Mengunggah…
Nasehat Bersabar Dibawah Penguasa Yang Dzolim. Hukum Mendo’akan Keburukan Baginya. Definisi Penguasa. Apakah Benar Hadits-Hadits Shahih Tentang Ketaatan Pada Pemimpin, Bukan Pada Tempatnya

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-3) (Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-2) (Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-1) (Mizan Qudsiyah, Lc)

Kepemimpinan Dalam Islam (Mizan Qudsiyah, Lc)
Cara Bermuamalah Kepada Pemimpin (Abdurrahman Thoyyib, Lc)
Sikap Ahlussunnah Terhadap Pemimpin (Abdurrahman Thoyyib, Lc)

Kepemimpinan Dalam Islam (DR. Khalid Basalamah, MA)

Ibadah dan Mu’amalah Bersama Pemerintah yang Adil Maupun Zhalim – Ustadz Usamah Mahri /
Bersabar Terhadap Kezhaliman Penguasa – Ustadz Luqman Ba’abduh
Perintah Untuk Bersabar Atas Kezhaliman Penguasa dan Larangan Mencerca Penguasa – Ustadz Muhammad ‘Umar as Sewed //
Ketaatan Kepada Penguasa Ustadz -Al Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan
Tetaplah Bersama Pemerintah, Sesi 1- Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Tetaplah Bersama Pemerintah, Sesi 2- Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Prinsip Islam Yang Terlupakan Dikala Penguasa Dzolim, Sesi 1- Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy
Prinsip Islam Yang Terlupakan Dikala Penguasa Dzolim, Sesi 2- Ustadz Muhammad Afifuddin as Sidawy
Do’a Untuk Pemerintahku, Sesi 1- Ustadz Muhammad ‘Umar as Sewed
Do’a Untuk Pemerintahku, Sesi 2- Ustadz Muhammad ‘Umar as Sewed
Meneladani Ulama Ahlussunnah Dalam Ketaatan Terhadap Penguasa – Ustadz Muhammad Rijal,
Sesi 1

Sesi 2

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-1) (Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-2) (Mizan Qudsiyah, Lc)

Kenapa Harus Ikut Pemimpin (Bag-3) (Mizan Qudsiyah, Lc)

_____

Mendoakan Keburukan Bagi Penguasa Dzalim

Hukum Mendoakan Keburukan Bagi Penguasa yang Dzalim

Pertanyaan 

بِسْـمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْم

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

Ustadz, bagaimana hukum asal sesuai dalil jika mendoakan keburukan kepada penguasa/pemimpin yang dzalim? Ada Ustadz fulan dan beberapa ikhwan (haroki) mengatakan hukumnya sangat boleh dimana mereka berhujjah dengan hadits di bawah ini karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mencontohkannya, mohon penjelasan dari hadits nya.

Bunyi hadist:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ هَذِهِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ. وَمَنْ شَقَّ عَلَيْهَا فَاشْفُقْ عَلَيْهِ. رواه مسلم.

Ya Allah, siapa saja yang memimpin/mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia”. (HR. Imam Muslim)

 وَمَنْ وَلِيَ مِنْهُمْ شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَعَلَيْهِ بَهْلَةُ اللَّهِ فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا بَهْلَةُ اللَّهِ قَالَ : لَعْنَةُ اللَّهِ

Dan barangsiapa memimpin mereka dalam suatu urusan lalu menyulitkan mereka maka semoga bahlatullah atasnya.” Maka para sahabat  bertanya, “Ya RasulAllah, apa bahlatullah itu?” Beliau menjawab: “La’nat Allah.” (HR Abu ‘Awanah dalam shahihnya. Terdapat di Subulus Salam syarah hadits nomor 1401).

(ABN0703_Abu Dyhwa’82_Gresik)

Jawaban

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam haditsnya tersebut berkata bukan memposisikan diri beliau sebagai rakyat. Karena beliau memang penguasa tertinggi. Dan memberi peringatan agar para penguasa merasa takut sebelum mereka berbuat dzalim.

Adapun arahan beliau kepada kaum muslimin dengan posisi mereka sebagai rakyat dan sikap rakyat terhadap penguasa beliau jelaskan dalam hadits beliau yang lain;

«الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم»

Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR Muslim : 55).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir Al Barak saat menjelaskan makna hadits ini beliau berkata;

الدُّعاء لهم بالصلاح، هذا مُوجب النصيحة، قال النبيُّ صلى الله عليه وسلم: « الدِّين النصيحة، قلنا: لمن؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمة المسلمين وعامَّتهم».

