•*Kisah Orang Beriman yang Dibakar Dalam Parit( Kisah Ashabul Ukhdud)

Alhamdulillah…

*Ceramah Muhammad Abduh Tuasikal**Kisah Ashabul Ukhdud 11 Mb*

*Kisah Ashabul Ukhdud (Bagian-1)*

_Kisah ini dikenal dengan *kisah ashabul ukhdud yaitu orang-orang yang membakar orang beriman dalam parit. Orang-orang yang beriman ini tetap teguh pada keimanan mereka pada Allah, hingga raja di masa itu marah dan membakar mereka hidup-hidup. Kisah ini mengajarkan wajibnya bersabar dalam berpegang teguh pada kebenaran meskipun harus disakiti*._

_*Ashabul ukhdud adalah kaum yang dilaknat oleh Allah.Dengan api inilah mereka memaksa orang-orang yang beriman untuk kembali kepada agama mereka semula, agama yang menjadikan makhluk sebagai sesembahan selain Allah. Setiap orang yang beriman kepada Allah dan mengingkariperibadahan kepada selain-Nya, mereka lemparkan kedalam api,*sebagaimana Allah kisahkan dalam ayat-Nya,_

_*“Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang- orang yang beriman. dan mereka tidak menyiksa orang-orang.mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji .”*_ [Q.S. Al Buruj:4-9 ].

*Tiba giliran *seorang ibu yang sedang menggendong bayi mungil.* Wanita itu dipaksa untuk memilih antara dua pilihan. *Ia masuk kedalam api tersebut dalam keadaan beriman kepada Allah ataukah jiwanya selamat namun dia harus kembali kepada kekafiran.* Demi melihat kobaran api yang menyala, timbul dari dalam dirinya keraguan dan rasa takut untuk tetap berada dalam keimanan. Ia tidak tega melihat keadaan anaknya yang dalam gendongannya. Apakah jiwa yang masih suci ini harus mati bersamanya.*

_Allah punmemberikan kemampuan kepada bayi tersebut untuk berbicara. Bayi itupun berkata, *”wahai ibuku! Bersabarlah, sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran”.* Tatkala mendengar perkataan bayi tersebut, bulatlah tekadnya untuk masuk ke dalam kobaran api mempertahankan keimanannya. *Memang, telah menjadi ketetapan Allah, bahwa sebagian manusia akan menjadi musuh bagi sebagian lainnya. Tatkala ada yang membela kebenaran, adapula orang yang menjadi pembela kebatilan.* Demikian pula *ketika Allah mengutus para Rasul dan para Nabi, dengan hikmah dan keadilan-Nya, Ia ciptakan musuh-musuh yang gigih menentang mereka. Ketetapan Allah ini akan berlaku pula kepada para pengikut mereka, supaya jelas siapakah yang jujur dan siapakah yang.dusta dalam pengakuan keimanannya*._

Allah berfirman yang artinya, *“Alif lam mim. Apakah manusia.menyangka bahwa mereka akan dibiarkan mengaku ‘kami beriman’ sedang mereka tidak diuji. Sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka sehingga Allah benar-benar mengetahui siapakah orang-orang yang jujur dan siapakah yang berdusta.”* [Q.S. Al Ankabut:1-3 ].

*Kisah selengkapnya mengenai Ashabul Ukhdud* diceritakan dalam hadits yang panjang berikut.

عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كَانَ مَلِكٌ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ وَكَانَ لَهُ سَاحِرٌ فَلَمَّا كَبِرَ قَالَ لِلْمَلِكِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ فَابْعَثْ إِلَىَّ غُلاَمًا أُعَلِّمْهُ السِّحْرَ. فَبَعَثَ إِلَيْهِ غُلاَمًا يُعَلِّمُهُ فَكَانَ فِى طَرِيقِهِ إِذَا سَلَكَ رَاهِبٌ فَقَعَدَ إِلَيْهِ وَسَمِعَ كَلاَمَهُ فَأَعْجَبَهُ فَكَانَ إِذَا أَتَى السَّاحِرَ مَرَّ بِالرَّاهِبِ وَقَعَدَ إِلَيْهِ فَإِذَا أَتَى السَّاحِرَ ضَرَبَهُ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَى الرَّاهِبِ فَقَالَ إِذَا خَشِيتَ السَّاحِرَ فَقُلْ حَبَسَنِى أَهْلِى. وَإِذَا خَشِيتَ أَهْلَكَ فَقُلْ حَبَسَنِى السَّاحِرُ.

