Hakekat Niat Dalam Ibadah, Islam Agama Yang Mudah, Hukum, Akibat Buruk dan Subhat dalam Melafalkan Niat(Talaful Niat) 
Alhamdulillah…

Beribadah Itu Ada Aturannya (Mizan Qudsiyah, Lc) 

Agar Ibadah Diterima Allah / Ustadz Subhan Bawazier  

Ustadz Ahmad Zainuddin · Pentingnya Niat Dalam Sebuah Amal 

Al Ustadz Qomar Su’aid-Peran Penting Niat Dalam Amal Perbuatan 

Syarat Diterimanya Amal – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry,Lc

Syaikh Fahd Bin Abdurrahman Asy-Syuwayyib-Islam Agama yang Mudah 01 

Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr · Islam Agama yang Mudah 01

Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr · Islam Agama yang Mudah 02

Ustadz Arifin Badri · Islam Itu Mudah 01

Ustadz Arifin Badri · Islam Itu Mudah 02

Abu Zubeir al-Hawaary · Islam itu
Mudah dan Indah 01 

Abu Zubeir al-Hawaary · Islam itu Mudah dan Indah 02

Al Ustadz Abu Yasir Wildan Tema :SIFAT SHOLAT NABI Shallallahu ‘alaihi wassalam

Syarat-Syarat Shalat

Rukun-Rukun Sholat

Wajib dan Sunnah dalam Shalat

Was-Was dalam Niat Sholat – Ustadz
 Badrusalam, Lc. 

Bagaimanakah Hukumnya melafadzkan niat (niat dalam Sholat) – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc 


Tips Mudah Memahami Islam Bagian 1 – Ustadz .Mizan Qudsiyah, Lc

Keutamaan Niat Dalam Ibadah -Ustadz Muhammad Abduh tuasikal 

Pentingnya Niat Dalam Sholat Dan Ibadah Lainnya – Ustadz Ammi Nur Baits 

HAKEKAT NIAT DALAM IBADAH

Niat adalah Ibadah Qalbiyyah (ibadah hati) yangkedudukannya sangat penting dalam urusan ibadah. Karena niat menentukan diterima atau tidaknya suatu ibadah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻷَﻋْﻤَﺎﻝ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺎﺕِ، ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻟِﻜُﻞِّ ﺍﻣْﺮِﺉٍ ﻣَﺎ ﻧَﻮَﻯ، ﻓَﻤَﻦْ ﻛَﺎﻧَﺖْﻫِﺠْﺮَﺗُﻪ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ، ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻭ ﻣَﻦﻛَﺎﻧَﺖْ ﻫِﺠْﺮَﺗُﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﻳُﺼِﻴﺒُﻬَﺎ ﺃَﻭْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ ﻳَﻨْﻜِﺤُﻬَﺎ ﻓَﻬِﺠْﺮَﺗُﻪُﺇِﻟَﻰ ﻣَﺎ ﻫَﺎﺟَﺮَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

Sesungguhnya, amal itu hanya dinilai berdasarkan niatnya, dan sesungguhnya pahala yang diperoleh seseorang sesuai dengan niatnya. Barang siapa yang niat hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya maka dia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya dengan niat mendapatkan dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka dia hanya mendapatkan hal yang dia inginkan”. (HR.Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907).

Hadits diatas menerangkan, bahwa amal yang di lakukan manusia tergantung atau berdasarkan kepada niatnya. Apabila suatu amalan niatnya karena Allah, maka amalan tersebut akan di nilai sebagai ibadah dan akan mendapatkan balasan pahala dari Allah Ta’ala. Dan sebaliknya, apabila suatu amalan niatnya bukan karena Allah, maka amalan tersebut tidak di nilai sebagai ibadah, dan tidak akan mendapatkan balasan pahala.

Asbabul wurud (sebab turun) dari hadits tersebut adalah, sehubungan ada salah seorang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah semata-mata disebabkan karena mengikuti seorang wanita yang bernama Ummu Qais.

Dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengetahui maksud orang tersebut, lalu Rasulullah bersabda sebagaimana di atas. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

PENGERTIAN NIAT

• Arti niat menurut bahasa (etimologi)

Niat (An-Niat) menurut bahasa artinya : “Al-Qashdu” (maksud) dan “Al-Iraadah” (keinginan) atau dengan kata lain “Qashdul Quluub wa Iraadatuhu” (maksud dan keinginan hati).

