Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Hadits- Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat dan Puasa di Bulan Rajab

Alhamdulillah…

1. Hadits Palsu Tentang Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/02/02/04-hadits-palsu-surga-di-bawah-telapak-kaki-ibu/

2. Hadis Dhaif Seputar Bulan Rajab

https://konsultasisyariah.com/24623-hadis-dhaif-seputar-bulan-rajab.html

3. Hadits- Hadits Palsu Tentang Keutamaan Shalat dan Puasa Bulan Rajab

https://almanhaj.or.id/1523-hadits-hadits-palsu-tentang-keutamaan-shalat-dan-puasa-di-bulan-rajab.html

4. 12 Hadis Dhaif (Lemah) Seputar Rajab

https://konsultasisyariah.com/11545-hadis-dhaif-lemah-seputar-rajab.html

5. Puasa Khusus di Bulan Rajab berdasarkan Hadist yang Seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu )

https://rumaysho.com/1778-puasa-khusus-di-bulan-rajab-berdasarkan-hadits-dhoif-dan-palsu.html

Adakah Amalan Khusus di Bulan Rajab? –.Khutbah Jumat (Ustadz Abu Yahya.Badrusalam, Lc.)

Amalan- Amalan di Bulan Rajab (Ustadz Zainal Abidin Syamsudin, Lc.)

Amalan di Bulan Rajab (Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc.)

Bahaya Hadist Palsu dan Lemah Bagi Agama (Mizan Qudsiyah, Lc)

Syaikh Prof DR Abdur Rozzaq Al Badr / Pembahasan Bulan Rajab

Ustadz Syahrul Fatwa / Amalan Sunnah diBulan Rajab dan Sya’ban Seri 1

Ustadz Syahrul Fatwa / Amalan Sunnah di Bulan Rajab dan Sya’ban Seri 2

****

AMALAN DI BULAN RAJAB

Sering kali ditanyakan oleh kaum muslimin, benarkah bulan Rajab merupakan tamu yang istimewa?

Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah simak firman Allah Ta’ala :

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮﺍً ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻳَﻮْﻡَﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.”

Di dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan bahwa ada empat bulan haram yang istimewa. Dan empat bulan tersebut adalah:

Dzulqa’dah

– Dzulhijjah

– Al-Muharram

– Rajab

Apa keutamaan bulan tersebut? Menurut para ulama, di antara keutamaannya adalah:

Kita diharamkan berperang di dalam empat bulan tersebut

– Setiap dosa dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala

Setiap amal shaleh yang kita kerjakan, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Ta’ala

Berkaitan dengan hal itu, maka tanpa disadari kita akan memasuki bulan yang istimewa, bulan yang utama, yaitu bulan Rajab . Apabila kita maksimalkan ibadah di bulan Rajab ini, maka insya Allah kita akan mendapatkan bonus pahala dari Allah.

Apakah ada amalan di bulan Rajab ? berkaitan dengan ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah mengatakan bahwa:

ﻟﻢ ﻳﺮﺩ ﻓﻲ ﻓﻀﻞ ﺷﻬﺮ ﺭﺟﺐ، ﻭﻻﻓﻲ ﺻﻴﺎﻣﻪ ، ﻭﻻ ﻓﻲ ﺻﻴﺎﻡﺷﻲﺀ ﻣﻨﻪ ﻣﻌﻴﻦ، ﻭﻻ ﻓﻲ ﻗﻴﺎﻡﻟﻴﻠﺔ ﻣﺨﺼﻮﺻﺔ ﻓﻴﻪ

“Tidak pernah ada hadits yang berbicara tentang keutamaan bulan Rajab secara khusus, tidak juga tentang puasanya , atau puasa sebagian hari di bulan Rajab secara khusus di hari-hari tertentu, tidak juga shalat malamnya secara khusus.”

Bagaimana penjelasan mengenai “Amalan di Bulan Rajab” ini? Adakah amalan khusus di dalamnya? Adakah keutamaan khusus di dalamnya? Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nurul Dzikri di dalam rekaman kajian yang bermanfaat ini.

RINGKASAN CERAMAH – KAJIAN TEMATIK: AMALAN-AMALAN DI BULAN RAJAB

Banyak poliemik di tengah masyarakat, pro montra pun selalu terjadi setiap tahun. Antara menimbang kebiasaan, tradisi, dan ajaran sulit untuk kita wujudkan. Sehingga yang terjadi adalah konflik yang horizontal, dan tidak ada kesudahannya, apalagi elit agama yang cenederung membenarkan konflik tersebut.

