Ahlul Bid’ah Mendahulukan Akal & Hawa Nafsunya Dari Pada Dalil Serta Tercelanya Hawa Nafsu dan Kebid’ahan

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

2. https://aslibumiayu.net/5264-semua-bidah-itu-sesat-tidak-ada-bidah-hasanah-dan-bidah-sayyiah.html

3. https://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/92-semua-bidah-adalah-kesesatan.

4. https://aslibumiayu.net/12983-kontradiksi-bidah-hasanah-dengan-perkataan-rasulullah-bahwa-semua-bidah-itu-sesat.html

Tercelanya Hawa Nafsu dan Kebid’ahan Serta Ahlul Ahwa dan Bid’ah 1- Ustadz Muhammad ‘Umar as Sewed

Tercelanya Hawa Nafsu dan Kebid’ahan Serta Ahlul Ahwa dan Bid’ah 2

Tercelanya Hawa Nafsu dan Kebid’ahan Serta Ahlul Ahwa dan Bid’ah 3

Bid’ah dan Ahlul Bid’ah – Ustadz Saiful Bahri

1. Bid’ah, Ketentuan dan Bahayanya terhadap Ummat Pertemuan ke2 http://bit.ly/1Ynjfkc

2. Kecondongan Hati Ahlul Bid’ah tidak Dapat Ditutupi http://bit.ly/1NJziBj

Yazid Jawas · CERAMAH SINGKAT · 4 Hal yang Menyesatkan Manusia 

Yazid Jawas · Hal-Hal yang Akan Ditanyakan di Hari Kiamat

Abdurrahman Thayyib · Aqidah yang Terlupakan

Ajat Sudrajat / Jangan Tafsirkan Ayat-Ayat dengan Akal

Ajat Sudrajat / Jangan Tafsirkan Al-Qur’an dengan Hawa Nafsu

Ustadz Mahful Safaruddin · Metode Pengambilan Ilmu dan Dalil Bagi Ahli Bid’ah 1

Ustadz Mahful Safaruddin · Metode Pengambilan Ilmu dan Dalil Bagi Ahli Bid’ah 2

Ustadz Mahful Safaruddin · Metode Pengambilan Ilmu dan Dalil Bagi Ahli Bid’ah 3

Ustadz Mahful Safaruddin · Metode Pengambilan Ilmu dan Dalil Bagi Ahli Bid’ah 4

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Wajib Mengikuti Sunnah Matikan Bid’ah

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Bedah Buku Telah Datang Zamannya 1

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Bedah Buku Telah Datang Zamannya 2

BID’AH HASANAH – Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, LC

Ustadz Salman Abu Saroh Sikap Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Terhadap Pengikut Hawa Nafsu dan Ahlul Bid’ah

Ebook Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat”.

_____

APA YANG DIMAKSUD DENGAN BID’AH ???

Bid’ah secara bahasa artinya adalah sesuatu yangdiada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya.Dalam alQur’an ada penyebutan lafadz bid’ahsecara bahasa tersebut, di antaranya:

ﺑَﺪِﻳﻊُ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ

Allahlah yang mengadakan langit dan bumi (tanpa contoh sebelumnya)(Q.S alBaqoroh:117).

Makna bid’ah secara istilah adalah : Jalan yang ditempuh dalam Dien, yang diada-adakan menandingi syariat, yang niat melaksanakannya adalah sebagaimana niat seseorang menjalankan syariat (al-I’tishom karya al-Imam asy-Syathiby).

Beberapa karakteristik sesuatu hal dikatakan sebagai bid’ah :

1) Telah menjadi sebuah ‘jalan’.

Bukan sesuatu hal yang sekedar ‘pernah’ dilakukan, tapi berulang-ulang dan menjadi kebiasaan, sehingga menjadi ‘jalan’.

2) Dalam urusan Dien (bukan duniawi).

Dalam urusan duniawi dipersilakan berinovasi seluas-luasnya selama tidak ada larangan dari alQur’an maupun Sunnah Rasul shollallaahu ‘alaihi wasallam. .

ﺃَﻧْﺘُﻢْ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﺄَﻣْﺮِ ﺩُﻧْﻴَﺎﻛُﻢْ

Kalian lebih tahu tentang urusan duniawi kalian (H.R Muslim)

3) Diada-adakan, tidak ada dalilnya.

Tidak ada dalil shahih yang menjadi landasannya.Jika ada dalil, bisa berupa hadits lemah atau haditspalsu, atau ayat yang ditafsirkan tidak padatempatnya.

4) Menandingi syariat

Tidaklah seseorang melakukan sesuatu bid’ah kecuali Sunnah yang semisalnya akan mati.

Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﻣَﺎ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻗَﻮْﻡٌ ﺑِﺪْﻋَﺔً ﺇِﻟَّﺎ ﺭُﻓِﻊَ ﻣِﺜْﻠُﻬَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ

Tidaklah suatu kaum melakukan suatu bid’ah, kecuali akan terangkat Sunnah yang semisal dengannya (H.R Ahmad dari Ghudhaif bin al- Haarits, dan Ibnu Hajar menyatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (baik) dalam Fathul Baari (13/253))

Contoh: bacaan-bacaan setelah selesai sholat fardlubanyak disebutkan dalam hadits-hadits yang shahih.Namun, ada seseorang yang karena merasamendapatkan ijazah bacaan dari gurunya (meskitidak ada dalilnya dari hadits Nabi), selalumengulang-ulang bacaan yang diajarkan tersebutsetelah selesai sholat.

