Antara Ust. Abdul Somad, MA.,Masalah Istiwaa,Aqidah Asy’ariyyah,Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)

Alhamdulillah

artikel ini semata-mata ingin mengungkapkan fakta yang sesungguhnya tentang model aqidah Asy’ariyyah yang diusung oleh Ust. Somad hafizhahullah, bahwasanya pendapat UstSomad justru bertentangan dengan tokoh-tokoh Asya’iroh terdahulu, termasuk Imam Abul Hasan al- Asy’ary yang dinisbatkan kepadanya aqidah takwil secara keliru oleh Ust. Somad. Pendapat Ust. Somad dalam masalah Istiwaa’, berseberangan dengan prinsip Rasulullah dan para Sahabatnya, tidak sesuai dengan pendapat as-Salaf as-Shalih, pendapat Imam mazhab yang empat, dan imam- imam ahlussunnah lainnya. Di samping itu, artike ini juga berharap agar para pembaca tidak mengikuti kesalahan seorang figur yang keliru dalam masalah aqidah. Karena kekeliruan dalam masalah aqidah, sangatlah fatal, terlebih jika itu menyangkut aqidah kita tentang Allah.

Alhamdulillah

Ustadz Aunur Rafiq Ghufran · Kaidah dalam Mentahdzir https://kajian.net/kajian-audio/Ceramah/Aunur%20Rafiq%20Ghufran/Kaidah%20dalam%20Mentahdzir/Kaidah%20dalam%20Mentahdzir.mp3

Perbedaan Tahdzir Dan Debat

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Manhaj TAHDZIR 01

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed Manhaj TAHDZIR 02 https://archive.org/download/Situbondo/360106Ust.MuhammadAs-sewedsesi2ManhajTahdzirAhlusSunnahWalJamaah.mp3

Artikel ini telah dibaca, di-muraja’ah, dan diberi masukan oleh: Ust. Dr. Firanda Andirja, MA.

Penulis: Abu Ziyān Johan Saputra Halim, M.HI. Pimred alhujjah.com, Pengasuh kanal dakwah Telegram: @kristaliman

MUKADDIMAH

Keyakinan bahwa Allah itu Maha Tinggi dan berada di atas, sejatinya merupakan keyakinan yang telah terpatri dalam fitrah kaum muslimin secara umum. Ungkapan-ungkapan mereka yang biasa kita dengar semisal;

Kita serahkan pada Yang di Atas”…, “Kalau Yang di Atas telah berkehendak”…., dan lain-lain yang semisal,

adalah bukti bahwa sebenarnya hati kita tidak bisa memungkiri keberadaan Allah di atas segenap makhluk. Di samping juga mereka—ketika berdoa dan berharap kepada Allah—kedua tangan serta kepala mereka menengadah ke atas, tidak ke samping, dan tidak ke bawah.

Kita tidak pernah mendengar ungkapan kaum muslimin yang menyatakan; “Kita serahkan saja pada yang tidak di bawah dan tidak di atas”..., atau “Kita serahkan pada Dzat yang ada di mana-mana”… Sungguh kita tidak pernah mendengar yang demikian terucap oleh lisan mereka.

Namun sungguh sangat disayangkan, sebagian tokoh yang mengaku bermadzhab Asy’ary dan memperjuangkan madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ary justru berseberangan dengan keyakinan kaum muslimin tersebut, sekaligus juga berseberangan dengan aqidah Imam Abul Hasan al-Asy’ary, khususnya dalam masalah Sifat Allah, “Istiwaa’” yaitu; Keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya dan di atas segenap makhluk-Nya tanpa tasybih dan takyif.

* * *

Pada satu kesempatan, sebagaimana yang terekam dalam video pada tautan ini; https://youtu.be/iLrYf59yzcw, Ust. H. Abdul Somad, Lc., MA., –hafizhahullah— ditanya; “Di mana keberadaan Allah itu Pak Ustadz…??”. Jawaban Ust. Somad hafizhahullah yang terurai kemudian, begitu jelas menggambarkan peta aqidah beliau dalam masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat​ Allah.

Mengawali jawabannya, Ust. Somad hafizhahullah membagi pemahaman orang terkait pertanyaan besar tersebut menjadi dua kelompok. Pertama; kelompok manusia yang mengatakan Allah itu berada di bumi bersama makhluk-Nya. Kedua; kelompok manusia yang menganggap Allah itu di atas, “duduk di atas kursi” (menit: 0.42). Demikian klasifikasi beliau. Kita sepakat bahwa kedua kelompok tersebut adalah kelompok yang sesat.

