Berdo’a di Dalam Shalat atau Sesudahnya. Yang Benar Sebelum salam dari shalat (di akhir shalat), setelah tasyahud dan shalawat Karena diperintahkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih

Alhamdulillah.

Etika Berdoa – Mengangkat Tangan Dalam Berdoa (Fiqih Doa dan Dzikir) 

Etika Berdoa – Kapan Mengangkat Tangan Dalam Berdoa (Fiqih Doa dan Dzikir)

Keagungan Doa (DR. Firanda Andirja, MA)

Berdoa, Senjata Bagi Seorang Mukmin (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Ebook Doa dan Dzikir Pilihan (Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz)

Keistimewaan Doa yang Diajarkan Rasulullah (Fiqih Doa dan Dzikir)

Berdoa Harus Sesuai Tuntunan.(Fiqih Doa dan Dzikir)

Doa.(DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Mewaspadai Doa dan Dzikir yang Tidak AdaTuntunannya (Abdullah Zaen, MA)

. Sebab Doa Tidak Terkabul
(Subhan Bawazier)

Berdoalah KepadaKU Niscaya Akan AKU Kabulkan
(Abdullah Taslim, MA)

. Fiqih Di Dalam Berdoa
(Abu Ihsan Al-Atsari, MA)

Berdoa Hanya Kepada Allah Ta’aala
(Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Adab Dalam Berdoa
(Armen Halim Naro, Lc)

Contoh-Contoh yang Melampaui Batas Dalam
Berdoa (Bag-1)

Ke-09 : Perbuatan Syirik Dalam Doa
(Pembatal Keislaman)

Waktu waktu Terkabulnya Doa (Bag-1)
(Fiqih Doa dan Dzikir)

Doamu Ditunggu Allah
(Ahmad Zainuddin, Lc)

____
Adapun Jika Ingin Berdo’a Sesudah Shalat, Ini dibolehkan setelah berdzikir namun tidak dengan mengangkat tangan Alasannya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan demikian

BERDO’ADI DALAM SHALAT ATAU SESUDAHNYA?

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni MA

Berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla merupakan amal shaleh yang keutamaan dan kedudukannya sangat tinggi dalam Islam.

Cukuplah firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikut menunjukkan keagungan kedudukan do’a dan yang menunjukkan bahwa ibadah ini sangat dicintai oleh Allâh Azza wa Jalla :

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Rabbmu berfirman, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina” [Al-Mu’min/40:60]

Dalam sebuah hadits yang shahih, dari an-Nu’man bin Basyîr Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berdo’a adalah ibadah”, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat di atas.[1]

Jadi, maksud dari kata ibadah dalam ayat di atas adalah berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla .

Dan karena kedudukannya yang mulia, di akhir ayat ini, Allâh Azza wa Jalla memberikan ancaman keras bagi orang yang menyombongkan diri dan berpaling dari berdo’a kepada-Nya[2]. Inilah makna sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّهُ مَنْ لَمْ يَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

Sesungguhnya barangsiapa enggan untuk memohon kepada Allâh maka Dia akan murka kepadanya.[3]

Dalam ayat lain, Allâh Azza wa Jalla menjelaskan tingginya keutamaan do’a sebagai sebab perhatian dan pemuliaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya.[4] Allâh Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا

Katakanlah, “Rabbku tidak mengindahkan kamu, kalau kamu tidak berdo’a (dan beribadah kepada-Nya). (Tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya, karena itu kelak (adzab) pasti (menimpamu)” [Al-Furqân/25:77]

Demikian pula dalam beberapa hadits, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang agungnya kedudukan do’a. Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Seutama-utama ibadah adalah berdo’a.[5]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia bagi Allâh Azza wa Jalla daripada do’a.”[6]