_Dari Shuhaib, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, *“Dahulu ada seorang raja dari golongan umat sebelum kalian, ia mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir tersebut berada dalam usia senja, ia mengatakan kepada raja bahwa ia sudah tua dan ia meminta agar dikirimkan anak yang akan jadi pewaris ilmu sihirnya. Maka ada seorang anak yang diutus padanya. Tukang sihir tersebut lalu mengajarinya”*_

_Di tengah perjalanan ingin belajar, anak ini bertemu seorang rahib (pendeta) dan ia pun duduk bersamanya dan menyimak nasehat si rahib. Ia pun begitu takjub pada nasehat-nasehat yang disampaikan si rahib. Ketika ia telah mendatangi tukang sihir untuk belajar, ia pun menemui si rahib dan duduk bersamanya. Ketika terlambatnya mendatangi tukang sihir, ia dipukul, maka ia pun mengadukannya pada rahib. Rahib pun berkata, “Jika engkau khawatir pada tukang sihir tersebut, maka katakan saja bahwa keluargaku menahanku. Jika engkau khawatir pada keluargamu, maka katakanlah bahwa tukang sihir telah menahanku.”_

*Penjelasan lengkap Cerita:*

_*Dikisahkan pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Raja yang sangat disegani oleh rakyatnya. Raja tersebut telah dinobatkan sebagai Tuhan dan disembah oleh para penghuni wilayah kerajaan.* Penyembahan yang dilakukan oleh rakyat bukan karena kehendak mereka sendiri, melainkan mereka *ditipu daya oleh tukang sihir kerajaan, kaki tangan Raja.* Mereka seperti disihir hingga akhirnya sangat setia menyembah sang Raja._

_Tukang sihir tersebut sudah sangat tua renta, hingga suatu saat sang Raja mengalami kekhawatiran, *“Wahai tukang sihir, usia mu kini sudah tua. Tubuh mu pun semakin lama akan semakin lemah. Aku khawatir, jika engkau telah tiada, rakyat tidak akan lagi menyembahku sebagai tuhan mereka”* ucap sang Raja._

_*“Wahai Raja, engkau tidak perlu risau. Carilah seorang pemuda yang sangat cerdas untuk ku ajarkan ilmu sihir. Diia akan menggantikan posisi ku jika nanti aku telah tiada”* jawab tukang sihir tersebut._

_Tak berselang lama, Raja pun langsung menyuruh pengawalnya untuk mencari pemuda yang paling cerdas di wilayah kerajaannya. Dan ditemukanlah pemuda tersebut bernama *Abdullah bin Tamir.*_

_Abdullah bin Tamir diminta untuk menjadi penerus tukang sihir kerajaan. Tanpa berpikir panjang, Ia langsung menerima tawaran tersebut. *Ia mulai menghayal, sebentar lagi dirinya akan dikenal oleh seluruh penduduk kerajaan. Posisinya akan sangat disegani oleh rakyat karena Ia menjadi orang kedua* setelah Raja yang memiliki jabatan tertinggi di kerajaan._

***

_Hari pertama belajar sihir, membuatnya sangat bersemangat. *Meskipun jarak yang Ia tempuh dari rumahnya ke rumah tukang sihir sangat jauh, tapi tidak membuatnya bermalas-malasan.* Dengan senang hati Ia langkahkan kaki menuju rumah tukang sihir._

_Namun ketika diperjalanan, Ia mendengar suara yang sangat besar. *“Wahai Dzat yang hidup kekal! Wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk Nya. Wahai Dzat yang menciptakan bumi dan langit”* begitu suara yang terdengar hingga sampai pada telinga Abdullah bin Tamir. Ia sangat penasaran dari mana suara itu berasal. Ditelusurinya suara tersebut, hingga mengantarkan Ia pada suatu gua. Karena merasa takut, rasa penasaran itu Ia hentikan sampai didepan gua saja. Kemudian dilanjutkan perjalanan menuju rumah tukang sihir._

