Hukum Wanita Memakai Celana Panjang Adalah Tidak Boleh Karena Menyerupai Pakaian Laki-Laki dan Memperlihatkan Bentuk Tubuh Namun Kalau Hanya Untuk Daleman & akan ditutupi pakaian yang lain, Tidak Ada Masalah.

Alhamdulillah

WANITA MEMAKAI CELANA PANJANG, MENGIKUTI MODE PAKAIAN DI
MAJALAH, PEWANGI PAKAIAN

Hukum Mengenakan Celana Panjang  

Bolehkah Wanita Shalat Dengan Menggunakan Celana Panjang

Bolehkah Sholat Memakai Celana Panjang ? 

Pakaian Wanita.Muslimah Sesuai Syari’at
Al Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy 

Muhammad Abduh Tuasikal · Aturan Pakaian Muslimah

Muhammad Abduh Tuasikal · Hukum Seputar Wanita Karya Syaikh Sholeh Al Fauzan
Pakaian dan Hijab

Ahmad Zainuddin · Tuntunan Praktis Fikih Wanita Hukum Khusus Tentang Pakaian Wanita
01 

Hukum Khusus Tentang Pakaian Wanita
02 

Hukum Khusus Tentang Pakaian Wanita
03

Hukum Khusus Tentang Pakaian Wanita
04

Kesalahan dalam Berpakaian ( al Mindhor )
Al Ustadz Muhammad Irfan ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ 

Baca Juga

Hijab Dan Pakaian Muslimah Dalam 
Sholat Penulis : Syeikh Ibnu Taimiyyah

Download PDF 79 Halaman
Download PDF


Buku ini adalah cetakan kedua dari risalah Ibnu Taimiyyah mengenai “pakaian dalam sholat “. Ini merupakan salah satu risalah IbnuTaimiyyah yang sungguh bernilai besar, sekalipun formatnya kecil. Risalah ini mengandung ilmu yang barangkali sulit bagiseseorang untuk 
menemukan sebagian besar kandungannya dalamensiklopedi-ensiklopedi fikih,sebagaimana sulit pulabaginya untuk menemukan didalamnya tema risalahini; “Pakaian wajib bagi laki-laki dan perempuan di dalam shalat “.

Didalamnya beliau menegaskan bahwa pakaian dalam shalat tidaklah sama dengan pakaian yang dikenakan oleh seseorang untuk menutup auratnya di luar shalat. Di dalam shalat seseorang punya kewajiban lain, yaitu menutup kedua pundakmya, untuk memenuhi hak dan kehormatan shalat, bukan karena pundak itu termasuk aurat. Permasalahan ini seringkali dilalaikan oleh sebagian besar orang yang melaksanakan shalat. Ini berkenaan dengan pakaian laki-laki.

Mengenai wanita, beliau menjelaskan bahwa ia berkewajiban mengenakan jilbab apabila keluar rumah, akan tetapi tidak berkewajiban mengenakan jilbab tersebut apabila melaksanakan shalat di rumahnya. Yang wajib dikenakan adalah “khimar ” (kerudung) dan pakaian yang bisa menutupi punggung telapak kaki, meskipun apabila ia sujud bisa jadi bagian telapak kaki kelihatan.

Hukum Wanita Memakai Celana Panjang

Benarkah wanita dilarang memakai celana panjang tanpa memakai rok?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah membedakan antara lelaki dan wanita. Allah menegaskan,

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Lelaki itu tidak seperti wanita.” (QS. Ali Imran: 36)

Apa yang dinyatakan oleh Allah, itu yang sesuai keadilan dan sejalan dengan kodrat manusia. Karena itu, menyamakan antara lelaki dan wanita adalah kedzaliman dan menyimpang dari fitrah.

Diantara perbedaan itu adalah perbedaan dalam berpakaian. Pakaian lelaki berbeda dengan pakaian wanita. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang memakai pakaian wanita dan sebaliknya.

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang berpakaian wanita dan wanita yang berpakaian laki-laki.” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Disamping itu, pakaian wanita sama sekali tidak boleh menampakkan lekuk tubuh. Tak terkecuali bagian kaki. Sehingga harus ditutupi dengan rok atau semacamnya.

Sahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhuma bercerita,

كَسَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُبْطِيَّةً كَثِيفَةً كَانَتْ مِمَّا أَهْدَاهَا دِحْيَةُ الْكَلْبِيُّ، فَكَسَوْتُهَا امْرَأَتِي، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقُبْطِيَّةَ؟ ” قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَسَوْتُهَا امْرَأَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً، إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memberiku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku berikan baju itu kepada istriku. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku, ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut aku berikan kepada istriku, wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh dia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan lekuk tubuhnya’.” (HR. Ahmad 21786 dinyatakan Syuaib al-Arnauth – bisa dinilai hasan).