DOA YANG DIKABULAKN ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA

Setiap Muslim tentu mengharapkan do’a-do’a permohonan kebaikannya dikabulkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana yang dijanjikan Allâh Azza wa Jalla dalam ayat di atas. Akan tetapi pada kenyataannya, tidak semua do’a yang dipanjatkan lantas dikabulkan-Nya. Penyebab adalah banyak dari do’a-do’a yang dilakukan manusia tidak memperhatikan syarat-syarat, adab dan sebab-sebab terkabulnya do’a, serta tidak menjauhi penghalang-penghalang terkabulnya do’a tersebut, sebagaiamana yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Di antara penghalang tersebut adalah melampaui batas dalam berdo’a dalam segala bentuknya, perbuatan dosa dan kezhaliman tanpa bertaubat kepada Allâh Azza wa Jalla , tergesa-gesa meminta pengabulan do’a dari Allâh Azza wa Jalla , mengkonsumsi harta yang haram, baik dalam makanan, minuman, maupun pakaian, kelalaian hati dari (mengingat Allâh Azza wa Jalla ), serta dominasi hawa nafsu dan syahwat pada diri manusia.[7]

Demikian pula adab dan sebab-sebab dikabulkannya do’a yang banyak disebutkan dalam ayat al-Qur’an dan hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Jadi, do’a dan permohonan yang paling dekat dengan pengabulan dari Allâh Azza wa Jalla adalah permohonan yang terpenuhi padanya syarat-syarat terkabulnya do’a, jauh dari penghalang-penghalangnya, dan dihiasi dengan adab-adab berdo’a sebanyak mungkin. Inilah do’a yang tidak akan ditolak oleh Allâh Azza wa Jalla , insya Allâh.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika terkumpul dalam do’a (seorang hamba) hadirnya hati dan terfokusnya secara utuh kepada permohonan yang dimintanya, (waktu dia berdo’a) bertepatan dengan salah satu dari enam waktu (yang dijanjikan padanya) pengabulan do’a, yaitu:

sepertiga malam yang terakhir

√ketika adzan (berkumandang)

√(waktu) di antara adzan dan iqamah,

√di akhir shalat-shalat (lima waktu) yang wajib (sebelum salam),

√ketika imam (khathib) naik ke mimbar pada hari Jum’at sampai selesai shalat Jum’at,

√dan akhir waktu (siang) setelah shalat Ashar (sebelum matahari terbenam) pada hari Jum’at disertai perasaan khusyu’ dalam hati, merendahkan diri, tunduk, pasrah dan mengakui kelemahan diri (di hadapan Allâh Azza wa Jalla), dia berdo’a dalam keadaan suci (dari hadats), menghadap qiblat serta mengangkat kedua tangannya kepada Allâh Azza wa Jalla.  Dia memulai (do’anya) dengan memuji dan menyanjung Allâh Subhanahu wa Ta’ala , lalu bershalawat atas Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian sebelum menyampaikan permohonannya, dia bertaubat dan beristigfar (memohon ampun kepada-Nya), setelah itu dia menyampaikan permohonannya kepada Allâh Azza wa Jalla , dengan merengek-rengek dan bersungguh-sungguh meminta, disertai perasaan takut dan berharap, bertawassul kepada-Nya dengan nama-nama-Nya (yang maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha tinggi), dan mentauhidkan-Nya, serta terlebih dahulu bersedekah sebelum berdo’a.

Sungguh do’a (seperti) ini hampir (pasti) tidak akan ditolak selamanya. Terlebih lagi jika do’a tersebut bersesuaian dengan do’a-do’a yang diberitakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa do’a-do’a tersebut kemungkinan (besar) dikabulkan atau mengandung nama Allâh yang paling agung…”[8]

BERDOA DALAM SHALAT

Saat melaksanakan shalat adalah salah satu waktu yang dijanjikan pengabulan do’a dari Allâh Azza wa Jalla padanya dan berdo’a pada saat ini merupakan salah satu sebab utama dikabulkannya do’a.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي الصَّلاَةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ

Ketika salah seorang dari kalian sedang mengerjakan shalat maka sesungguhnya (saat itu) dia sedang bermunajat (berkomunikasi/ berbisik-bisik) dengan Rabbnya (Allâh Azza wa Jalla)[9]

Hadits ini menunjukkan bahwa diantara saat yang paling tepat dan pantas bagi seorang hamba untuk menyampaikan permohonannya kepada Allâh Azza wa Jalla adalah ketika dia sedang melaksanakan shalat, karena pada waktu itu dia sedang bermunajat dan berkomunikasi dengan Allâh Azza wa Jalla .

