Iman kepada Allah

Alhamdulillah

Ustadz Mizan Qudsiyah- Pengertian Iman 

Ustadz Mizan Qudsiyah-Iman Kepada Allah

Ebook Aqidah Untuk Anak 62 Halaman

 Ustadz Abdullah Roy · Beriman Kepada Allah 

Ustadz Yazid Jawas · Iman Kepada Allah dan
Hikmahnya

Ke 04 – Iman Kepada Allah(Aqidah Imam Ahlul Hadits)  

Ustadz Abdullah Zaen · Rukun Iman:Beriman Kepada Allah 

Ustadz Yazid Jawas · Iman Kepada Allah 1 

Ustadz Yazid Jawas · Iman Kepad a Allah 2

Ustadz Ahmad Zainuddin · Sudahkah Anda
Beriman Kepada Allah

 Ustadz Abdullah Taslim Lc., M.A.- Indahnya Cinta Kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Transkrip Kajian:
——————————-

Pada kesempatan kajian kita di sore hari ini, kita akan membahas tema Indahnya Cinta Kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, ini merupakan tema pembahasan penting dalam agama, inilah sebab utama yang menjadikan iman hidup, cinta kepada Allah adalah ruhnya iman, Al-Imam Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah Ta’ala menggambarkan kedudukan Cinta kepada Allah, kata beliau :

ﻫﻲ ﺭﻭﺡ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻭﺣﻘﻴﻘﺔ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪ، ﻭﻋﻴﻦ ﺍﻟﺘﻌﺒﺪ، ﻭﺃﺳﺎﺱﺍﻟﺘﻘﺮﺏ

Cinta Kepada Allah itu ruhnya iman, Hakekatnya Tauhid, dan Inti pendekatan diri kepada Allah, serta landasan utama ibadah kepadanya.

Cinta kepada Allah, ini merupakan inti daripada keimanan, makanya semua amal-amal kebaikan dalam islam, amal-amal ibadah itu tidak akan bernilai kalau diamalkan tanpa landasan cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Artinya seorang hamba itu ketika beribadah kepada Allah dia mengamalkannya karena dia ingin meraih kedekatan dengan Allah, dia mengamalkannya karena menginginkan balasan kemuliaan disisi-Nya, Makanya didalam Al-Qur’an ketika Allah menyebutkan amalan-amalan besar, Allah Subhanahu wa ta’ala berikan motivasi dengan pertemuan dengan Allah (bertemu dengan Allah),Amalan-Amalan besar disebutkan keutamaannya dekat dengan Allah. Contoh seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala diakhir Surat Al-Kahfi :

ﻓَﻤَﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﺮۡﺟُﻮﺍْ ﻟِﻘَﺎٓﺀَ ﺭَﺑِّﻪِۦ ﻓَﻠۡﻴَﻌۡﻤَﻞۡ ﻋَﻤَﻼً۬ ﺻَـٰﻠِﺤً۬ﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸۡﺮِﻙۡﺑِﻌِﺒَﺎﺩَﺓِ ﺭَﺑِّﻪِۦۤ ﺃَﺣَﺪَۢﺍ

Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah hendaknya dia mengamalkan amalan yang sholeh dan jangan dia menyekutukan Allah Subhanahu wa ta’ala kepada sesuatu pun sewaktu dia beribadah kepada-Nya


Kajian Islam: Beriman Kepada Allah – Ustadz Abdullah Roy, MA
 

Rukun Iman #3: Beriman Kepada Allah – Ustadz Abdullah Zaen, MA 

Cara Menambah Keimanan kepada Allah – 5 Menit yang Menginspirasi – Ustadz Afifi Abdul Wadud 

Aqidah untuk Pemula: Makna Beriman Kepada Allah 

Siapa Allah / Tak kenal maka tak sayang – Ustadz Abdullah Zaen, MA 

Apa yang musti dikenal dari Allah?

Yang perlu kita kenal dari Allah minimal ada 4:

1. Mengenal keberadaan Allah

2. Mengenal Rubbubiyah Allah

3. Mengenal Uluhiyah Allah

4. Mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah.

Iman Kepada Allah

Nama eBook: Iman Kepada Allah

Penyusun: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaiminﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Download PDF 29 Halaman



Pengantar:

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ ﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ. ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢﺑﺈﺣﺴﺎﻥ ﺇﻟﻰ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﺪﻳﻦ، ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺃَﻥْ ﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘِﻪِ ﻭَﻛُﺘُﺒِﻪِ ﻭَﺭُﺳُﻠِﻪِﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻵﺧِﺮِ ﻭَﺗُﺆْﻣِﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺧَﻴْﺮِﻩِﻭَﺷَﺮِّﻩِ

“(Iman itu adalah) engkau beriman kepada Allah , para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan hendaknya engkau beriman kepada qadar (taqdir Allah), yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim).

