Kafirkah Orang Yang Meninggalkan Shalat?& Hukum Orang Meninggalkan Shalat Secara Sengaja, Malas, Mengingkari Kewajiban, Tanpa Udzur Syar’i

Jelas Ia Berbuat Dosa Besar Yang Paling Besar, lebih besar dosanya di sisi Allâh Azza wa Jalla daripada membunuh jiwa, mengambil harta orang lain, dosa zina, mencuri dan minum khamr, akan mendapatkan hukuman dan kemurkaan Allâh di dunia dan di Akhirat, Dia Telah Merobohkan Tiang Agama dan Merusak Syiar Islam Sebagai Pembeda Dari Orang-Orang Kafir?

,_______,

KAFIRKAH ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

OlehUstadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas حفظه الله

Alhamdulillah

Playlist: Tutorial Cara Sholat – CaraSholat.com

Beginilah Cara Sholat Rasulullah (Mizan Qudsiyah, Lc) 

Meningkatkan Kualitas Sholat (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA) l

Ustadz Abu Ihsan Al-Atsary- Dosa Besar Meninggalkn Sholat 

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal / Al Kabair Dosa Besar Meninggalkan Shala

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal-Bahaya Meninggalkan Shalat 5 Waktu

Ustadz Zainal Abidin Syamsudin · Hukum Meninggalkan Sholat 

Ustadz Abdullah Zaen · Kajian Kitab Usuulus Sunnah, Imam Ahmad bin Hambal

Kafirkah Orang yang MeninggalKn ShalatUstadz Muhammad Abduh Tuasikal · Matan Abi Syuja Hukum Orang Meninggalkan Shalat

Ustadz Subhi Abdurrahman · Musibah Bagi yang Meninggalkan Shalat 

Ustadz Abu Qatadah · Syarah Umdatul Ahkam Hukum Meninggalkan Shalat 

Ustadz Ahmad Zainuddin · Untukmu yang Masih Meninggalkan Shalat 

Ke-004 : Meninggalkan Sholat (Dosa Dosa Besar)


Ebook

Fatwa Penting Shalat: 

Jangan Pernah Tinggalkan Shalatmu

Janganlah Mengkafirkan Saudaramu – Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani 

Sifat Shalat Nabi – assunnah-qatar.com

Syarat, Rukun dan Kewajiban dalam Shalat – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Kiat Shalat Khusyu

Mengapa Kita Shalat Full

posisi_imam_dan_makmum_dalam_shalat_b erjamaah

Sifat Shalat Nabi Format CHM: 

Hukum Orang Meninggalkan Shalat Karya Muhammad bin Shalih Al Utsaimin 49 halaman

Judul: Petunjuk Lengkap Tentang Shalat bahasa: IndonesiaKarya: Sa’id bin Ali Al Qahthani240 halaman

Shalat Berjamaah, Keutamaan , Manfaat dan Hikmahnya karya Abu Abdil Aziz Abdullah bin safar 34 halamam

Sifat Wudhu & Shalat Nabi shalallahu’alaihi wa.sallam Karya Syaikh Muhammad Fadh.Syaikh Abdul Aziz Bin Baz

Sifat Sholat Nabi Karya Syaikh Al-Albani

Sifat Sholat Nabi Full Gambar

Fiqih Bersuci dan Sholat Sesuai Tuntunan Nabi karya Abu Utsman Kharisman 516 Halaman

Memahami makna Bacaan Sholat.karya Ustadz ABU UTSMAN KHARISMAN 348 halaman

Aplikasi Apa Doanya 400+ Doa Dzikir Sunnah

Kumpulan Doa dan Dzikir Nabawi Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 297 Halaman 

Kumpulan Doa dan Dzikir Dalam Al-Quran dan Sunnah karya Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr 287 Halaman 

Hisnul Muslim Doa dan Dzikir Shahih dari Al-Quran dan Sunnah Karya Syaikh Sa’id bin Ali al-Qohtoni 

Astaghfirullah … Beginilah Dosa dan HukumMeninggalkan Sholat

——- 

Shalat lima waktu hukumnya fardhu ‘ain, yakni wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah. Tidak boleh ditinggalkan bagaimana pun keadaannya, sampai musafir dan orang sakit pun wajib mengerjakan shalat yang lima waktu, kecuali bagi wanita yang sedang haidh atau nifas, maka mereka tidak boleh shalat. Adapaun selain keduanya, maka wajib shalat.

BAGAIMANA HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT DENGAN SENGAJA?

Seluruh Ulama ummat Islam sepakat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya adalah kafir. Namun, mereka berselisih tentang orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa mengingkari kewajibannya. Penyebab perselisihan mereka adalah ada sejumlah hadits yang menyatakan kafirnya orang yang meninggalkan shalat tanpa membedakan, apakah karena mengingkari kewajibannya atau hanya karena malas untuk mengerjakannya?

Hadits pertama:

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.[1]

Hadits kedua:

Dari Buraidah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ.

Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.[2]

Hadits ketiga:

Dari Tsauban Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ وَالْإِيْمَـانِ الصَّلَاةُ ، فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ.

Antara seorang hamba dengan kekufuran dan iman adalah shalat. Apabila ia meninggalkan shalat maka ia telah berbuat syirik.[3]

Namun yang paling kuat dari berbagai pendapat para Ulama tentang kufur di sini adalah kufur kecil yang tidak menyebabkan seseorang keluar dari Islam. Ini adalah hasil penggabungan antara hadits-hadits di atas dengan hadits-hadits lainnya, di antaranya:

Hadits pertama:

Dari ‘Ubadah bin ash-Shamith Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ ، مَنْ أَتَىٰ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ ؛ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْـجَنَّـةَ ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ ؛ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ ، وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ.

