Antara Ketinggian & Kebersamaan AllahSerta Makna Ayat: “Kami Lebih Dekat dari Urat Lehernya”(Bantahan Allah Menyatu Dengan Tubuh Manusia/Allah Dimana-mana)

Alhamdulillah

Ustadz Muhammad Nur Ihsan · Syarhus Sunnah Al
Imam Al Muzani;Ketinggian Allah 01


Ketinggian Allah 02


Abdullah Taslim · Memahami Makna Kedekatan dan Kebersamaan Allah 


Ustadz Abu Fairus · Syarah Aqidah Wasithiyah
Kebersamaan Allah dengan Hamba-Nya
01


Ustadz Abu Fairus · Syarah Aqidah Wasithiyah Kebersamaan Allah dengan Hamba-Nya 02


Ustadz Abu Fairus -Allah Zat Yang Lebih Tinggi dari Makhluk-Nya 




Benarkah Allah lebih dekat dari Urat Nadi Kita? Tanya Jawab Firanda Andirja


Makna Allah Lebih Dekat Dari Urat Leher – Ust. Armen Halim Naro Rahimahullah –

 https://m.youtube.com/watch?v=FVmV096Wbbk

Aqidah Wasithiyah 28 – Perkara yang Wajib untuk Diyakini Tentang Ketinggian dan Kebersamaan Allah 

Penjelasan, Allah diatas Langit | Ustadz Dr Khalid Basalamah MA

 https://m.youtube.com/watch?v=I46pOBkIRT8
1. Makna Ayat: “Kami Lebih Dekat dari Urat Lehernya”

Oleh: dr. Raehanul Bahraen
Terdapat ketidaktepatan pemahaman sebagian kaum muslimin ketika memaknai ayat yang berbunyi:

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf : 16).

Kesalahan tersebut mengartikan bahwa kata “kami” pada ayat tersebut adalah Allah, sehingga mereka memahami bahwa posisi Allah itu ada di tubuh manusia dan juga di dekat dengan tubuh manusia. Mereka menyangka bahwa posisi Allah di dekat urat lehernya. Akibat dari kesalahan ini, mereka meyakini “Allah ada di mana-mana” termasuk tubuh manusia, atau keyakinan bahwa Allah menyatu dengan hambanya (aqidah manunggaling kaula gusti). Tentu ini aqidah yang tidak benar, yang benar adalah Allah berada di atas langit.

Mengenai ayat di atas ada dua penjelasan yang menunjukkan bahwa kata “kami” pada ayat tersebut bukan berarti Allah:

1. Tafsir ayat dari para ulama bahwa makna kata “kami” adalah malaikat, bukan berarti Allah

2. Kata-kata “dekat” bukan berarti otomatis menunjukkan posisi dan letak.

Berikut penjelasannya:

1. Tafsir ayat dari para ulama bahwa makna kata “kami” adalah malaikat, bukan berarti Allah

Jika kita membaca ayat secara lengkap dan lanjutan ayat, sangat jelas bahwa konteks ayat adalah membicarakan tentang malaikat. Berikut ayat lengkapnya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18).

Perhatikan dua kata dalam ayat:

Pertama: Kata (إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ)

Hal Ini menjelaskan tentang dua orang malaikat yang mencatat amal dan duduk di sebelah kanan dan sebelah kiri. Konteks ini menunjukkan bahwa malaikat yang dekat bukan Allah

Kedua: Kata (الْإِنسَانَ) yaitu manusia secara umum

Manusia ini mencakup muslim dan kafir. Allah tidak dekat dengan orang kafir

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa pendapat ini yang dipilih oleh guru beliau yaitu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Beliau berkata,

ﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﻮﻻﻥ ﻟﻠﻨﺎﺱ، ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ : ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻪ ﺑﻌﻠﻤﻪ، ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻗﺮﻧﻪ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﺑﻮﺳﻮﺳﺔ ﻧﻔﺲ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ، ﻭﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺜﺎﻧﻲ : ﺃﻧﻪ ﻗﺮﺑﻪ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﺒﺪ ﺑﻤﻼﺋﻜﺘﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﺼﻠﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﻗﻠﺒﻪ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻌﺮﻕ، ﺍﺧﺘﺎﺭﻩ ﺷﻴﺨﻨﺎ

Ayat ini terdapat dua pendapat:

Pertama: Allah dekat ilmunya, oleh karena itu Allah menggandengkan ilmu (mengetahui) dengan apa yang dibisiki hati manusia

Kedua: Yang dimaksud dekat adalah malaikat Allah yang bershalawat pada hatinya sehingga lebih dekat dari urat lehernya. Inilah pendapat yang dipilih oleh guru kami” (Madarijus Salikin 2/290).

2. Kata-kata “dekat” bukan berarti otomatis menunjukkan posisi dan letak.

Jika ada yang mengatakan Allah lebih dekat dengan urat leher berdasarkan ayat ini, tentu tidak tepat, karena bukan berarti “dekat” itu menunjukkan posisi Allah dekat, akan tetapi menunjukkan dekat maknawi yaitu “kedekatan”.

