Keistimewaan Kalimat Tahmid (Alhamdulillah) & Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid
Alhamdulillah

Abdullah Zaen · Keistimewaan Empat Kalimat

Abu Ubaidah Yusuf As- Sidawi / Arbain Nawawi 26 – Keutamaan Alhamdulillah dll. (Hadits23)

Hukum Membaca Hamdalah Seusai Shalat

Makna Tahmid dan Perbedaannya Dengan Syukur (Fiqih Doa dan Dzikir)


Ke-053 : Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid(Bag-5).(Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-052 : Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid (Bag-4).(Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-051 : Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid (Bag-3).(Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-050 : Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid (Bag-2).(Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-049 : Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid (Bag-1).(Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-048 : Keistimewaan Kalimat Tahmid (Bag-3) (Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-047 : Keistimewaan Kalimat Tahmid (Bag-2) (Fiqih Doa dan Dzikir)

Ke-046 : Keistimewaan Kalimat Tahmid (Bag-1) (Fiqih Doa dan Dzikir)


Keistimewaan Kalimat Tahmid – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Kapan Mengucapkan Kalimat Tahmid Bagian 1 – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Makna Tahmid dan Perbedaannya Dengan Syukur – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Keistimewaan Kalimat Tahmid Bagian 5 – Ustadz Abdullah Zaen, MA

Kumpulan Doa dan Dzikir Nabawi Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 297 Halaman 

Kumpulan Doa dan Dzikir Dalam Al-Quran dan Sunnah karya Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr 287 Halaman

Hisnul Muslim Doa dan Dzikir Shahih dari Al-Quran dan Sunnah Karya Syaikh Sa’id bin Ali al-Qohtoni

_________

Keistimewaan Kalimat Tahmid

Di dalam al-Qur’an al-Karim, banyak kita dapatkan.isyarat yang menunjukkan keistimewaan kalimat tahmid. Antara lain: dimulainya al-Qur’an dengan tahmid. Sebagaimana di awal surat al-Fatihah. Selain itu juga banyak surat di al-Qur’an yang diawali dengan tahmid . Seperti dalam surat al-An’âm, al-Kahfi, Saba’n dan Fâthir.

Ditambah lagi dalam al-Qur’an, Allah ta’ala mengawali penciptaan makhluk-Nya dengan tahmid, sebagaimana dalam firman-Nya,

“ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِﻭَﺍﻟﻨُّﻮﺭَ”.

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, serta menjadikan gelap dan terang”. QS. Al-An’âm (6): 1.

Juga mengakhiri penciptaan makhluk dengan tahmid (QS. Az-Zumar: 75).

Di dalam al-Qur’an, kalimat tahmid disebutkan lebih dari empat puluh kali. Di antara ayat-ayat tersebut ada.yang berisikan berbagai motivasi pendorong kita untuk bertahmid.

Misalnya di surat al-A’râf. Di situ Allah menjelaskan bahwa di antara motivasi pendorong kita untuk bertahmid memuji-Nya adalah karena Dialah yang telah memberikan hidayah kepada tauhid .

“ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻲُّ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ”.

Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka sembahlah Dia dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam”. QS. Al-Mu’min / Ghafir(40): 65.

Kita memuji Allah, juga karena Dialah yang mengaruniakan keturunan .

“ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻭَﻫَﺐَ ﻟِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮِ ﺇِﺳْﻤَﺎﻋِﻴﻞَ ﻭَﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﺇِﻥَّﺭَﺑِّﻲ ﻟَﺴَﻤِﻴﻊُ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ .”

Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telahnmenganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Ismail dan Ishaq. Sungguh, Rabbku benar-benar Maha Mendengarn(mengabulkan) doa”. QS. Ibrahim (14): 39. Selain itu, kita memuji Allah karena nikmat terbesar, yakni perkenan-Nya memasukkan kita ke surga .

“ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻟَﺎ ﻧُﻜَﻠِّﻒُ ﻧَﻔْﺴًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻭُﺳْﻌَﻬَﺎ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ . ﻭَﻧَﺰَﻋْﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻓِﻲ ﺻُﺪُﻭﺭِﻫِﻢْ ﻣِﻦْﻏِﻞٍّ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﻟِﻬَﺬَﺍﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻱَ ﻟَﻮْﻟَﺎ ﺃَﻥْ ﻫَﺪَﺍﻧَﺎ ﺍﻟﻠَّﻪُ ”.

Artinya: “Orang-orang yang beriman serta beramal salih, Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami mencabut rasa dendam dari dalam dada mereka. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai. Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan pada kami”. QS. Al-.A’râf (7): 43.

1. Dengan kalimat ini kita akan dekat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam di hari kiamat

Dalam sebuah hadits disebutkan,

“ ﺃَﻧَﺎ ﺳَﻴِّﺪُ ﻭَﻟَﺪِ ﺁﺩَﻡَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﻻَ ﻓَﺨْﺮَ، ﻭَﺑِﻴَﺪِﻱ ﻟِﻮَﺍﺀُ ﺍﻟﺤَﻤْﺪِ ﻭَﻻَﻓَﺨْﺮَ، ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺁﺩَﻡَ ﻓَﻤَﻦْ ﺳِﻮَﺍﻩُ ﺇِﻻَّ ﺗَﺤْﺖَ ﻟِﻮَﺍﺋِﻲ ”.

Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Di tanganku bendera pujian. Aku katakan ini bukan untuk menyombongkan diri. Pada hari itu seluruh nabi termasuk Adam akan berada di bawah benderaku”. HR.Tirmidzy dari Abu Sa’id radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan al-Albany.

Hadits di atas menjelaskan pada kita bahwa di hari kiamat kelak, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam benar-benar akan membawa bendera. Dan yang berhak bergabung di bawah bendera tersebut adalah hamba-hamba Allah yang sering bertahmid dan banyak memuji-Nya; sebab bendera tersebut adalah bendera pujian. Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihiwasallam lah yang berhak mengibarkan panji tersebut, karena beliau adalah hamba Allah yang paling banyak mengucapkan tahmid dan memuji-Nya.

2. Dengan kalimat ini kita bisa meraih rumah pujian di surga

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﻭَﻟَﺪُ ﺍﻟﻌَﺒْﺪِ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻟِﻤَﻼَﺋِﻜَﺘِﻪِ : “ﻗَﺒَﻀْﺘُﻢْ ﻭَﻟَﺪَ ﻋَﺒْﺪِﻱ؟ ” ،ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ: “ ﻧَﻌَﻢْ” ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ: “ﻗَﺒَﻀْﺘُﻢْ ﺛَﻤَﺮَﺓَ ﻓُﺆَﺍﺩِﻩِ؟ ” ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ:“ ﻧَﻌَﻢْ” ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : “ﻣَﺎﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﺒْﺪِﻱ؟ ” ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ : “ﺣَﻤِﺪَﻙَﻭَﺍﺳْﺘَﺮْﺟَﻊَ ” ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪُ : “ ﺍﺑْﻨُﻮﺍ ﻟِﻌَﺒْﺪِﻱ ﺑَﻴْﺘًﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺳَﻤُّﻮﻩُﺑَﻴْﺖَ ﺍﻟﺤَﻤْﺪِ .”

Jika salah satu anak manusia meninggal, maka Allah akan bertanya kepada malaikat-Nya, “Kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?”. “Ya” jawab mereka. “Kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?”. Mereka menjawab lagi, “Ya”. Apa yang diucapkan hamba-Ku?”. “Ia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un! ”. Maka Allah pun berfirman, “Bangunkan untuk hamba-Ku rumah di surga dan namailah dengan rumah pujian!”. HR. Tirmidzy dari Abu Musa radhiyallahu’anhu. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Tirmidzy dan al-Albany. Saat tertimpa musibah pun kita perlu untuk memuji Allah, sebab Allah layak untuk dipuji dalam segala kondisi. Apalagi pilihan-Nya pasti selalu yang terbaik.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits,

“ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﺎ ﻳَﻘْﻀِﻲ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﻗَﻀَﺎﺀً ﺇِﻟَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ ”

Sesungguhnya Allah tidaklah menakdirkan sesuatu bagi seorang mukmin melainkan pasti itu baik.baginya ”. HR. Ahmad dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban dan ad-Dhiya’ al-Maqdisy.

