Dahsyatnya Sakaratul Maut & Sakaratul Maut Yang Dirasakan Rasulullah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Dahsyatnya Sakaratul Maut (Mizan Qudsiyah, Lc)

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah – Ustadz DR. Firanda Andirja, MA 11 Mb

Ustadz Muhtarom / Dahsyatnya Sakaratul Maut

Kala Maut Menjemput-Al Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin ﺣﻔﻈﻪ

Fenomena Sakaratul Maut (Abu Usamah, Lc)

Keutamaan Mengingat Al-Maut-Al Ustadz Muhammad Isnadi 

Ustadz Abu Zubair Hawary Lc- “Perjalanan Ruh Semenjak Sakratul Maut hingga Alam Barzakh”

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah : Syaikh Sulaiman bin Salimullah Ar Ruhaili

Ustadz Abu Zubair Hawary Lc- Detik-Detik Wafatnya Rasulullah

Siroh Nabi Muhammad 71, Hari- hari Menjelang Wafatnya Rasulullah

Ebook [Majdi Muhammad Asy-Syahawi]TerputusnyaWahyu.pdf download

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah – Ustadz DR. Firanda Andirja, MA

Dahsyatnya Sakaratul Maut (Mizan Qudsiyah, Lc)

Ustadz Muhtarom / Dahsyatnya Sakaratul Maut

_____________________

SAKARATUL MAUT YANG DIRASAKAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Pertanyaan

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُه

Ustadz, saya pernah mendengar dari salah satu ustadz, katanya jika orang mukmin meninggal tidak akan merasakan sakitnya sakaratul maut, bahkan ruhnya keluar dari jasadnya seperti air keluar dari mulut kendi.

Akan tetapi saya membaca pada hadits detik-detik wafatnya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, saat malaikat maut mencabut nyawanya urat leher beliau menegang dan nabi sampai berucap ke malaikat Jibril “Alangkah sakitnya sakaratul maut ini ya Jibril”.

Kenapa ini bertentangan dengan hadits di atas yang mengatakan bahwa meninggalnya orang-orang mukmin tidak akan merasakan sakaratul maut bahkan ruhnya cepat keluar seperti air keluar dari mulut kendi.

Saya sangat ingin tahu penjelasannya ustadz, agar keimananan saya lebih mantap.

Jazakallahu khoiron.

( Dari Fulan, Sahabat BiAS)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Tentang sakaratul maut, sejatinya ia adalah proses yang menegangkan sekaligus menyakitkan, walau juga ada pengecualian bagi orang yang Alloh kehendaki berupa kematian yang mudah.

Berita tentang sakaratul maut yang menjadi proses perpisahan jasad dengan ruh dicantumkan Alloh dalam firmanNya,

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

Juga ayat:

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28}

Sekali-kali jangan. Apabila nafas telah sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepada yang menjalani sakaratul maut): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan”.

[QS Al Qiyamah: 26-28]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Alloh mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (maka ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Alloh berfiman:

Dan dikatakan (kepada yang menjalani sakaratul maut): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qodho dan qodar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia”.

[Taisir Al Karimi Ar Rahman Fi Tafsiri Kalami Al Mannan hal: 833]

Sementara itu, sakaratul maut bagi orang yang beriman secara umum adalah mudah, Alloh menyatakan secara tegas dalam firmanNya bahwa para malaikat menghampiri orang-orang yang beriman, dengan mengatakan janganlah takut dan sedih serta membawa berita gembira tentang syurga;

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلآتَخَافُوا وَلاَتَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ {30}

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Rabb kami adalah Alloh kemudian mereka beristiqomah, maka para malaikat turun kepada mereka (sembari berkata):” Janganlah kamu bersedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) syurga yang telah dijanjikan Alloh kepadamu”.

[QS Fushshilat: 30]

Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya: “Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas dalam amalannya untuk Alloh semata dan mengamalkan ketaatan-Nya berdasarkan syariat Alloh, niscaya para malaikat akan menghampiri mereka tatkala kematian menyongsong mereka dengan berkata,

“Janganlah kalian takut atas amalan yang kalian persembahkan untuk akhirat dan jangan bersedih atas perkara dunia yang akan kalian tinggalkan, baik itu anak, istri, harta atau agama, sebab kami akan mewakili kalian dalam perkara itu. Mereka (para malaikat) memberi kabar gembira berupa sirnanya kejelekan dan turunnya kebaikan”.

