Dalil Selamat Natal Dalam Al Qur’an? Membantah Para Pembela Selamat Natal



Alhamdulillah
Agama lain rusak karena adanya penambahan ajaran – ajaran atau syariat – syariat yg bukan dari nabi mereka atau dikenal dg istilah Bid’ah maka sebab itulah kita harus menghindarkan dari segala bentuk Bid’ah kalau tidak ingin dikatakan sebagai PERUSAK AGAMA
Baca Juga Artikel Tentang Hukum  Mengucap Selamat Natal Bagi Muslimin
1. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/22/08-siapa-bilang-tidak-ada-larangan-memberi-salam-natal/

2. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/22/08-nasehat-sebelum-mengucapkan-selamat-natal/

3. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/21/06-haramnya-memberi-ucapan-selamat-natal-dan-bolehkah-menghadiri-peringatannya/

4. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/21/05-sejumlah-hujjah-larangan-ikut-perayaan-natal-tahun-baru/

5. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/20/04-ucapan-selamat-natal-ringan-biasa-fatal-masuk-neraka/

6. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2017/12/19/03-natal-hari-raya-siapa-haramnya-mengunjungi-natalan-dan-tempat-peribadatan-orang-kafir/

Ahmad Zainuddin · Dalil Keharaman Ikut Andil Dalam Hari Raya Orang Kafir 

Dalil Keharaman Ikut Andil Perayaan Kaum Kuffar

Abu Zubeir al-Hawaary · Bahaya Turut Meramaikan Hari Raya Kuffar (Kajian di Lombok)

Bahaya Turut Meramaikan Hari Raya Kuffar

Ustadz Ahmad Zainuddin · Haramnya Muslim Ikut Hari Raya Orang Kafir https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Ahmad%20Zainuddin/Haramnya%20Muslim%20Ikut%20Hari%20Raya%20Orang%20Kafir/Haramnya%20Muslim%20Ikut%20Hari%20Raya%20Orang%20Kafir.mp3

Haramnya Muslimin Merayakan Hari Raya Kaum Kuffar

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Natal, Hari Raya Siapa https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Muhammad%20Abduh%20Tuasikal/Natal%2C%20Hari%20Raya%20Siapa/Natal%20Hari%20Raya%20Siapa%20_%20Kajian%20Imogiri.mp3

Natal Hari Raya Milik Siapa

Jika Tidak Bisa Download Mp3, Coba Buka Di Tab Baru

Apakah ayat ini:

ﻭَﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻋَﻠَﻲَّ ﻳَﻮْﻡَ ﻭُﻟِﺪْﺕُ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺃَﻣُﻮﺕُ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺃُﺑْﻌَﺚُ ﺣَﻴًّﺎ

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali ” (QS. Maryam: 33)

adalah dalil bolehnya mengucapkan selamat natal atau bahkan dalil bolehnya natalan?
Jawab:

Mari kita lihat pemahaman para ahli tafsir mengenai ayat ini:

1. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan: “dalam ayat ini ada penetapan ubudiyah Isa kepada Allah, yaitu bahwa ia adalah makhluk Allah yang hidup dan bisa mati dan beliau juga akan dibangkitkan kelak sebagaimana makhluk yang lain. Namun Allah memberikan keselamatan kepada beliau pada kondisi-kondisi tadi (dihidupkan, dimatikan, dibangkitkan) yang merupakan kondisi-kondisi paling sulit bagi para hamba. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada beliau” ( Tafsir Al Qur’an Al Azhim , 5-230)

2. Al Qurthubi menjelaskan: “[ Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku ] maksudnya keselamatan dari Allah kepadaku -Isa-. [pada hari aku dilahirkan ] yaitu ketika di dunia (dari gangguan setan, ini pendapat sebagian ulama, sebagaimana di surat Al Imran). [pada hari aku meninggal ] maksudnya di alam kubur. [dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali ] maksudnya di akhirat. karena beliau pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini, demikian yang dikemukakan oleh Al Kalbi” ( Al Jami Li Ahkamil Qur’an , 11/105)

3. Ath Thabari rahimahullah menjelaskan: “Maksudnya keamanan dari Allah terhadap gangguan setan dan tentaranya pada hari beliau dilahirkan yang hal ini tidak didapatkan orang lain selain beliau. Juga keselamatan dari celaan terhadapnya selama hidupnya. Juga keselamatan dari rasa sakit ketika menghadapi kematian. Juga keselataman kepanikan dan kebingungan ketika dibangkitkan pada hari kiamat sementara orang-orang lain mengalami hal tersebut ketika melihat keadaan yang mengerikan pada hari itu” ( Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an , 18/193)

4. Al Baghawi rahimahullah menjelaskan: “[Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan ] maksudnya keselamatan dari gangguan setan ketika beliau lahir. [pada hari aku meninggal] maksudnya keselamatan dari syirik ketika beliau wafat. [ dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali ] yaitu keselamatan dari rasa panik” ( Ma’alimut Tanzil Fi Tafsiril Qur’an , 5/231)

5. Dalam Tafsir Al Jalalain (1/399) disebutkan: “[Dan keselamatan] dari Allah [semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan,  pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali ]”