3. Kalimat ini merupakan doa yang paling afdal

Dalam sebuah hadits disebutkan,

“ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮِ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ، ﻭَﺃَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ ﺍﻟﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ”.

Dzikir yang paling afdhal adalah La ilaha Illallah. Dan doa yang paling afdhal adalah Alhamdulillah ”. HR. Tirmidzy dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Ibn Khuzaimah juga Ibn Hibban.

Di dalam hadits di atas, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengatagorikan Alhamdulillah sebagai doa, bahkan doa yang paling istimewa. Mengapa demikian, padahal sebagaimana telah maklum bahwa doa itu berisikan pujian kepada Allah, bukan permintaan?

Para ulama menjelaskan bahwa doa itu ada dua macam. Pertama: doa yang berisi permintaan. Kedua: doa yang berisi pujian. Orang yang memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa meminta kepada-Nya. Hanya saja dengan bahasa yang halus. Orang yang memuji Allah, berarti ia sedang mensyukuri nikmat Allah. Dan orang yang mensyukuri nikmat Allah, mereka berpeluang besar untuk mendapatkan tambahan nikmat dari-Nya.

Jadi, orang yang mengucapkan Alhamdulillah memuji Allah, sejatinya ia juga sedang berdoa kepada-Nya. Banyak ayat di dalam al-Qur’an yang mengisyaratkan hal tersebut. Antara lain firman-Nya,

“ ﻭَﺁﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮَﺍﻫُﻢْ ﺃَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ”.

Artinya: “Penutup doa mereka adalah: alhamdulillahi rabbil’alamin (segala puji bagi Allah Rabb semesta alam)”. QS. Yunus (10): 10.

Juga,

“ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻲُّ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﻫُﻮَ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﻣُﺨْﻠِﺼِﻴﻦَ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺪِّﻳﻦَ، ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ ”.

Artinya: “Dialah yang Maha hidup, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Maka berdoalah kepada- Nya dengan tulus ikhlas beragama. Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam ”. QS. Al-Mu’min / Ghafir (40): 65.

1. 1. Kalimat mulia ini akan memenuhi timbangan kebaikan

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan,

“ ﺍﻟﻄُّﻬُﻮﺭُ ﺷَﻄْﺮُ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥِ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺗَﻤْﻸُ ﺍﻟْﻤِﻴﺰَﺍﻥَ . ﻭَﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِﻭَﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺗَﻤْﻶﻥِ – ﺃَﻭْ ﺗَﻤْﻸُ – ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽِ، ﻭَﺍﻟﺼَّﻼَﺓُﻧُﻮﺭٌ، ﻭَﺍﻟﺼَّﺪَﻗَﺔُ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٌ، ﻭَﺍﻟﺼَّﺒْﺮُ ﺿِﻴَﺎﺀٌ، ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﺣُﺠَّﺔٌ ﻟَﻚَ ﺃَﻭْﻋَﻠَﻴْﻚَ…”

Kesucian adalah setengah dari iman dan Alhamdulillah akan memenuhi timbangan. Sedangkan subhanallah dan Alhamdulillah akan memenuhi jarak antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya. Sedekah merupakan bukti (keimanan). Sabar adalah cahaya. Al-Qur’an bisa jadi akan membantumu kelak atau memberatkanmu…”. HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ary Radhiyallahu’anhu.

Setelah menjelaskan berbagai keistimewaan kalimat tahmid, tiba saatnya kita mempelajari kapan saja kita diperintahkan mengucapkan kalimat mulia ini. Atau dengan kata lain, momen-momen pengucapan Alhamdulillah.

