .

“Boleh menjual beli pakaian, perabotan dan lain-lainnya ketika terkait dengan momen perayaan agama orang kafir seperti natal, dengan syarat jual beli ini tidak membantu mereka untuk merayakan hari raya mereka atau menyerupai mereka dalam hari raya mereka.

Beliau melanjutkan,

“Boleh bagi seorang muslim melakukan jual-beli pada hari raya orang kafir dengan dua syarat:

Pertama: Tidak menjual untuk mereka yang bisa membantu mereka untuk melakukan kemaksiatan dan membantu melakukan hari raya mereka (misalnya menjual perlengkapan natal atau kue-kue khas natal, pent)

Kedua: Tidak menjual kepada kaum muslimin yang bisa menyerupai orang kafir (tasyabbuh) pada hari raya tersebut (misalnya, menjual petasan, lonceng khas natal,.topi sinterklas, pent).”[4].

Muhammad Syam Al-Haq dalam kitab ‘Aunul Ma’bud menjelaskan rinciannya, bahwa maksud boleh membeli di sini adalah membeli apa yang ia biasa beli dalam.kesehariannya, semisal biasa membeli di tempat itu.kemudian ada diskon, ia beli sesuai dengan kebutuhannya yang menjadi kebiasaannya. Beliau berkata,

ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻲ ﺍﻟﻤﺤﺎﺳﻦ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺑﻦ ﻣﻨﺼﻮﺭ ﺍﻟﺤﻨﻔﻲ ﺃﻥ ﻣﻦﺍﺷﺘﺮﻯ ﻓﻴﻪ ﺷﻴﺌﺎً ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻳﺸﺘﺮﻳﻪ ﻓﻲ ﻏﻴﺮﻩ ﺃﻭ ﺃﻫﺪﻯ ﻓﻴﻪ ﻫﺪﻳﺔﻓﺈﻥ ﺃﺭﺍﺩ ﺑﺬﻟﻚ ﺗﻌﻈﻴﻢ ﺍﻟﻴﻮﻡ ﻛﻤﺎ ﻳﻌﻈﻤﻪ ﺍﻟﻜﻔﺮﻩ ﻓﻘﺪ ﻛﻔﺮ ﻭﺇﻥ ﺃﺭﺍﺩﺑﺎﻟﺸﺮﺍﺀ ﺍﻟﺘﻨﻌﻢ ﻭﺍﻟﺘﻨﺰﻩ ﻭﻓﻲ ﺍﻹﻫﺪﺍﺀ ﺍﻟﺘﺤﺎﺏ ﺟﺮﻳﺎً ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺎﺩﺓ ﻟﻢﻳﻜﻦ ﻛﻔﺮﺍً ﻟﻜﻨﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻜﺮﻭﻩ ﻛﺮﺍﻩ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺎﻟﻜﻔﺮﺓ ﻓﺤﻴﻨﺌﺬٍ ﻳﺤﺘﺮﺯﻋﻨﻪ”

“Dari Al-Qadhi Abul Mahasin al Hasan bin Manshur al Hanafi (berkata) bahwa siapa saja yang pada saat hari raya orang kafir membeli sesuatu yang biasanya tidak dia beli di hari-hari yang lain atau memberikan hadiah pada hari tersebut untuk bermaksud mengagungkan hari raya orang kafir sebagaimana pengagungan orang-orang kafir maka dia menjadi kafir karenanya.

Akan tetapi jika ia bermaksud membeli barang tersebut pada waktu itu adalah ingin mengambil manfaat barang tersebut dan maksud hatinya dengan memberi hadiah adalah mewujudkan rasa cinta sebagaimana biasanya maka tidak kafir akan tetapi terlarang karena menyerupai orang kafir. Karenanya hal ini harus dijauhi”.[5]

Demikian semoga bermanfaat

@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel http://www.muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 2916

[2] Fathul Bari 5/141, Darul Ma’rifah, Beirut, 1397 H,syamilah

[3] Iqtidha’ Shiratil Mustaqim 2/14

[4] Sumber: https://islamqa.info/ar/145676

[5] ‘Aunul Ma’bud 3/341

Ijma’ Ulama: Larangan.Mengucapkan “Selamat” Pada Hari Raya Non-Muslim Baca kelanjutan di halaman 2

Iklan