Beriman kepada Allah adalah pondasi Aqidah kita, kita mengimani rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya bahwa Allah adalah Rabb: Pencipta, Penguasa dan Pengatur segala yang ada di alam semesta ini, keyakinan ini adalah keyakinan yang dianut semua manusia termasuk orang musyrik kecuali orang-orang atheis, untuk menjadikan kita sebagi muslim mestilah kita mengimani uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala , artinya Allah adalah Ilaah (Sembahan) Yang Haq, sedang segala sembahan selain-Nya adalah batil, kemudian kita mengimani Asma’ dan Sifat-Nya , artinya bahwa Allah memiliki Nama-nama yang Maha indah serta Sifat- sifat yang Maha Sempurna dan Maha Luhur.

Dan kita mengimani keesaan Allah dalam hal itu semua, artinya bahwa Allah tiada sesuatupun yang menjadi sekutu bagi-Nya dalam rububiyah, uluhiyah, maupun dalam Asma’ dan Sifat-Nya. Itulah sekelumit kandungan yang dipetik dari eBook ini akan disebutkan berbagai hal yang berhubungan dengan keimanan kita kepada Allah, semoga dengan membaca eBook ini akan menambah kekokohan iman kita dan menanamkan dalam pribadi kita kecintaan dan pengagungan kepada Allah, yang.menuntut kita untuk senantiasa melaksanakan segala perintah Allah dan menjahui segala larangan-Nya.

Dengan demikian akan diperoleh kebahagiaan yang sempurna dalam kehidupan di dunia dan di akherat, baik untuk individu maupun untuk masyarakat, amin…

Iman kepada Allah mengandung empat unsur (Syarah Ushul Iman, hlm. 13–22):

Pertama: Mengimani Wujud Allah ta’ala.

Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah manusia, akal manusia, syariat, dan indra manusia.

Bukti fitrah tentang wujud Allah.

Secara fitrah, manusia telah mengakui adanya pencipta, pengatur, dan pemilik alam semesta ini. Tidak ada orang yang mengingkari hal ini selain orang ateis yang sombong. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam). Ibu-bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhari, no. 1292)

Bukti akal.

Bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Mereka tidak mungkin menciptakan diri mereka sendiri, dan tidak pula tercipta secara kebetulan. Allah ta’ala menyebutkan dalil akal tentang keberadaan Sang Pencipta dalam surat Ath-Thur, yang artinya, “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur:35)

Ketika Jubair bin Muth’im mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini, maka dia–yang tatkala itu masih musyrik–berkata, “Hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.” (HR. Al-Bukhari, no. 4573)

Bukti syariat.

Bukti syariat tentang wujud Allah sangat banyak. Semua ayat Alquran yang berbicara tentang Allah dan segala sifat-Nya menunjukkan keberadaan Allah ta’ala.

Bukti indrawi.

Bukti indrawi tentang wujud Allah ta’ala dapat dibagi menjadi dua:

•Kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya doa orang-orang yang berdoa, serta pertolongan-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Allah ta’ala.

Mukjizat para nabi dan rasul, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang. Ini merupakan bukti yang jelas tentang wujud Dzat yang memelihara para nabi tersebut, yaitu Allah ta’ala. Karena hal itu terjadi di luar kemampuan manusia, Allah melakukannya sebagai penguat dan penolong bagi para rasul.

Kedua: Mengimani rububiyah Allah ta’ala

Mengimani rububiyah Allah ta’ala maksudnya ‘mengimani sepenuhnya bahwa Dialah satu-satunya Rab, tiada sekutu dan tiada penolong bagi-Nya’.

Rab” adalah ‘Dzat yang menciptakan, memiliki, serta mengatur semesta alam’. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada yang bisa mengatur alam semesta, menghidupkan, serta mematikan, selain Allah ta’ala. Allah berfirman, yang artinya, “Ingatlah, menciptakan dan mengatur hanya milik Allah. Mahasuci Allah ….” (QS. Al-A’raf:54)

Tidak ada makhluk yang mengingkari ke-rububiyah-an Allah ta’ala, kecuali orang yang sombong. Pada hakikatnya pula, dia sendiri tidak meyakini kebenaran ucapannya. Bahkan, pada diri Fir’aun sekali pun, meskipun dia mengaku tuhan, namun hatinya yakin bahwa yang benar adalah dakwah Musa, yang mengajak untuk mengesakan Allah.

Allah ta’ala berfirman menceritakan keadaan batin Fir’aun dan pengikutnya ketika mendengar dakwah Musa dan Harun, yang artinya, “Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan mereka. Padahal, hati mereka meyakini (kebenaran) dakwah Musa.” (QS. An-Naml:14)

Demikian juga, perkataan Musa kepada Fir’aun, yang Allah sebutkan dalam Alquran, yang artinya, “Sesungguhnya, kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rab yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti nyata, dan sesungguhnya aku menganggap kamu, wahai Fir’aun, seseorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’:102)

Oleh karena itu, sebenarnya, orang-orang musyrik Quraisy juga mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allah ta’ala berfirman, yang artinya, “Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka, apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Empunya langit yang tujuh dan Empunya ‘arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka, apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’” (QS. Al-Mu’minun:84–89)

(Lanjut ke hal…2)