Lemah Lembutlah Kepada Ahlussunah Wal Jamaah, Jangan Binasakan Orang Awam & Keraslah Pada Tokoh Bid’ah Sesat Jahat Jelek

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

2. https://almanhaj.or.id/3199-lemah-lembut-sesama-ahlus-sunnah.html

3. https://almanhaj.or.id/3195-berkasih-sayang-dan-lemah-lembut.html

4. https://abufawaz.wordpress.com/2014/12/29/cintailah-ahlus-sunnah-dan-berlemah-lembutlah-kepada-mereka/

5. https://almanhaj.or.id/899-karakteristik-pengikut-ahlus-sunnah-wal-jamaah.html


Syekh Robi.hafidzahullloh sakit, Syeikh Sholeh Fauzan.hafidzahullloh menjenguknya

Ustadz Ahmad Zainuddin-Islam Adalah Agama Lemah Lembut

Ustadz Ali Musri- Lembut nya Dakwah Ahlus Sunnah

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat Meniti Zuhud Islami, Menapaki Ke lembutan Hati

Antara Sikap Keras dan Lemah Lembut dalam.Berdakwah (Abu Yahya Badrussalam, Lc)

Dibalik Kelembutan Syiah di Indonesia (DR. Firanda Andirja, MA)

Bersabar di atas Sunnah Mizan Qudsiyah, Lc

Ustadz Anas Burhanuddin MA-: “Hakikat Kebahagian Sebenarnya

Ustadz Anas Burhanuddin MA- “Hikmah Di Balik Musibah”

Ustadz Mizan · Mewujudkan Persatuan Umat Islam

Ustadz Yazid Jawas · Nasihat Bagi Para Penuntut Ilmu

Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.- AL-AJWIBAH AL-MUFIDAH ‘AN AS-ILAH AL- MANAHIJ AL-JADIDAH( Tanya Jawab Seputar Manhaj (Edisi 17)

Ukuran file 12,2MB, durasi 53 menit 35 detik.

Link download: http://bit.ly/2FwGVT0

Kitab AL-AJWIBAH AL-MUFIDAH ‘AN AS-ILAH AL-.MANAHIJ AL-JADIDAH (Edisi 16)

Ukuran file 14,8MB, durasi 51 menit 45 detik.

Link download: http://bit.ly/2otPQur

Ustadz Abdurrahman Thoyyib, Lc.- KEWAJIBAN MENGIKUTI RASULULLAH DAN PARA.SAHABAT

Ukuran file 30,1 MB, durasi 2 Jam 11 menit 52 detik. Link download: http://bit.ly/2F7x9GL

_____

 

Tahukah anda ? Orang sadar kalau dirinya salah bin sesat namun tetap saja melakukan kesesatannya alasan utamanya adalah karena Allah telah menjauhkannya dari jalan hidayah sebagai hukuman atas komulasi dosa dan kelancangannya kepada Allah Taala. Ada juga yang karena hawa nafsunya telah ia sembah sehingga dituruti apapun maunya, sampaipun nyata nyata melanggar agama. Ada pula karena kebodohannya yang kelewat batas, sehingga ia salah menilai bagaikan orang yang berkata tikus tuh bisa saja menjadi titisan tuhan. Bisa saja karena dia telah didapuk sebagai kepanjangan tangan setan, rupa manusia namun jiwanya setan. Sobat, bersyukurlah bila anda saat ini masih bisa bersimpuh di hadapan Allah, menyadari bahwa hanya Islam satu satu jalan bahagia dunia akhirat anda.

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

Hidayah Di Tangan Allah, Dakwahi Dengan Lembut Karena Tabi’at Manusia Tidak Suka Watak Keras

Saudaraku Juru Dakwah! Bila dalil telah habis, maka srudukan tanduklah yang akan digunakan.

Banyak dari teman teman penceramah yang perlu digugah agar terbangun dari lamunan panjangnya. Betapa tidak, banyak dari kawan kawan pendakwah yang nampaknya dibuai mimpi panjang. Banyak dari teman teman pendakwah yang merasa memiliki dalil yang valid alias shahih dan pandai menggunakan dalil, dengan ringannya mendobrak dan mengkritisi praktek amaliah sekte atau aliran lainnya. Banyak dari teman teman pendakwah yang mengira bahwa runtuhnya dalil orang lain berarti, terbuka pintu hatinya dan langsung berbesar hati menerima dakwahnya dan sekejap menjadi kawan sejatinya.