Selanjutnya, Ust. Somad hafizhahullah mulai mengomentari anggapan batil kedua kelompok tersebut yang berujung pada kesimpulan bahwa ada kelompok ketiga yang paling benar dalam menyikapi pertanyaan “Di mana Allah..??”—menurut Ust. Somad hafizhahullah—. Yaitu kelompok Asy’ariyyah (Abul Hasan al-Asy’ary) yang mengatakan; “Allah itu ada tanpa tempat. Tidak berada di atas ‘Arsy-Nya, dan makna Istawaa adalah Istaulaa, yaitu berkuasa.”

Entahlah, apa yang menyebabkan Ust. Somad hafizhahullah tidak menyebutkan aqidah  kelompok yang keempat dalam masalah ini, kelompok yang justru dihuni oleh Rasulullah ﷺ dan para Sahabatnya, juga para imam-imam Salaf yang lebih dulu masa hidupnya dibanding Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah.

Padahal jika merujuk kepada perkataan Abul Hasan al-Asy’ary rahimahullah dalam kitabnya, tegas sekali beliau menyebut bahwa takwilan Istaulaa adalah pendapat menyimpang sekte Mu’tazilah, sebagaimana akan Anda temukan nukilan ilmiahnya dalam tulisan ini.

Nantinya, dalam tulisan ini juga Anda akan menemukan beberapa nukilan ilmiah dari ucapan Abul Hasan al-Asy’ary dan pemuka Madzhab Asy’ariyyah terdahulu (mutaqaddimin) yang justru bertolak belakang 180 derajat dari apa yang diklaim oleh Ust. Somad hafizhahullah. Karena Abul Hasan al-Asy’ary dan al-Baqillani, yang merupakan tokoh salaf di kalangan Asya’iroh, justru menetapkan Allah itu berada di atas ‘Arsy-Nya.

Ust. Somad juga menukil dalam video tersebut ungkapan dari Imam at-Thahawi yang disalahartikan oleh beliau. Padahal jika merujuk ke sumber aslinya (al­-‘Aqidah at-Thahawiyyah), ternyata maksud Imam at-Thahawi jauh berbeda dengan apa yang diinginkan oleh Ust. Somad. Imam at-Thahawi justru menetapkan Allah itu di atas. Anda akan membaca bukti ilmiahnya dalam tulisan ini—Insya Allah—.

Selain itu, Ust. Somad juga menukil sebuah riwayat yang konon pernah diucapkan oleh Sayyidina ‘Ali radhiallahu’anhu. Namun sayang ternyata riwayat ini palsu, tidak bisa dipertanggungjawabkan keabsahan dan validitasnya.

Ust. Somad hafizhahullah juga menyangka bahwa menetapkan sifat istiwaa’ bagi Allah berarti melazimkan tasybih (penyerupaan) antara Allah dengan makhluk yang tengah duduk di atas kursi, sehingga firman Allah yang menegaskan diri-Nya ber-istiwaa’ haruslah ditakwil menjadi Istaulaa (berkuasa). Padahal dalam kitab al-Jawahir al-Kalamiyyah, kitab karya Syaikh Thahir al-Jazairi yang lazim menjadi buku pegangan aqidah Asy’ariyyah di Pondok-Pondok Pesantren nusantara, dengan tegas menyebut bahwa penetapan keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya  tanpa takyif adalah Madzhabnya Salaf, sementara takwil Istiwaa’ menjadi Istaulaa adalah Madzhabnya Khalaf (orang-orang belakangan, setelah generasi salaf). Dan berpegang dengan Madzhab Salaf dalam masalah ini—kata Syaikh Thahir—lebih selamat.

* * *

Baiklah, mari sejenak merunut kalimat demi kalimat yang diucapkan Ust. Somad hafizhahullah dalam video tersebut. Dengan mengharap pertolongan Allah, selanjutnya saya akan berusaha memberikan sedikit tanggapan dan catatan berdasarkan dalil-dalil syar’i dan penjelasan ulama Salaf terhadap beberapa kejanggalan ucapan beliau dalam video tersebut.

* * *

MENIT 00.52, Ust. Somad hafizhahullah menukil ungkapan—yang konon bersumber dari—Sayyidina ‘Ali;

الذي أين الأين لا يقال أنه أين

Ust. Somad hafizhahullah mengartikan; “Dia yang telah ada sebelum waktu dan tempat ada, maka tidak layak ditanya Dia berada di mana.”

