Istiqomah di Atas Sunnah, Makna Sunnah dan Sunnah Adalah Pemersatu dan Bidah Adalah Pemecah Belah

Alhamdulillah

Makna Sunnah (Mizan Qudsiyah, Lc) 

Alangkah Indahnya Hidup ini Jika Diiringi Sunnah (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA) 

Indahnya Hidup dengan Sunnah (Abdul Hakim bin Amir Abdat) 

Back To Sunnah (Subhan Bawazier)

Kiat Mengamalkan Sunnah Rasulullah
(Mizan Qudsiyah, Lc)

Kaidah-Kaidah Mengamalkan Sunnah
(Mizan Qudsiyah, Lc) 

Makna dan Hakekat Sunnah (Riyadh bin Badr Bajrey, Lc) 

Al Ustadz Abu Mu’awiyah Askary- Istiqomah di Atas Sunnah sesi 1

Sesi 2

Ustadz Abdullah bin Ahmad Bawazier- Pentingnya Istiqomah Di Atas Al Haq

Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh-Sebab-Sebab Istiqomah Di Atas Al Haq 

Ustadz Abul ‘Abbas Muhammad Ihsan (Alumnus Darul Hadits, Yaman; )-Istiqomah di Atas Al Haqq

Ustadz Abdullah Taslim · Istiqomah Diatas
Sunnah 

Ustadz Abdullah Taslim · Kiat-kiat Istiqomah 

Ustadz Abdullah Taslim · Tetap Istiqomah
dalam Kebenaran

Ustadz Abdullah Taslim · Istiqomah

Ustadz Syafiq Basalamah · Istiqomah Di
Zaman Fitnah 

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi ·
Istiqomah diatas Sunnah Sesi 1  

Sesi 2

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary · Istiqomah
Diatas Sunnah di Zaman yang Penuh Fitnah

Ustadz Abu Qatadah · Istiqomah, Makna,
Hakikat, Kedudukan dan 
Keutamaanya


Ceramah: Istiqamah di Atas Sunnah(Ustadz Maududi, Lc. dan Ustadz Badrusalam, Lc.)

Kajian Ilmiah: Istiqomah Di Atas Sunnah – Ustadz Sofyan Chalid Ruray 

Istiqomah di Atas Sunnah Ditengah Celaan – Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc 

Tabligh Akbar Istiqomah di atas Sunnah

https://m.youtube.com/watch?v=_j_BCTlI1g8

Istiqomah di Atas Sunnah

Prof.Dr.Syaikh Ibrahim bin Amir Ar Ruhaily hafizhahullah ta’ala…

Penerjemah : Ustadz Abdullah Zaen Lc MA hafizhahullah ta’ala

Ahad , 27 Rabiul Tsani 1439 H/14 Januari 2018 Mesjid Agung Karanganyar, Jawa Tengah

Bismillah, alhamdulillah washalatu wasallamu’ala Rasulillah

MAKNA SUNNAH

Syariat yang sempurna ini merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam dengan makna yang umum, karena sunnah memiliki empat keumuman makna, yaitu :

Pertama :  Segala apa yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah adalah sunnah beliau  Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Sunnah di sini berarti jalan/metoda yang nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam berada di atasnya. Diantara yang bermakna seperti  ini adalah sabda beliau  Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Barangsiapa yang benci dengan sunnahku maka bukanlah termasuk golonganku.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari (5063) dan Muslim (1401).

Kedua :  Sunnah yang bermakna hadits apabila digandengkan dengan al- Kitab. Seperti sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ مَا إِنِ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلُّوْا أَبَدًا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Wahai manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian yang apabila sekiranya kalian berpegang dengannya niscaya kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

إِنِّيْ قَدْ تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِيْ

Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian  dua hal yang kalian tidak akan tersesat setelahnya: Kitabullah dan Sunnahku.”  Keduanya diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam Mustadrak-nya (1/93).

Juga termasuk sunnah yang bermakna ini adalah perkataan sebagian ulama ketika menyebutkan beberapa masalah  : “Ini adalah masalah yang telah ditunjukkan oleh al- Kitab, as-Sunnah dan al-Ijma’”.

Ketiga : Sunnah yang bermakna lawan dari bid’ah. Diantaranya adalah sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam di dalam hadits al-‘Irbadh bin Sariyah :

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِانَّوَاجِذِ، وَ إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٌ ضَلاَلَةٌ

Maka sesungguhnya, siapa saja diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib atas kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa` al-Mahdiyyin arRasyidin(para khalifah yang terbimbing dan lurus), genggamlah sunnah tersebut dengan erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari perkara yang diada-adakan (di dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan (didalam agama) itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu pasti sesat.” Diriwayatkan oleh at-Turmudzi (2676) dan Ibnu Majah(43-44). At-Turmudzi mengatakan : “hadits hasan shahih”.

