Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi


Alhamdulillah Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in 

Tafsir Surat al Baqarah Ayat 67 sd 74 (Bani Israil Banyak Bertanya Ketika Diperintah Menyembelih Sapi.Betina dan Hati Mereka Keras Seperti Batu) Ustadz Muhammad bin ‘Umar asSewed 

Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja · Sejarah dan Akidah Yahudi 


Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi

Tak seperti judul artikel ini, “Pelajaran dari Kisah Sapi Yahudi”, kisah yang akan kita simak pada kesempatan kali ini bukanlah kisah hewan-hewan yang saling bercakap-cakap layaknya kisah kancil pencuri ketimun atau kisah khayalan lainnya. Kisah kita kali ini adalah sebuah kisah yang spektakuler, kisah abadi yang tak lekang direnggut masa. Kisah ini dinukilkan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim.

Al-Kisah, dahulu kala, di kalangan kaum Bani Israel, hiduplah seorang lelaki kaya raya yang tak punya anak, tak punya kerabat pewaris hartanya kecuali keponakannya yang fakir lagi miskin harta.

Sang keponakan pun sangat berharap untuk mewarisai harta pamannya itu. Namun ternyata, Allah mentakdirkan sang paman berumur panjang hingga datanglah setan membisikkan kepada si keponakan untuk membunuh pamannya dan selanjutnya menjadi pewaris tunggal kekayaannya.

Ia pun memutar akal piciknya agar bisa melancarkan aksinya tanpa dicurigai orang lain. Ia bunuh pamannya pada suatu malam, lalu ia bawa jasad pamannya itu ke depan pintu kota tetangga dan meletakkannya di sana.

Pagi harinya, penduduk kota terkaget bukan kepalang. Mereka dituduh membunuh sang paman oleh keponakannya. Terjadilah perdebatan antara mereka. Lantas, mereka mendatangi Nabi Musa ‘Alaihis Salam beramai-ramai untuk mengadukan perkara ini.

Turunlah wahyu kepada Nabi Musa memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi. Allah berfirman :

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyembelih seekor sapi. Mereka berkata: Apakah kau jadikan kami sebagai ejekan? Musa berkata : Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang jahil” (Q.S. Al-Baqarah 2: 67)

Mereka tuduh nabi Musa ‘Alaihis Salam mempermainkan mereka. Mereka pun berkata:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ

“… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa (ciri-ciri) sapi itu? …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 68)

Nabi Musa pun berdoa, dan turunlah wahyu:

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا فَارِضٌ وَلا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

… Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi tersebut tidaklah muda, tidak pula tua, pertengangan antara keduanya. Lakukanlah apa yang diperintahkan kepada kalian” (Q.S. Al-Baqarah 2: 68)

Mereka masih belum puas dengan jawaban Nabi Musa ‘Alaihis Salam, mereka bertanya lagi:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنهُا

… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa warnanya? …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 69)

Nabi Musa pun berdoa kembali, dan turunlah wayu:

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

… Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi itu kuning tua warnanya,menyenangkan orang yang melihatnya” (Q.S. Al-Baqarah 2: 69)

Mereka masih belum puas juga. Mereka pun berkata:

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“… berdoalah kepada Tuhanmu agar mejelaskan kepada kami apa (ciri-ciri) sapi tersebut. Karena sesungguhnya (ciri-ciri) sapi ini masih belum jelas bagi kami, dan insya Allah kami pasti mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah 2: 70)

Maka turunlah wahyu kepada Nabi Musa ‘Alaihis Salam :

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لا ذَلُولٌ تُثِيرُ الأَرْضَ وَلا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لا شِيَةَ فِيهَا ۚ

“…Ia (Tuhanku) berkata bahwa sapi tersebut bukan sapi yang dipakai untuk membajak tanah, bukan pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya…” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

Mereka berkata:

الآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّۚ

“…Sekarang, (barulah) engkau datang membawa kebenaran …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

Mereka mempersulit diri mereka sendiri, maka Allah pun mempersulit mereka. Apabila ketika Nabi Musa memerintahkan untuk menyembelih sapi, mereka segera melaksanakannya, maka itu cukup bagi mereka.

Akhirnya, mereka pun kepayahan mendapatkan sapi dengan ciri-ciri tersebut. Mereka cari dan cari, namun sapi yang dimaksud tak mereka temukan. Hingga suatu saat mereka menjumpai orang yang memiliki sapi persis sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Musa. Akan tetapi, sang pemilik sapi tak mau menjualnya. Mereka mencoba menawar dengan harga yang tinggi, namun pemilik sapi tetap tak mau. Maka, datanglah Nabi Musa dan pemilik sapi pun merelakan sapinya dengan harga yang fantastis, yaitu dengan emas seberat  sepuluh kali lipat berat sapinya. Mereka terpaksa membelinya meski dengan harga yang sangat mahal. Allah berfirman :

فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

“… maka mereka menyembelih sapi tersebut setelah mereka hampir tak melakukannya …” (Q.S. Al-Baqarah 2: 71)

(Lanjut ke hal.. 2)