Catatan Terhadap Buku “37 Masalah Populer” Karya H. Abdul Shomad Lc.MA (Semoga Allah Membimbingnya)
disusun Oleh Abu Ubaidah Yusuf Bin Muktar As Sidawi
Download Ebook PDF 169 Halaman: 
Download PDF

Download PDF 
Alhamdulillah
Daftar Isi

Ustadz Abdullah Taslim · Metode ahlus
sunnah dalam mengkritik*

Muqodimmah 

Judul Kitab

Penulis Beberapa Masalah Penting

a. MENYIBAK HAKIKAT ULAMA

b. MANFAAT KRITIK DAN ETIKANYA

c. MEMBANTAH KESALAHAN DAN PENYIMPANGAN TERMASUK JIHAD

d. SYI‘AR AHLUSSUNNAH ADALAH MENGIKUTI DALIL

CATATAN MASALAH

AQIDAH

A. TAUHID ASMA’ WA SHIFAT BAGI ALLAH

1. Pertama: Anggapan Penulis Bahwa Menetapkan Sifat Allah secara zhahirnya Berarti Terjerumus Dalam TasybihTajsim?

Mengklaim Bahwa Tafwidh (Menyerahkan Makna Kepada Allah) Adalah Metode Salaf

a. Apa itu tafwidh?

b. Konsekuensi Tafwidh Sangatlah Fatal 

3. Mengklaim Bahwa Ta’wil (Lebih Tepatnya Dibaca: Tahrif [Penyelewengan Arti]) Sebagai Metode Salaf 

a. Apa Itu Ta’wil dan Bagaimana Hukumnya

b. Sumber Kesesatan Ta’wil yang Rusak

c. Apakah Ta’wil Metode Salaf Dalam Asma’ wa Shifat? 

d. Contoh Tafwidh dan Ta’wil
4. Tuduhan Penulis Bahwa Menetapkan Sifat Sesuai Dengan
Zhahirnya Bukanlah Pendapat Seorang Muslim, Melainkan Aqidah Yahudi dan Nasrani Serta Aliran Sesat Musyabbihah dan Mujassimah.


a. Tuduhan Dusta

b. Salahkan Jika Beraqidah Sesuai Dengan Dalil?

c. Tahukah Anda Apa Sebenarnya Tasybih dan Tajsim Itu?

d. Tuduhan Usang
B. MENGINGKARI KETINGGIAN ALLAH DI ATAS LANGIT

1. Dalil-Dalil Ketinggian Allah

a. Dalil dari al-Qur’an

b. Dalil dari as-Sunnah

c. Ijma‘ (Konsensus) Para Ulama
Membedah Syubhat

a. Jawaban Syubhat Pertama 

b. Syubhat Kedua

1. Siapakah Syaikh Ahmad Zaini Dahlan?

2. Tuduhan Bahwa Salafi Wahhabi Khawarij,Suka Membantai, Eksrem dsb

3. Tuduhan Bahwa Wahhabi Mengharamkan Shalawat

Kepada Nabi.
4. Tuduhan bahwa Salafi Antek Amerika .

CATATAN MASALAH HADITS.

A. MENOLAK HADITS JARIYAH TENTANG PERTANYAAN

“DI MANA ALLAH”

1. Teks Hadits:

2. Takhrij Hadits

b. Jalur Yahya ibn Abi Katsir

3. Komentar Para Ulama Ahli Hadits

4. Kandungan Hadits 

5. Membedah Syubhat Pengingkar Hadits ini

a. Alasan Pertama: Hadits ini Mudhthorib 

b. Alasan Kedua: Hadits Ahad
1. Pertama: Hadits Ahad Adalah Hujjah Dengan

Kesepakatan Ulama.

2. Kedua: Konsekuensi Menolak Hadits Ahad

Sangatlah Berat.

3. Ketiga: Hadits Ahad Bersifat Zhan Atau Ilmu?
B. HADITS TENTANG KEDUA ORANG TUA NABI

1. Pertama: Mentakwil Hadits Tanpa Sebab

2. Kedua: 

a. Ziarah ke kuburan kafir

b. Memintakan ampunan untuk orang kafir
3. Ketiga: Kaidah Hadits Bertentangan Dengan al-Qur’an…. 95