Misalkan, membaca Laa Ilaaha Illallaah 333 kali, disertai keyakinan keutamaan-keutamaannya (memperlancar rezeki, kewibawaan, dsb). Akibatnya, ia akan  tersibukkan dengan amalan dari gurunya tersebut dan meninggalkan Sunnah Nabi yang sebenarnya.

5) Niat melakukannya adalah sebagaimana orang berniat dalam melakukan syariat (untuk mendekatkan diri kepada Allah).

Penjelasan ini disarikan dari Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalusy Syaikh.

====================

Dinukil dari Buku “Sukses Dunia Akhirat dengan Istighfar dan Taubat” Ustadz Abu Utsman Kharisman Hafidzahullah.

____

Dibalik setiap ritual adat istiadat dan tradisi yang terus berlangsung di tengah masyarakat Indonesia yang mengaku-aku sebagai orang Islam pasti menyimpan keyakinan mendalam yang kalau tidak dilaksanakan ritual tersebut pasti akan mendatangkan kemudharatan atau kesialan yang mereka imani dan taati sebagai suatu kebenaran, padahal yang mereka lakukan atas nama adat istiadat dan tradisi itu tidak pernah datang dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Dan sesuatu yang tidak pernah datang dan tidak pernah ada keterangannya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan
 
kebatilan dan kesesatan Barang siapa yang percaya kepada sesuatu yang tidak ada secara ilmiah dan dalil shahih maka ia bisa syirik..
Ahlul Nar jika tidak bertaubat.. 

ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺷَﺮِﻳﻚٌ ﻋَﻦْ ﺃُﻣَﻲٍّ ﻋَﻦْ ﺍﻟﺸَّﻌْﺒِﻲِّ ﻗَﺎﻝَ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺳُﻤُّﻮﺍﺃَﺻْﺤَﺎﺏَ ﺍﻟْﺄَﻫْﻮَﺍﺀِ ﻟِﺄَﻧَّﻬُﻢْ ﻳَﻬْﻮُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad telah
 
menceritakan kepada kami Syarik dari `Umay dari As Sya’bi ia berkata: “Mereka disebut sebagai Ashhabul Ahwa`, karena mereka akan jatuh ke dalam api neraka”. [Diriwayatkan oleh Ad-Daarimiy dalam Sunan-nya no.404;Hasanul Isnad] Oleh: Atha Ibnu Yussuf 

___

AHLUL BID’AH MENDAHULUKAN AKAL DAN HAWA NAFSUNYA DARI PADA DALIL

Oleh : Abu Fadhel Majalengka

Ahlul bid’ah senantiasa mendahulukan hawa nafsu dan akalnya dari pada dalil. Kalau dalil itu sesuai dengan akal dan hawa nafsunya, mereka terima dan kalau tidak sesuai, dia tolak.

Mereka berdalih dengan sebuah hadits yang populer dikalangan mereka, yang mana para ulama mengatakan haditsnya mungkar lagi batil.

– ( ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻫﻮ ﺍﻟﻌﻘﻞ، ﻭﻣﻦ ﻻ ﺩﻳﻦ ﻟﻪ ﻻ ﻋﻘﻞ ﻟﻪ )

Agama itu adalah akal, siapa yang tidak memiliki agama, tidak ada akal baginya.”. (HR. An Nasai. Berkata Abi Malik Basyir bin Ghalib. dan Syekh Al Albani: Hadits Batil Munkar). Sumber : http://www.sahab.net/forums/index.php?app=forums&module=forums&controller=topic&id=143706

Hadits yang lain yang masyhur, yang mereka gunakan untuk dalih pembenaran akalnya untuk dijadikan rujukan kebenaran adalah hadits tentang Muadz bin Jabal radhiyallahu anhu. Padahal sebagian besar ulama melemahkan hadits ini. Dan sebagian kecil ulama seperti Imam Ibnu Qoyyim dan Imam Abdul Bar yang menshahihkan. Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika akan mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda:

ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻘْﻀِﻲ ﺇِﺫَﺍ ﻋَﺮَﺽَ ﻟَﻚَ ﻗَﻀَﺎﺀٌ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﻗْﻀِﻲ ﺑِﻜِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﺠِﺪْ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺒِﺴُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻗَﺎﻝَ ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﺠِﺪْ ﻓِﻲ ﺳُﻨَّﺔِ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻟَﺎ ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺟْﺘَﻬِﺪُ ﺭَﺃْﻳِﻲ ﻭَﻟَﺎ ﺁﻟُﻮ ﻓَﻀَﺮَﺏَﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﺪْﺭَﻩُ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻱﻭَﻓَّﻖَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻟِﻤَﺎ ﻳُﺮْﺿِﻲ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ. ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺣﻤﺪﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻣﻲ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ . ﻭﻗﺪ ﺿﻌﻔﻪ ﺟﻤﻊ ﻣﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ

، ُ”Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Saya akan kembali kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Beliau bersabda lagi: “Seandainya engkau tidak mendapatkan dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam serta dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Saya akan berijtihad menggunakan pendapat saya, dan saya tidak akan mengurangi.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dadanya dan berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah untuk melakukan apa yang membuat senang Rasulullah.” (HR. Ahmad, ad Darimi, Abu Daud dan Tirmidzi. Para ulama mendhaifkannya). Sumber : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=234141

Walaupun seandainya hadits ini shahih, betulkah mereka yang berani berijtihad dengan akalnya sudah mencari dalil dalam alquran dan hadits secara keseluruhan serta melihat amalan para sahabat radhiyallahu anhum?

(Lanjut ke hal..2)