• Arti niat menurut Istilah (terminologi) atau syari’at Sedangkan pengertian niat menurut istilah, atau yang dimaksud oleh syari’at sebagaimana yang dinsebutkan oleh para Ulama sebagai berikut,

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di berkata : “Niat adalah maksud dalam beramal untuk mendekatkan diri pada Allah, mencari ridha dan pahala-Nya”. (Bahjah Quluubil Abraar wa Qurratu ‘Uyuunil Akhyaar Syarah Jawaami’ul Akhbar hal. 5).

Imam Nawawi berkata : “Niat adalah bermaksud untuk melakukan sesuatu dan bertekad bulat untuk mengerjakannya”. (Mawahidu al-Jalil, 2/230 dan Faidhu al-Qodir, 1/30).

Al-Qarafi berkata : “Niat adalah maksud yang terdapat dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu yang ingin dilakukan”. (Mawahid al-Jalil2/230).

Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad binQasim Asy-Syafi’i berkata :

( ﺍﻟﻨِّﻴَﺔُ ‏) ﻭَ ﻫِﻲَ ﻗَﺼْﺪُ ﺍﻟﺸَّﻲْﺀِ ﻣُﻘْﺘَﺮَﻧﺎً ﺑِﻔِﻌْﻠِﻪِ

“(Niat) adalah memaksudkan sesuatu bersama’an dengan perbuatannya”. (Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat).

– Di dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab Al- Imam asy-Syafi’i, pada pembahasan Arkanush Shalat disebutkan :

ﻭَﻫِﻲَ ﻗَﺼَﺪَ ﺍﻟﺸَّﻲْﺀَ ﻣُﻘْﺘَﺮَﻧًﺎ ﺑِﺄَﻭَّﻝِ ﺃَﺟْﺰَﺍﺀِ ﻓِﻌْﻠِﻪِ

“(Niat), adalah menyengaja (memaksudkan) sesuatu bersama’an dengan sebagian dari perbuatan”.

Syekh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawiy berkata:

ﻭَﻫِﻲَ ﺷَﺮْﻋًﺎ ﻗَﺼَﺪَ ﺍﻟﺸَّﻲْﺀَ ﻣُﻘْﺘَﺮَﻧًﺎ ﺑِﻔِﻌْﻠِﻪِ ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﻟُﻐَﺔٌ ﻓَﺎﻟﻘَﺼْﺪُ

“(Niat) menurut syara’ (yang dimaksud oleh syari’at) adalah menyengaja sesuatu bersama’an dengan perbuatan, dan adapun menurut bahasa adalah menyengaja”.(As-Siraj Al-Wahaj).

NIAT LETAKNYA DI DALAM HATI

Syaikh Salim al-Hilali berkata : “Letak niat adalah di hati bukan di lisan dan hal ini merupakan kesepakatan seluruh ulama serta berlaku untuk seluruh ibadah baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji memerdekakan budak, berjihad dan lain- lain.” (Bahjatun Nadzirin, 1/32).

Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi berkata :

ﻟّﻬﺎ ﺍﻟﻘَﻠْﺐُ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻗِﻬِﻢْ

Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para imam)”. (Al-Ittiba’, 62).

Sayyid Sabiq mengatakan :

ﻭَﻣَﺤَﻠُّﻬَﺎ ﺍﻟﻘَﻠْﺐُ ﻟَﺎ ﺗَﻌَﻠُّﻖَ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ ﺃَﺻَﻠًﺎ

Niat tempatnya di dalam hati, pada asalnya tidak terikat dengan lisan”. (Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, pada pembahasan fardhu shalat).

Imam An-Nawawi mengatakan :

ﻓَﺈِﻥَّ ﻧَﻮًﻯ ﺑِﻘَﻠْﺒِﻪِ ﺩُﻭﻥَ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﺃَﺟَﺰَﺍﻩُ

Sesungguhnya niat dengan hati tanpa lisan sudah cukup”. (Al-Majmu’, II/43).

Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Qasim asy-Syafi’i berkata :

ﻭَ ﻣُﺤَﻠُّﻬَﺎ ﺍْﻟﻘَﻠْﺐُ

Dan tempat niat itu berada di dalam hati”. (Fathul Qarib, pada pembahasan Ahkamush Shalat).

Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al- Husaini, pada bab fardhu saum berkata :

ﻭَﻣَﺤَﻠُّﻬَﺎ ﺍﻟﻘَﻠْﺐُ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﺍﻟﻨُّﻄْﻖُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﻠَﺎ ﺧِﻠَﺎﻑٍ

Dan tempatnya niat itu di dalam hati, dan tidak di.syaratkan mengucapkannya tanpa ada khilaf”.(Kifayatul Akhyar, pada bab fardhu saum).

Imam Ibnu Hajar Al-Haitamiy berkata :

ﻭَﺍﻟﻨِّﻴَّﺔُ ﺑِﺎﻟﻘَﻠْﺐِ

Dan niat itu dengan hati”. (Tuhfatul Muhtaj, II/12).

Imam Al-Ghazaliy berkata : “Niat itu dengan hati dan bukan dengan lisan”. (Kitab Al-Wajiz fi Fiqh Al-.Imam Asy-Syafi’i, Juz I, Kitabus Shalat pada al-Babmar-Rabi’ fi Kaifiyatis Shalat).

“Ada seseorang yang berada di masjidil haram hendak mendirikan shalat, ketika iqamah dkumandangkan ia pun berkata, “Ya Allah, aku berniat akan menunaikan shalat dzuhur empat raka’at karenanMu dibelakang imam Masjidil Haram.” Namun tatkala ia hendak mengangkat kedua tangannya untuk takbiratul ihram, ada orang yang berkata kepada simpengucap niat, “Tunggu dulu masih ada yang tersisa !”. Pengucap niat menjawab, “Apa yang tersisa ?”. Dia berkata, “Katakanlah (dalam ucapan niatmu) pada hari ini, pada tanggal ini, pada bulan ini, pada tahun ini sampai engkau tidak abaikan satu pun ini dan itu”. Maka si pengucap niat terheran-heran. Pada hakekatnya pelajaran penting dari kisah ini adalah rasa heran si pengucap niat. Penegur berkata, “Bukankah engkau tahu Allah Maha Mengetahui apa yang engkau maksudkan dalam.hatimu ?” Pengucap niat menjawab, “Tentu Allah tahu apa yang terlintas dalam jiwamu”. “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah maha mengetahui jumlah bilangan.rakaat dan waktu-waktunya ?” Si pengucap niat pun terdiam. Karena dia meyadari tentang hal ini bahwa niat itu tempatnya di hati”. (Majmu’ Fatwa Wa Rasail Ibni Utsaimin 12/366, Maktabah Asy Syamilah).

HUKUM MELAFALKAN NIAT (TALAFUDZ NIAT)

Imam Ibnu Abil Izz Al Hanafi berkata :

ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔُ ﺍﻷَﺭْﺑَﻌَﺔُ، ﻟَﺎ ﺍﻟﺸّﺎﻓِﻌِﻲّ ﻭَﻻَ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﺑِﺎِﺷْﺘِﺮَﺍﻁِ ﺍﻟﺘَّﻠَﻔُّﻆِ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺔِ،ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔُ ﻣَﺤَﻠُّﻬَﺎ ﺍﻟﻘَﻠْﺐُ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻗِﻬِﻢْ، ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻥَّ ﺑَﻌْﺾٌ ﺍﻟﻤُﺘَﺄَﺧِّﺮِﻳﻦَﺃَﻭْﺟَﺐَ ﺍﻟﺘَّﻠَﻔُّﻆَ ﺑِﻬَﺎ، ﻭَﺧَﺮَّﺝَ ﻭَﺟْﻬًﺎ ﻓِﻲ ﻣَﺬْﻫَﺐٍ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ! ﻗَﺎﻝَﺍﻟﻨَّﻮَﻭِﻱَّ ﺭَﺣِﻤَﻪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ : ﻭَﻫُﻮَ ﻏَﻠَﻂٌ، ﺃُﻧْﺘَﻬَﻰ. ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺴْﺒُﻮﻕٌ ﺑِﺎﻹِﺟْﻤَﺎﻉِﻗَﺒْﻠَﻪِ

Tidak ada seorang imam pun, baik itu Asy Syafi’i atau selain beliau, yang mensyaratkan pelafalan niat. Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para imam). Hanya segelintir orang-orang belakangan saja yang mewajibkan pelafalan niat dan berdalih dengan salah satu pendapat dari madzhab Syafi’i. Imam An Nawawi rahimahullah berkata itu sebuah kesalahan. Selain itu, sudah ada ijma dalam masalah ini”. (Al-Ittiba’, 62).

Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al- Husaini, pada bab fardhu saum berkata :

ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺸْﺘَﺮِﻁْ ﺍﻟﻨُّﻄْﻖُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﻠَﺎ ﺧِﻠَﺎﻑٍ

Dan tidak di syaratkan mengucapkannya (niat) tanpa ada khilaf”. (Kifayatul Akhyar, pada bab fardhu saum).

Mengucapkan niat dengan suara keras

Abu Abdillah Muhammad bin Al-Qasim At-Tunisi.Al-Maliki berkata :

ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔُ ﻣِﻦْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻝِ ﺍﻟﻘُﻠُﻮﺏِ، ﻓَﺎﻟﺠَﻬْﺮُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ، ﻣَﻊَ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَﻣِﻦْ ﺍﻟﺘَّﺸْﻮِﻳﺶِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

Niat merupakan perbuatan hati. Mengucapkan niatndengan suara keras adalah bid’ah di samping mengganggu orang lain”. (Majmu’ah ar-Rasail al-nKubra hal, 1/254-157).

Asy Syaikh ‘Alauddin bin ‘Athar berkata :

ﻭَﺭُﻓِﻊَ ﺍﻟﺼَّﻮْﺕُ ﺑِﺎﻟﻨِّﻴَّﺔِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺘَّﺸْﻮِﻳْﺶِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤُﺼَﻠِّﻴﻦَ ﺣَﺮَﺍﻡٍﺇِﺟْﻤَﺎﻋًﺎ، ﻭَﻣَﻊَ ﻋَﺪَﻣِﻪِ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻗَﺒِﻴﺤَﺔٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﻗَﺼَﺪَ ﺑِﻪِ ﺍﻟﺮّﻳﺎٍٍَﺀُ ﻛَﺎﻥَﺣَﺮَﺍﻣًﺎ ﻣِﻦْ ﻭَﺟْﻬَﻴْﻦِ، ﻛَﺒِﻴﺮَﺓٌ ﻣِﻦْ ﺍﻟﻜَﺒَﺎﺋِﺮِ، ﻭَﺍﻟﻤُﻨْﻜِﺮُ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَﺑِﺄَﻥْ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻣُﺼِﻴْﺐٌ، ﻭَﻣُﺼَﻮَّﺑَﺔٌ ﻣُﺨْﻄِﺊٌ، ﻭَﻧَﺴَﺒَﺘْﻪُ ﺇِﻟَﻲَّﺩِﻳﻦُ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍِﻋْﺘِﻘَﺎﺩًﺍ ﻛَﻔَﺮٍّ، ﻭَﻏَﻴْﺮَ ﺍِﻋْﺘِﻘَﺎﺩِ ﻣَﻌْﺼِﻴَﺔٌ . ﻭَﻳَﺠِﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّﻣُﺆَﻣِّﻦٍ ﺗَﻤَﻜَّﻦَ ﻣِﻦْ ﺯَﺟَﺮَﻩُ، ﻭَﻣَﻨْﻌِﻪِ ﻭَﺭَﺩْﻋِﻪِ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻘُﻞْ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻨَّﻘْﻞُﻋَﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﻟَﺎﻋَﻦَ ﺃَﺣَﺪٍ ﻣِﻦﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﻋَﻦْ ﺃَﺣَﺪٌ ﻣِﻤَّﻦْ ﻳُﻘْﺘَﺪَﻯ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻹِﺳْﻠَﺎﻡِ

Meninggikan suara untuk membaca niat sehingga membuat berisik di antara jama’ah hukumnya haram secara ijma’. Jika tidak membuat berisik, ia adalah perbuatan bid’ah yang jelek. Jika ia melakukan hal tersebut dalam rangka riya, maka haramnya ganda. Ia juga merupakan dosa besar. Yang mengingkari bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia berbuat benar. Yang membenarkan bahwa perbuatan ini adalah sunnah, ia salah. Menisbatkan perbuatan ini pada agama Allah adalah keyakinan yang kufur. Jika tidak sampai meyakini hal tersebut, maka termasuk maksiat. Setiap muslim wajib dengan serius mewaspadai perbuatan ini, melarangnya dan membantahnya. Tidak ada satupun riwayat dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi Wasallam tentang hal ini, tidak pula dari satupun sahabatnya, tidak pula dari para ulama Islam yang meneladani mereka”. (Majmu’ah ar-Rasail al-Kubra 1/254).