والنصيحة أن تدعو لهم بالصلاح، اللهم أصلحهم، اللهم أصلح بطانتهم، اللهم اهدهم صراطك المستقيم، ادعُ لهم لعلَّ الله يُصلح حالهم، لكن جرت عادة الناس أنهم لا يلتزمون بهذا المنهج.. فأهل العلم والإيمان والصلاح والتجرُّد عن الهوى وإيثار الدنيا، يُحبُّون الخير لإخوانهم المسلمين، ولا سيما ولاة الأمر،

Mendoakan penguasa dengan kebaikan adalah merupakan konsekwensi nasihat kepada mereka. Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan; Agama adalah nasihat. Kami bertanya; Kepada siapa wahai Nabi ?

Beliau berkata; Kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, Penguasa kaum muslimin dan kaum muslimin seluruhnya.

Nasehat itu engkau mendoakan mereka dengan kebaikan, ya Allah perbaikilah penguasa, perbaikilah tangan kanan mereka, tunjukilah mereka jalan yang lurus. Doakan mereka barangkali Allah akan memperbaiki mereka.

Akan tetapi manusia kebanyakannya tidak menempuh cara ini, para ahli ilmu, pemilik keimanan dan kebaikan yang bersih dari hawa nafsu dan ambisi dunia mereka menginginkan kebaikan bagi saudara mereka kaum muslimin terutama penguasanya.” (Syarah Aqidah Thahawiyah : 270).

Demikian pulalah yang difahami oleh para ulama salaf dan orang-orang yang meniti manhaj salaf bahwa rakyat tidak boleh mendoakan penguasa kecuali dengan kebaikan. Imam Al-Barbahari berkata :

إذا رأيتَ الرَّجلَ يدعوا على السلطان، فاعلم أنه صاحب هوى، وإذا رأيتَ الرجلَ يدعو للسلطان بالصلاح، فاعلم أنه صاحبُ سُنَّةٍ إن شاء اللهُ تعالى.

يقول فضيل بن عياض: « لو كانت لي دعوة ما جعلتها إلاَّ في السلطان»… قيل له: يا أبا عليٍّ: فسِّر لنا هذا؟.

قال: إذا ج

علتها في نفسي لم تَعْدُني، وإذا جعلتها في السلطان صَلُح، فصَلُحَ بصلاحه العباد والبلاد».

فأُمرنا أن ندعو لهم بالصلاح، ولم نُؤمر أن ندعو عليهم وإن ظلموا وإن جاروا، لأن ظلمهم وجورهم على أنفسهم، وصلاحهم لأنفسهم وللمسلمين

Apabila engkau melihat seorang lelaki mendoakan keburukan bagi penguasa maka ketahuilah ia adalah seorang pengikut hawa nafsu. Dan apabila engkau melihat seorang lelaki mendoakan kebaikan bagi penguasa maka ketahuilah ia adalah seorang pengikut sunnah insya’Allah.

Fudhail bin Iyadh berkata: Seandainya aku memiliki doa yang mustajab niscaya akan aku peruntukkan kecuali bagi penguasa saja.

Dikatakan : Wahai Abu Ali jelaskan makna perkataan engkau ini. Beliau (Fudhail bin Iyadh) menjawab : Jika doa itu untuk aku sendiri kurang bermanfaat, namun jika aku peruntukkan bagi penguasa, maka ia akan menjadi baik, dan akan baik pula rakyat dan negara dengan kebaikan penguasa.

Maka kita diperintahkan untuk mendoakan penguasa dengan kebaikan dan kita tidak diperintahkan untuk mendoakan keburukan bagi mereka meskipun mereka dzalim dan jahat. Karena kezaliman dan kejahatan mereka untuk diri mereka sendiri namun kebaikan mereka untuk diri mereka dan untuk kaum muslimin.”

(Syarhus Sunnah : 116-117 tahqiq Ar-Radadi).

Dan masih banyak pernyataan kaum salaf serta para ulama yang meniti jejak mereka menjelaskan tentang prinsip ini.