* * *

TANGGAPAN:

Sisi Ke-1: Sayang Ust. Somad hafizhahullah tidak memberikan referensi sumber ucapan tersebut. Sehingga kita bisa mengecek sanad dan validitas penisbatannya pada ‘Ali radhiallahu’anhu. Namun dari hasil penelaahan, kalimat tersebut justru ramai di-share di forum diskusi kelompok Syi’ah. Seperti dalam Syi’ah Online Library (shiahonlinelibrary.com), ungkapan yang mirip kalimat tersebut termaktub dalam Syarh Ushul al-Kafi (3/215) namun penisbatannya bukan kepada ‘Ali radhiallahu’anhu, melainkan kepada Abu ‘Abdillah (Husein bi ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu). Sebagaimana dimaklumi bersama, Ushul al-Kafi merupakan salah satu kitab rujukan induk agama Syi’ah.

Uniknya lagi, kalimat tersebut banyak muncul di media-media Ahbasy. Salah seorang tokoh mereka bernama Nabil as-Syarif (https://youtu.be/OqA59hRYox8), menyebutkan ucapan ‘Ali tersebut, namun tanpa ada referensi dan sanad. Redaksinya adalah:

إن الذي أين الأين لا أين له، وإن الذي كيف الكيف لا كيف له

Dia yang menciptakan “di mana”, maka tidak bisa di tanya “Dia di mana..?”. Dia yang menciptakan “bagaimana”, maka tidak bisa ditanya “Dia bagaimana..?”.

Ucapan ‘Ali radhiallahu’anhu ini disebut-sebut diriwayatkan dalam kitab at-Tabshir fid-Din karya Abu al-Muzhaffar al-Isfirayini (wafat: 471-H). Setelah penulis melakukan kroscek, kalimat tersebut ada termaktub di hal. 161-162 (Cet.-1 ‘Alamul Kutub – Beirut, tahun 1403-H, yang ditahqiq oleh: Kamal Yusuf al-Huut). Namun lagi-lagi riwayat tersebut dituliskan tanpa sanad.  

Alhasil, kalimat yang dinisbatkan kepada ‘Ali radhiallahu’anhu ini adalah riwayat yang tidak memiliki asal usul yang jelas. Secara ilmu periwayatan, tentu saja tidak bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. Bahkan Ibnu Taimiyyah dalam at-Tis’iniyyah (1/957, Tahqiq: Dr. Muhammad Ibrahim al-‘Ajlan) dengan tegas menyebutkan kedustaan penisbatan riwayat tersebut kepada ‘Ali radhiallahu’anhu berdasarkan kesepakatan ahlul ‘ilmi. Beliau sampai mengatakan riwayat ini tidak memiliki sanad sama sekali.

* * *

Sisi Ke-2: Kedustaan​ penisbatan ucapan tersebut pada ‘Ali radhiallahu’anhu semakin nampak jelas dengan adanya riwayat Shahih Muslim (no. 537) dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu’anhu berikut ini:

وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِي قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ، فَإِذَا الذِّيبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ  كَمَا يَأْسَفُونَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا  صَكَّةً، فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ  صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ. قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلَا أُعْتِقُهَا ؟ قَالَ : ” ائْتِنِي بِهَا “، فَأَتَيْتُهُ بِهَا. فَقَالَ لَهَا : ” أَيْنَ اللَّهُ ؟ ” قَالَتْ : فِي السَّمَاءِ. قَالَ : ” مَنْ أَنَا ؟ ” قَالَتْ : أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ. قَالَ : ” أَعْتِقْهَا، فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ “. 

Riwayat tersebut mengisahkan bahwa Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu’anhu pernah menampar wanita jariyah-nya gara-gara keteledoran yang dilakukannya. Rasulullah​ ﷺ kurang berkenan dengan perilaku Mu’awiyah tersebut. Mu’awiyah yang merasa menyesal lantas berkata; “duhai Rasulullah, apa tidak kumerdekakan saja dia…?”. Rasullullah lantas meminta wanita tersebut dihadirkan.

Rasulullah kemudian menguji keimanan wanita tersebut dengan bertanya; “di mana Allah…?”, Wanita itupun menjawab; “di atas langit”. Nabi lanjut bertanya; “siapakah saya…?”. Wanita itu​ menjawab; “engkau adalah Rasulullah”. Seketika itu Rasulullah bersabda; “merdekakan dia, karena dia wanita yang beriman.”