Lima shalat yang Allâh wajibkan atas hamba-hamba-Nya. Barangsiapa mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun karena menganggap enteng, maka ia memiliki perjanjian dengan Allâh untuk memasukkan dia ke Surga. Dan barangsiapa tidak mengerjakannya, maka dia tidak memiliki perjanjian dengan Allâh. Jika Allâh berkehendak, maka Dia mengadzabnya dan jika Dia berkehendak Dia mengampuninya.[4]

Maka kita bisa menyimpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat masih berada dibawah derajat kesyirikan dan kekafiran. Karena, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerahkan perkara orang yang tidak mengerjakan shalat kepada kehendak Allâh, sedangkan Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisâ’/4:48]

Hadits Kedua:

Dari Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ. حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ ، وَلَا صَلَاةٌ ، وَلَا نُسُكٌ ، وَلَا صَدَقَةٌ. وَلَيُسْرَى عَلَىٰ كِتَابِ اللهِ سبحانه وتعالى فِـيْ لَيْلَةٍ. فَلَا يَبْقَى فِـي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ. وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ : اَلشَّيْخُ الْكَبِيْرُ وَالْعَجُوْزُ. يَقُوْلُوْنَ : أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ هٰذِهِ الْكَلِمَةِ : لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ، فَنَحْنُ نَقُوْلُهَا. فَقَالَ لَهُ صِلَةُ : مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَهُمْ لَا يَدْرُوْنَ مَا صَلَاةٌ ، وَلَا صِيَامٌ ، وَلَا نُسُكٌ ، وَلَا صَدَقَةٌ ؟ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ. ثُمَّ رَدَّهَا عَلَيْهِ ثَلَاثًا. كُلَّ ذٰلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ. ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِـي الثَّالِثَةِ فَقَالَ : يَا صِلَةُ ! تُنْجِيْهِمْ مِنَ النَّارِ. ثَلَاثًا.

Islam akan lenyap sebagaimana lenyapnya warna pada baju yang luntur. Sehingga tidak lagi diketahui apa itu puasa, shalat, ibadah qurban dan shadaqah. Kitabullah akan diangkat dalam satu malam sehingga tidak tersisa satu ayat pun di bumi. Tinggallah segolongan manusia, laki-laki dan wanita yang tua renta. Mereka mengatakan, ‘Kami dapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat Lâ ilâha illallâh dan kami pun mengucapkannya.’” Shilah (seorang Tabi’in) berkata, “Apakah kalimat Lâ ilâha illallâh itu bermanfaat bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, puasa, qurban, dan shadaqah?” Lalu Hudzaifah Radhiyallahu anhu berpaling darinya. Shilah mengulanginya sebanyak tiga kali. Setiap kali Shilah berkata, Hudzaifah Radhiyallahu anhu berpaling. Pada kali ketiga, Hudzaifah menoleh dan berkata:

يَا صِلَةُ ! تُنْجِيْهِمْ مِنَ النَّارِ

Wahai Shilah! Kalimat itulah yang menyelamatkan mereka dari neraka.

Hudzaifah mengucapkannya tiga kali.[5]

Syaikh al-Albani rahimahulllah berkata, “Dalam hadits ini terdapat faedah fiqih yang penting, yaitu bahwa syahâdatu an lâ ilâha illallâh (persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allâh Azza wa Jalla ) dapat menyelamatkan orang yang mengucapkannya dari kekekalan di dalam neraka pada hari kiamat, meskipun ia tidak melaksanakan sesuatu yang lain dari rukun Islam yang lima, seperti shalat dan selainnya. Di antara hal yang telah dimaklumi bahwa para Ulama telah berselisih pendapat tentang hukum orang yang meninggalkan (rukun Islam selain syahadat) khususnya shalat, jika dia masih mengimani disyari’atkannya shalat tersebut. Jumhur Ulama berpendapat bahwa orang itu tidak dihukumi kafir, tetapi dihukumi fasiq. Imam Ahmad  berpendapat–dalam satu riwayat–bahwa orang itu dikafirkan dan ia dibunuh karena murtad, bukan sebagai hadd. Dan telah shahih dari para Sahabat bahwa mereka tidak memandang sesuatu dari amal yang jika ditinggalkan berarti telah kafir selain shalat. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim.

Dan saya berpendapat bahwa yang benar adalah pendapat jumhur, dan bahwa (pendapat) yang berasal dari para Sahabat bukanlah sebagai nash (penegasan) bahwa yang mereka inginkan dari kata “kufur” di sini adalah kufur yang membuat pelakunya kekal di dalam neraka yang tidak mungkin diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla . Bagaimana bisa begitu? Karena Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu anhu – padahal beliau ini adalah salah satu pembesar para Sahabat– membantah (pendapat) Shilah bin Zufar di mana ia hampir memahami perkara ini seperti halnya pemahaman Imam Ahmad, lalu ia berkata, “Apakah kalimat Lâ ilâha illallâh bermanfaat bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat…?” Maka Hudzaifah Radhiyallahu anhu menjawabnya setelah sebelumnya ia berpaling darinya, “Wahai Shilah! Kalimat itulah yang menyelamatkan mereka dari neraka.” Sebanyak tiga kali.

Ini adalah penegasan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu bahwa orang yang meninggalkan shalat –dan yang semisalnya juga meninggalkan rukun-rukun Islam yang lain (selain syahadat)– tidak kafir. Ia masih sebagai seorang Muslim yang tidak kekal dalam neraka pada hari kiamat, maka hafalkanlah (ingatlah) hal ini, karena mungkin Anda tidak mendapatkan keterangan seperti ini di kitab lain…”[6]

(Lanjut ke halaman 2)