Wallohu A’lam

Wabillahit taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh:

Ustadz Abul Aswad Al bayati حفظه الله

2. Apakah Benar Hadits-Hadits Shahih Tentang Ketaatan Pada Pemimpin, Bukan Pada Tempatnya

Pertanyaan

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Pak Ustadz, ana baru lihat video dari M***li A*i yang mengatakan bahwa hadist2 shohih yg dibawakan oleh para pendakwah salafi mengenai taatnya kita pada pemerintah sekarang itu bukan pada tempatnya. Karena amirul mukmin yang dimaksud dalam hadist tersebut yang berpegang hukum pada Al Quran dan As Sunnah tidak seperti di Indonesia sekarang ini.

Apakah betul seperti itu?

Syukron

(Dari Hani, Admin BiAS T-02)

Jawaban

وعليكم السلام و رحمة الله وبر كاته

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillāh

washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in.

Tidak benar sama sekali anggapan tersebut di atas, hendaknya kita membangun loyalitas terhadap kebenaran dengan bersandar kepada dalil bukan ucapan fulan atau alan.

Doktrin-doktrin seperti ini adalah ajaran yang membahayakan keamanan umat dan negri yang sekarang sedang dirasakan oleh kaum muslimin. Ada upaya untuk  mengusiknya dengan cara menyemai kebencian di hati-hati kaum muslimin agar membenci penguasanya, agar mereka melakukan pemberontakan yang akan menimbulkan bahaya besar, fitnah berupa kekacauan serta pertumpahan darah di sana sini.

Anggapan tersebut tidak benar minimalnya dari dua sisi :

1. Anggapan si ustadz bahwa Indonesia tidak menerapkan Al-Qur’an dan As-Sunnah itu apa maksudnya ?

Apakah pemerintah Indonesia tidak melakukan haji, umrah, shalat jumat, shalat id, zakat, puasa ramadhan, shalat sunnah dan lain-lain berupa syariat. Bukankah perintah Al-Qur’an dan As-Sunnah ?

Jika ia beranggapan yang dimaksud Al-Qur’an dan As-Sunnah itu hanya masalah pidana saja, hendaknya ia mendatangkan dalil atas ucapannya tersebut.

2. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rambu-rambu kepada kita kapan seseorang diperbolehkan mencabut ketaatan kepada penguasa. Yaitu ketika penguasa sudah melakukan kekufuran nyata yang tidak menimbulkan asumsi lain selain kekufuran. Mudahnya jika pemerintah sudah murtad alias kafir alias keluar dari Islam barulah kaum muslimin diperbolehkan untuk tidak mentaati penguasa.

عن جنادة بن أبي أمية قال دخلنا على عبادة بن الصامت وهو مريض قلنا أصلحك الله حدث بحديث ينفعك الله به سمعته من النبي صلى الله عليه وسلم قال دعانا النبي صلى الله عليه وسلم فبايعناه فقال فيما أخذ علينا أن بايعنا على السمع والطاعة في منشطنا ومكرهنا وعسرنا ويسرنا وأثرة علينا وأن لا ننازع الأمر أهله إلا أن ترو كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان

“Dari Junadah bin Abi Umayyah radhiyallahu ’anhu ia berkata : Kami masuk ke rumah Ubadah bin Ash-Shamit ketika ia dalam keadaan sakit dan kami berkata kepadanya : ’Sampaikan hadits kepada kami hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepada kami”.

Maka Ubadah bin Ash-Shamit berkata :

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memanggil kami kemudian membaiat kami. Dan diantara baiatnya adalah agar kami bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara sewenang-wenang. Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari ahlinya.

Beliau shallallahu alaihi wasallam berkata : ”Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah” (HR. Bukhari : 6647).

Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz berfatwa :

Tidak boleh memberontak kepada penguasa dan memecah tongkat ketaatan *kecuali jika didapati pada penguasa itu kekafiran yang nyata yang ada buktinya* dari Allah subhanahu wa ta’ala di sisi para pemberontak dan mereka mampu untuk itu (melakukan pemberontakan) dengan cara yang tidak menimbulkan kemungkaran dan kerusakan yang lebih besar.”

(Fiqih Siyasah Syar’iyyah :185)

Wallohu A’lam

Wabillahit Taufiq

Dijawab dengan ringkas oleh :

Ustadz  Abul Aswad Al-Bayati حفظه الله

(Lanjut ke hal…2)

Iklan