***

_Sesampainya dirumah tukang sihir, *Ia mulai mempelajari ilmu-ilmu yang biasa digunakan oleh sang penyihir untuk memengaruhi rakyat kerajaan. Namun pikirannya melayang-layang kepada suara dari gua tadi,* fokus untuk belajar sihir pun menjadi terpecah._

_Melihat hal tersebut, sang penyihir bertanya, *“Wahai penyihir kecil, ada apa gerangan yang membuatmu sulit berkonsentrasi pada pelajaran ini?”*_

_“Ketika di perjalanan tadi, Aku mendengar suara aneh. Suara itu seperti memuji sesuatu yang menciptakan bumi dan langit. Suara itu berkata bahwa *Ia Dzat yang Maha Kekal. Siapakah yang telah menciptakan bumi dan langit wahai penyihir?”* tanya Abdullah._

_Mendengar ucapan tersebut si penyihir marah, *“Lupakan perkataan itu wahai anakku. Kau hanya harus mengabdi pada Raja. Ia adalah tuhanmu, maka sembahlah Ia.”*_

_*“Baiklah”* jawab Abdullah dengan rasa penasaran yang begitu kuat bersarang dihatinya._

_Abdullah mulai sadar bahwa sihir yang diajarkan merupakan tipu daya semata. *Sihir ini tidak memberikan manfaat kepada dirinya, Ia hanya seperti dijadikan pelayan Raja. Padahal Raja hanya manusia biasa, yang ketika lapar membutuhkan makan, ketika haus butuh minum, dan ketika sakitpun Raja butuh obat,* Ia tak bisa mengobati dirinya sendiri._

***

_Keesokan harinya, Abdullah bin Tamir berangkat lagi kerumah Penyihir. Namun kali ini dengan *semangat yang berbeda, tak seperti pertama berkunjung. Ia masih penasaran dengan suara yang terucap dari dalam gua,* berharap hari itu Ia akan mendengar lagi gema suara dari gua tersebut._

_Begitu melewati gua, benar saja suara itu terdengar kembali. Lalu, Ia beranikan diri untuk memasuki gua. Dan dilihatnya seorang kakek sedang mengadahkan kedua tangannya sambil mengucapkan doa-doa, *“Wahai Dzat yang hidup kekal. Wahai Dzat yang terus menerus mengurus makhluk-Nya. Rabb langit dan bumi. Engkaulah Rabb yang patut disembah, tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau Rabb pemilik alam semesta. Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau dan Engkau Maha Tinggi. ‘Arsy-Mu di atas langit, Wahat Dzat Yang Maha Penyayang. Maka, ampunilah aku dan kasihanilah aku.”*_

_Tanpa sadar, Abdullah menitikan air mata. Ia merasa tersentuh ketika mendengar lantunan doa dari sang kakek. Hingga akhirnya, sang kakek melihat keberadaan Abdullah bin Tamir, *“Wahai anakku, siapa namamu?”* tanya sang kakek._

_*“Namaku Abdullah bin Tamir. Aku mendengarmu memanggil Rabbmu yang hidup kekal dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, dan ucapanmu itu membuatku kagum”* ucap Abdullah._

_“Ya, Allah adalah Tuhan kita. Yang menciptakan aku, kamu dan Raja yang saat ini disembah oleh rakyat diluaran sana” lanjut si kakek menjelaskan._

_*“Tunjukkan aku bagaimana cara menyembah Allah”*pinta Abdullah dengan keinginan yang begitu kuat mengenal Tuhannya._

_Akhirnya, sang kakek mengajari Abdullah bagaimana menyembah dan bertasbih memuji Tuhannya. Lagi-lagi, tanpa sadar Ia teteskan air mata, merasa menemukan ketenangan ketika mengucapkan doa-doa kepada Allah. Bertambahlah keimanan Abdullah bin Tamir kepada Allah._