Lihatlah bagaimana Rasulullah sendiri mencontohkan untuk bertanya; “di mana Allah…?”. Lantas, kenapa justru sebagian orang mengharamkan untuk bertanya “di mana Allah”…?? Dan justru menganggapnya sebagai bentuk tasybih (menyerupakan) Allah dengan makhluk..?? Karena substansi makna dari pertanyaan “di mana Allah” dalam hadits Jariyah ini tidak mungkin untuk ditakwil, mereka pun berusaha melemahkan dan menjatuhkan hadits Jariyah ini (sebagaimana yang dilakukan oleh as-Saqqaf, al-Ghumari, dan al-Kautsari), padahal hadits tersebut termaktub dalam Shahih Muslim, kitab paling Shahih di muka bumi setelah al-Quran dan Shahih al-Bukhari.

Tak ada satupun ahli hadits besar terdahulu yang menolak kesahihan hadist Jariyah dalam Shahih Muslim ini. Imam Syafi’i berdalil menggunakan hadits ini dalam kitabnya ar-Risalah (hal. 75) dan al-Umm (5/298), juga dinukil oleh al-Baihaqi dalam Manaqib as-Syafi’i (1/394). Bahkan al-Baihaqi –yang banyak menjadi rujukan para pentakwil sifat di zaman ini—menshahihkan hadits ini dalam al-Asma’ was-Shifat (hal. 533). Ibnu Hajar juga menegaskan keshahihannya dalam Fathul Bari (13/359). Demikian pula dengan al-Baghawi dalam Syarhu as-Sunnah (3/43).

* * *

Sisi Ke-3: Sahabat pun pernah bertanya kepada Rasulullah di mana keberadaan Allah sebelum Dia menciptakan makhluk. Abu Razin radhiallahu’anhu berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ خَلْقَهُ ؟ قَالَ: (كَانَ فِي عَمَاءٍ مَا تَحْتَهُ هَوَاءٌ وَمَا فَوْقَهُ هَوَاءٌ ، ثُمَّ خَلَقَ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ)

Duhai Rasulullah, di manakah Rabb kita—azza wa jalla—sebelum Dia menciptakan makhluk-Nya? Rasullullah menjawab: ”Dia berada dalam ‘amaa’ (kondisi di mana tak ada sesuatupun kecuali diri-Nya), tak ada apapun baik di bawah maupun di atas-Nya. Kemudian Dia menciptakan ‘Arsy-Nya di atas air.” [HR. at-Tirmidzi: 3109, Ibnu Majah: 182, Ahmad: 15755, dishahihkan oleh at-Thabari, dihasankan oleh at-Tirmidzi, ad-Dzahabi dan Ibnu Taimiyyah, di-dhaifkan oleh al-Albani, lih. islamqa.info/ar/184797]

Lihatlah, Rasulullah tidak mengingkari pertanyaan tersebut. Menunjukkan bahwa pertanyaan “di mana Allah?” tidaklah terlarang secara syar’i.

Sisi Ke-4: Ketika memberikan kesimpulan atas hadits tentang wanita jariyah Mu’awiyah bin al-Hakam di atas, Imam adz-Dzahabi as-Syafi’i (wafat: 748-H) berkata:

ففي الخبر مسألتان: إحداهما: شرعية قول المسلم: أين الله؟. ثانيهما: قول المسؤول: في السماء، فمن أنكر هاتين المسألتين فإنّما يُنكر على المصطفى

“Ada dua hal (yang bisa dipetik dari) hadits tersebut: pertama, bertanya “di mana Allah” adalah sesuatu yang disyariatkan. Kedua, jawaban (bagi) yang ditanya adalah: “di atas langit”. Siapa yang mengingkari kedua hal ini, maka dia telah ingkar kepada al-Mushthafa (Rasulullah).” [Mukhtashar al-‘Uluw, hal. 81]

Dengan demikian batallah pendalilan Ust. Somad hafizhahullah dengan ucapan—yang katanya bersumber dari—Sayyidina ‘Ali radhiallahu’anhu di atas, baik dari sisi sanad karena tidak jelas asal-usulnya, maupun dari sisi matan (redaksi) karena bertentangan maknanya dengan redaksi hadits yang shahih. Tidak heran jika ‘Abdul Ghani al-Maqdisi (wafat: 600-H) mengatakan—setelah membawakan hadits Jariyah di atas—:

