MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI BAHANGURAUAN, Tidak Usah Kamu Minta Maaf Karena Kamu Kafir Sesudah Beriman

Alhamdulillah

Ustadz Ahmad Zainuddin · Buruknya Mengolok-olok Agama

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Kitab Tauhid Mengolok- Ngolok Allah, Rasul dan Ajaran Islam 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Siksa Mengolok-olok Agama

Ustadz Mizan Qudsiyah Lc-Pembatal Keislaman Mengolok Ajaran Rasulullah 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Kriminal Menghina
Agama Allah 

Kitab Tauhid Ke-37: Mengolok-Olok Agama – Ustadz Ikrimah

Ceramah: Wajibnya Mengagungkan Sunnah dan Bahaya Mengolok-olok Sunnah (Ustadz Abu Qatadah) 

Bincang Santai: Jenggot Goblok? – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar seorang yang ditokohkan mengatakan “semakin panjang jenggot, semakin goblok”. Apakah benar pernyataan orang ini? Kenapa dia sampai bisa melontarkan pernyataan yang keji seperti ini?

Simak Jawabannya dalam video bincang santai:Jenggot Goblok? – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Pengajian : Celakalah Para Pencela Sunnah – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Diakhir zaman ini dunia Islam dihebohkan oleh banyak pernyataan kontroversi dari mereka yang mengaku cendikiawan muslim, kiyai, ustadz, dll. seperti misalnya jenggot mengurangi kecerdasan, semakin panjang jenggot semakin goblok, ibadah haji hanyalah pemborosan, ibadah kurban disebut sebagai warisan nabi yang kriminal dsb. bagaimana Islam memandang sikap mereka ini?

Simak Pengajian : Celakalah Para Pencela Sunnah – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Mutiara Hikmah: Kisah Celakanya Para Pencela Sunnah- Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Jangan Suka Mengolok- olok Sunnah Nabi – Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas

https://m.youtube.com/watch?v=sw97Dcfu4L0

Istihza’ atau mengolok-olok agama biasa dilakukan oleh orang kafir, lantas bagaimana bila yang melakukannya seorang muslim, yang demikian diakibatkan kurangnya pemahaman agama yang menyebar di masyarakat. Alhasil orang Islam tapi buta akan ajarannya sendiri.

Di antara sebab kemurtadan adalah ucapan yang mengandung kekufuran dan kesyirikan, baik secara serius (karena keyakinan) maupun secara senda gurau dan main-main belaka.

Simak ayat di bawah ini.

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟۡﺘَﻬُﻢۡ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠۡﻌَﺐُۚ ﻗُﻞۡ ﺃَﺑِﭑﻟﻠَّﻪِ

ﻭَﺀَﺍﻳَٰﺘِﻪِۦ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِۦ ﻛُﻨﺘُﻢۡ ﺗَﺴۡﺘَﻬۡﺰِﺀُﻭﻥَ ٦٥ ﻟَﺎ ﺗَﻌۡﺘَﺬِﺭُﻭﺍْ ﻗَﺪۡﻛَﻔَﺮۡﺗُﻢ ﺑَﻌۡﺪَ ﺇِﻳﻤَٰﻨِﻜُﻢۡۚ ﺇِﻥ ﻧَّﻌۡﻒُ ﻋَﻦ ﻃَﺎٓﺋِﻔَﺔٖ ﻣِّﻨﻜُﻢۡ ﻧُﻌَﺬِّﺏۡ ﻃَﺎٓﺋِﻔَﺔَۢﺑِﺄَﻧَّﻬُﻢۡ ﻛَﺎﻧُﻮﺍْ ﻣُﺠۡﺮِﻣِﻴﻦَ ٦٦

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab,.“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja, katakan (Muhammad) apakah kepada Allah dan ayat-ayat-Nya serta rasul-Nya kalian mengolok-olok? Tidak ada maaf bagi kalian, sungguh kalian telah kafir setelah berimannya kalian.” (at-Taubah: 65—66)

Ayat ini turun terkait dengan kaum yang berangkat berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, lantas lisan mereka mengucapkan kalimat yang mengandung olokan dan ejekan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Mereka pun menjadi kafir karenanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Nawaqidhu al- Islam, setelah menyebutkan sepuluh dari pembatal-pembatal keislaman yang besar menjelaskan, “Tidak ada perbedaan dalam pembatal-pembatal keislaman ini.antara orang yang bermain-main,bersungguh-sungguh, dan takut; kecuali orang dipaksa. Semua ini adalah Pembatal keislaman yang paling berbahaya dan paling sering terjadi.