4. Keempat: Orang Tua Nabi Termasuk Ahli Fatrah

a. Definisi Ahli Fatrah 

b. Hukum Ahli Fatrah

5. Kelima: Tuduhan Bahwa Mengimani Hadits Berarti mencela Nabi dan (Menjadi) Munafik

CATATAN DALAM MASALAH FIQIH 

A. JENGGOT, BOLEH DICUKUR?

1. Pertama: Perintah Memelihara Jenggot

2. Kedua: Ulama Madzhab Syafi‘i Berpendapat Makruh?

3. Ketiga: Agungkan Syari‘at Allah, Jangan Cari

Pendapat yang Lemah

4. Keempat: Jenggot Hanya Masalah Tradisi dan penampilan Fisik..
ISBAL TANPA SOMBONG, BOLEHKAH?

1. Benarkah Isbal Haram Kalau Sombong saja?

a. Hadits tentang isbal yang muthlaq 

b. Hadits tentang isbal karena kesombongan

2. Hukum Membawa Muthlaq ke Muqayyad

3. Hadits-Hadits yang Menunjukkan Tidak Dibawanya Muthlaq ke Muqayyad.
Sebuah Renungan
C. PERAYAAN MAULID NABI

Perlu Diperhatikan

a. Pertama: Ketahuilah wahai saudaraku! Bahwa perayaan
tahunan dalam Islam hanya ada dua macam,Idul Fitri dan Idul Adha, berdasarkan hadits: 

b. Kedua: Perayaan Maulid Nabi tidak pernah dicontohkan oleh Nabi 

c. Ketiga: Perayaan Maulid tidak pernah dilakukan para shahabat dan salaf shalih .
d. Keempat:

e. Kelima

2. Membedah Syubhat

penutup

Sedikit Catatan Buku 37 Masalah Populer

Karya H. Abdul Somad, Lc. MA

Oleh : Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi.
Bismillaah,.,

Sebagian saudara kami bertanya tentang buku tersebut dan mengirimkannya kepada kami.

Setelah kami baca, ada beberapa catatan yang perlu kami goreskan sebagai bentuk nasehat kepada umat agar mereka tidak terjerumus dalam kesalahan beliau.
Muhammad ibn Bundar pernah berkata kepada al-Imam Ahmad : “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya saya merasa berat hati untuk mengatakan ‘si fulan pendusta!!’.” Ahmad menjawab : “Seandainya kamu diam dan saya juga diam, lantas.kapan orang yang jahil mengetahui mana yang benar dan mana yang salah?!!
(Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah al-Baghdadi hlm. 63 , al- Abathil wal Manakir al-Jauzaqani 1/133, al-Maudhu’at Ibnul Jauzi 1/43, Syarh ’Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab hlm. 88).

Bangkitlah wahai jiwa untuk membela agama Allah, walau akan banyak komen negatif yang akan kau hadapi.
Pernah ada seorang berkata kepada Yahya bin Main : ” Apakah engkau tidak khawatir bila orang-orang yangnengkau kritik tersebut kelak menjadi musuhmu di hari kiamat ?.

Beliau menjawab : “Bila mereka yang menjadi musuhku jauh lebih kusenangi daripada Nabi yang menjadi musuhku, tatkala.beliau bertanya padaku: ” Mengapa kamu tidak membela sunnahku dari kedustaan?!!! “. (Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah, al-Khathib al Baghdadi hal. 6).

Alangkah indahnya ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berikut dalam Nuniyyah-nya (196–200),

Tegarlah dengan ucapan Rasul dan janganlah khawatir Karena sedikitnya kawan dan teman Allah Penolong agama-Nya dan kitab-Nya Allah Menjamin keamanan bagi hamba-Nya Janganlah takut tipu daya musuh dan makar mereka Karena senjata mereka hanyalah tuduhan dan kedustaan
Pasukan pengikut Rasul adalah para malaikat Adapun pasukan mereka adalah bala tentara setan Alangkah jauh perbedaan antara dua pasukan tersebut Barang siapa mundur maka hendaknya melihat dua pasukan tersebut 


Kami di sini bukan untuk membantah secara detail,.karena itu butuh berjilid jilid buku, karena setiap permasalahan yang beliau utarakan
 sangat layak dibantah dengan satu judul buku khusus, tapi ini hanyalah catatan ringan beberapa ketergelinciran penulis buku -semoga Allah memberinya hidayah :

1. JUDUL KITAB 

Judul buku ini adalah “37 Masalah Populer”, diterbitkan oleh Penerbit Tafaqquh, Pekanbaru, Riau.

2. PENULIS

Buku ini ditulis oleh H. Abdul Shomad Lc., M.A.; lahir pada 18 Mei 1977  M, lulusan Universitas al-Azhar, Mesir, pada 1998  M dan Darul-Hadits, Maroko; bekerja sebagai dosen di Universitas Islam Sultan Syarif Kasim, Riau, dan mubaligh kondang sekarang yang terkenal humoris/jenaka

3. BEBERAPA MASALAH PENTING 

Sebelum memasuki inti kritikan terhadap buku tersebut, ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan terlebih dahulu sebagai muqaddimah: 

a. MENYIBAK HAKIKAT ULAMA

Banyak orang yang mengklaim seseorang itu ulama, cendekiawan, intelektual, pakar tafsir al-Qur’an dan Hadits, hanya melihat kepada gelar yang disandangnya begitu mentereng, aktif menulis karya tulis, sering muncul di TV, atau ceramahnya banyak dihadiri masyarakat, dan sebagainya. Ini adalah pandangan yang salah tentang hakikat ulama, karena tidak setiap yang pandai bicara dan berpidato di atas mimbar berarti dia adalah ulama, dan tidak setiap orang yang pandai menulis kitab berarti ulama, karena ulama sejati memiliki sifat-sifat yang jarang ada pada tokoh-tokoh agama sekarang ini, terutama memiliki aqidah yang lurus sesuai dengan al-Qur’an dan hadits yang shahih serta pemahaman salaf shalih. 