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Adapun berdo’a (yang langsung dilakukan) setelah salam dari shalat, dengan menghadap kiblat atau para makmum (dalam shalat berjama’ah), maka ini sama sekali bukanlah termasuk sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan tidak pernah dinukil dari (hadits) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , (baik) dengan sanad yang shahih ataupun hasan…

Mayoritas do’a-do’a yang berkaitan dengan shalat tidak lain dilakukan dan diperintahkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat. Inilah (berdo’a di dalam shalat) yang sesuai dengan keadaan orang yang sedang shalat, karena dia sedang menghadap Allâh Azza wa Jalla dan bermunajat dengan-Nya selama dia dalam shalatnya, maka setelah dia mengucapkan salam dari shalat terputuslah munajatnya (dengan Allâh) dan buyarlah sikap berdiri serta kedekatannya dengan Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu, bagaimana (bisa dibenarkan ketika) hamba ini meninggalkan do’a kepada Allâh Azza wa Jalla di saat dia sedang bermunajat, dekat dan menghadap kepada-Nya (di dalam shalat), kemudian dia (malah) berdo’a kepada-Nya setelah semua itu selesai??. Tidak diragukan lagi bahwa keadaan sebaliknyalah yang lebih sesuai dan lebih pantas bagi hamba yang sedang melaksanakan shalat.”[10]

Berdasarkan hadits-hadist yang shahih, para Ulama menyimpulkan bahwa ada enam atau tujuh tempat dalam shalat[11] yang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla ketika itu, yaitu:

1- Dalam do’a istiftah atau iftitah setelah takbîratul ihram, sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadits shahih, di antaranya hadits riwayat Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu.

2- Dalam do’a qunut shalat witir sebelum ruku’, setelah selesai membaca al-Fâtihah dan surah al-Qur’an. Ini juga disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.

3- Di waktu i’tidal setelah bangkit dari ruku’, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari ‘Abdullah bin Abi Aufa Radhiyallahu anhu .

4- Di waktu ruku’, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih riwayat Imam al-Bukhâri dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma .

5- Di waktu sujud (semua sujud dalam shalat). Di waktu inilah yang paling sering Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan do’a-do’a dan memerintahkan untuk memperbanyak do’a padanya.

6- Di waktu duduk di antara dua sujud, ini juga disebutkan dalam hadits yang shahih.

7- Sebelum salam dari shalat (di akhir shalat), setelah tasyahud dan shalawat. Inilah yang diperintahkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dan dari Fadhâlah bin ‘Ubaid Radhiyallahu anhu .[12]

Kemudian Imam Ibnu hajar menambahkan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga selalu berdo’a (dalam shalat) ketika qunut (witir dan nâzilah) serta di saat membaca al-Qur’an, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati ayat-ayat (yang menjelaskan tentang) rahmat Allâh maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a memohon (rahmat-Nya), dan ketika melewati ayat-ayat (yang menjelaskan tentang) adzab Allâh maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a memohon perlindungan (kepada-Nya).”[13]

Dan di antara tempat-tempat tersebut di atas, ada dua tempat yang diperintahkan dan dianjurkan secara khusus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperbanyak do’a padanya, yaitu di waktu sujud dan setelah tasyahhud sebelum salam dari shalat.[14]

1. Di Waktu Sujud

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدُ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

Sedekat-dekatnya seorang hamba dari Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah do’a (pada waktu itu)[15]

Dalam hadits lain dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِي الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

Adapun (di waktu) sujud maka bersungguh-sungguhlah untuk berdo’a padanya, karena pantas untuk dikabulkan do’amu (pada waktu itu).[16]

Kedua hadits ini menunjukkan keutamaan berdo’a di waktu sujud sehingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memperbanyak do’a padanya (setelah membaca dzikir untuk sujud), dan juga menunjukkan bahwa waktu sujud adalah saat yang dijanjikan pengabulan do’a padanya.[17]

Oleh karena itulah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam paling sering dan paling banyak berdo’a pada waktu sujud dalam shalat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sebagaimana penjelasan Imam Ibnul Qayyim dan Imam Ibnu Hajar.[18]

Juga perlu diingatkan di sini, bahwa keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini berlaku untuk semua sujud dalam shalat dan tidak hanya untuk sujud terakhir saja, sebagaimana yang disangka dan dipraktekkan oleh sebagian dari kaum Muslimin.[19] HuH

2. Setelah Tasyahhud Sebelum Salam dari Shalat

Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhuma bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya:

