Shalawat Adalah Ibadah Jadi Harus Ittibba’ Kepada Sunnah Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ Agar Diterima Setiap Amalan oleh Allah عزّوجلّ

Alhamdulillah

Shalawat-Shalawat yang tidak Diajarkan
(Muhammad Elvi Syam, MA)

“Shalawat” Oleh Ustadz Abu Khaleed Resa Gunarsa, Lc.  

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Sifat Shalawat Bagian 1 

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Sifat Shalawat Bagian 2

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary-Hukum Nasyid Sekarang Ini 

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary-Hukum Nasyid Islami 

Ustadz Mizan Qudsiyah-Bershalawat Kepada Nabi

Ustadz Dr,Syafiq Riza Basalamah MA -Negeriku Bershalawat 

Ustadz Rayyan Maretan · Mari Bershalawat

Ustadz Arifin Badri · Safiinatun Najaah (Kajian Kitab)
PenJelasan Shalawat 10Mb 

Ustadz · Muhammad Nuzul -Banyak Bershalawat
Kepada Nabi-Nya 

Ustadz Ahmad Zainuddin Lc· Mari Bershalawat Atas Nabi Tercinta 

 Muhammad Abduh Tuasikal-Hukum Ucapan Sayyidina

Ucapan Sayyidina Dalam Sholat – Ustadz M AbduhTuasikal

Larangan Penyebutan Sayyidina Adalah Fitnah! ||Ustadz Dr Khalid Basalamah MA

Di antara hak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disyari’atkan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ummatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala dan para Malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﻣَﻠَﺎﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ۚ ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍﺻَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻤُﻮﺍ ﺗَﺴْﻠِﻴﻤًﺎ

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al- Ahzaab: 56]

Diriwayatkan bahwa makna shalawat Allah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pujian Allah atas beliau di hadapan para Malaikat-Nya, sedang shalawat Malaikat berarti mendo’akan beliau, dan shalawat ummatnya berarti permohonan ampun bagi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam ayat di atas, Allah telah menyebutkan tentang kedudukan hamba dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tempat yang tertinggi, bahwasanya Dia memujinya di hadapan para Malaikat yang terdekat, dan bahwa para Malaikat pun mendo’akan untuknya, lalu Allah memerintahkan segenap penghuni alam ini untuk mengucapkan shalawat dan salam atasnya, sehingga bersatulah pujian untuk beliau.di alam yang tertinggi dengan alam terendah (bumi).

Adapun makna: “Ucapkanlah salam untuknya” adalah berilah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam penghormatan dengan penghormatan Islam. Dan Jika bershalawat kepada Nabi Muhammad hendaklah seseorang menghimpunnya dengan Salam untuk beliau. Karena itu hendaknya tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan: “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya)” atau hanya mengucapkan: “‘alaihis salaam (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan).” Hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada kaum Muslimin tentang tatacara mengucapkan shalawat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat kepadanya pada hari Jum’at.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻛْﺜِﺮُﻭﺍ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ، ﻓَﻤَﻦْ ﺻَﻠَّﻰﻋَﻠَﻲَّ ﺻَﻼَﺓً ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻋَﺸْﺮًﺍ .

Perbanyaklah kalian membaca shalawat kepadaku pada hari dan malam Jum’at, barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.”[2]

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan beberapa manfaat dari mengucapkan shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau menyebutkan ada 40 manfaat. Di antara manfaat itu adalah:

1. Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah.

2. Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bagi yang bershalawat sekali untuk beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3. Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat tersebut.

4. Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafa’at dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,.jika ketika mengucapkan shalawat diiringi.dengan.permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau.Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat.

5. Shalawat merupakan sebab diampuninya dosa-dosa.

6. Shalawat merupakan sebab sehingga Nabi.Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab orang yang mengucapkan shalawat dan salam kepadanya.[3]

[2]. HR. Al-Baihaqi (III/249) dari Anas bin Malik

Radhiyallahu anhu, sanad hadits ini hasan. LihatSilsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 1407) olehSyaikh al-Albani rahimahullah.

[3]. ‘Aqiidatut Tauhiid (hal 158-159)

Tetapi tidak dibenarkan mengkhususkan waktu dan cara tertentu dalam bershalawat dan memuji beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali berdasarkan dalil shahih dari Al-Qur-an dan As-Sunnah.

 Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,.“Barangsiapa yang melupakan shalawat kepadaku,.sungguh ia telah meninggalkan jalan surga.”.(Hadits shahih riwayat Ibnu Majah. Lihat Shahiihul Jaami’ no 6658) 

1. Shalawat Adalah Ibadah. Dan Ibadah Bersifat Taufiqiah.  

Maknanya, ibadah tidak dilakukan kecuali dengan apa yang diperintahkan atau dituntunkan wahyu Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya akal semata-mata tidak dapat menjangkau perincian masalah ibadah, masalah halal-haram, dan masalah-masalah yang dibenci atau dicintai oleh Allah Ta’ala.

Allah سبحانه و تعالى berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud/11:112).

2. Juga Ibadah harus mutaba’ah, yaitu meneladani Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Orang yang telah bersyahadat bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah utusan Allah عزّوجلّ, maka syahadat tersebut memuat kandungan: meyakini berita beliau, mentaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى hanya dengan syari’at beliau.

Allah سبحانه و تعالى berfirman :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kamu (umat Islam, yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (pahala) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al Ahzab/33 : 21).

Sehingga, siapapun yang beribadah dengan tidak mengikuti Sunnah (ajaran) Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , maka ibadahnya tersebut tertolak. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami ini (agama), apa-apa yang bukan padanya, maka urusan itu tertolak. (HR Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

Oleh sebab itu, orang-orang yang suka mengadakan perkara baru yaitu Membuat Bacaan Shalawat yang tidak ada dasarnya sama sekali dari hadits Nabi yang shohih tersebut, mereka berkeyakinan bahwa barangsiapa yang membaca sholawat sholawat ‘inovasi’ baru itu akan mendapatkan pahala dalam jumlah ) tertentu, dengan keutamaan-keutamaan tertentu dalam urusan agama yang tidak pernah diajarkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam perlu menjawab pertanyaan berikut, “Apakah mereka lebih tahu tentang syariat daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!”. Dan apakah mereka lebih paham tentang ajaran Islam daripada para Shahabat yang mengambil ajaran agama langsung dari utusan Allah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ?!”Sebab Para Sahabat Tidak Pernah Mengarang-Ngarang Salawat Dengan Ketentuan Tertentu dan Mendapat Pahala Dalam Jumlah Tertentu

3. Ibadah itu diatur dengan waktu-waktu dan ketentuan-ketentuan yang tidak boleh dilanggar dan diabaikan.

Semisal ibadah shalat Allah Azza wa Jalla  berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisa’/4:103).

Dalam haji, Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

Musim haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. (QS.Al-Baqarah/2:197)

Sedangkan tentang puasa, Allah Azza wa Jalla berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu. (QS. Al-Baqarah/2:185)

(lanjut ke halaman…2)