Renungan: Andai Perayaan Isra Mi’raj Itu Baikdan Beberapa Kemungkaran Di Dalamnya

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

1. Perayaan Isra ‘ Mi ‘ raj

https://muslim.or.id/6470-perayaan-isra-miraj.html

2. Peringatan Isra ‘ Mi ‘ ra

https://konsultasisyariah.com/5373-peringatan-isra-mi’raj.html

3. Hukum Merayakan Malam Isra ‘ Mi ‘ raj

https://almanhaj.or.id/1988-hukum-merayakan-malam-isra-miraj.html

Ustadz Ahmad Zainuddin / Kata Ulama Tentang Bulan Rajab

Ustadz Ahmad Zainuddin / Ada Apa Dengan Bulan Rajab Yang suci

Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir – Ustadz Abu Yahya Mu’adz

Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat · Hadits – Hadits Palsu

Ustadz Ali Nur-Bentuk Tasyabbuh Terhadap Orang Kafir Seri 1

Ustadz Ali Nur-Bentuk Tasyabbuh Terhadap Orang Kafir Seri 2

Ustadz Ali Nur-Bentuk Tasyabbuh Terhadap Orang Kafir Seri 3

LauKaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi – Bagian ke-2 (Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat)

LauKaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi – Bagian ke-1 (Ustadz Abdul Hakim Amir Abdat)


sebuahperkataan yang sangat indah damaknanya sangat besar yang seringkali dibawakan juga oleh para ulama baik secara lisan maupun tulisan, y
aitu:

 ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﺴَﺒَﻘُﻮْﻧَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

LauKaana Khairan Lasabaquuna Ilaihi

Kalau sekirannya perbuatan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya.”

Di antara ulama yang mengucapkan perkataan ini adalah Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya, ketika menafsirkan Surat An-Najm ayat 38 dan 39. Allah Ta’ala berfirman:

ﺃَﻟَّﺎ ﺗَﺰِﺭُ ﻭَﺍﺯِﺭَﺓٌ ﻭِﺯْﺭَ ﺃُﺧْﺮَﻯ، ﻭَﺃَﻥ ﻟَّﻴْﺲَ ﻟِﻠْﺈِﻧﺴَﺎﻥِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺳَﻌَﻰ

“(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm [53]: 38-39)

Dari ayat yang mulia ini, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bersama ulama yang mengikutinya dari kalangan Madzhab Syafi’i telah mengeluarkan sebuah hukum dan keputusan yang menyatakan bahwa bacaan Al-Quran tidak akan sampai hadiah pahalanya kepada orang yang telah mati. Hal itu karena bacaan itu bukan termasuk dari amal dan usaha mereka.

Oleh karena itu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkan umatnya untuk menghadiahkan bacaan Al- Quran kepada orang yang telah mati, dan tidak pula pernah menggemakannya atau memberikan petunjuk kepada mereka baik itu dengan nash dalil secara langsung maupun dengan isyarat. Dan tidak pernah dinukil dari seorang pun di antara para sahabat bahwa mereka pernah mengirimkan bacaan Al-Quran kepada orang yang telah mati.

Kemudian Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan:

ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﺴَﺒَﻘُﻮْﻧَﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ

Kalau sekirannya perbuatan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului kita dalam mengamalkannya.”

Beliau juga menjelaskan bahwa dalam masalah ibadah itu hanya terbatas pada dalil dan tidak boleh dipalingkan dengan berbagai macam qiyas dan ra’yu , yaitu akal pikiran manusia.

Jika ada suatu amalan yang baik pasti para.sahabat telah mendahului kita dalam.mengamalkannya. Hal itu karena tidak ada suatu amal dari amalan-amalan yang ada di dalam Islam yang luput dari para sahabat.

Karena Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada mereka segala sesuatunya, sampai adab buang hajat pun telah diajarkan

Mengapa kita perlu, bahkan wajib, mempelajari manhaj para sahabat? Mengapa? Khususnya pada hari ini, zaman ini?

Saya (Ustadz Abdul Hakim – Red ) kira kita mempunyai beberapa jawaban. Jawaban pertama, sebagian, kalau tidak mau dikatakan sebagian besar, cara beragama kita tidak mengikuti cara beragama para sahabat. Yakni kita hanya sekedar mengenal sahabat dari nama dan sedikit riwayat hidup mereka, tetapi kita tidak mengenal sahabat dari aqidah dan manhaj mereka, kehidupan keagamaan mereka, cara beragama mereka, bagaimana mereka beragama Islam, karena cara beragama kita yang salah, kalau tidak mau dikatakan sangat salah

Di pasal yang pertama dari kitab ini, telah saya (Ustadz Abdul Hakim – Red ) jelaskan beberapa kesalahan di dalam beragama.