أَيُّ الدُّعَاءِ أَسْمَعُ ؟ قَالَ جَوْفَ اللَّيْلِ الآخِرِ وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوْبَاتِ

Do’a apakah yang paling didengar (dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla )? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Do’a) di tengah malam (akhir malam) dan di ujung (akhir) shalat-shalat (lima waktu) yang wajib[20]

Yang di maksud ‘akhir shalat yang wajib’ dalam hadits ini adalah setelah tasyahhud sebelum salam, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[21] dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.[22]

Dalam hadits shahih lainnya dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu, ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bacaan tahiyyat dan tasyahhud dalam shalat kepada para Sahabat Radhiyallahu anhum, di akhir hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنْ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو

 Kemudian (orang yang sedang shalat, setelah membaca tahiyyat dan tasyahhud) hendaknya dia memilih do’a yang paling disukainya dan berdo’a dengannya (ketika itu)[23]

Demikian juga dalam hadits lain dari Fadhâlah bin ‘Ubaid Radhiyallahu anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِى -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ

Kemudian orang yang sedang shalat hendaknya membaca shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu setelah itu berdo’a sesuai dengan keinginannya.”[24]

Kedua hadits ini menunjukkan perintah dan anjuran untuk memperbanyak do’a di saat ini.[25]

Dalam kitab Shifatu Shalâtin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ” (hlmn 183-187), Syaikh al-Albani rahimahullah membawakan banyak hadits shahih yang berisi do’a-do’a yang diucapkan dan diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dibaca setelah tasyahhud dan sebelum salam dari shalat.

Bahkan sebagian Ulama mengatakan bahwa anjuran berdo’a di saat ini tidak hanya berlaku pada waktu duduk tahiyyat akhir, tapi juga berlaku pada waktu tahiyyat awal. Mereka berdalil dengan lafazh riwayat lain dari hadits ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu di atas, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kamu duduk (dalam shalat) di setiap dua raka’at, maka ucapkanlah: at-tahiyyaatu lillahi washalawaatu wathayyibaat… dan hendaknya dia memilih do’a yang paling disukainya lalu berdo’a kepada Allâh Azza wa Jalla ”[26].

Sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini: “…di setiap dua raka’at…” menunjukkan bahwa ini berlaku untuk tahiyyat awal dan tahiyyat akhir.

Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Ibnu Hazm al-Andalusi t dan dikuatkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah .[27]

ANTARA BERDO’A DI DALAM SHALAT DAN SETELAH SHALAT

Dari pemaparan di atas, jelaslah keutamaan besar dan kemuliaan berdo’a dalam shalat. Tentu saja jika dibandingkan dengan berdo’a setelah shalat, yang diperbolehkan oleh sebagian dari para Ulama, maka berdo’a di dalam shalat jelas lebih utama dan lebih tinggi kedudukannya, karena berdo’a setelah shalat tidaklah memiliki keutamaan yang khusus seperti berdo’a di dalam shalat.

Memang ada di antara para Ulama, seperti Imam Ibnu hajar al-‘Asqalani rahimahullah [28], yang berdalil untuk menetapkan keutamaan berdo’a setelah shalat dengan hadits dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu yang telah dinukil di atas, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang do’a yang paling didengar (dikabulkan oleh Allâh Azza wa Jalla )?: “(Do’a) di tengah malam (akhir malam) dan di ujung (akhir) shalat-shalat (lima waktu) yang wajib.”[29]

Mereka memaknai sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ini “… Di dubur shalat-shalat (lima waktu) yang wajib” dengan ‘setelah salam dari shalat-shalat tersebut’.

Namun, pendapat ini adalah pendapat yang lemah. Pendapat yang kuat adalah yang mengatakan bahwa maknanya ‘di akhir shalat sebelum salam’, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin.[30]

Kalaupun pemaknaan di atas bisa diterima, tetap saja keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini tidak bisa menyamai atau bahkan tidak bisa mendekati keutamaan-keutamaan berdo’a di dalam shalat yang telah dinukil dan dijelaskan di atas.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya berdo’a di dalam shalat lebih dekat dengan pengabulan (dari Allâh Azza wa Jalla ) daripada (berdo’a) di waktu lain.”[31]

(Lanjut ke halaman 2)