Tidak semudah itu sobat, urusan keyakinan adalah urusan hidayah, jadi kalau saudara meyakini apa yang saudara sampaikan adalah benar maka sadarilah bahwa hati audiens anda ada di Tangan Allah Ta’ala. Hanya Allah Ta’ala yang kuasa membuka pitu hati mereka untuk menerima kebenaran yang saudara serukan. AllahnTa’ala berfirman:

ﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺎ ﺗَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟَﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻬْﺪِﻱ ﻣَﻦ ﻳَﺸَﺎﺀ ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﻋْﻠَﻢُﺑِﺎﻟْﻤُﻬْﺘَﺪِﻳﻦَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (Al Qashash 56)

Sobat, sadarilah bahwa sepanjang masa, setiap kali dalil dan argumentasi orang yang menyimpang dari kebenaran berhasil diruntuhkan, maka akan banyak dari mereka yang menempuh jalur anarkis, merasa kebakaran kumis, marah, dan mengamuk alias menggunakan kekuatan untuk melawan kebenaran, terlebih bila mereka adalah mayoritas atau memiliki kekuatan.

Ingat, setelah Nabi Ibrahim berhasil meruntuhkan dalil dan alasan ayahnya yang menyembah berhala, dan menegakkan bukti bukti keagungan Allah, simak tanggapan ayahnya:

ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺭَﺍﻏِﺐٌ ﺃَﻧﺖَ ﻋَﻦْ ﺁﻟِﻬَﺘِﻲ ﻳَﺎ ﺇِﺑْﺮﺍﻫِﻴﻢُ ﻟَﺌِﻦ ﻟَّﻢْ ﺗَﻨﺘَﻪِ ﻟَﺄَﺭْﺟُﻤَﻨَّﻚَﻭَﺍﻫْﺠُﺮْﻧِﻲ ﻣَﻠِﻴًّﺎ

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (Maryam 46)

Dan simak pula tanggapan orang orang musyrikin kepada para Rasul yang diutus kepada mereka:

ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺇِﻧَّﺎ ﺗَﻄَﻴَّﺮْﻧَﺎ ﺑِﻜُﻢْ ﻟَﺌِﻦ ﻟَّﻢْ ﺗَﻨﺘَﻬُﻮﺍ ﻟَﻨَﺮْﺟُﻤَﻨَّﻚُﻡْ ﻭَﻟَﻴَﻤَﺴَّﻨَّﻚﻡُ ﻣِّﻨَّﺎﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. (Yasin 18)

Karena itu, para ulama’ terdahulu tidak gegabah mendebat ahlul batil, apalagi perdebatan terbuka, salah satu alasannya ialah perdebatan terlebih yang dilakukan secara terbuka berpotensi mengobarkan amurka ahlul batil dan membuka pintu bagi mereka untuk bersikap anarkis. Dunia online atau medsos juga serupa dengan forum terbuka, bahkan dari satu sisi jauh lebih terbuka bila dibanding dengan debat offline di satu ruangan publik atau masjid jami’ misalnya. Karena perdebatan online akan terdokumentasikan, dan secepat kilat viral ke semua orang.

Waspadailah, perdebatan terbuka, baik melalaui media online atau offline, on air atau off air. Selektiflah bila anda merasa mampu beradu argumentasi dan jangan obral debat, perhitungkan untung ruginya, agar anda tidak membangkitkan singa tidur atau melukai banteng. Nampaknya penggunaan tanduk atau bahkan ada upaya keras untuk meminjam tanduk raja telah dekat saatnya. Semoga Allah menjauhkan ummat Islam dari keburukan dan makar musuh musuhnya, amiin ya rabbal ‘alamin.

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

Jangan Binasakan Orang Awam Yang Belum Mengenal Sunnah & Manhaj Salaf. Do’akan Mereka Mendapat Hidayah

2/3 Salafy, 1/2 Muslim, dan 2/3 Kafir.

Sobat! Diantara fenomena sosial yang sepatutnya anda sadari adalah adanya tingkatan masyarakat dalam realisasi nilai nilai sosial. Ada orang yang super dermawan, ada yang lumayan dermawan dan ada yang kadang dermawan dan ada yang kikir dan ada pula yang super kikir.

Dalam urusan beragama juga demikian, ada orang yang super bertaqwa, ada yang cukup bertaqwa, ada yang setengah bertaqwa, kadang tegak imannya kadang roboh oleh nafsu dan bisikan setan, bahkan ada orang yang sering tumbang diterpa nafsu dan sesekali ia mampu berdiri tegak.

Menurut hemat anda, orang orang yang 1/2 bertaqwa, apalagi yang 1/3 bertaqwa, sehinga sering tersungkur dalam dosa dan maksiat sepatutnya dibinasakan sekalian agar jelas keberpihakannya bersama setan dan tidak membingungkan, atau diupayakan agar mereka bisa selamat dan meningkatkan iman taqwanya, sehingga tidak lagi 1/2 bertaqwa tapi mulai merangkakmmenjadi 2/3 bertaqwa, dan kalau bisa benar benar bertaqwa ?

Kisah berikut semoga bisa menginspirasi anda dalam menyikapi saudara saudara kita, dan bisa jadi termasuk saya yang sampai saat ini keimanannya masih sangat memprihatinkan, masih tertatih tatih melawan nafsu dan bisikan setan.

Sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash mengisahkan: Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi sesuatu harta kepada beberapa orang. Pada waktu itu aku sedang duduk di majlis tersebut, namun uniknya beliau tidak memberikan hal yang sama kepada seseorang yang menurutku dia adalah orang yang baik diantara mereka semua, sehingga aku bertanya keheranan: Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak memberi orang tersebut, sungguh demi Allah, aku melihatnya sebagai orang yang benar benar beriman (mukmin).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “atau lebih pantas disebut sebagai seorang Muslim?”. Karena aku merasa benar benar mengenal orang tersebut, sampai aku tidak kuasa menahan perasaanku, sehingga aku mengulangi ucapanku tadi, namun ternyata Rasulullah juga kembali menjawab dengan jawaban yang sama.

Selanjutnya beliau bersabda :

( ﻳﺎ ﺳﻌﺪ ﺇﻧﻲ ﻷﻋﻄﻲ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻲ ﻣﻨﻪ ﺧﺸﻴﺔ ﺃﻥﻳﻜﺒﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ )

Wahai Sa’ad, sesungguhnya aku memberi seseorang, pada orang lain yang tidak aku beri lebih aku sukai, karena aku kawatir khawatir bila Allah akan menjungkirbalikkan orang yang aku beri di dalam neraka”. (Muttafaqun ‘alaih)

Subhanallah, ternyata dalam kisah ini Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memprioritaskan peberian beliau kepada orang orang yang lemah imannya, dibanding orang yang jelas jelas lebih sempurna imannya, karena beliau kawatir bila orang yang lemah imannya tidak diberi, tidak didukung, tidak ditarik simpatinya, bisa bisa imannya benar benar padam. Adapun orang yang imannya telah kokoh, manhajnya telah kokoh, maka walau tidak diberi dan tidak disantuni, maka kekokohan imannya, kekokohan.manhajnya sudah cukup untuk membentengi dirinya dari pintu pintu dosa dan kekufuran.

Semoga kisah di atas menginspirasi kita dalam memahami fenomena sosial keagaman di masyarakat, sehingga kita bisa lebih bijak dalam bersikap dan tidak grusa grusu, srudak sruduk, apalagi sudah nyadari minim ilmu, tapi maksa mau nyrudak sana nyruduk sini

Wallahu Ta’ala A’alam Bisshawab.

Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

Benar? kata siapa benar? Benar menurut Allah dan rasul-Nya ? atau benar menurut anda atau guru anda atau imam anda?

Kalau anda jawab benar menurut Allah dan rasul-Nya , maka itu tidak bisa dipastikan kecuali dengan dalil, terutama dalil yang telah disepakati kandungannya.

Adapun dalil yang makna dan kandungannya masih diperselisihkan diantara para ulama’, maka apa yang anda atau dianggap oleh guru anda atau imam anda benar, sejatinya belum tentu benar, bisa saja sebaliknya yaitu salah.

Terlebih bila dalilnya bisa dikaji dengan berbagai metode pendalilan yang berbeda beda.

Karena itu orang yang fanatik atau kata orang terbiasa memakai kaca mata kuda, maka ia hanya bisa melihat kepada dalil dari satu sudut pendalilan saja.

Berbeda dengan para ulama’ yang bisa memaklumi adanya perbedaan sudut pandang terhadap satu dalil yang sama, sehingga menghasilkan kesimpulan hukum yang berbeda.

Oleh karena itu, kuatkan otot otak dan hati anda, dan pertebal modal anda agar bisa berlatih menyelami pola pikir/ metode pendalilan para ulama’ yang beraneka ragam, sehingga suatu saat kelak anda mulai bisa mencium aroma segarnya ilmu fiqih dan selanjutnya bisa membututi jejak para ulama’ ahli ijtihad.

Dahulu Qatadaah berkata :

ﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﻌﺮﻑ ﺍﻻﺧﺘﻼﻑ ﻟﻢ ﻳﺸﻢ ﺃﻧﻔﻪ ﺍﻟﻔﻘﻪ

Orang yang tidak mengetahui perbedaan pendapat yang terjadi antara para ulama’ niscya hidungnya belum pernah mencium aroma ilmu fiqih (alih alih jadi ahlifiqih). (Riwayat Al Khathib Al Baghdady dan Ibnu AbdilnBar)

Apalagi orang yang sewot dengan adanya perbedaan pendapat ulama’, atau berusaha memberangus, memusuhi perbedaan yang sudah ada berabad abad lamanya, ya tentu saja lebih jauh dari aroma harumnya ilmu fiqih.

Wis, ndak usah baper, pahami yang baik saja, ndak usah ngalor ngidul, alias ngelantur lamunannya. Sobat! yang jelas para ulama, yang meriwayatkan menukilkan dan mendiskusikan pendapat para ulama’.yang berbeda beda tidak sedang berbuat sia sia, alias hobi membuat onar dunia persilatan, namun sebaliknya.itulah dunia persilatan ilmu, tanpa itu semua anda tidak akan bisa jadi petarung handal dalam ilmu fiqih.

Oleh: Oleh: Dr Muhammad Arifin Badri

(Lanjut ke halaman 2)