Sepantasnya setiap muslim berhati-hati, merasa takut akan ditimpa pembatal- pembatal tersebut. Kita berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari murka-Nya yang pasti dan azab-Nya yang pedih.” (Lihat Nawaqidhu al-Islam dan Kasyfu asy-Syubhat karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan al- Aqidah ash-Shahihah wama Yudhadduha wa Nawaqidhu al-Islam karya asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz)

Mungkin ada yang tidak sadar, mungkin karenabelum tahu, semoga diampuni, yaitu menjadikan agama sebagai bahan candaan dan mengolok- olok agama baik serius maupun bercanda

-Ini sangat penting, sehingga dibahas dalampelajaran TAUHID

Kalau mengolok-olok agama (istihzaa’) mungkin.sedikit, karena sudah tahu, tapi ada saja orangnya, terutama dari kalangan liberal

Contoh mengolok-olok dalam agama, baik serius maupun sekedar bercanda yang tidak boleh:

•“Untuk jenggot sebagai sunnah, dibilang kambing”

•“Untuk sunnah cadar, dibilang: ‘awas ninja lewat !“

•“Al-Quran juga kitab porno, ada bicara tentangitu”

•“Kalau ikut ajaran Islam, maka bisa ketinggalzaman”

Contoh menjadikan agama sebagai bahan candaan:

•“Ustadz boleh tidak berbuka dengan air rasa sirup? Boleh saja asalkan jangan berbuka dengan sirup rasa ingin memiliki”

•“Zaman pemilu: Tasyahhud itu sah kalau 1 jari,bukan 2 jari (milih nomor 1)”

•“Saya bilang lho bahasa Arab, nih saya bacaAlfatihah, tuh kan saya bisa bahasa Arab”

Dilihat dari bentuknya, sebagian ulama membagi istihza’ terhadap agama menjadi dua bagian.

Pertama: Istihza’ Sharih (nyata, terang-terangan). Contohnya:

•Perkataan orang yang menjadi sebab turunnyaayat 65 surat At Taubah, yang mengatakan tentang Nabi dan para sahabat dengan perkataan: “Aku tidak pernah melihat semisal para qari’ (ahli Alquran atau ahli agama) kita ini,lebih rakus.perutnya, lebih dusta lidahnya, dan lebih penakut di saat pertempuran”.

Mengejek agama dengan perkataan “agama kamu ini agama ke lima”.

•Mengejek agama dengan perkataan “agama kamu ini sudah usang (kuno)”.

•Ketika melihat orang beramar ma’ruf nahi munkar, mengatakan “datang ahli agama”, “datang.orang ‘alim”, yang maksudnya untuk merendahkan dan menertawakan. Dan semacamnya.

Kedua: Istihza’ Ghairush Sharih (tidak nyata, tidak terang-terangan). Contohnya:

Mengedipkan mata, menjulurkan lidah, mencibirkan bibir, mencubit dengan tangan, saat dibacakan Alquran atau hadits Nabi atau ketika seseorang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar.

•Mengatakan “agama Islam tidak pantas pada abad ini, hanya pantas untuk abad pertengahan abad onta”.

•Mengatakan “agama Islam agama kemunduran,terbelakang”.

•Mengatakan “hukuman dalam agama Islamkejam, biadab, buas, dan semacamnya”.

•Mengatakan “agama Islam menzhalimi wanita,karena membolehkan poligami”.

•Perkataan “hukum buatan manusia lebih baik dari pada hukum Islam”.

•Terhadap orang yang mendakwahkan tauhid dan.melarang syirik,Menjauhi Bid’ah mengatakan “orang ini ekstrimis fundamentalis”, atau “orang ini ingin memecahbelah umat Islam”, atau “orang ini Wahhabi”,Orang Ini Mengambil Ilmu Dari Ulama Sesat yg membawa Ke Neraka dan semacamnya.

,•Terhadap orang yang menyerukan Sunnah Nabimengatakan “agama bukan pada rambut”, atau“agama bukan pada pakaian”, atau semacamnya.

Dan contoh yang lainnya, masih banyak bahan candaan yang lainnya untuk bercanda yangmubah, sebaiknya jangan pakai agama sebagaibahan candaan, karena ini bisa mengantarkan ke arah mengolok-olok agama

-Kita khawatir akan terjerumus dalam ancaman berikut

ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu BEROLOK- OLOK?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman… [At Taubah : 65-66]

MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI BAHAN GURAUAN Oleh Prof. Dr Abdur Razzaq al-Abbad

Islam merupakan agama agung, yang dibangun di atas pondasi pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla , pengagungan terhadap syariat-Nya dan.Rasul-Nya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ﺫَٰﻟِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻌَﻈِّﻢْ ﺷَﻌَﺎﺋِﺮَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓَﺈِﻧَّﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ

Demikianlah (perintah Allâh). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allâh, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati [Al-.Hajj/ 22: 32]

Apabila pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla di dalam hati seseorang menguat, maka ia akan tunduk, patuh, berserah diri dan taat. Namun apabila pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla hilang dari hati seorang hamba, maka ia akan membangkang kepada agama ini, bahkan ia akan berubah menjadi seseorang yang suka mencibir, mencela, dan menghinakan (agama ini). Dengan ini, tersingkap sudah penyebab hilangnya rasa hormat dari sebagian orang terhadap agama ini.

(Lanjut Ke Hal….2)

Iklan