6. As Sa’di menjelaskan: “Maksudnya, atas karunia dan kemuliaan Rabb-nya, beliau dilimpahkan keselamatan pada hari dilahirkan, pada hari diwafatkan, pada hari dibangkitkan dari kejelekan, dari gangguan setan dan dari dosa. Ini berkonsekuensi beliau juga selamat dari kepanikan menghadapi kematian, selamat dari sumber kemaksiatan, dan beliau termasuk dalam daarus salam. Ini adalah mu’jizat yang agung dan bukti yang jelas bahwa beliau adalah Rasul Allah, hamba Allah yang sejati” ( Taisir Kariimirrahman , 1/492)

Demikianlah penjelasan para ahli tafsir, yang semuanyanmenjelaskan makna yang sama garis besarnya. Tidak ada dari mereka yang memahami ayat ini sebagai dari bolehnya mengucapkan selamat kepada hari raya orang nasrani apalagi memahami bahwa ayat ini dalil disyariatkannya memperingati hari lahir Nabi Isa ‘alaihis salam.

1. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang menerima ayat ini dari Allah tidak pernah memahami bahwa ayat ini membolehkan ucapkan selamat kepada hari raya orang nasrani atau bolehnya merayakan hari lahir Nabi Isa ‘alahissalam . Dan beliau juga tidak pernah melakukannya.

2. Para sahabat Nabi yang ada ketika Nabi menerima ayat ini dari Allah pun tidak memahami demikian.

3. Ayat ini bukti penetapan ubudiyah Isa ‘alaihis salam kepada Allah. Karena beliau hidup sebagaimana manusia biasa, bisa mati, dan akan dibangkitkan pula di hari kiamat sebagaimana makhluk yang lain. Dan beliau mengharap serta mendapat keselamatan semata-mata hanya dari Allah Ta’ala . Ini semua bukti bahwa beliau adalah hamba Allah, tidak berhak disembah. Sehingga ayat ini justru bertentangan dengan esensi ucapan selamat natal dan ritual natalan.itu sendiri, yang merupakan ritual penghambaan dan penyembahan terhadap Isa ‘alaihissalam . Jadi tidak mungkin ayat ini menjadi dalil ucapan selamat natal atau natalan.

4. Para ulama menafsirkan ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ( as salaam ) di sini maknanya adalah ‘ keselamatan dari Allah ‘, bukan ucapan selamat.

5. Baik, katakanlah kita tafsirkan ayat ini dengan akal- akalan cetek kita, kita terima bahwa ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ( as salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kepada siapa ucapan selamatnya? ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﻋَﻠَﻲَّ ‘ as salaam alayya (kepadaku)’, berarti ucapan selamat seharusnya kepada Nabi Isa ‘alaihissalam . Bukan kepada orang nasrani.

6. Baik, andai kita pakai cara otak-atik-gathuk dan tidak peduli tafsiran ulama, kita terima bahwa ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ( as salaam) di sini maknanya ucapan selamat. Lalu kapan diucapkannya? ﻳَﻮْﻡَ ﻭُﻟِﺪْﺕُ ‘ hari ketika aku dilahirkan ‘, yaitu di hari ketika Nabi Isa dilahirkan. Nah,masalahnya mana bukti otentik bahwa Nabi Isa lahir tanggal 25 Desember??
Katakanlah ada bukti otentik tentang tanggal lahir Nabi Isa, lalu masalah lain, ingin pakai penanggalan Masehi atau Hijriah? Pasti akan berbeda tanggalnya. Berdalil dengan ayat Qur’an, tapi koq dalam kasus yang sama pakai sistem penanggalan Masehi? Ini namanya tidak konsisten dalam berdali

7. Pada kitab orang Nasrani sendiri tidak ada bukti otentik dan dalil landasan perayaan hari lahir Isa ‘alaihissalam . Beliau tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengadakan ritual demikian. Mengapa sebagian kaum muslimin malah membela bahwa ritual natalan itu ada dalilnya dari Al Qur’an, dengan pendalilan yang terlalu memaksakan diri?

tafsiran pada pembela selamat Natal adalah tafsiran nyeleneh . Bahkan nyeleneh -nya bertingkat- tingkat, nyeleneh dari sisi ilmu fikih Islam, nyeleneh dari sisi ilmu tafsir dan nyeleneh dari.sisi bahasa Arab. Bahkan saya katakan, nyeleneh secara logika juga.
Al Qur’an itu firman Allah maka maknanya disesuaikan dengannapa yang diinginkan Allah.

Bukan sesuai keinginan kita. Darimana kita tahu? Ya dari firman Allah juga dan dari sabda Rasul-Nya. Makanya.dalam ilmu tafsir, metode menafsirkan Al Qur’an adalah tafsir ayat Qur’an dengan ayat Qur’an yang lain, atau menafsirkan ayat Qur’an.dengan hadits Nabi. Dan ditambahkan juga penafsiran pada sahabat Nabi yang.memang diajarkan Nabi makna-makna ayat Al Qur’an.
BANTAHAN SYUBHAT BOLEHNYA UCAPKAN SELAMAT NATAL DENGAN DALIL QS ZUHKRUF AYAT 89. Lanjut di Halaman 2

Iklan