Larangan Cadar UIN SUKA dan Anggapan Menyimpang(Bisa Tersesat, Budaya Arab, Bukan Ajaran Islam,Membahayakan Diri,Radikal, Teroris)

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Ustadz Ahmad Zainuddin · Buruknya Mengolok-olok Agama 

Ustadz Mizan Qudsiyah Lc-Pembatal Keislaman Mengolok Ajaran Rasulullah

Ustadz Ahmad Zainuddin · Benarkah Cadar, Pakaian Arab 

Beda Muslimah Bercadar dan yang Tidak Bercadar – Ustadz Maududi Abdullah

Abdullah Taslim · Menjadi Muslimah yang Cerdas

Untukmu Muslimah Kupersembahkan Nasehatku – Ustadz Muhammad Isnadi

http://bit.ly/1Orsr0S 

Muslimah Jangan Terfitnah Media Sosial – Ustadz Abdurrahman Mubarak

Wajibnya Mengagungkan Sunnah dan Bahaya Mengolok-olok Sunnah (Ustadz Abu Qatadah) 

Celakalah Para Pencela Sunnah – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Kisah Celakanya Para Pencela Sunnah- Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc.

Jangan Suka Mengolok- olok Sunnah Nabi – Ustadz Yazid Abdul Qodir Jawas

Kajian Muslimah: Cara Musuh Islam Merusak Wanita Islam – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc.

,***,
1. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/21/01-isbal-dosa-besar-ancaman-neraka/

2. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/21/02-isbal-pada-pakaian/

3. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/14/06-awas-istihza/

4. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/14/menjadikan-agama-sebagai-bahan-gurauan/

5. https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/01/14/05-berjenggot-goblok-mengurangi-kecerdasan/

6. http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html

***

Cadar, Jenggot, dan Celana Cingkrang adalah ajaran islam, Bukan Ciri-ciri teroris

Wanita memakai cadar, pria memelihara jenggot dan pria memakai baju cingkrang bukanlah ciri teroris. Semua itu merupakan sunnah/ajaran Rasulullah (baik hukumnya wajib maupun sunnah). Sejak zaman Nabi,umat islam sudah banyak yg berpenampilan seperti itu. Merupakan dosa besar jika mengejek dan menyakiti hati.sesama muslim tanpa hak, menyebut dengan gelar2 buruk, apalagi memfitnah orang2 yg tidak bersalah.

Meskipun seandainya berbeda ijtihad, namun tidak sepantasnya menggelari dgn sebutan2 buruk seperti: teroris, ninja, celana kebanjiran, seperti kambing, dll. Kalaupun di dunia ini ada segelintir teroris yg berpenampilan seperti itu, namun bukan berarti itu merupakan ciri teroris. Karena semua itu ajaran nabi, selain itu banyak yg berpenampilan seperti itu namun anti dgn terorisme. Maka sungguh tak adil jika mereka semua ikut disamakan dgn teroris.

Terorisme jelas perbuatan sesat dan bukan ajaran islam..Banyak kaum yg bercadar, berjenggot, maupun cingkrang yg anti dgn terorisme, bahkan menjadi korban terorisme. Pemerintah indonesia pun sudah tahu bahwa hal2 tersebut bukan ciri khusus teroris. Maka pemerintah mengizinkan rakyat berpenampilan seperti itu dan memberi kebebasan mengadakan kajian2, termasuk berkali-kali tabligh akbar yg dihadiri puluhan ribu orang di masjid istiqlal jakarta.

Ciri-ciri teroris dikenali dari pemikirannya dan aktivitasnya, bukan pakaiannya. Jika ada segelintir orang (atau bahkan ribuan) yg biasa memakai jas melakukan korupsi, apakah berarti jasnadalah ciri2 koruptor dan semua yg memakai jas adalah koruptor? tentu tidak kan,

Jika ada segelintir orang (atau bahkan ribuan) yg biasa memakai dasi melakukan korupsi, apakah berarti dasi adalah ciri2 koruptor dan semua yg memakai dasi adalah koruptor? tentu tidak kan,

Jika para teroris juga sholat, puasa ramadhan, rajin mengaji, apa berarti sholat, puasa dan mengaji menjadi ciri2 teroris? tentu tidak kan.