ومن أجهل جهلاً وأسخف عقلاً وأضل سبيلاً ممن يقول: إنه لا يجوز أن يقال: أين الله!! بعد تصريح صاحب الشريعة بقوله: ((أين الله؟)

Siapakah yang lebih jahil, yang lebih lemah akalnya, dan lebih sesat jalannya, dibanding orang yang berkata: ‘tidak boleh bertanya di mana Allah’, setelah Rasulullah sebagai pembawa syari’at justru bertanya: Allah ada di mana…??” [dinukil dari Aqaidu Aimmati as-Salaf, hal. 75, Fawwaz Ahmad Zumarli]

Simpulannya, ungkapan Ust. Somad hafizhahullah; “Dia tidak layak ditanya di mana”, jelas merupakan kebatilan. Namun sayang beribu sayang, justru beliau menggunakan ungkapan tersebut sebagai muqaddimah untuk mengingkari keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya. Dan hal ini akan semakin nampak jelas pada ucapan beliau berikutnya.

* * *

 

MENIT 01.30: Ust. Somad hafizhahullah mengatakan: “….Allaahu munazzahun ‘anil jihat as-sitt, kata aqidah Thahawiyah. Allah itu suci dari enam arah…”

MENIT 01.43: Kemudian Ust. Somad hafizhahullah mengatakan: “Dia tak di atas, Dia tak di bawah”

* * *

TANGGAPAN:

Sisi Ke-1: Ust. Somad hafizhahullah sepertinya kurang tepat dalam menukil ungkapan Imam at-Thahawi (wafat: 321-H). Berikut ini adalah ungkapan beliau—rahimahullah—sebenarnya:

لا تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Artinya; “Allah itu tidak dilingkupi oleh arah yang enam sebagaimana halnya makhluk.” [Syarh al-‘Aqidah at-Thahawiyyah: 1/267, Cet. Mu-assasah ar-Risalah, 1417-H]

Sisi Ke-2: Di samping kurang tepat dalam menukil lafaz ungkapan Imam at-Thahawi, Ust. Somad hafizhahullah juga melakukan kekeliruan fatal dengan menyalahartikan maksud at-Thahawi. Maksud yang ingin dicapai oleh Ust. Somad adalah; menepis anggapan bahwa Allah itu di atas. Ini terbukti dari ucapan Ust. Somad sendiri pada MENIT 01.43; “Dia tak di atas, Dia tak di bawah”. Sementara at-Thahawi tidak memaksudkan demikian.

Untuk memahami maksud ungkapan at-Thahawi di atas, harus melihat juga ucapan beliau setelahnya. Dalam matan kitab yang sama (al-‘Aqidah at-Thahawiyyah), Imam Abu Ja’far at-Thahawi rahimahullah mengatakan:

وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، وَهُوَ مُسْتَغْنٍ عَنِ العَرْش وَمَا دُونَهُ، مُحِيطٌ بِكُلِّ شَىْءٍ وَفَوْقَهُ، وَقَدْ أعْجَزَ عَنِ الإِحَاطَةِ خَلقَهُ.

“al-‘Arsy dan al-Kursi itu benar adanya. Namun Allah tidak butuh pada ‘Arsy dan pada apa-apa yang ada di bawahnya. Allah meliputi segala sesuatu dan di berada di atasnya. Sungguh Dia telah menjadikan makhluk-Nya tidak mampu meliputi (hakikat-Nya).”

Dari ungkapan—yang terlewatkan oleh Ust. Somad ini—nampak jelas sekali bahwa at-Thahawi tidak memaksudkan seperti yang dimaksudkan oleh Ust. Somad. Sama sekali tidak nyambung, antara penjelasan Ust. Somad hafizhahullah dengan maksud yang diinginkan oleh at-Thahawi rahimahullah.