_Ketika hendak melanjutkan perjalanan, sang kakek berpesan kepadanya, *“Wahai anakku, janganlah engkau beritahukan keberadaanku kepada siapapun. Karena jika mereka mengetahui keberadaan ku, maka aku akan dibunuh begitu pula dengan engkau”* ucap sang kakek._

_*“Baik, Kek”* turut Abdullah_

 

***

_Kini Abdullah tidak lagi menghiraukan pelajaran-pelajaran sihir, karena Ia sadar semua hanya tipuan dan kebohongan besar. Yang terpenting baginya adalah setiap hari *Ia harus singgah di gua untuk beribadah kepada Allah bersama sang kakek.* Setiap kali waktunya belajar sihir, Ia datang terlambat karena harus berhenti di gua. Karena selalu terlambat, akhirnya si penyihir itu memarahi dan memukuli Abdullah akibat sikapnya yang tidak disiplin._

_Karena merasa tertekan, Ia ceritakan pada sang kakek perihal masalah tadi. Sang kakek menjawab, *“Pergilah dan beri alasan bahwa engkau terlambat karena ditahan oleh kedua orang tua mu dirumah.”*_

فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ أَتَى عَلَى دَابَّةٍ عَظِيمَةٍ قَدْ حَبَسَتِ النَّاسَ فَقَالَ الْيَوْمَ أَعْلَمُ آلسَّاحِرُ أَفْضَلُ أَمِ الرَّاهِبُ أَفْضَلُ فَأَخَذَ حَجَرًا فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ أَمْرُ الرَّاهِبِ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ أَمْرِ السَّاحِرِ فَاقْتُلْ هَذِهِ الدَّابَّةَ حَتَّى يَمْضِىَ النَّاسُ. فَرَمَاهَا فَقَتَلَهَا وَمَضَى النَّاسُ فَأَتَى الرَّاهِبَ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ لَهُ الرَّاهِبُ أَىْ بُنَىَّ أَنْتَ الْيَوْمَ أَفْضَلُ مِنِّى. قَدْ بَلَغَ مِنْ أَمْرِكَ مَا أَرَى وَإِنَّكَ سَتُبْتَلَى فَإِنِ ابْتُلِيتَ فَلاَ تَدُلَّ عَلَىَّ

_Pada suatu saat ketika di waktu ia dalam keadaan yang demikian itu, lalu tibalah ia di suatu tempat dan di situ *ada seekor binatang besar yang menghalangi orang banyak (di jalan yang dilalui mereka).* Anak itu lalu berkata, *“Pada hari ini saya akan mengetahui, apakah penyihir itu yang lebih baik ataukah rahib itu.”* Ia pun mengambil sebuah batu kemudian berkata, *“Ya Allah, apabila perkara rahib itu lebih dicintai di sisi-Mu daripada tukang sihir itu, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang banyak dapat berlalu.”* Lalu ia melempar binatang tersebut dan terbunuh. Lalu orang-orang bisa lewat.  Lalu ia mendatangi rahib dan mengabarkan hal tersebut. Rahib tersebut pun mengatakan, *“Wahai anakku, saat ini engkau lebih mulia dariku. Keadaanmu sudah sampai pada tingkat sesuai apa yang saya lihat. Sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika benar demikian, janganlah menyebut namaku.”*_

*Penjelasan Cerita:*

_Abdullah bin Tamir mulai merasa bimbang jalan mana yang harus dipilihnya akibat tekanan yang Ia terima dari tukang sihir. Kemudian ketika di perjalanan, terdapat sejumlah orang memenuhi jalan. Ia penasaran dan didekatinya kerumunan tersebut. Dilihatnya binatang besar melintang hingga menghambat jalan. Lalu, Abdullah berinisiatif untuk mengusirnya dengan kerikil kecil, seraya berkata *“Sekarang saatnya untuk membuktikan, apakah ucapan kakek yang lebih benar ataukah penyihir. Ya Allah, jika kakek yang lebih Engkau cintai daripada penyihir, maka jauhkanlah hewan ini dari jalan”* sambil melempar kerikil ke arah binatang._

_Dan benarlah, binatang tersebut pergi menjauhi jalan. *Bertambahlah keimanan Abdullah bin Tamir. Kini Ia percaya bahwa Allah itu benar adanya.* Semua yang dilakukannya adalah atas kuasa dan kehendak Allah._

