Awas Istihza’ (Mengejek, Memperolok-olok, atau Mencemooh) Terhadap Allah, Ayat-Ayat-Nya, Rasul-Nya, agama-Nya, & Kepada Orang-Orang Yang Beriman Karena Sungguh Ia Kafir Walau Itu Gurauan Belaka

Alhamdulillah….

DR SYAFIQ RIZA BASALAMAH MA- Hukum Mencela/Mengolok-olok Agama Islam 

Ustadz Mizan Qudsiyah Lc-Pembatal Keislaman Mengolok Ajaran Rasulullah 

Ustadz Mizan Qudsiyah Lc-Jangan Mencela Ajaran Nabimu

Ustadz Ahmad Zainuddin · Siksa Mengolok-olok Agama 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Buruknya Mengolok-olok Agama 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Kitab Tauhid Mengolok- Ngolok Allah, Rasul dan Ajaran Islam 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Kriminal Menghina
Agama Allah

Lucunya Muslim yang menghina sunnah ● Ustadz Khalid Basalamah

Bahaya Mencela Ulama

Ceramah Agama : Bahaya Lebay Dalam Agama –Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.

Ceramah Agama kali ini membahas tentang bahaya lebay dalam agama. Bahaya merupakan kata peringatan bagi setiap orang dan harus di waspadai. Namun di jaman now ini kata bahaya itu merupakan sesuatu yang biasa bahkan bahaya dalam agama pun dianggap biasa.

Bahkan lebay dalam agama dianggap bisa, padahal lebay dalam agama itu merupakan sesuatu yang sangat bahaya bagi pelakunya. Selain bahaya lebay dalam agama masih banyak juga bahaya yang perlu kita waspadai seperti: bahaya meroko, bahaya narkoba, bahaya mie instan, bahaya riba, bahaya lebay-lebay, dan bahaya yang lainnya.

Ceramah Singkat Bahaya Mengolok olok Sunnah Nabi Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc

HUKUM ISLAM MENGOLOK-OLOK AYAT AL-QURAN -UST KHALID BASALAMAH

Allah akan membalas siapapun yg mengolok-olok sunnah Nabi Muhammad Shallalahu’Alaihi Wa Sallam – Ustadz Khalid Basalamah

Jangan Kau Benci Ajaran Nabimu – Ustadz Mizan Qudsiyah Lc

Seorang mukmin pasti mempunyai sikap ta’zhim ; mengagungkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala, Rasul, dan agama-Nya. Ia mengagungkan perintah danLarangan Allâh Subhanahu wa Ta’ala, mengagungkan asma dan sifat-Nya. Kemudian ia juga mengagungkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikannya sebagai tauladan. Juga.mengagungkan agama Allâh. Ia mencintai dan loyal pada syariat-Nya, serta yakin akan kesempurnaan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Ruh dari ibadah adalah pengagungan dan kecintaan. Bila salah satunya tidak menyertai lainnya, ibadah pun akan rusak .”

Diantara sifat orang beriman adalah mengagungkan Allah dan mengagungkan apa-apa yang diagungkan oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﻭَﻣَﻦ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (AlHajj:32).

Namun ada saja manusia yang tak menghiraukan itu semua. Sebagian mereka meremehkan, bahkan mencemooh agama ini. Sebagian mereka mengolok-olok Allâh Subhanahu wa Ta’ala, atau sunnah Rasûlullâh, atau mencibir kaum beriman, dan mencibir syariat-Nya. Ini menunjukkan adanya nifaq atau ingkar dalam hati mereka. Sekiranya memang ia seorang yang benar-benar beriman, pasti ia akan mengagungkan Allâh dengan sebenar-benarnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﻭَﻣَﺎ ﻗَﺪَﺭُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﻖَّ ﻗَﺪْﺭِﻩِ

Dan mereka tidak menghormati Allâh dengan penghormatan yang semestinya, [al-An’âm/ 6: 91].

Seorang mukmin sejati adalah yang mengagungkan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia juga akan loyal kepada kaum beriman, bukan malah membela dan menaruh cinta dan dukungan kepada orang kafir.

ﻟَﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻳُﻮَﺍﺩُّﻭﻥَ ﻣَﻦْ ﺣَﺎﺩَّﺍﻟﻠَّﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺁﺑَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻬُﻢْ ﺃَﻭْﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻬُﻢْ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allâh dan hari akhirat, saling berkasih- sayang dengan orang-orang yang menentang Allâh dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. [al-Mujâdilah/ 58: 22]

Dan orang yang mengejek agama Allâh ini, atau.ayat-ayat-Nya, atau mencibir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir kepada Allâh Azza wa Jalla, meski itu hanya sekedar gurauan belaka.

Namun di zaman ini, banyak orang meremehkan, merendahkan, dan memperolok-olok sesuatu yang berkaitan dengan agama. Hal ini merupakan perkara yang sangat berbahaya. Maka sepantasnya seseorang mengetahui bahaya istihza’ terhadap agama.

Istihza’, artinya: mengejek, memperolok-olok, atau mencemooh. Istihza’ terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, Rasul-Nya, agama-Nya, dan istihza’ kepada orang-orang yang beriman, merupakan perilaku orang kafir, dan termasuk perkara yang menyebabkan murtad jika dilakukan oleh orang Islam.

Allah berfirman.

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨّﺎﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﺀَﺍﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺀُﻭﻥَ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah:”Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok? (At Taubah:65).