Dan janganlah kalian saling panggil-memanggil dengannjulukan-julukan yang buruk”. [Al-Hujurat : 11] janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari- cari aib mereka. (HR Tirmidzi)

Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukminnlaki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al Akzab:58)

Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al Hujurat:12)

Mengenai dalil2 cadar, jenggot, dan celana cingkrang silahkan baca link diatas

Oleh: Ittiba Rasulullah

________

Dr. Slamet Muliono – ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ –

Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, melakukan langkah-langkah kongkret untuk melarang mahasiswinya yang cadar di kampus. Bahkan pimpinan perguruan tinggi agama Islam ini akan melakukan konseling terhadap mereka yang mengenakan cadar. Bila tetapi kukuh tidak melepas cadarnya, mereka disuruh memilih keluar dari kampus.

Cadar dianggap tidak ramah, dan lebih dekat Islam radikal, sehingga harus dikeluarkan dari arena kampus. Kebijakan ini bukan saja membatasi kenyamanan dalam melaksanakaan ajaran agama, tetapi mengganggu hak privat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi Islam. Bercadar merupakan bagian dari agama, sehingga mengeluarkan mahasiswi bercadar bisa dianggap sebagai bagian dari merusak dan menginjak-injak nilai-nilai agama. Yang lebih tragis dan ironis, yang melakukan pelarangan bercadar bukan hampus non-Islam tetapi justru kampus Islam.

Cadar dan Anggapan Menyimpang

UIN Yogya menganggap bahwa mahasiswa yang mengenakan cadar dianggap menyimpang, minimal bermasalah, sehingga diharuskan mengikuti konseling. Konseling yang diberlakukan terhadap mereka yang bercadar ditangani oleh lintas keilmuan guna mengarahkan mereka untuk menjalankan Islam yang ramah sesuai dengan budaya Indonesia.

Merujuk pada kebijakan ini, bilamana telah melakukan konseling, dan mahasiswi tersebut terindikasi berpaham radikal, pihak kampus akan memberi sangsi tegas, yakni diminta mengundurkan diri. Kebijakan ini merupakan pada kebijakan rektor UIN Yogyakarta, Yudian Wahyudi bahwa tim konseling terdiri dari lima dosen dari berbagai bidang studi dan memberikan arahkan kepada mahasiswa bercadar. Kalau sampai 7 kali masih pada pendiriannya, maka mahasiswi diminta untuk mengundurkan diri. Kebijakan ini dilakukan seiring dengan maraknya berkembangnya ideologi radikal yang tidak sesuai dengan esensi Islam dan budaya keislaman di Indonesia. Selain meluruskan paham atau ideologi radikal, kebijakan melarang cadar ini untuk mempermudah administrasi kampus, termasuk administrasi saat kampus menyelenggarakan ujian.

Alasan yang ditunjukkan adalah siapa yang menjamin bahwa dia orangnya. Kan bisa saja orang lain yang ikut ujian itu. Terlebih lagi, saat pertama kali masuk kampus dulu, seluruh mahasiswa menyatakan sanggup mematuhi aturan yang ada di kampus. (detik.news,5/3/2017).

Tidak bisa dipungkiri bahwa fenomena larangan bercadar muncul seiring dengan tumbuhnya kesadaran beragama di berbagai kelas sosial di masyarakat. Kesadaran melaksanakan ajaran agama itu tumbuh demikian subur, baik di kalangan masyarakkat perkotaan maupun pedesaan. Pertumbuhan pondok pesantren dan munculnya media televisi serta massif kajian agama turut mendorong terdongkraknya kesadaran masyarakat untuk melaksanakan ajaran agama.

Namun di tengah kesadaran untuk melaksanakan ajaran agama, muncul gerakan terorisme dan radikalisme yang dianggap bagian dari kelompok Islam yang menyimpang. Terorisme dan radikalisme selaalu membuat kekacauan dan merusak tatanan kehidupan bernegara. Salah satu di antara ciri yang melekat pada seorang teroris adalah berjenggot dan bercelana cingkrang, seerta memiliki istri yang bercadar. Oleh karena itu, bercadar diidentikkan dengan terorisme, radikalisme dan paham yang menyimpang. Sehingga siapapun perempuan yang bercadar dianggap sebagai bagian atau berpaham radikal.