Sisi Ke-3: Agar lebih jelas lagi apa maksud ucapan at-Thahawi tersebut, mari simak komentar Ibnu ‘Abil ‘Izz al-Hanafi rahimahullah (wafat: 792-H) selaku pen-syarah ‘Aqidah Thahawiyyah berikut ini:

وَقَوْلُ الشَّيْخِ رَحِمَهُ اللَّهُ: (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ) هُوَ حَقٌّ، بِاعْتِبَارِ أَنَّهُ لَا يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، بَلْ هُوَ مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ. وَهَذَا الْمَعْنَى هُوَ الَّذِي أَرَادَهُ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللَّهُ، لِمَا يَأْتِي فِي كَلَامِهِ: أَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ. فَإِذَا جُمِعَ بَيْنَ كَلَامَيْهِ، وَهُوَ قَوْلُهُ: (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ) وَقَوْلُهُ: (مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) عُلِمَ أَنَّ مُرَادَهُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَا يَحْوِيهِ شَيْءٌ، وَلَا يُحِيطُ بِهِ شَيْءٌ، كَمَا يَكُونُ لِغَيْرِهِ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، وَأَنَّهُ تَعَالَى هُوَ الْمُحِيطُ بِكُلِّ شَيْءٍ، الْعَالِي عَنْ كُلِّ شَيْءٍ.لَكِنْ بَقِيَ فِي كَلَامِهِ شَيْئَانِ:أَحَدُهُمَا : أَنَّ إِطْلَاقَ مِثْلَ هَذَا اللَّفْظِ – مَعَ مَا فِيهِ مِنَ الْإِجْمَالِ وَالِاحْتِمَالِ – كَانَ تَرْكُهُ أَوْلَى، وَإِلَّا تَسَلَّطَ عَلَيْهِ، وَأَلْزَمَ بِالتَّنَاقُضِ فِي إِثْبَاتِ الْإِحَاطَةِ وَالْفَوْقِيَّةِ وَنَفْيِ جِهَةِ الْعُلُوِّ، وَإِنْ أُجِيبَ عَنْهُ بِمَا تَقَدَّمَ، مِنْ أَنَّهُ إِنَّمَا نَفَى أَنْ يَحْوِيَهُ شَيْءٌ مِنْ مَخْلُوقَاتِهِ، فَالِاعْتِصَامُ بِالْأَلْفَاظِ الشَّرْعِيَّةِ أَوْلَى.

Ungkapan Syaikh (at-Thahawi) rahimahullah; (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ), adalah ungkapan yang haq jika dilihat dari sisi; Allah itu tidak diliputi oleh sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Bahkan sebenarnya, Allah-lah yang meliputi segala sesuatu, dan sekaligus Dia berada di atas segala sesuatu tersebut. Inilah makna yang diinginkan oleh Syaikh (at-Thahawi) rahimahullah, dengan indikasi ucapan beliau; (أَنَّهُ تَعَالَى مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ), “Dia itu Maha Tinggi, meliputi segala sesuatu, dan Dia berada di atas segala sesuatu”. Jika kedua ucapan beliau ini, yaitu ucapan (لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ) dan (مُحِيطٌ بِكُلِّ شَيْءٍ وَفَوْقَهُ) digabung dan dikompromikan, maka bisa diketahui bahwa maksud beliau adalah; tak satupun yang melingkupi Allah dan tak satupun yang meliputi-Nya, tidak sebagaimana makhluk (yang bisa dilingkupi dan diliputi oleh sesuatu). Dialah yang Maha Tinggi, Dialah yang justru meliputi segala sesuatu, yang Maha Tinggi di atas segala sesuatu.

Namun pada ucapan beliau (at-Thahawi) ini, tersisa dua permasalahan. Salah satunya adalah; bahwa melepas begitu saja ungkapan semacam ini tanpa penjelasan dan perincian—sementara ia masih bermakna global dan bersifat multi tafsir—, sebaiknya yang demikian ini ditinggalkan. Karena jika tidak, ungkapan seperti ini bisa dieksploitir. Sehingga menimbulkan makna yang kontradiktif; antara peniadaan jihah (arah) dengan penetapan bahwa Dia di atas. Sekalipun bisa dijawab dengan jawaban di atas (bahwa maksudnya adalah; Allah itu tidak diliputi oleh sesuatu apapun), namun tetap saja berpegang teguh pada lafaz-lafaz yang syar’i itu jauh lebih baik.” Selesai nukilan dari penjelasan Ibnu Abil ‘Izz. [lih. Syarh al-‘Aqidah at-Thahawiyyah: 1/267-268, Cet. Mu-assasah ar-Risalah, 1417-H]

Adapun Syaikh Bin Baz rahimahullah, memberikan komentarnya sebagai berikut:

” مراده الجهات الست المخلوقة، وليس مراده نفي علو الله واستوائه على عرشه، لأن ذلك ليس داخلاً في الجهات الست، بل هو فوق العالم ومحيط به، وقد فطر الله عباده على الإيمان بعلوه سبحانه، وأنه في جهة العلو “.