Al Qodhi Jamaludin Abu Ar Rabi Sulaiman Ibnu Umar As Syafi’i (madzhab Syafi’i), berkata :

ﺍﻟﺠَﻬْﺮُ ﺑﺎﻟﻨّﻴﺔ ﻭَﺑِﺎﻟﻘِﺮَﺍﺀَﺓِ ﺧَﻠْﻒَ ﺍﻹِﻣَﺎﻡِ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ، ﺑَﻞْﻣَﻜْﺮُﻭﻩٌ، ﻓَﺈِﻥْ ﺣَﺼَّﻞَ ﺑِﻪِ ﺗَﺸْﻮِﻳﺶَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻤُﺼَﻠِّﻴﻦَ ﻓَﺤَﺮَﺍﻡٌ، ﻭَﻣِﻦْﻗَﺎﻝَ ﺑِﺈِﻥَّ ﺍﻟﺠَﻬْﺮَ ﺑِﻠَﻔْﻆِ ﺍﻟﻨِّﻴَّﺔِ ﻣِﻦْ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻓَﻬُﻮَ ﻣُﺨْﻄِﺊٌ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺤُﻞُّﻟَﻪُ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﻐَﻴْﺮِﻩِ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻦِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺑِﻐَﻴْﺮٍ ﻋَﻠِﻢَ

Mengucapkan niat dengan suara keras dan juga membaca (Al-fatihah atau surat lainnya) dengan suara keras di belakang Imam bukanlah termasuk sunnah Nabi bahkan hukumnya makruh. Jika dengan perbuatan tersebut jama’ah shalat yang lain terganggu maka hukumnya berubah menjadi haram. Barang siapa yang menyatakan bahwa mengucapkan niat dengan bersuara keras adalah dianjurkan maka orang tersebut sudah keliru karena siapapun dilarang untuk berkata-kata tentang agama Allah ini tanpa ilmu.” (Al-A’lam, 3/194).

Dalam Qaul Mubin fi Akhta’ al-Mushallin halaman 95 disebutkan, “Mengucapkan niat dengan suara keras hukumnya tidaklah wajib tidak pula dianjurkan berdasarkan kesepakatan seluruh ulama. Bahkan orang yang melakukannya dinilai sebagai orang yang membuat perkara baru dalam agama yang menyelisihi syariat. Jika ada orang yang melakukan hal demikian karena berkeyakinan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari syariat Islam maka orang tersebut adalah.orang yang tidak paham tentang agama dan tersesat dari jalan yang benar. Bahkan orang tersebut berhak untuk mendapatkan hukuman dari penguasa jika dia terus-menerus melakukan hal tersebut setelah diberikan penjelasan. Terlebih lagi jika orang tersebut mengganggu orang yang berada di sampingnya disebabkan bersuara keras atau mengulang-ulangi bacaan niat berkali-kali”.

Nadzim Muhammad Sulthan mengatakan, “Mengucapkan niat dengan suara keras adalah perkara baru dalam agama dan satu perbuatan yang.dinilai munkar karena hal tersebut tidak terdapat dalam al-Quran dan hadits Nabi satupun dalil yang menunjukkan di.syariatkannya hal diatas. Padahal kita semua mengetahui bahwa hukum asal ibadah adalah haram dan ibadah tidak boleh ditetapkan kecuali berdasarkan dalil.” (Qawaid wa Fawaid min al-Arbain an-Nawawiyah, halaman 31).

Mengucapkan niat dengan suara pelan

Syaikh Masyhur al-Salman mengatakan : “Demikian pula mengucapkan niat dengan suara pelan tidaklah di wajibkan menurut Imam Madzhab yang empat dan para ulama yang lainnya. Tidak ada seorang ulama pun yang mewajibkan hal tersebut, baik dalam berwudhu, shalat atau pun berpuasa.” (Al-Qoul al- Mubin halaman 96).

(Lanjut ke hal…2)