Diantaranya pula adalah penamaan para ulama ahli hadits terdahulu kitab-kitab mereka di dalam masalah aqidah dengan nama “as-Sunnah”, seperti “as-Sunnah” karya Muhammad bin Nashr al-Marwazi (al-Marruzi), “as-Sunnah” karya Abi ‘Ashim, “as-Sunnah” karya al-Lalika`i dan selain mereka. Juga di dalam  Sunan Abu Dawud terdapat  Kitabus Sunnah yang isinya tentang hadits-hadits berkenaan dengan masalah aqidah yang banyak.

Keempat :  As-Sunnah yang bermakna  mandub (dianjurkan) dan  mustahab (disukai), yaitu perintah yang datang dengan cara  istihbab (penganjuran) bukan dengan cara  ijab (pewajiban), dan penggunaan seperti ini banyak digunakan ahli fikih. Diantara contohnya adalah sabda Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ

Sekiranya tidak memberatkan bagi umatku, niscaya aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak sholat.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari (887) dan Muslim (252).

Sesungguhnya perintah untuk bersiwak jatuh kepada hukum dianjurkan saja (istihbab) dan hukum wajib dalam perintah ini ditinggalkan dengan sebab kekhawatiran akan memberatkan.[]

Disalin dari “Al-Hatstsu ‘Alaa Ittibaa’is Sunnah wat Tahdziiru minal Bida’i wa Bayaanu Khatharihaa”, edisi terjemah “Ikuti Sunnah Jauhi Bid’ah” karya Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-’Abbaad Al-Badr, penerjemah Abu Salma al-Atsari, Bab Keumuman Lafazh Sunnah hal. 49-52.

SUNNAH ADALAH PEMERSATU DAN BID’AH ADALAH PEMECAH BELAH

Jika kaum muslimin bersatu di atas sunnah maka mereka akan mendapatkan rahmat Allah عزّوجلّ, kebaikan, dan kekuatan. Jika mereka berselisih maka yang terjadi adalah kelemahan, kekalahan, dan kehancuran; sebagaimana firman Allah سبحانه و تعالى:

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang. Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Anfal [8]: 46)

Namun, wajib diketahui bahwa persatuan itu dibangun di atas ittiba’ (ketaatan) kepada as-Sunnah bukan di atas bid’ah. Kebanyakan firqah-firqah yang mencela adanya perpecahan dan mengajak kepada persatuan, yang mereka maksud dengan perpecahan adalah golongan yang menyelisihi mereka meskipun golongan itu berada di atas kebenaran. Sedangkan yang mereka maksud dengan persatuan adalah kembali kepada prinsip dan manhaj mereka. Padahal prinsip dan manhaj mereka telah menyimpang dari jalan ash-Shirath al-Mustaqim (jalan yang lurus).

Maka hendaknya umat Islam berada dalam satu barisan di atas sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam menghadapi musuh-musuh mereka. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ، يَرَ  اخْتِلاَفاً كًثِيْراً، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنّهاَ ضَلاَلَةٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْه بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kalian itu seorang budak Habasyi. Karena, sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang nantinya masih hidup, dia akan melihat perselisihan yang banyak. Dan hati-hatilah kalian terhadap perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena perkara tersebut sesat. Siapa di antara kalian yang mendapatkan keadaan tersebut maka wajib atasnya berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khalifah yang terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Gigitlah sunnah itu dengan gigi geraham kalian (pegang erat-erat jangan sampai lepas). “1

Maka bahtera penyelamat dari gelombang perselisihan dan perpecahan ini adalah berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Saking kuatnya keharusan berpegang tersebut hingga diibaratkan seperti menggigit dengan geraham (Jami’ul ‘Ulum 2/126). Ditambahkan oleh Syaikhul Islam bahwa dikhususkannya penyebutan geraham dalam hadits ini karena gigitan gigi geraham ini sangat kokoh (Majmu’ Fatawa 22/225).

Nabi صلى الله عليه وسلم menggandengkan sunnah Khulafaur Rasyidin dengan sunnah beliau karena para khalifah ini tatkala menetapkan sunnah bisa jadi mengikuti sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم itu sendiri, dan bisa pula mereka mengikuti apa yang mereka pahami dari sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم secara global dan rinci, yang mana perkara tersebut tersembunyi bagi yang lainnya. (al-I’tisham 1/118)

Maka berpegang teguh dengan Sunnah adalah sumber keselamatan dari semua fitnah termasuk fitnah perselisihan dan perpecahan. Imam Malik bin Anas رحمه الله berkata:

 السُّـنَّة سَفِيْنَةُ نُوْحٍ، مَنْ رَكبَهَا نَـجَا، وَمَنْ تَـخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ

As-Sunnah adalah perahu Nuh, siapa saja yang menaikinya maka dia selamat, dan barangsiapa yang tertinggal maka dia tenggelam.”2

1.      HR. Tirmidzi no. 2816 dan selainnya; dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/2157

2.      Dzammul Kalam wa Ahlihi 5/81

Setiap Muslim berusaha mencapai keistiqomahan di atas sunnah, orang yang bisa istiqomah maka mendapatkan keistimewaan. Oleh karena ada yang berusaha mencoba istiqomah namun tidak mendapatkannya..

(Lanjut ke hal…2)