Yang beliau (at-Thahawi) maksudkan adalah; makhluk berupa arah yang enam (yaitu; atas, bawah, kanan, kiri, depan, belakang). Beliau tidak bermaksud menafikan ketinggian Allah dan Istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy. Karena ketinggian Allah dan Istiwaa’-Nya tersebut tidak termasuk dalam cakupan arah yang enam. Bahkan Allah itu di atas alam, dan Dia meliputinya. Allah telah menanamkan fitrah kepada hamba-hamba-Nya di atas keimanan akan ketinggian-Nya. Bahwasanya Dia berada di atas.” [at-Ta’liqat al-Atsariyyah ‘ala al-‘Aqidah at-Thahawiyyah, hal. 16. Berdasarkan penomoran Syamilah]

Jika Ust. Somad hafizhahullah sudi kiranya merenungkan jawaban Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat: 728-H) berikut ini, niscaya perkaranya akan lebih jelas dan gamblang, bahwa penafian “jihah” pada keberadaan Allah itu tidak bisa ditolak dan tidak juga bisa diterima mentah-mentah, perlu perincian. Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan:

” يُقَالُ لِمَنْ نَفَى الْجِهَةَ: أَتُرِيدُ بِالْجِهَةِ أَنَّهَا شَيْءٌ مَوْجُودٌ مَخْلُوقٌ؟ فَاَللَّهُ لَيْسَ دَاخِلًا فِي الْمَخْلُوقَاتِ. أَمْ تُرِيدُ بِالْجِهَةِ مَا وَرَاءَ الْعَالَمِ؟ فَلَا رَيْبَ أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ الْعَالَمِ مُبَايِنٌ لِلْمَخْلُوقَاتِ .وَكَذَلِكَ يُقَالُ لِمَنْ قَالَ: اللَّهُ فِي جِهَةٍ: أَتُرِيدُ بِذَلِكَ أَنَّ اللَّهَ فَوْقَ الْعَالَمِ؟ أَوْ تُرِيدُ بِهِ أَنَّ اللَّهَ دَاخِلٌ فِي شَيْءٍ مِنْ الْمَخْلُوقَاتِ؟ فَإِنْ أَرَدْت الْأَوَّلَ فَهُوَ حَقٌّ ، وَإِنْ أَرَدْت الثَّانِيَ فَهُوَ بَاطِلٌ.

Kepada mereka yang menolak jihah (arah), kita katakan: ‘apa yang anda maksud dengan jihah? Apakah ia adalah sesuatu yang ada berwujud makhluk? (Jika ya), maka Allah tidaklah berada di dalam (atau dilingkupi oleh) makhluk-Nya. Atau jika yang anda maksud dengan jihah adalah apa yang ada di balik alam? Maka tidak ragu lagi bahwa Allah itu di atas alam (tidak di dalam alam), terpisah dari segenap makhluk-Nya.

Demikian pula dikatakan kepada orang yang mengatakan, ‘Allah berada pada suatu jihah (arah)’; apakah anda memaksudkan (dengan perkataan tersebut) bahwa Allah itu berada di atas alam? Atau anda memaksudkan bahwa Allah berada di dalam (atau diliputi oleh) makhluk-Nya? Jika anda memaksudkan yang pertama, maka itulah yang benar. Namun jika anda memaksudkan yang kedua, maka itulah yang batil.” [Majmu’ al-Fatawa: 3/42] 

Simpulannya; apa yang dimaksudkan oleh at-Thahawi jauh berbeda dengan apa yang dimaksud oleh Ust. Somad hafizhahullah. Fatal sekali, justru Ust. Somad hafizhahullah menarik ucapan at-Thahawi ke arah yang berlawanan dengan maksud at-Thahawi sendiri.

* * *

 

MENIT 02.05: Ust. Somad hafizhahullah berkata; “Kalau Dia bisa ditunjuk, ‘di mana Allah’. Allah ada di atas, maka batallah ayat;

ولم يكن له كفوا أحد

Dan tidak ada seorangpun yang setara (semisal) dengan-Nya.

Kalau bisa Dia ditunjuk, Allah di atas, berarti sama dengan lampu di atas.

