Peristiwa Isra’ Mi’raj: Rasulullah Di Langit Ketujuh, Sidratul Muntaha
Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in 

Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja, MA- Kisah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam

Ustadz Ahmad Zainuddin-Mutiara Hikmah Kisah Ibrahim ‘alaihissallam

Menanam Pohon di Surga dengan Zikir [Ust. Abdullah Zain]

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas-Peristiwa Langit Ketujuh, Sidratul Muntaha, Melihat Surga dan Neraka

Aqidah Ahlusunnah mengimani bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah di Isra’-kan oleh Allah dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu di Mi’raj-kan (naik) ke langit dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan sadar sampai ke langit ke tujuh, ke Sidratul Muntaha. Kemudian beliau shallallahu’alaihi wa sallam Memasuki Surga, melihat Neraka, melihat para Malaikat, mendengar pembicaraan Allah, bertemu dengan para Nabi, dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam mendapat perintah shalat lima waktu sehari semalam, dan beliau shallallahu’alaihi wa sallam kembali ke Makkah pada malam itu juga. (Syarah ‘Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, hal 272)

Sifat Sifat Shidrotul Muntaha [ Bidayah Wan Nihayah ] – Ustadz Abdussalam

Keadaan Penghuni Langit [ Bidayah Wan Nihayah ] – Ustadz Abdussalam

_____

Setelah rangkai perjalanan di langit-langit sebelumnya, Rasulullah pun tiba di langit ketujuh. Sebuah tempat yang tinggi, yang menunjukkan ketinggian Allah Subhana wa Ta’ala. Hal itu sesuai dengan kemuliaannya. Dan sesuai dengan nurani mendasar yang ada pada manusia. Ketika berdoa, hati mereka akan tertuju pada Dzat yang berada di atas.

Di langit ketujuh, banyak peristiwa yang luar biasa. Membandingkan apa yang Nabi Muhammad temui di langit ini, seakan pengalaman hebat sebelumnya hanyalah pengantar saja. Untuk mengetahui apa saja yang terjadi di langit ini, kita perlu mengkaji beberapa riwayat yang beragam berikut ini.

Berjumpa dengan Nabi Ibrahim

Peristiwa besar pertama yang terjadi di langit ini adalah perjumpaan Nabi Muhammad dengan leluhur beliau, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ صَعِدَ بِي إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: وَمَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا إِبْرَاهِيمُ، قَالَ: هَذَا أَبُوكَ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. قَالَ: فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ السَّلاَمَ، قَالَ: مَرْحَبًا بِالاِبْنِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ

Kemudian aku dinaikkan menuju langit ketujuh. Jibril meminta izin agar dibukakan. Penjaga langit itu bertanya, “Siapa itu?” “Jibril”, jawab sang pemimpin malaikat itu. “Siapa yang bersamamu?” kata malaikat penjaga. Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah ia diutus kepada-Nya?” tanyanya lagi. “Iya”, jawab Jibril.

-Perhatikanlah! Walaupun Jirbil adalah pemimpin mereka, mereka tetap teliti dan ketat dalam menjaga langit. Mereka sangat amanah dalam tugasnya. Dan sangat taat kepada yang menugasi mereka. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah lebih teliti dari mereka.-

Malaikat itu berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang pernah datang telah tiba.”

Saat aku telah melewati pintunya, aku berjumpa dengan Ibrahim. Jibril berkata, “Ini ayahmu, ucapkan salam padanya.” Kuucapkan salam padanya. Dan ia membalas salamku. Kemudian berkata, “Selamat datang anak yang shaleh dan nabi yang shaleh.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, 3674).

Dalam riwayat yang lain disebutkan,

فَإِذَا أَنَا بِإِبْرَاهِيمَ صلى الله عليه وسلم مُسْنِدًا ظَهْرَهُ إِلَى الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، وَإِذَا هُوَ يَدْخُلُهُ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ لاَ يَعُودُونَ إِلَيْهِ

Aku berjumpa dengan Ibrahim shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu beliau sedang menyandarkan punggungnya pada Baitul Ma;mur. Sebuah tempat yang seharinya dimasuki 70.000 malaikat. Mereka yang pernah masuk ke tempat tersebut, tidak akan mengulanginya lagi.” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman, 162).

Perjumpaan ini adalah perjumpaan yang dinanti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perjumpaan dengan leluhurnya, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Perjumpaan dengan kekasih Allah. Perjumpaan dengan teladan dalam agama hanif, tauhid yang toleran. Agama nenek moyang orang-orang Arab sebelum diselewengkan. Dialah ayahnya para nabi yang dirindukan perjumpaan dengannya. Perjumpaan yang begitu berkesan sehingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ وَأَنَا أَشْبَهُ وَلَدِهِ بِهِ

Aku berjumpa dengan Ibrahim. Dan aku adalah keturunannya yang paling mirip dengannya.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya, 3254 dan Muslim dalam Kitab al-Iman, 168).

Karamah dan kemuliaan ayah para nabi ini telah tampak pada saat kesan pertama. Ia bersandar di Baitul Ma’mur. Sebuah tempat termulia di langit. Persis seperti Ka’bah, tempt termulia di bumi. Nabi Ibrahimlah yang meninggikan dan memakmurkan Ka’bah di dunia. Allah balas dengan kemuliaan di tempat yang serupa di langit. Dialah yang berdoa agar hati manusia tertuju pada Baitullah, Ka’bah, di tanah haram. Allah izinkan punggungnya rebah disaksikan malaikat yang tahwaf memutari Baitul Ma’mur.

Nasihat Nabi Ibrahim

Setelah berbalas salam antara rasul paling mulia ini, Nabi Ibrahim juga menitipkan salah kepada umat Islam. Beliau memberikan nasihat yang amat berharga. Diriwayatkan oleh Imam at-Turmudzi dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ ku. Ia berpesan, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku untuk umatmu. Beritahu mereka bahwa surga itu debunya harum. Airnya segar. Dan surga itu datar. Tanamannya adalah kalimat: Subhaanallahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi dalam Kitab ad-Da’awat, 3462 dan selainnya).

Dalam riwayat Ibnu Hibbad dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مَرَّ عَلَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلِ الرَّحْمَنِ، فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ لِجِبْرِيلَ: مَنْ مَعَكَ يَا جِبْرِيلُ؟، قَالَ جِبْرِيلُ: هَذَا مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم. فَقَالَ إِبْرَاهِيمُ: يَا مُحَمَّدُ مُرْ أُمَّتَكَ أَنْ يُكْثِرُوا غِرَاسَ الجَنَّةِ، فَإِنَّ تُرْبَتَهَا طَيِّبَةٌ، وَأَرْضُهَا وَاسِعَةٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لإِبْرَاهِيمَ: “وَمَا غِرَاسُ الجَنَّةِ؟” قَالَ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ

Di malam isra’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berjumpa dengan Ibrahim kekasih Allah. Ibrahim bertanya pada Jibril, “Siapa yang bersamamu, Jibril?” Jibril menjawab, “Ini Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibrahim berkata, “Hai Muhammad, perintahkan umatmu memperbanyak tanaman surga. Sungguh debunya itu harum dan tanahnya luas.” (lanjut ke hal 2)