Misalnya, kita beragama Islam mengikuti kebanyakan orang, ikut-ikutan semata, taqlid buta. Apa yang biasa dikerjakan oleh kaum kita, kita ikuti, dan pada hakikatnya kita tidak tahu, itu dari Islam atau bukan dari Islam, bahkan tidak ada asal-usulnya dari Islam

Rajab Bulan Suci – Ustadz Ahmad Zainuddin Al- Banjary

_____

RENUNGAN: ANDAI PERAYAAN ISRA’ MI’RAJ ITUBAIK…!

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ

BEBERAPA KEMUNGKARAN DALAM PERAYAAN ISRA’ MI’RAJ

Pertama: Bid’ah (mengada-ada) dalam agama, karena tidak ada dalil yang menunjukkannya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam agama kami ini apa yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga.bersabda,

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ

Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ ﻓَﺈِﻥَّ ﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟْﻬُﺪَﻯ ﻫُﺪَﻯ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Ammaa ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (shallallahu’alaihi wa sallam) dan seburuk-buruk urusan adalah perkara baru (dalam agama) dan semua perkara baru (dalam agama) itu sesat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

ﺃُﻭﺻِﻴﻜُﻢْ ﺑِﺘَﻘْﻮَﻯ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤْﻊِ ﻭَﺍﻟﻄَّﺎﻋَﺔِ ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺒْﺪًﺍ ﺣَﺒَﺸِﻴًّﺎ ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْﻳَﻌِﺶْ ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻼَﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻰ ﻭَﺳُﻨَّﺔِﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺗَﻤَﺴَّﻜُﻮﺍ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍﺿَﻼَﻟَﺔٌ

“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa bertakwakepada Allah serta mendengar dan taat kepadapemimpin (negara) meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah, karena sesungguhnya siapa pun diantara kalian yang masih hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak (dalam agama), maka wajib bagi kalian (menghindari perselisihan tersebut) dengan berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Al-Khulafa’ur Rasyidin yang telah mendapat petunjuk. Peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah kalian terhadap perkara baru (bid’ah dalam agama) karena setiap bid’ah itu sesat.” [HR. Abu Dawud dan AtTirmidzi dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu’anhu)

Sahabat yang Mulia Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata,

ﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻠَﺎﻟَﺔُ ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺁﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱ ﺣَﺴَﻨَﺔ

Setiap bid’ah itu sesat, meski manusia menganggapnya hasanah (baik).” [Dzammul Kalaam: 276]

SEBUAH RENUNGAN

Asy-Syaikhul ‘Allaamah Ibnu Baz rahimahullah berkata,

ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﻠﻴﻠﺔ ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ ﻭﺍﻟﻤﻌﺮﺍﺝ، ﻭﺑﻠﻴﻠﺔ ﺍﻟﻨﺼﻒ ﻣﻦ ﺷﻌﺒﺎﻥ،ﻭﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺎﻟﻬﺠﺮﺓ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ، ﺃﻭ ﺑﻔﺘﺢ ﻣﻜﺔ ﺃﻭ ﺑﻴﻮﻡ ﺑﺪﺭ، ﻛﻞ ﺫﻟﻚﻣﻦ ﺍﻟﺒﺪﻉ، ﻷﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻣﻮﺟﻮﺩﺓ ﻋﻠﻰ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﻟﻢ ﻳﺤﺘﻔﻞ ﺑﻬﺎ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﺖ ﻗﺮﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻻﺣﺘﻔﻞﺑﻬﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ، ﺃﻭ ﺃﻣﺮ ﺑﻬﺎ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺃﻭ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔﺑﻌﺪﻩ، ﻓﻠﻤﺎ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﻫﺬﺍ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﺃﻧﻬﺎ ﺑﺪﻋﺔ ﻭﺃﻧﻬﺎ lﻏﻴﺮ ﻣﺸﺮﻭﻋﺔ، ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻻﺕ، ﻻ ﻳﺒﺮﺭ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺃﻥ ﻓﻼﻧﺎﻭﻓﻼﻧﺎ ﻓﻌﻠﻬﺎ، ﺃﻭ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﻔﻼﻧﻲ ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﻻ ﻳﺒﺮﺭ، ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻣﺎﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﺃﻭ ﺃﺟﻤﻊ ﻋﻠﻴﻪ ﺳﻠﻒ ﺍﻷﻣﺔ ﺃﻭ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺨﻠﻔﺎﺀﺍﻟﺮﺍﺷﺪﻭﻥ، ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ

Perayaan malam isra’ mi’raj, malam nisfu Sya’ban, perayaan tahun baru hijriyyah (peringatan hijrah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam), atau fathu Makkah dan perang Badar, semua itu termasuk bid’ah (mengada-ada dalam agama), karena perkara-perkara ini terjadi di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam namun beliau sendiri tidak merayakannya. Andaikan perayaan itu termasuk pendekatan diri kepada Allah ta’ala tentunya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah merayakannya, atau memerintahkan para sahabat untuk merayakannya atau para sahabatsendiri yang merayakannya sepeninggal beliau, maka tatkala Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan sahabat tidak merayakannya kita pun mengetahui bahwa itu adalah bid’ah atau tidak disyari’atkan.

Dan perayaan-perayaan ini tidaklah dibenarkan walau tokoh-tokoh tertentu melakukannya, atau negeri tertentu melakukannya, semua itu bukan dalil yang membolehkan, dalil itu hanyalah ucapan Allah dan Rasul-Nya, atau atau ijma’ Salaf umat ini atau amalan Al-Khulafa Ar-Rasyidin radhiyallahu’anhum.” [Fatawa Nuur ‘alad Darbi, 3/101]

Kedua: Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir, yaitu menyerupai perayaan paskah (kenaikan) Yesus dalam keyakinan Nasrani. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺗَﺸَﺒَّﻪَ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﻓَﻬُﻮَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” [HR. Abu Daud dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, Shahih Al-Jaami’: 6149]

Ketiga: Berbagai kemungkaran yang terjadi dalam perayaannya seperti;

• Ikhtilat (campur baur) antara laki-laki dan wanita,

• Lagu-lagu, nyanyian dan musik,

• Mengada-adakan dzikir-dzkir dan doa-doa khusus tanpa petunjuk dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

• Menyampaikan atau mendengarkan ceramah-ceramah tanpa ilmu, tanpa berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai Pemahaman Salaf, melainkan kisah-kisah dan hadits-hadits palsu,

• Bahkan yang lebih tragis adalah terlalaikan dari melakukan sholat 5 waktu atau sholat wajib secara berjama’ah, padahal esensi perjalanan Isra’ Mi’raj adalah sholat 5 waktu itu sendiri, maka buktikanlah lebih ramai mana antara sholat 5 waktu berjama’ah di masjid dan perayaan Isra’ Mi’raj…!?

Keempat: Menyelisihi larangan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terhadap perayaan apa pun selain ‘iedul adha dan ‘iedul fitri. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

ﺇِﻥَّ ﻟِﻜُﻞِّ ﻗَﻮْﻡٍ ﻋِﻴﺪًﺍ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻋِﻴﺪُﻧَﺎ

Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha]

Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu berkata,

ﻗَﺪِﻡَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟْﻤَﺪِﻳﻨَﺔَ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻳَﻮْﻣَﺎﻥِﻳَﻠْﻌَﺒُﻮﻥَ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻣَﺎ ﻫَﺬَﺍﻥِ ﺍﻟْﻴَﻮْﻣَﺎﻥِ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﻠْﻌَﺐُ ﻓِﻴﻬِﻤَﺎ ﻓِﻰﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ -ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻗَﺪْﺃَﺑْﺪَﻟَﻜُﻢْ ﺑِﻬِﻤَﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻷَﺿْﺤَﻰ ﻭَﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ

“Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mendatangi kota Madinah, para sahabat memiliki dua hari perayaan yang padanya mereka bersenang-senang. Maka beliau bersabda: Dua hari apa ini? Mereka menjawab: Dua hari yang sudah biasa kami bersenang- senang padanya di masa Jahiliyah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengganti kedua hari tersebut dengan dua hari yang lebih baik, yaitu ‘iedul adha dan ‘iedul fitri.” [HR. Abu Daud, Shahih Sunan Abi Daud: 1039]

(Lanjut ke halaman 2)