Qubthiyah istilah untuk menyebut produk asal qibthi, penduduk mesir.

Dalam hadis di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membiarkan Usamah bin Zaid ketika dia memberikan kain itu ke istrinya. Karena beliau memahami, kain itu jika dipakai wanita, bisa menampakkan lekuk tubuhnya.

Berdasarkan keterangan di atas, para ulama melarang wanita memakai celana tanpa ditutupi kain.

Syaikh Dr. Abdullah bin Jibrin pernah ditanya tentang hukum wanita memakai celana.

Jawaban beliau,

لا يجوز للمرأة عند غير زوجها مثل هذا اللباس لأنه يبين تفاصيل جسمها، والمرأة مأمورة أن تلبس ما يستر جميع بدنها لأنها فتنة وكل شيء يبين من جسمها يحرم إبداؤه عند الرجال أو النساء والمحارم وغيرهم إلا الزوج يحل له النظر إلى جميع بدن زوجته، فلا بأس أن تلبس عنده الرقيق أو الضيق ونحوه والله أعلم.

Tidak boleh bagi wanita menggunakan pakaian semisal itu di hadapan lelaki yang bukan suaminya. Karena pakaian yang demikian dapat menggambarkan bentuk-bentuk tubuhnya. Dan wanita diperintahkan untuk menutup seluruh tubuhnya, karena dia adalah fitnah (godaan). Dan semua pakaian yang dapat menggambarkan bentuk tubuh wanita tidak boleh dipakai di hadapan para lelaki, atau para wanita, atau para mahram dan yang selain mereka. Kecuali suami, ia boleh melihat istrinya pada seluruh tubuhnya. Maka di hadapan suami boleh menggunakan pakaian yang ketat atau semisalnya. Wallahu a’lam.”

(Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, 101/4)

Jika wanita memakai celana namun tidak ditutupi dengan pakaian luaran, tidak diperbolehkan. Tapi jika memakai celana panjang hanya untuk daleman dan akan ditutupi pakaian yang lain, tidak ada masalah.

Memakai Celana Panjang Bagi Wanita

Pertanyaan:.Apakah hukumnya memakai celana panjang yang banyak dipakai wanita di zaman sekarang

Sebelum menjawab pertanyaan ini, saya memberi nasehat kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya, seperti anak laki-laki dan wanita, istri, saudari dan selain mereka.

Hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahuwata’alla dalam kepemimpinan ini.

Hendaklah mereka tidak melepaskan tali ikatan kepada wanita, yang Nabi Muhammad salallahu’alihi wassalam bersabda pada diri mereka:

ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ : ‏( ﻣﺎَ ﺭَﺃَﻳْﺖُ ﻣِﻦْﻧَﺎﻗِﺼَﺎﺕِ ﻋَﻘْﻞٍ ﻭَﺩِﻳْﻦٍ ﺃَﺫْﻫَﺐَ ﻟِﻠُﺐِّﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﺤَﺎﺯِﻡِ ﻣِﻦْ ﺇِﺣْﺪَﺍﻛُﻦَّ ‏)

Rasulullah salallahu’alihi wassalam bersabda: “Aku tidak melihat dari wanita-wanita yang kurang akal dan agama yang lebih mempengaruhi bagi hati laki-laki yang bijaksana selain dari salah seorang dari kalian.” [HR. Al-Bukhari 304, 1462 dan Muslim 79]

Dan saya berpendapat agar kaum muslimin jangan berjalan mengikuti mode ini, berupa berbagai jenis pakaian yang muncul dan banyak dijumpai yang diadaptasi dari trend mode budaya barat, dan kebanyakan darinya tidak sesuai dengan pakaian islami.yang harus menutup semua tubuh wanita, seperti pakaian-pakaian pendek, ketat atau tipis. Termasuk di antaranya adalah celana panjang, sesungguhnya ia menggambarkan bentuk kaki wanita, demikian pula perut, pinggang, kedua payudaranya dan bentuk dari anggota tubuh lainnya. Maka memakainya termasuk dalam hadits Nabi Muhammad salallahu’alihi wassalam :

Rasulullah bersabda: ‘Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku lihat: Orang-orang yang memiliki cemeti seperti ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. Dan wanita yang berpakaian seperti telanjang, berlenggang-lenggok dan menggoyang-goyangkan pundaknya, kepala mereka seperti punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium aromanya, dan sesungguhnya aromanya bisa tercium dari jarak seperti ini dan seperti ini.” [HR. Muslim 2128.]

(Lanjut ke hal…2)