20 KESALAHAN DALAM BER-AQIDAH(2)
Alhamdulillah20 KESALAHAN DALAM BER-AQIDAH(2) USTADZ ABU ZIYAD IBNU SOFWAN خفظه الله 

Muqoddimah
Pengajian Islam: Akidah Tradisional dalam Sorotan – Ustadz Zainal Abidin, Lc. 

Kajian Umum: Pentingnya Aqidah – Ustadz Maududi Abdullah

Ceramah Agama: Masyarakat Madani dengan AkidahIslamiyyah – Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.

Ceramah Agama : Inilah Foto yang Menyesatkan -Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.

https://m.youtube.com/watch?v=S-UGRRUiev0

Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja ·
Indah dan Bahagianya Hidup Dengan Aqidah
yang Benar 

Ustadz Abdullah Taslim · Indahnya Persatuan Diatas Kebenaran

Ustadz Syafiq Basalamah · Ramuan Setan

Ustadz Aunur Rafiq Ghufran · Pentingnya Aqidah dalam Pembinaan Umat Sesi 1

Ustadz Aunur Rafiq Ghufran · Pentingnya Aqidah dalam Pembinaan Umat Sesi 2

Ustadz Abdurrahman Thayyib · Pentingnya Aqidah yang Benar 

Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy- Adabul Mufrod (Tuntunan Memberi Nama)

Al Ustadz Ridwanul Barri-Membantah Subhat
Untuk Meninggalkan Al Qur’an dan As Sunnah

Al Ustadz Usamah bin Faishal Mahr- Pentingnya Beriman kepada Takdir

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Masail
Jahiliyyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Kekeliruan dalam Memahami Takdir

Ustadz Abdullah Taslim · Prinsip Ahlussunnah dalam Memahami Takdir 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Al Kabair Dosa Besar
Kekeliruan dalam Beriman pada Takdir

Ustadz Khairullah Anwar Luthfi · Berdalih dengan Takdir Ketika Bermaksiat 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal · Hadits
Arbain Jamiul Ulum wal Hikam
Pemahaman Terhadap Takdir

Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy- Sebab-Sebab Penyimpangan Dalam Aqidah
dan Manhaj Sesi 1 

Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy- Sebab-Sebab Penyimpangan Dalam Aqidah dan Manhaj Sesi 2

Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy- Sebab-sebab Penyimpangan

Ustadz Armen Halim Naro · LaranganMengatakan Fulan Syahid Sesi 1

Ustadz Armen Halim Naro · Larangan Mengatakan Fulan Syahid Sesi 2

Ustadz Ahmad Zainuddin · Bulan Shafar bukan Bulan Sial

Muhammad Abduh Tuasikal · Kitab
Tauhid
Tathoyyur.(Beranggapan Sial) 

Ustadz Mizan Qudsiyah-Menganggap Sesuatu Mendatangkan Sial Sesi 1

Ustadz Mizan Qudsiyah-Menganggap Sesuatu Mendatangkan Sial Sesi 2

Ustadz Mizan Qudsiyah-Menganggap Sesuatu Mendatangkan Sial Sesi 3

Ustadz Mizan Qudsiyah-Menganggap Sesuatu Mendatangkan Sial Sesi 4

Ustadz Ahmad Zainuddin · Keyakinan Bulan
Shafar Bulan Sial

Ustadz Ahmad Zainuddin · Adakah Bulan
Shafar yang Sial 

Segala puji bagi hanyalah milik Allah عزّوجلّ. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti dan loyal  kepada sunnah beliau, Amma ba’du:

Kondisi umat Islam sekarang ini sudah sedemikian memprihatinkan. Krisis multi dimensi dalam tatanan kehidupan beragama semakin terasa. Sosok muslim ideal yang sesuai dengan syariat telah ditinggalkan. Kesalahan-kesalahan dalam pengamalan sehari-hari mereka tampilkan, baik dalam bentuk lisan, amalan atau keyakinan. Dan lebih parah lagi mereka tidak sadar bahwa bila telah melakukan suatu kesalahan.

Oleh karena itu kami akan mengangkat kesalahan-kesalahan umat Islam dalam permasalahan aqidah yang telah menyebar dan begitu popoler di masyarakat. Semoga kita bisa mengambil manfaat darinya.

Kesepuluh:
Munculnya syubhat, “Terkadang kecanggihan teknologi bisa membantah nash (teks) dari Al-Qur’an maupun dari Hadits.”