* * *

TANGGAPAN

Sisi Ke-1: Ketika di Haji Wada’, Nabi berkhutbah di ‘Arafah. Setelah menyampaikan khutbahnya, disebutkan bahwa:

فقال بأصبعِه السبابةِ يرفعُها إلى السماءِ ويُنْكِتُها إلى الناسِ: اللهمَّ اشهد، اللهمَّ اشهدْ

Nabi mengangkat telunjuknya ke arah langit lalu mengarahkannya kepada manusia (di hadapannya) seraya berkata: ‘Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah,….” [Abu Dawud: 1/358, no. 1905, lih. Shahih Sunan Abi Dawud no. 1905]

Sisi Ke-2: Dalam Shahih al-Bukhari (3/873, no. 1739) disebutkan bahwa Nabi menengadahkan kepalanya ke langit sambil berkata; “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan?, Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan?.”

Riwayat tersebut dijadikan dalil oleh para ulama bahwa Allah itu di atas [lih. Al-‘Aqidatu Fillah, hal. 192, Cet.-12 Darun Nafais, 1419-H, Dr. Sulaiman ‘Umar al-Asyqar]

Nabi menetapkan bahwa Allah di atas, bahkan beliau mengisyaratkan dengan telunjuk dan kepala beliau ke arah atas. Dengan sikap Nabi yang demikian ini, apakah kita akan mengatakan bahwa Nabi telah menyetarakan Allah dengan awan yang juga berada di atas…?? Tentu tidak. Maha Suci Allah.

Sisi Ke-3: Sahabat yang mulia ‘Umar bin al-Kaththab radhiallahu’anhu juga pernah mengisyaratkan pada Allah dengan menunjuk ke atas langit. Sebagaimana dalam riwayat berikut Ibnu Abi Syaibah (wafat: 235-H) berikut ini:

لما قدم عمر الشام استقبله الناس وهو على البعير فقالوا: يا أمير المؤمنين لو ركبت برذونا يلقاك عظماء الناس ووجوههم، فقال عمر: لا أراكم ههنا، إنما الامر من ههنا – وأشار بيده إلى السماء

Tatkala ‘Umar datang ke negeri Syam, orang-orang lantas menemuinya. Saat itu beliau tengah berada di atas ontanya. Orang-orang itu berkata: “Wahai Amirul-Mukminin, sekiranya engkau mengendarai kuda yang gagah lagi tegap, niscaya para pembesar dan para tokoh akan menemuimu”. Maka ‘Umar menjawab: “Aku tidak memandang pada perintah kalian. Perintah itu hanya datang dari sana—seraya mengisyaratkan tangannya ke langit” [lih. Al-Mushannaf Ibn. Abi Syaibah, jilid 19/no. 36111, tahqiq: Syaikh Prof. Dr. Sa’ad asy-Syatsri, Dar Kunuz Isybilia, Cet. 1/1436-H, dan pen-tahqiq menyatakan riwayat ini shahih]

Imam adz-Dzahabi asy-Syafi’i dalam kitabnya al-‘Uluw (hal. 62) menyebut sanad riwayat ini dengan ungkapan “isnaduhu kasy-syams” (sanadnya sejelas matahari). Syaikh al-Albani dalam Mukhtashar al-‘Uluw (no. 46 hal. 102-103) menyebutkan bahwa riwayat ini shahih berdasarkan kriteria al-Bukhari dan Muslim. [lih. Itsbat Shifatil ‘Uluw, hal. 149, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, tahqiq: Dr. Ahmad ‘Athiyyah al-Ghamidi, Maktabah al-‘Ulum wal Hikam, Cet. 1/1409-H]

Riwayat dari ‘Umar ini sangat jelas menunjukkan bahwa menunjuk ke arah langit untuk mengisyaratkan keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas, bukanlah hal yang terlarang di mata Sahabat, tidak sebagaimana anggapan Ust. Somad hafizhahullah.

Sisi Ke-4: Adanya kesamaan penyebutan sifat tidak melazimkan kesamaan dalam hakikat sifat. Hakikat keberadaan Allah yang Maha Tinggi di atas makhluk-Nya, tentu jauh beda dengan lampu di atas yang dijadikan permisalan oleh Ust. Somad. Lagi pula, untuk bisa berada di atas, lampu butuh untuk melekat atau bergantung pada benda lain. Sementara tak ada satu pun ulama salaf (yang menetapkan Allah itu di atas) yang menganggap Allah itu butuh kepada langit atau melekat pada ‘Arsy-Nya.

Lantas, siapa sebenarnya yang melakukan tasybih…??

* * * lanjut di halaman 2

Iklan