Pentingnya Manhaj & Cara Beragama Yang Benar

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Cara Beragama Yang Benar? Ustadz Anas Burhanudin, Lc.MA)

Pentingnya Manhaj dalam Beragama (Anas Burhanuddin, MA)

Ustadz Syafiq Basalamah / Manhaj yang Benar dalam Beragama Adalah Manhaj Salafush Shalih

Kokoh Beragama Diatas Metode Para Nabi dan Rasul – Syaikh Zakariyah Bin Syu’aib

Bagaimana Kita Beragama yang Benar (Abdurrahman Thoyyib, Lc)

Cara Beragama yang Benar (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Begini Cara Kita Beragama- Ustadz Abu Haidar

Beragama Yang Benar-Ustadz Ahmad Zainuddin

Ustadz Ahmad Zainuddin- Tata Cara Beragama Yang Benar

Pondasi Tata Cara Beragama Islam (Ahmad Zainuddin, Lc)

Prinsip-Prinsip Beragama Imam Syafi’i (Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi)

Bahaya Beragama Tanpa Dalil.(Muhtarom

Menuju Cara Beragama yang Benar (Armen Halim Naro, Lc) 

Ustadz Mubarak Bamualim / Sebab Penyimpangan Ummat dalam Beragama  

Ustadz Zainal Abidin Syamsudin-Salah Kaprah dalam Beragama 

Qanaah dalam Beragama- Konsultasisyariah 

***

Para pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’ala. Islam adalah agama samawi, yang datang dari Allah Ta’ala melalui lisannya yang mulia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan agama yang berasal dari manusia, malaikat atau makhluk lainnya. Sehingga, ketika seseorang telah mengikrarkan keislamannya, maka setiap keyakinan, ucapan dan perbuatannya, haruslah sesuai dengan yang diajarkan dan disyariatkan oleh agama Islam.

Namun kenyataannya, ternyata banyak sekali kaum muslimin yang tidak benar dalam menjalankan agama Islam. Mereka meyakini apa yang tidak sesuai dengan Islam, mereka mengucapkan perkataan yang menyelisihi Islam dan mereka berbuat sesuatu yang dapat mengeluarkan dirinya dari keislaman.

Lantas, bagaimana cara beragama yang benar yang disyariatkan oleh Islam? Semoga pembahasan ringkas berikut dapat menerangkannya.

1. Islam adalah Agama Tauhid

Inti dari ajaran agama Islam adalah mengesakan Allah Ta’ala dalam perbuatan-Nya, peribadatan kepada-Nya dan dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya)

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56), yakni agar kita mengesakannya di dalam beribadah kepada-Nya.

Maknanya adalah ikhlas dalam beribadah, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya) “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 2)

Padahal mereka tidak disuruh keculi supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap. Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu mengeluarkan dengan sebab air hujan tersebut buah-buahan sebagai rezeki bagi kalian. Maka dari itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah dalam keadaan kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

Dalil-dalil di atas dan yang semakna dengannya, sangat jelas memerintahkan kepada kita sebagai hamba Nya agar mengesakan Allah Ta’ala dalam beribadah. Dan setiap bentuk peribadatan yang ditujukan kepada selain Allah Ta’ala, baik berupa pohon, batu, laut, kuburan, Jin, Habib, Dukun, Wali,  atau selainnya, maka ia telah masuk ke dalam kesyirikan dan pelakunya terancam dengan neraka.

Allah berfirman (artinya)

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan seseuatu dengan Allah, maka pasti Allah akan mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Walaupun tujuan mereka menyembah kuburan atau selainnya itu untuk beribadah kepada Allah, atau sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Maka semua itu telah dibantah oleh Allah sendiri dalam firman-Nya, dan disebutkan bahwa perbuatan tersebut sebagai sebuah kekufuran. Sebagaimana firman Allah (artinya)

Dan orang-orang yang mengambil wali (pelindung) selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat kufur.” (QS. Az Zumar: 3)

Karenanya, seseorang dikatakan telah berislam dengan benar jika ia telah menghilangkan sekutu bagi Allah dan ikhlas di dalam beribadah kepada-Nya.

2. Dalam Meyakini, Berucap dan Berbuat Haruslah Berdasarkan Ilmu

Sumber ilmu dan pedoman manusia di dunia adalah Al-Quran dan hadits Rasulullah. Seseorang yang telah beragama Islam dengan cara yang benar, adalah seseorang yang mencocoki setiap keyakinannya, ucapannya dan perbuatannya dengan Al-Quran dan hadits Nabi. Karena, setiap perbuatan ibadah yang tidak ada tuntunannya dalam Al-Quran dan hadits atau bahkan menyelisihi keduanya, maka ia telah masuk kepada hal-hal yang dilarang dalam syariat, dan perbuatannya dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia. Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintah kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)

Ketika seseorang masuk ke dalam agama Islam, maka konsekuensinya ia wajib menerima, mengambil dan mengikuti sumber ajarannya dari Al-Quran dan hadits Nabi yang shahih, bukan mengambil dari Istiadat,Budaya,nenek moyang, seseorang yang dimuliakan atau selainnya. Allah berfiman (artinya)

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amatlah sedikit kalian mengambil pelajaran (darinya).” (QS. Al-A’raaf: 3)

Allah juga berfirman (artinya)

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya.” (QS. Al-Hujuraat: 1)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘ alaihi wa sallam bersabda, “Saya meninggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat sesudahnya (yaitu) Al-Quran dan Sunnahku dan keduanya tidak akan bercerai sampai keduanya menemuiku di telaga.” (HR. HR. Al-Hakim dan al-Baihaqi, Hasan)

Karenanya, mengagungkan nenek moyang, adat istiadat atau kebiasaan yang sudah turun menurun dari tahun ke tahun, ketika ajaran tersebut menyelisi apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka wajib untuk ditinggalkan dan tidak boleh dikerjakan. Allah Ta’ala berfirman (artinya)

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-nisa: 59)

(Lanjut ke hal..2)