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali
pernah berkata, “Sangat disayangkan, banyak orang bodoh pada zaman sekarang menyangka bahwa setiap orang yang pandai bicara berarti dia lebih alim daripada ulama sebelumnya, bahkan ada di antara mereka yang menganggap pada seseorang bahwa dia lebih alim daripada para shahabat Nabi karena penjelasannya yang banyak dan pintarnya dalam berdebat.” 



Beliau melanjutkan, “Banyak orang sekarang yang tertipu dalam masalah ini, sehingga mereka mengira bahwa setiap orang yang banyak omongnya dan debatnya dalam masalah-masalah agama berarti dia lebih pandai daripada yang tidak demikian, padahal harus diyakini bahwa tidak setiap orang yang lebih banyak omongnya dan debatnya berarti dia lebih pandai.”( Bayanu Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘Ala ‘Ilmi Khalaf (hlm. 38–40). 

Dan lihat penjelasan secara bagus tentang hakikat ulama, ciri-ciri mereka, perbedaan antara ulama asli dan palsu, serta etika terhadap ulama dalam kitab Qawai‘id Fi Ta‘amul Ma‘al-‘Ulama’ karya ‘Abdurrahman ibn Mu‘alla al-Luwaihiq.)
Subhanallah! Itu keluhan al-Imam Ibnu Rajab pada zamannya. Lantas bagaimana kalau sekiranya beliau melihat pada zaman kita sekarang?!! Oleh karenanya, marilah kita tanamkan pada diri kita masing-masing perasaan untuk mencintai dan mengagungkan kebenaran yang bersumberkan al-Qur’an dan Sunnah, dan tidak silau dengan ucapan seorang hanya karena gelar dan popularitasnya semata. Jadikanlah timbangan kebenaran berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah untuk menilai seseorang, jangan menjadikan kebenaran berdasarkan ucapan orang.
B. MANFAAT KRITIK DAN ETIKANYA 

Mengkritik suatu kesalahan sah-sah saja, baik dalam masalah aqidah atau hukum agama, bukan hal yang tercela, bahkan dianjurkan, asalkan kritikan tersebut dibangun di atas bukti yang valid, dengan adab yang baik dan sopan, serta ditulis secara ilmiah berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan hadits yang shahih. 


Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali
berkata dalam al-Farqu Baina an-Nashihah wat-Ta’yir (hlm. 9–12), “Adapun menjelaskan kesalahan seorang ulama sebelumnya, apabila beradab yang baik dan sopan dalam mengkritik maka tidak apa-apa, tidak tercela.” Lanjutnya, “Apabila tujuan si pengkritik adalah menjelaskan ketergelinciran pendapat seorang ulama dan agar tidak diikuti manusia, maka tidak ragu lagi bahwa dia berpahala dan menegakkan pilar nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum Muslimin secara umum…Bahkan dalam saling kritik sesama mereka terdapat faedah dan manfaat yang banyak, sebagaimana disingkap oleh al-Imam adzDzahabi dalam Siyar A‘lam an-Nubala’ (12:500–501), 



Para ulama semenjak dahulu hingga sekarang saling membantah sesama mereka, baik dalam diskusi maupun tulisan, karena dengan demikian seorang alim dapat belajar dan menjadi jelas segala keruwetan. Akan tetapi, pada masa kita, bisa jadi orang alim yang perhatian dengan hal itu malah berdosa disebabkan niatnya yang tidak lurus dan cari popularitas. Kita memohon kepada Allah husnulkhatimah dan keikhlasan amal.”



Dan bagi yang dikritik, hendaknya berlapang dada menerima kebenaran yang datang kepadanya, janganlah dia sombong menerima kritikan. Yakinlah, justru dengan sikap tersebut Allah akan Mengangkat derajatnya di sisi Allah
.
Dahulu, al-Imam al-Hakim tatkala dikritik oleh ‘Abdulghani, maka beliau mengirim surat yang berisi ucapan terima kasih kepadanya dan do‘a kebaikan untuknya. Tadzkiratul-Huffazh adz-Dzahabi (3:1048).

Lanjut ke hal…2