Ibnu Katsir pun juga menukil perkataan Zaid bin Aslam: “Kabar gembira akan terjadi pada saat kematian, di alam kubur, dan pada hari kebangkitan”.

[Tafsiru Al Quranil ‘Azhim 4/100-101]

Adapun apa yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, berupa rasa sakit dalam proses sakaratul maut dapat kita lihat lewat beberapa riwayat yang shohih, seperti dari sahabat Anas bin Malik rodhiallohu ‘anhu, ia berkata,

لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام واكرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ اليَوْمِ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah berat penderitaanmu ayahku”. Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini”. [HR Bukhari 4446]

Juga dijelaskan lewat penuturan langsung dari ‘Aisyah rodhiallohu ‘anha,

مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Aku tidak iri kepada siapapun yang mudah saat proses kematiannya, setelah aku melihat kepedihan dalam kematian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam”.

[HR Tirmidzi 979]

Sampai di sini kita bisa tahu bahwa penderitaan yang dialami saat sakaratul maut adalah sesuatu yang nyata, kendati bagi orang beriman pada umumnya adalah hal yang mudah, namun tetap saja ada kepedihannya, dan kepedihan setiap orang berbeda-beda.

Maka jangan dipahami kepedihan dalam sakaratul maut yang dialami Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah sebuah kehinaan, karena justru sebagai pengangkat kedudukan.

Ibnu Hajar menjelaskan: “Dalam hadits tersebut, kepedihan atau kesengsaraan (saat) sakaratul maut bukan petunjuk atas kehinaan (seseorang). Dalam konteks orang yang beriman bisa untuk menambah kebaikannya atau menghapus kesalahan-kesalahannya”. [Fathul Bari Syarhu Shohihil Bukhori 11/363]

Di antara hikmah pedihnya sakaratul maut yang dialami orang beriman adalah agar orang-orang bisa melihat dan merasakan bahwa sakitnya kematian bukanlah sebuah hal yang bisa disepelekan, sehingga untuk mengahadapinya pun tidak bisa dengan persiapan yang sepele.

Selain itu, kepedihan yang dialami para nabi dan rosul serta orang-orang sholih di penghujung hidupnya bukanlah sebuah aib ataupun siksaan, melainkan untuk meningkatkan derajat mereka di sisi Alloh, serta memperbesar pahala-pahala mereka sebelum meninggal.

Dan bukan berarti Alloh mempersulit proses kematian mereka melebihi kepedihan orang-orang yang bermaksiat. Sebab kepedihan ini adalah hukuman bagi mereka dan sanksi untuk kejahatan mereka. Tidak bisa disamakan dengan yang dialami orang beriman.

Sebagai tambahan, ada doa yang bisa kita praktekkan agar tidak terpedaya oleh gangguan syaitan saat sakaratul maut, sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam,

أَعُوذُ بِكَ أَن يَتَخَبَّطَنِي الشَّيطَانُ عِندَ المَوتِ

A’udzubika An Yatakhabbathonisy Syaithonu ‘Indal Maut

“Aku berlindung kepada-Mu agar tidak disesatkan setan ketika kematian.”

[HR Abu Daud 1328]

Semoga Alloh kokohkan hati kita untuk sami’na wa atho’na pada dalil yang shohih dengan pemahaman salafus sholih.

Wallahu ‘Alam.

Wabillahittaufiq.

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Rosyid Abu Rosyidah حفظه الله

(Dewan Konsultasi Bimbinganislam.com)

SAKARATUL MAUT, DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN LAGI MENYAKITKAN[1]

Oleh Dr Muhammad bin Abdul Aziz bin Ahmad Al’Ali

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”[2].

Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَاكُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya”. [Qaaf: 19]

Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[3].