Konseling merupakan kebijakan yang berpijak bahwa mahasiswi yang mengenakan cadar dianggap menyimpang, sehingga harus diluruskan agar tidak terperosok ke dalam penyimpangan yang jauh. Kebijakan konseling ini tidak lagi menganggap perbedaan dalam pemahaman dalam menafsirkan sebuah teks, dalam hal ini tentang cadar, tetapi menganggapnya sebagai hal yang menyimpang

Perbedaan madzhab saja tidak sampai menganggap orang lain menyimpang, tetapi tetap menghormati perbedaan biasa. Namun kebijakan konseling ini seolah orang yang bercadar itu telah berbuat menyimpang.

Cadar dan Pakaian Ketat: Perlakuan yang Berbeda 

Kampus terlalu sensitif ketika melihat fenomena cadar, tetapi tidak peka terhadap fenomena mahasiswi yang mengenakan berbaju ketat atau transparan, sehingga membuat lawan jenis tumbuh syahwatnya dan tergoda untuk melakukan kemaksiatan, minimal maksiat memandang lawan jenis yang seronok. Fenomena berpakaian ketat dan seronok lepas dari sangsi, sementara mahasiswi bercadar justru memperoleh saksi.

Mengeluarkan mahasiswa tentu harus jelas kesalahannya, seperti melanggar etika akademik, seperti berbuat amoral, tindakan asusila atau pelanggaran akademik lainnya.

Negara sudah memberi kebebasan beragama dan menjamin penduduknya untuk melaksanakan ajarannagamanya asal tidak mengganggu kepentingan umum. Bahkan komnas HAM juga menjamin perempuan untuk mengenakan berjilbab atau tidak, sementara kampus Islam justru melakukan pelarangan dengan alasan yang dicari-cari. Pelarangan mengenakan cadar mengingatkan cara-cara Barat dalam membendung Islam yang sudah demikian kuat masuk dan berkembang di sana.

Apakah pelarangan jilbab di kampus Islam bisa dikatakan sebagai bagian dari phobi terhadap cadar sebagaimana yang muncul di Barat. Kalau mereka demikian peka terhadap perempuan yang bercadar karena bisa mengganggu komunikasi dan pergaulan antara elemen masyarakat. Tetapi mereka tidak peka terhadap fenomena kriminalisasi dan ancaman yang diterima oleh para ulama dan tokoh agama.

Sebagai kampus Islam yang selalu menjunjung tinggi kebhinnekaan dan menunjung tinggi perbedaan, saat naif apabila begitu sporadis melarang mahasiswi bercadar, tanpa melakukan tindakan lain yang menjamin kebebasan beragama mereka. Apabila di kampus Islam, kaum muslimah mengalami tekanan dalam melaksanakan ajaran agama (mengenakan cadar), maka mereka akan dicurigai lebih mendalam dan dituduh macam-macam ketika di kampus non-Islam. Maka tidak salah apabila spirit beragama terbunuh ketika di kampus Islam, sehingga masyarakat Islam semakin menjauh dan tidak mengkuliahkan anak-anak perempuan mereka, khususnya yang bercadar di kampus Islam. Bahkan mereka semakin kurang simpati terhadap UIN (Universitas Islam Negeri) karena dianggap sebagai kampus sekuler yang mendangkalkan akidah mereka dan menggadaikan agama mereka dengan alasan tidak sesuai dengan budaya lokal atau tradisi Indonesia. Kampus Islam dianggap kurang peka terhadap fenomena pakaian ketat tetapi sangat kritis terhadap mereka yang menjalankan ajaran Islam untuk kaum muslimah untuk mengenakan cadar.

Mudah-mudahan hidayah Allah turun kepada pengambil kebijakan sehingga menggagalkan kebijakan yang tidak kontributif terhadap Islam dan keterancaman bagi mereka yang mengenakan cadar.

Surabaya, 5 Maret 2018

*)Penulis adalah dosen di UIN Sunan Ampel dan STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya

(Lanjut ke hal…2)