Ketahuilah, wajib bagi seorang muslim berkeyakinan bahwa yang ada dalam Al-Qur’an ataupun Hadits yang shahih tidak mungkin bertentangan dengan teknologi yang benar. Ini merupakan kenyataan yang wajib bagi kita untuk mengimaninya dan membenarkan yang telah dijelaskan Allah dan RasulNya. Misalnya, muncul keragu-raguan sebagian orang terhadap firman Allah سبحانه و تعالى:
وَيَعْلَمُ مَافِي اْلأَرْحَامِ
Dan Dia mengetahui apa-apa yang ada di dalam rahim. (QS. Luqman : 34)
Berdasarkan ayat diatas, apa-apa yang ada di dalam rahim hanyalah Allah yang mengetahuinya dan merupakan rahasiaNya. Namun kenyataannya (menurut mereka), para dokter juga bisa mengetahui apa yang di rahim dengan peralatan modern. Yaitu tentang jenis kelamin janin. Inilah salah satu contoh syubhat yang bisa menggoyahkan keimanan.
Maka sebagai jawabannya adalah sebagai berikut. Lafazh “maa” pada ayat tersebut termasuk lafaz yang bermakna umum. Artinya bisa mencakup semua yang berkaitan dengan janin dalam ciptaannya. Bentuk, warna, panjang, rizqi, amalan, keadaannya di dunia (sengsara atau bahagia), ajalnya dan lain sebagainya. Berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud رضي الله عنه:
إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ
Sesungguhnya salah seorang diantara kalian, dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah yang menggantung selama 40 hari, kemudian menjadi segumpal daging selama 40 hari. Kemudian seorang Malaikat diutus kepada janin tersebut, lalu ia meniupkan ruh dan diperintahkan dengan empat perkara yaitu tentang rizkinya, ajalnya, amalannya dan celaka atau bahagia. (HR. Bukhari)
Pengetahuan terhadap janin masuk dalam takdir Allah سبحانه و تعالى dan dokter tidak akan bisa mengetahuinya kecuali setelah diciptakan, disempurnakan bentuknya, hampir keluar dari rahim ibunya. Bagaimana sebelum itu, maka mereka tidak akan bisa mengetahuinya, walaupun menggunakan alat yang canggih sekalipun. Oleh karena itu jelaslah bahwa nash itu tidak akan bertentangan dengan teknologi yang benar.
Kesebelas:
Masyhurnya beberapa nama yang selayaknya di ganti karena mengandung tazkiyah (penyucian) terhadap diri. Seperti: Iman, Fitnah, Abrar, Mallak dan lain sebagainya.”

Rasulullah pernah merubah nama “Murroh” menjadi Zainab atau Juwairiyah.[1] & [2]
1.  Lihat Fathul Baari no. 6192, Muslim 2140

2.  Rasulullah mengganti nama-nama lainnya seperti:

a.  Abu Hakam diganti namanya oleh Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dengan Abu Syuraikh (Syuraikh adalah nama anak paling besar dari orang tersebut)

b.  Abdul Hajar diganti dengan Abdullah

c.   Qasim dengan Abdur Rahman

d.  Nama seorang bayi diganti Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍ ﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ dngan al-Mundzir

e.  Ashiyah dengan Jamilah

f.   Barrah dengan Zainab dan juga Juwairiyyah

g.  Syihab dengan Hisyam

h.  Al-‘Ash dengan Muthi

i.    Zahm dengan Basyir

j.   Hazan dengan Sahal

k.  Nama yang paling dibenci Allah عزّوجلّ adalah Malikul Muluk.

Semua ini adalah riwayat Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad yang kami kutip dari shahih Adabul Mufrad karya Syaikh al-Albani Terbitan Pustaka Azzam.




Keduabelas

Dugaan sebagian orang “Semua perkara itu sudah ditakdirkan, maka kita tidak perlu berdo’a kepada Allah.”

Ini juga termasuk kesalahan yang menyebar di tengah umat. Perlu diketahui bahwa do’a termasuk sebab, berdasarkan sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:




لاَيَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ
Tidak ada yang bisa merubah takdir kecuali do’a. (Dihasankan oleh Al-Albani)




Maksudnya, bahwa do’a termasuk penyebab. Kadang-kadang Allah menghindarkan musibah seseorang disebabkan do’a. Atau Allah memberikan kebaikan anak dan rizki juga disebabkan do’a. Berdasarkan hadits dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم:
مَامِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ اللهَ بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَيْ ثَلاَثٍ: إِمَّاأَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَالَهُ فِيْ اللآخِرَةِ وَإِمَّ أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِسْلِهَا. قَالُوْا: إِذًا نُكْثِرَ. قَالَ: اللهُ أَكْثَرُ
Tidaklah seorang hamba berdo’a, tidak meminta keburukan atau untuk memutuskan tali silaturrahim kecuali Allah akan memberikan satu diantara tiga hal. Yaitu dikabulkan doanya, atau Allah hindarkan dia dari keburukan atau Allah simpan doanya di sisi Allah untuk dia. Mereka berkata, “Kalau begitu kami akan memperbanyak do’a” Rasulullah menjawab, “Allah lebih memperbanyak (pengabulanNya).” (HR. Tirmidzi, Hasan Shahih)




Do’a merupakan ibadah dan kita diperintahkan untuk berdo’a. Do’a merupakan sebab dari takdir dan sesungguhnya do’a juga sudah ditakdirkan oleh Allah:




وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina. (QS. Ghaafir: 60)

(Lanjut ke halaman 2)