Juga ayat:

كَلآ إِذَا بَلَغَتِ التَّرَاقِيَ {26} وَقِيلَ مَنْ رَاقٍ {27} وَظَنَّ أَنَّهُ الْفِرَاقُ {28} وَالْتَفَّتِ السَّاقُ بِالسَّاقِ {29} إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمَسَاقُ

Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan”. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau”. [Al Qiyamah: 26-30]

Syaikh Sa’di menjelaskan: “Allah mengingatkan para hamba-Nya dengan keadan orang yang akan tercabut nyawanya, bahwa ketika ruh sampai pada taraqi yaitu tulang-tulang yang meliputi ujung leher (kerongkongan), maka pada saat itulah penderitaan mulai berat, (ia) mencari segala sarana yang dianggap menyebabkan kesembuhan atau kenyamanan. Karena itu Allah berfiman: “Dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang akan menyembuhkan?” artinya siapa yang akan meruqyahnya dari kata ruqyah. Pasalnya, mereka telah kehilangan segala terapi umum yang mereka pikirkan, sehingga mereka bergantung sekali pada terapi ilahi. Namun qadha dan qadar jika datang dan tiba, maka tidak dapat ditolak. Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan dengan dunia. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), maksudnya kesengsaraan jadi satu dan berkumpul. Urusan menjadi berbahaya, penderitaan semakin sulit, nyawa diharapkan keluar dari badan yang telah ia huni dan masih bersamanya. Maka dihalau menuju Allah Ta’ala untuk dibalasi amalannya, dan mengakui perbuatannya. Peringatan yang Allah sebutkan ini akan dapat mendorong hati-hati untuk bergegas menuju keselamatannya, dan menahannya dari perkara yang menjadi kebinasaannya. Tetapi, orang yang menantang, orang yang tidak mendapat manfaat dari ayat-ayat, senantiasa berbuat sesat dan kekufuran dan penentangan”.[4]

Sedangkan beberapa hadits Nabi yang menguatkan fenomena sakaratul maut:

Imam Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhuma, ia bercerita (menjelang ajal menjemput Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ بَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ أَوْ عُلْبَةٌ فِيهَا مَاءٌ فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَيَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ فِي أخرجه البخاري ك الرقاق باب سكرات الموت و في المغازي باب مرض النبي ووفاته. الرَّفِيقِ الْأَعْلَى حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ

“Bahwa di hadapan Rasulullah ada satu bejana kecil dari kulit yang berisi air. Beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan membasuh muka dengannya seraya berkata: “Laa Ilaaha Illa Allah. Sesungguhnya kematian memiliki sakaratul maut”. Dan beliau menegakkan tangannya dan berkata: “Menuju Rafiqil A’la”. Sampai akhirnya nyawa beliau tercabut dan tangannya melemas”[5]

Dari Anas Radhiyallahu anhu, berkata:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَعَلَ يَتَغَشَّاهُ فَقَالَتْ فَاطِمَةُ عَلَيْهَا السَّلَام وَا أخرجه البخاري في المغازي باب مرض النبي ووفاته.اليَوْمِ َرْبَ أَبَاهُ فَقَالَ لَهَا لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ

“Tatkala kondisi Nabi makin memburuk, Fathimah berkata: “Alangkah Beratnya Penderitaan Ayahku” Beliau menjawab: “Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini…[al hadits]” [6]

Dalam riwayat Tirmidzi dengan, ‘Aisyah menceritakan:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا أَغْبِطُ أَحَدًا بِهَوْنِ مَوْتٍ بَعْدَ الَّذِي رَأَيْتُ مِنْ شِدَّةِ مَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أخرجه الترمذي ك الجنائز باب ما جاء في التشديد عند الموت وصححه الألباني

Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”.[7]

Dan penderitaan yang terjadi selama pencabutan nyawa akan dialami setiap makhluk. Dalil penguatnya, keumuman firman Allah: “Setiap jiwa akan merasakan mati”. (Ali ‘Imran: 185). Dan sabda Nabi: “Sesungguhnya kematian ada kepedihannya”. Namun tingkat kepedihan setiap orang berbeda-beda. [8]

(lanjut ke halaman 2)