Sikap Manhaj Salaf Ahlussunnah Terhadap Pemerintah & Larangan Khuruj (Tidak Taat,Benci & Memberontak) Kepada Waliyul AmrSerta Cara Menasehati Penguasa

Alhamdulillah…

Wahai Kaum Muslimin yang dirahmati Oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala,Jangan kalian mencela penguasa kalian, jangan mengkhianati mereka, dan jangan pula membenci mereka. Bertakwalah kalian kepada Allah dan bersabarlah, karena urusannya dekat. Barang siapa menghinakan penguasa Allah di dunia, niscaya Allah akan hinakan dia. Barang siapa ingin menasihati penguasa, janganlah dia sampaikan secara terbuka.Hendaklah untuk menasihatinya secara diam-diam/Sembunyi.

Barang siapa melihat pada penguasanya sesuatu yang dia benci, hendaknya dia bersabar. Sebab, orang yang memisahkan diri dari jamaah (penguasa) satu jengkal saja lalu dia mati, matinya seperti mati orang jahiliah. Membicarakan aib penguasa adalah perbuatan ghibah dan namimah, di mana keduanya adalah keharaman terbesar setelah syirik.

Bukan merupakan manhaj salaf, perbuatan menyebarkan aib-aib penguasa dan menyebut-nyebutnya di atas mimbar. Ini akan menyeret pada penentangan serta keengganan untuk mendengar dan menaati penguasa dalam hal yang ma’ruf. Perbuatan tersebut juga akan menyebabkan sikap memberontak yang amat berbahaya dan sama sekali tak ada manfaatnya

Islam mengajarkan bahwa ketika menasehati Pemerintah itu dengan.cara yang baik dan tenang

DEMONSTRASI BUKAN SOLUSI

Berkata Asy-Syaikh Al ‘Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah,.“Saya tidak melihat aksi demonstrasi dengan berjalan kaki atau.longmarch sebagai solusi. Justru, saya melihatnya hanya sebagai sebab timbulnya fitnah dan kejelekan serta sebab tindakan zalim dan aniaya kepada sebagian pihak. Cara yang disyariatkan adalah mengirim surat, menyampaikan nasihat dan berdakwah kepada kebaikan dengan metode yang syar’i yang telah diuraikan oleh para ulama. Jadi, dengan mengirim.tulisan (surat), berbicara langsung kepada pemimpin/ pemerintah, atau melalui telepon, dan menyampaikan nasihat. Tidak mengumbar kejelekan-kejelekan.pemerintah di atas mimbar-mimbar. Wallahulmusta’an.”

(Fatawa al-’Ulama al-Akabir-majalah asy syariah:84

Tausiah Singkat_Ustadz Abdullah Roy, MA_Larangan Mencela Pemerintah

Salah satu ajaran agama kita yang harus kita patuhi, yaitu larangan untuk mencela para ulim amri atau pemimpin-pemimpin negeri, karna Allah dan Rasulnya telah melarangnya. Hendaknya seorang muslim untuk taat dan patuh kepada perintah tsb, klu pun ingin menasehatinya, hendaklah dengan cara yang lembut, sopan, baik, bukan malah sebaliknya, menghujat di depan umum, media-media, dll..

Bentuk-Bentuk Khuruj (Memberontak) Kepada Waliyul Amr

Ustadz Abdullah Taslim · Membela Islam Atau Menodainya(Sikap AhlusSunnah Dlm Menasehati Penguasa) 

Ustadz Abu Zubeir al-Hawaary · Kewajiban Ahlussunnah Terhadap Pemerintah 

Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey · Konsep Ahlussunnah dalam Menghadapi Fitnah dan Mentaati Pemerintah

Ustadz Abdullah Zaen · Kajian Kitab Usuulus Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal
antara rakyat dan penguasa 

Ustadz Zainal Abidin Syamsudin · Manhaj Ahlussunnah Dalam Berinteraksi Dengan Penguasa 

Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey · Ahlussunnah dalam Menyikapi Penguasa 01 

Ustadz Riyadh bin Badr Bajrey · Ahlussunnah dalam Menyikapi Penguasa 02

Ustadz
Abu Zubeir al-Hawaary · Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Penguasa 01

Ustadz  Abu Zubeir al-Hawaary · Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Penguasa 02

Abdurrahman Thayyib · 7 Sikap Ahlussunnah Terhadap Pemerintah

Jika tidak bisa download,buka di tab baru linknya

Diantara landasan manhaj Ahlussunnah yang disebutkan Imam Ahmad dalam Ushulus Sunnah adalah:

ﻭﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻟﻄﺎﻋﺔ ﻟﻸﺋﻤﺔ ﻭﺃﻣﻴﺮ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺍﻟﺒَـﺮّ ﻭﺍﻟﻔﺎﺟﺮ

mendengar dan taat kepada para pemimpin dan penguasa yang Mukmin, baik ia shalih maupun fajir (ahli maksiat)

Para Imam Ahlussunnah melarang khuruj kepada para pemimpin Muslim, dan khuruj ini ada beberapa bentuk. Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan:

ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺃﻧﻮﺍﻉ ﻣﻨﻪ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﻜﻼﻡ ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻳﺤﺚ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝﻭﻳﺮﻏﺐ ﺑﺎﻟﺨﺮﻭﺝ ﻋﻠﻰ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻫﺬﺍ ﺧﺮﻭﺝ ﻭﻟﻮ ﻣﺎ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺴﻼﺡ؛ﺑﻞ ﺭﺑﻤﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﻫﺬﺍ ﺃﺧﻄﺮ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺴﻼﺡ، ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺸﺮ ﻓﻜﺮﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ ﻭﻳﺮﻏﺐ ﻓﻴﻪ ﻫﺬﺍ ﺃﺧﻄﺮ ﻣﻦ ﺣﻤﻞ ﺍﻟﺴﻼﺡ، ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝﺑﺎﻟﻘﻠﺐ ﺃﻳﻀﺎ ﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻭﻻﻳﺔ ﻭﻟﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﻭﻣﺎ ﻳﺠﺐ ﻟﻪ ﻭﻳﺮﻯﺑﻐﺾ ﻭﻻﺓ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻫﺬﺍ ﺧﺮﻭﺝ ﺑﺎﻟﻘﻠﺐ، ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥﺑﺎﻟﻘﻠﺐ ﻭﺍﻟﻨﻴﺔ، ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﻜﻼﻡ، ﻭﻳﻜﻮﻥ ﺑﺎﻟﺴﻼﺡ ﺃﻳﻀﺎ

Khuruj (tidak taat dan memberontak) kepada penguasa ada beberapa bentuk. Diantaranya dengan perkataan, yaitu mendorong orang agar untuk khuruj kepada penguasa, meskipun tidak dengan mengangkat senjata. Bahkan terkadang perbuatan jenis ini lebih berbahaya dari mengangkat senjata. Karena menyebarkan pemahaman Khawarij (untuk tidak taat dan memberontak pada penguasa) itu lebih berbahaya dari mengangkat senjata kepada penguasa.

Mengajari Anak Mencintai Pemerintah Muslim

Terkadang secara tak sadar, orang tua menanamkan kepada anak rasa ketidakpuasan terhadap penguasa negerinya. Lewat obrolan dengan orang lain, meluncur ungkapan-ungkapan celaan bahkan hujatan terhadap sang penguasa. Tampaknya hanya sekadar curhat. Namun, tanpa disangka, sepasang telinga kecil menangkap pembicaraan itu, lalu menghunjam di sanubarinya.

Berbekal opini dari orang tuanya terhadap penguasanya yang dipandang penuh kekurangan, tumbuhlah dia sebagai pemuda yang tidak puas dan benci dengan pemerintahnya(Takfiri). Lalu Dia anggap Pemerintah,Polisi,dll Itu Kafir dan Wajib Dibunuh Seperti Kaum Khawarij Membunuh Ali Bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Tinggallah orang tua yang terhenyak, saat suatu hari nama anaknya tercatat sebagai anggota teroris. Wal ‘iyadzu billah….

Kita tentu tak pernah berharap hal itu terjadi pada diri kita dan anak-anak kita. Bahkan kita mohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla agar dijauhkan dari itu semua.

Selain doa yang kita panjatkan, tentu ada upaya yang harus ditempuh oleh orang tua dalam membimbing anaknya. Kita harus mengetahui bimbingan syariat dalam hal ini. Sembari memohon pertolongan dan taufik dari Allah ‘azza wa jalla, kita akan menelaah masalah ini melalui kitab Tarbiyatul Aulad fi Dhau’il Kitabi was Sunnah.

Dalam poin pembahasan Tarbiyatuhum ‘ala Mahabbatil ‘Ulama wa Wulatil Amr dijelaskan bahwa di antara hal penting yang harus diperhatikan oleh ayah dan ibu adalah mendidik anak-anak untuk mencintai ulama dan pemimpin negerinya.

Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidaklah mewariskan dirham atau dinar, tetapi sematamata mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil ilmu tersebut, berarti dia telah mengambil bagian yang melimpah dari warisan tersebut.

Di samping itu, apabila orang tua menanamkan pada diri anak sikap keraguan terhadap para ulama dan ilmu mereka, tidak menghormati mereka, serta menyebutkan kesalahan-kesalahan mereka di hadapan anak, semua ini akan menimbulkan bahaya besar bagi umat. Sebab, ilmu diambil dari para ulama, begitu juga syariat Islam diambil dari jalan mereka pula. Sikap yang demikian kadangkala akan membawa kehancuran bagi syariat Islam.

Ketika anak tumbuh dewasa kelak, dia akan mencari orang yang akan diambil ilmunya. Dia tidak akan mengambil dari para ulama, karena sudah dibuat ragu terhadap para ulama dan ilmu mereka. Mereka akan mengambil ilmu dari para ulama sesat dan orang-orang yang berpemikiran menyimpang. Akhirnya, anak akan menjadi alat untuk merusak masyarakat.

Adapun ulil amri adalah orang-orang yang menangani segala urusan rakyat, menegakkan syariat, memelihara stabilitas keamanan, serta menjaga persatuan kaum muslimin. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ

        “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kalian kepada Rasul, dan taatilah ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Ulil amri yang dimaksud dalam ayat adalah para ulama dan penguasa. Akan tetapi, sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin di berbagai forum melakukan ghibah dan namimah terhadap penguasa. Mereka menyingkap dan mengungkap kesalahan-kesalahan mereka. Padahal kalau dia mau melihat kekurangan dan kesalahan dirinya sendiri, niscaya lebih banyak daripada kesalahan penguasa yang dia ungkapkan. Cukuplah bagi seseorang mendapatkan dosa jika dia memberitakan semua yang didengarnya.

Amat disayangkan pula, anak-anak duduk di majelis yang semacam ini. Mereka menyerap ucapan seperti ini dan tumbuh dewasa di atas kebencian terhadap para ulama dan penguasanya. Semua ini akan menjadi sebab timbulnya kerusakan, munculnya tuduhan bid’ah atau fasik terhadap ulama dan penguasa tanpa dilandasi ilmu.

(Lanjut ke hal 2)