Ancaman Yang MENYELISIHI & MENYALAHI Perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam & Segala Sunnah Beliau Adalah Allah Menafikan (MENOLAK) Keimanan Seseorang, Tidak Akan Dilihat Serta Dinilai Sebagai Orang Yang Beriman Sebelum Taat, Tunduk&Patuh Tanpa Rasa Berat Hati & Tanpa Mempertentangkannya Dengan Hawa Nafsu Serta Akal Logika Untuk Berhukum Kepada Sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.

Alhamdulillah

Ustadz Mahfudz Umri · Al Bahrur Raiq
Ikhlas dan Mengikuti Sunnah Merupakan Syarat Diterimanya Amal01 

Ustadz Mahfudz Umri · Al Bahrur Raiq
Ikhlas dan Mengikuti Sunnah Merupakan Syarat Diterimanya Amal 02

Ustadz Mahfudz Umri · Al Bahrur Raiq
Ikhlas dan Mengikuti Sunnah Merupakan Syarat Diterimanya Amal 03 

AL USTADZ ABU YAHYA MUSLIM- Keutamaan
Mengikuti Sunnah 

Mengikuti Sunnah-Ittiba` Assunnah-, Syaikh Walid bin Muhammad Nabih Saif An Nashr, Sesi 1

Mengikuti Sunnah-Ittiba` Assunnah-, Syaikh Walid bin Muhammad Nabih Saif An Nashr, Sesi 2

MENGUTAMAKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM DAN ANCAMANNYA(2)

Ancaman Yang MENYELISIHI & MENYALAHI Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala Sunnah beliau Adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan cobaan dan azab yang pedih baik di dunia dan di akhirat, dijadikan kehinaan dan kerendahan di dunia serta akhirat



Ceramah Agama: Keutamaan Mengikuti Sunnah Bagian10 – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.

Makna Sunnah : https://youtu.be/UeQR_XVBIVg

Mengikuti Sunnah Bagian 1 : https://youtu.be/GkwhBT3tV40

Mengikuti Sunnah Bagian 2 : https:// youtu.be/6JFhKlhgEOE

Mengikuti Sunnah Bagian 3 : https://youtu.be/ cqSPGQD2Sx0

Ebook Buku Syarah Ushul As- Sunnah Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (164-241 H) Download PDF 220 Halaman

Buku Syarah Ushul Assunnah, berisi kaidah-kaidah dasar akidah salafiyah penting untuk menuntun jalan hidayah, keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat, merupakan penjelasan dari kitab Ushul Assunnah karya Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah.

KEDUA, Setelah mengetahui bahwasannya kalimat Syahadat Muhammad Rasulullah memiliki konsekuensi yang salah satunya adalah LEBIH MENGUTAMAKAN.perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala Sunnah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- MAKA ia juga memiliki ancamannya dan pembatalnya bagi yang lebih mengutamakan perkataan dan pendapat-pendapat orang awam, tokoh, pemimpin,.petinggi, pembesar dan Imam Mazhabnya, siapa pun orangnya dan apapun jabatannya, kedudukannya, titelnya serta gelar pendidikan akademisnya YANG MENYELISIHI DAN MENYALAHI perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segala Sunnah beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

.

DAN ANCAMANNYA adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mendatangkan cobaan dan azab yang pedih baik di dunia dan di akhirat, dijadikan kehinaan dan kerendahan di dunia serta akhirat, dihadirkan Syetan-Syetan bagi dirinya yang terus menghalangi dari jalan Allah yang selalu menghiasi keburukannya tampak baik serta indah sehingga selalu tersesat dan terus dibiarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam kesesatannya seperti yang terdapat di nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

NAMUN YANG HARUS DIINGAT DAN DITEKANKAN adalah ANCAMAN ALLAH YANG TERBESAR BAHWA ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA TELAH BERSUMPAH ATAS DIRI-NYA YANG MAHA SUCI AKAN MENAFIKAN (MENOLAK) KEIMANAN SESEORANG DAN SESEORANG TIDAK AKAN DILIHAT SERTA DINILAI SEBAGAI ORANG YANG BERIMAN SEBELUM TAAT, TUNDUK DAN PATUH TANPA RASA BERAT HATI DAN TANPA MEMPERTENTANGKANNYA DENGAN HAWA NAFSU SERTA AKAL LOGIKA UNTUK BERHUKUM KEPADA SUNNAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.

.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

.

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka selisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”– QS. An-Nisa’ [4] : 65 Tafsir Muyassar,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah dengan DzatNya Yang Mulia bahwa mereka tidak beriman dengan sebenarnya sebelum mau menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim saat masih hidup dan berhukum dengan petunjuk Sunnahmu sepeninggalmu, kemudian mereka tidak merasa sesak dalam hati mereka terhadap ketetapan yang menjadi keputusan akhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh perkara kehidupan adalah Intisari keimanan (Hakikat), disertai dengan keridha’an dan penyerahan diri.– Tafsir Muyassar, I/263

Al-Jashshash / Abu Bakar Ahmad bin Ali ar-Razi al-Hanafi rahimahullah (wafat 370 H) mengatakan, “Ayat ini terdapat dalil bahwa barangsiapa menolak sesuatu perintah dari Perintah Subhanahu Wa Ta’ala atau Perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia keluar dari Islam, baik menolaknya karena keraguan atau karena tidak mau menerima dan berserah diri.”Ahkam al-Qur’an, II/213-214

Ibnu Hazm rahimahullah (wafat 456 H) mengatakan “Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyatakannya secara jelas sehingga tidak mungkin ditakwilkan, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bersumpah dengan diri-Nya bahwa seseorang tidaklah beriman sehingga dia menjadikan Rasul-Nya sebagai hakim dalam perkara-perkara yang dia perselisihkan dengan orang lain, kemudian menerima apa yang beliau tetapkan, dan tidak ada suatu keberatan pun dalam hatinya dari apa yang beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tetapkan. Al-Fashl, III/263

.

Ibnu Hazm rahimahullah (wafat 456 H) mengatakan “Allah Subhanahu Wa Ta’ala menamakan tahkim (berhukum) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai keimanan, dan Dia menyatakan bahwa tidak ada iman kecuali demikian, di samping tidak adanya rasa keberatan dalam hati dari apa yang diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oleh karena itu telah shahih secara yakin bahwa iman adalah amal, keyakinan dan ucapan, karena tahkim adalah amal, dan ia tidak terwujud kecuali dengan ucapan, ditambah tidak adanya keberatan dalam hati, dan itu adalah keyakinan. Ad-Durah, 338

(Lanjut ke hal…2)