Sebenarnya, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa memuji Allah kapanpun juga. Sebab di seluruh waktunya, pasti ia berada dalam curahan nikmat Allah ta’ala. Entah itu berupa nikmat duniawi maupun ukhrawi. Baik itu berupa kebaikan yang didapatkan atau marabahaya yang terhindarkan.

Alasan lain mengapa kita perlu untuk senantiasa memuji Allah, adalah sebab Dia adalah dzat yang pantas untuk selalu dipuji; dikarenakan kesempurnaannsifat-sifat dan nama-nama-Nya. Masing-masing dari nama dan sifat-Nya mendorong kita untuk memuji-Nya, bagaimana bila seluruh nama dan sifat tersebut terkumpul dalam satu dzat, yakni Allah ta’ala ?

Namun, ada beberapa kondisi yang mendapat penekanan khusus dari agama, agar seorang hamba.mengucapkan kalimat tahmid pada saat itu. Di antaranya:

1. Setelah selesai makan dan minum

Hal ini berlandaskan firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Baqarah (2): 172, juga sabda Rasul shallallahu ‘alaihiwasallam, “Sesungguhnya Allah akan meridhai hamba-Nya manakala selesai makan atau minum ia memuji-Nya”. HR. Muslim dari Anas bin Malik.

Redaksi hamdalah atau pujian pada Allah setelah selesai makan ada beberapa macam. Antara lain:

a. “ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺣَﻤْﺪﺍً ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻃَﻴِّﺒًﺎ ﻣُﺒَﺎﺭَﻛًﺎ ﻓِﻴﻪِ، ﻏَﻴْﺮَ ﻣَﻜْﻔِﻲٍّ، ﻭَﻟَﺎﻣُﻮَﺩَّﻉٍ، ﻭَﻟَﺎ ﻣُﺴْﺘَﻐْﻨًﻰ ﻋَﻨْﻪُ ﺭَﺑُّﻨَﺎ ”

Alhamdulillâhi h amdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi, ghoiro makfiyyin, wa lâ muwadda’in, wa lâ mustaghnâ ‘anhu robbunâ”.

Artinya: “Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi. Pujian yang tidak tertolak, tidak ditinggalkan dan tidak dibuang (bahkanndibutuhkan). (Dialah) Rabb kami”. HR. Bukhari.

b. “ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻃْﻌَﻤَﻨِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻭَﺭَﺯَﻗَﻨِﻴﻪِ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﺣَﻮْﻝٍ ﻣِﻨِّﻲ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓٍ ”

Alhamdulillâhilladzî ath’amanî hâdzâ wa rozaqonîhi min ghoiri haulin minnî wa lâ quwwatin”. Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, tanpa adanya daya dan kekuatan dariku”. HR. Abu Dawud dan sanadnya dinilai sahih oleh al- Hakim. Adapun Syaikh al-Albany menyatakan hadits ini hasan[1] .

Catatan:

Masih ada redaksi hamdalah sesudah makan lainnya yang berlandaskan hadits sahih. Banyak di antaranya telah disebutkan oleh Imam an-Nawawy dalam kitabnya al-Adzkâr [2] . Adapun redaksi yang masyhur di kalangan banyak kaum muslimin yang berbunyi: “Alhamdulillahilladzî ath’amanâ wa saqônâ wa ja’alanâ minal muslimîn”, redaksi ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan yang lainnya. Hanya saja hadits ini dinilai lemah oleh Imam adz-nDzahaby [3] dan Syaikh al-Albany [4] ; dikarenakan sanadnya bermasalah[5] .

[1] Lihat: Irwâ’ al-Ghalîl (VII/48 no. 1989).

[2] (hal. 339-342).

[3] Dalam kitabnya; Mîzân al-I’tidâl (I/228) beliau berkomentar bahwa hadits ini “gharîb munkar” (ganjil dan mungkar).

[4] Lihat catatan kaki beliau atas kitab Misykât al-Mashâbîh karya at-Tibrîzy (II/1216 no. 4204).[5] Lihat: Nail al-Authâr bi Takhrîj Ahâdîts Kitâb al-Adzkâr karya Syaikh Salim al-Hilaly (I/527

(Lanjut ke halaman 2)