كَانَ الْغُلاَمُ يُبْرِئُ الأَكْمَهَ وَالأَبْرَصَ وَيُدَاوِى النَّاسَ مِنْ سَائِرِ الأَدْوَاءِ فَسَمِعَ جَلِيسٌ لِلْمَلِكِ كَانَ قَدْ عَمِىَ فَأَتَاهُ بِهَدَايَا كَثِيرَةٍ فَقَالَ مَا هَا هُنَا لَكَ أَجْمَعُ إِنْ أَنْتَ شَفَيْتَنِى فَقَالَ إِنِّى لاَ أَشْفِى أَحَدًا إِنَّمَا يَشْفِى اللَّهُ فَإِنْ أَنْتَ آمَنْتَ بِاللَّهِ دَعَوْتُ اللَّهَ فَشَفَاكَ. فَآمَنَ بِاللَّهِ فَشَفَاهُ اللَّهُ

_*Anak itu lalu dapat menyembuhkan orang buta dan yang berpenyakit kulit. Ia pun dapat menyembuhkan orang-orang dari berbagai macam penyakit. Berita ini pun sampai di telinga sahabat dekat raja yang telah lama buta. Ia pun mendatangi pemuda tersebut dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata pada pemuda tersebut, “Ini semua bisa jadi milikmu asalkan engkau menyembuhkanku.” Pemuda ini pun berkata, “Aku tidak dapat menyembuhkan seorang pun. Yang mampu menyembuhkan hanyalah Allah. Jika engkau mau beriman pada Allah, aku akan berdo’a pada-Nya supaya engkau bisa disembuhkan.” Ia pun beriman pada Allah, lantas Allah menyembuhkannya.*_

*Penjelasan Cerita:*

_Beberapa tahun kemudian,Abdullah bin Tamir kini telah menjadi seorang tabib. Ia banyak belajar ilmu agama dan kini Ia bisa menyembuhkan berbagai penyakit atas izin Allah. *Pengobatan yang dilakukan begitu masyhur dinegeri sebrang, hingga akhirnya terdengar oleh Raja bahwa ada seorang tabib yang mampu mengobati seluruh penyakit.Kemudian Raja menyuruh sepupu nya yang buta untuk mengobati diri kepadanya.*_

***

_Sepupu Raja pun sampai di rumah pengobatan sang tabib seraya berkata, *“Wahai Tabib,sembuhkanlah kebutaanku ini. Maka akan ku berikan engkau harta dan jabatan yang kau inginkan.”*_

_Abdullah bin Tamir ternyata mengenali sepupu Raja itu. Kemudian Abdullah menjelaskan, bahwasanya *Ia tidak menginginkan harta dan jabatan. Ia hanya ingin ketika mata sepupu Raja kembali pulih, Ia harus beriman kepada Allah,* Tuhan yang maha menyembuhkan segala penyakit._

_Sepupu Raja pun bertanya kembali, *“Siapa itu Allah? Bukankah Tuhan ku dan Tuhan mu adalah Raja?”* ucapnya merasa bingung.Kemudian Abdullah berkata, *“Bukan, Raja hanyalah hamba Allah. Sama seperti diriku dan dirimu. Jika memang Raja adalah Tuhan, mengapa Ia tak menyembuhkan kebutaanmu?”*_

_Sepupu Raja pun terdiam dan berpikir apa yang dikatakan sang tabib benar adanya. Lalu tanpa pikir panjang Ia pun langsung menyetujuinya. Kemudian *Abdullah langsung mengobati sepupu Raja dengan hanya mengusap matanya sambil menyebut nama Allah.* Seketika itu hilanglah kebutaan yang dialami sepupu Raja. *“Aku beriman kepada Allah. Tuhan semesta Alam. Dan tiada yang dapat menandingi-Nya.”* ucap sepupu Raja dengan rasa syukur._

_Akhirnya sepupu Raja keluar dari rumah Tabib. Ia pulang dengan bahagia dan membawa keimanan kepada Allah._

.lanjut di halaman 2