Sebab turunnya ayat ini, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Pada suatu hari, di satu majelis dalam perang Tabuk, seorang laki-

laki berkata “Aku tidak pernah melihat semisal para qari’ (ahli Alquran atau ahli agama) kita ini, lebih rakus perutnya, lebih dusta lidahnya, dan lebih penakut di saat pertempuran”. Lalu seorang laki-laki di majelis itu berkata: “Engkau dusta, tetapi engkau seorang munafik. Aku benar-benar akan memberitahukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Dan Alquran turun.

Abdullah bin Umar berkata: “Maka aku melihat laki-laki itu bergantung pada kendali onta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, batu-batu melukai kakinya, dan dia mengatakan: “Wahai, Rasulullah. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”.Rasulullah, berkata: “Katakanlah: Apakah dengan Allah, ayat- ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok- olok?” (At Taubah:65).

Istihza’ yang mereka lakukan di atas menyebabkan kemurtadan mereka, sebagaimana pada ayat berikutnya:

ﻻَ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ

Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah keimanan kamu.” (At Taubah:66).

Sebagian orang berpendapat, mereka itu semenjak awalnya adalah orang-orang munafik. Namun pendapat ini tidak kuat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Pendapat orang yang mengatakan tentang semisal ayat-ayat ini bahwa mereka telah kafir sesudah keimanan mereka dengan lidah mereka, sedangkan hati mereka kafir semenjak awal; pendapat ini tidak benar. Karena iman dengan lidah bersamaan dengan kekafiran hati, berarti kekafiran selalu menyertainya, sehingga tidak dikatakan: “kamu telah kafir sesudah keimanan kamu”, karena hakikatnya mereka terus sebagai orang kafir. Dan jika dimaksudkan “bahwa kamu menampakkan kekafiran setelah kamu menampakkan keimanan”, maka mereka itu tidaklah menampakkan kekafiran kepada semua manusia, kecuali kepada orang-orang dekat mereka. Mereka bersama orang-orang dekat mereka selalu begitu. Bahkan (yang benar), ketika mereka berbuat nifak dan takut akan diturunkan terhadap mereka surat yang menerangkan kemunafikan yang tersembunyi di dalam hati mereka, mereka(pun) berbicara dengan istihza’.Mereka menjadi orang-orang kafir setelah keimanan mereka. Lafazh itu tidak menunjukkan bahwa mereka munafik semenjak dahulu”.

Ibnu Quddamah rahimahullah dalam Al-Mughni berkata, “Barangsiapa yang mencaci Allâh, ia telah kufur. Baik itu ia mengatakannya hanya senda gurau, ataupun dengan serius. Demikian pula dengan orang yang mengolok-olok Allâh, atau ayat-ayat-Nya, rasul-Nya, ataupun kitab-kitab- Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Bahkan seorang kafir dzimmi yang terang-terangan mencaci Rabb kita, Kitab-Nya, membakar masjid dan rumah-rumah kita, itu lebih parah daripada ia berterus terang memerangi kita, bila kita memang benar-benar kaum mukminin. Sebab, wajib bagi kita untuk mengorbankan darah dan harta kita agar kalimat Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadi yang tertinggi, dan agar ia tidak menampakkan sesuatupun yang menyakiti Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya di tengah kita.”

Ini merupakan perbuatan orang kafir yang akan mendapatkan siksa yang pedih! Allah berfirman:

ﻭَﻳْﻞٌ ﻟِّﻜُﻞِّ ﺃَﻓَّﺎﻙٍ ﺃَﺛِﻴﻢٍ ﻳَﺴْﻤَﻊُﺀَﺍﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗُﺘٍﻠَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛُﻢَّ ﻳُﺼِﺮُّﻣُﺴْﺘَﻜْﺒِﺮًﺍ ﻛَﺄَﻥ ﻟَّﻢْ ﻳَﺴْﻤَﻌْﻬَﺎ ﻓَﺒِﺸِّﺮْﻩُﺑِﻌَﺬَﺍﺏٍ ﺃَﻟِﻴﻢٍ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻋَﻠِﻢَ ﻣِﻦْ ﺀَﺍﻳَﺎﺗِﻨَﺎﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍﺗَّﺨَﺬَﻫَﺎ ﻫُﺰُﻭًﺍ ﺃُﻭْﻟَﺌِﻚَ ﻟَﻬُﻢْﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻣُّﻬِﻴﻦٌ

Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia mendengar ayat-ayat Allah yang dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri khabar gembiralah dia dengan adzab yang pedih. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok. Merekalah yang memperoleh adzab yang menghinakan.” (Al Jatsiyah:7-9).

Allah ‘Azza wa Jalla telah melarang umat Islam duduk bersama orang-orang kafir yang sedang memperolok-olok ayat-ayat-Nya. Allah berfirman.

ﻭَﻗَﺪْ ﻧَﺰَّﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻥْﺇِﺫَﺍ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻢْ ﺀَﺍﻳَﺎﺕِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳُﻜْﻔَﺮُ ﺑِﻬَﺎﻭَﻳُﺴْﺘَﻬْﺰَﺃُ ﺑِﻬَﺎ ﻓَﻼَ ﺗَﻘْﻌُﺪُﻭﺍ ﻣَﻌَﻬُﻢْﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺨُﻮﺿُﻮﺍ ﻓِﻲ ﺣَﺪِﻳﺚٍﻏَﻴْﺮِﻩِ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺇِﺫًﺍ ﻣِّﺜْﻠُﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَﺟَﺎﻣِﻊُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻘِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ ﻓِﻲﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Alquran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian),tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang- orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An Nisa’:140).

(Lanjut ke hal….2)