Al-Quthubi menjelas tafsir bahwa ayat tersebut menunjukkan dekat secara penggambaran, bukan dekat secara jarak. Beliau berkata,

ﻭﻫﺬﺍ ﺗﻤﺜﻴﻞ ﻟﻠﻘﺮﺏ، ﺃﻱ ﻧﺤﻦ ﺃﻗﺮﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﻣﻦ ﺣﺒﻞ ﻭﺭﻳﺪﻩ ﺍﻟﺬﻱ ﻫﻮ ﻣﻨﻪ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻪ ﻗﺮﺏ ﺍﻟﻤﺴﺎﻓﺔ،

Ini adalah penggambaran kedekatan, yaitu kami lebih dekat (kedekatannya) dari pada urat leher, bukan dekatnya jarak” (Tafsir Al-Qurthubi).

Contohnya hadits yang menunjukkan kedekatan hamba dengan Allah ketika sujud. Bukan berarti Allah dekat posisi dan letaknya ketika hamba sujud.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِى تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إِلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَةِ أَحَدِكُمْ

Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat pada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian” (HR. Muslim no 2704).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Tempat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu” (HR. Muslim no. 482).

Demikian juga gambaran kedekatan Allah pada ayat yang berbunyi:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), “Aku itu dekat”. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al Baqarah: 186).

@ Perjalanan Yogyakarta – PangkalanBun KalTeng

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Artikel: Muslim.or.id

2. Antara Ketinggian Dan Kebersamaan Allah

Antara Ketinggian Dan Kebersamaan Allah 

Sesungguhnya aqidah ketinggian Allah di atas langit adalah aqidah salaf yang haq berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits, ijma’, akal dan fithrah manusia[1]. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang menyimpang. Namun aneh tapi nyata, sebagian orang menabur debu dan membingungkan kaum muslimin dengan beberapa syubhat (kerancuan) yang nampaknya ilmiyah padahal pada hekakatnya hanyalah suatu kerancuan yang dibangun di atas pondasi yang sangat lemah.

Di antara syubhat yang sangat laris manis beredar adalah ucapan mereka bahwa Allah ada di mana-mana bersama para hambaNya.

Seandainya Allah berada di atas langit, lantas bagaimana kiranya dengan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah bersama para hambaNya?! Mereka kemudian mengemukakan sejumlah dalil seperti firman Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّـهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِن نَّجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿٧﴾

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa Sesungguhnya Alloh mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. Al-Mujadilah: 7)

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. (QS. Al-Hadid: 4)

Nah, bagaimanakah menjawab syubhat ini?!

Mungkinkah dalil-dalil itu bertentangan antara satu dalil dengan lainnya?! Tidak ragu lagi bahwa pendalilan seperti ini adalah bathil dari beberapa segi: 

Pertama: Makna Kebersamaan di sini adalah Ilmu Allah Dengan Kesepakatan Salaf

Telah tegak suatu ijma’ (konsesus ulama) bahwa maksud kebersamaan di sini adalah ilmu Alloh, sedangkan kalau sudah tegak suatu ijma’ maka ucapan orang siapapun tidak ada artinya. Tidak sedikit para ulama telah menukil ijma’ ini, di antaranya:

Ishaq bin Rahawaih berkata: “Ahli Sunnah telah bersepakat bahwa Alloh tinggi di atas Arsy dan Dia mengetahui segala sesuatu yang di bawah bumi tingkat ke tujuh sekalipun”.[2]

Ibnu Abi Syaibah berkata: “Paraulama menafsirkan firman Alloh (yang artinya): “Dan Dia bersama kalian” yakni ilmuNya”.[3]

Al-Ajurri berkata setelah menafsirkan ayat-ayat tentang kebersamaan Alloh dengan ilmu: “Ini adalah pendapat ulama kaum muslimin”.[4]

Ibnu Baththoh berkata: “Kaum muslimin dari kalangan sahabat dan tabi’in serta seluruh ahli ilmu dari kalangan yang beriman telah bersepakat bahwa Alloh di atas Arsy-Nya di atas langitNya, terpisah dari para makhlukNya dan ilmuNya meliputi semua makhluk”.[5]

Ath-Tholmanki berkata: “Kaum muslimin dari Ahli Sunnah wal Jama’ah telah bersepakat bahwa makna firman Alloh (yang artinya): “Dan Dia bersama kalian dimanapun kalian berada” dan ayat-ayat sejenisnya dalam Al-Qur’an bahwa maksudnya adalah ilmu Alloh dan Alloh tinggi di atas ArsyNya”.[6]

Ibnu Abdil Barr berkata: “Adapun hujjah mereka dengan firman Alloh (QS. Al-Mujadilah: 7) maka tidak ada hujjah bagi mereka dengan ayat ini, sebab para ulama sahabat dan tabi’in yang paling mengerti tentang makna Al-Qur’an, mereka mengatakan tentang tafsir ayat ini: “Dia di atas Arsy dan ilmuNya ada di segala tempat, tidak ada seorangpun yang dianggap ucapannya menyelisihi penafsiran ini”.[7]

Sebagaimana penafsiran kebersamaan dengan ilmu juga telah diriwayatkan dari banyak salaf seperti Ibnu Abbas, Dhohak, Muqotil bin Hayyan , Sufyan ats-Tsauri, Nuaim bin Hammad, Ahmad bin Hanbal dan lain sebagainya.[8]

(Lanjut ke halaman 2)