Oleh karena itu sikap terbaik adalah dengan menaati Allah, rasulNya dan juga ulil amri. Menaati Allah berarti dengan mengikuti Al-Qur’an, dan menaati rasul berarti dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan menaati ulil amri berarti menaati pemerintah (dalam masalah dunia), dan menaati ulama (dalam amsalah agama).

Salah satu hal yang sering menjadi permasalahan adalah perkara amalan-amalan di bulan Rajab dan keutamaan bulan Rajab itu sendiri. Nah, sudah selayaknya ketika ada segala bentuk permasalahan kita kembalikan hukumnya kepada Allah dan rasulNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮﺍً ﻓِﻲ ﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠّﻪِ ﻳَﻮْﻡَﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕ ﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS At-Taubah [9]: 36)

Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa di antara sekian bulan yang mulia, ada yang paling mulia. Dan diantara bulan yang paling mulia tersbut tidak lain adalah Dzulqa’dah , Dzulhijah , Muharam , dan Rajab.

Dari sini kita mengetahui bahwa bulan Rajab termasuk bulan yang sangat mulia di sisi Allah.

Bagaimana cara memuliakan bulan ini? Simak penjelasan selengkapnya oleh Ustadz Zaenal Abidin, Lc. , di dalam rekaman kajian yang bermanfaat ini.

HADITS-HADITS PALSU TENTANG KEUTAMAAN SHALAT DAN PUASA DI BULAN RAJAB

Oleh :Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas خفظه الله

Apabila kita memperhatikan hari-hari, pekan-pekan, bulan-bulan, sepanjang tahun serta malam dan siangnya, niscaya kita akan mendapatkan bahwa Allah Yang Maha Bijaksana mengistimewakan sebagian dari sebagian lainnya dengan keistimewaan dan keutamaan tertentu. Ada bulan yang dipandang lebih utama dari bulan lainnya, misalnya bulan Ramadhan dengan kewajiban puasa pada siangnya dan sunnah menambah ibadah pada malamnya. Di antara bulan-bulan itu ada pula yang dipilih sebagai bulan haram atau bulan yang dihormati, dan diharamkan berperang pada bulan-bulan itu.

Allah عزّوجلّ juga mengkhususkan hari Jum’at dalam sepekan untuk berkumpul shalat Jum’at dan mendengarkan khutbah yang berisi peringatan dan nasehat.

Ibnul Qayyim menerangkan dalam kitabnya, Zaadul Ma’aad1 bahwa Jum’at mempunyai lebih dari tiga puluh keutamaan, kendatipun demikian Rasulullah صلي الله عليه وسلم melarang mengkhususkan ibadah pada malam Jum’at atau puasa pada hari Jum’at, sebagaimana sabda beliau صلي الله عليه وسلم:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تَخُصُّوْا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِيْ، وَلاَ تَخُصُّوْا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اْلأَياَّمِ، إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ صَوْمٍ يَصُوْمُهُ أَحَدُكُمْ

“Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Nabi صلي الله عليه وسلم, beliau صلي الله عليه وسلم bersabda: Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk beribadah dari malam-malam yang lain dan jangan pula kalian mengkhususkan puasa pada hari Jum’at dari hari-hari yang lainnya, kecuali bila bertepatan (hari Jum’at itu) dengan puasa yang biasa kalian berpuasa padanya.” (HR. Muslim no. 1144 (148) dan Ibnu Hibban no. 3603, lihat Silsilatul Ahaadits ash-Shahihah no. 980).

Allah Yang Mahabijaksana telah mengutamakan sebagian waktu malam dan siang dengan menjanjikan terkabulnya do’a dan terpenuhinya permintaan. Demikian Allah mengutamakan tiga generasi pertama sesudah di-utusnya Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم dan mereka dianggap sebagai generasi terbaik apabila diban-dingkan dengan generasi berikutnya sampai hari Kiamat. Ada beberapa tempat dan masjid yang diutamakan oleh Allah عزّوجلّ dibandingkan tempat dan masjid lainnya. Semua hal tersebut kita ketahui berdasarkan hadits-hadits yang shahih dan contoh yang benar.

Adapun tentang bulan Rajab, keutamaannya dalam masalah shalat dan puasa padanya dibanding dengan bulan-bulan yang lainnya, semua haditsnya sangat lemah dan palsu. Oleh karena itu tidak boleh seorang Muslim mengutamakan dan melakukan ibadah yang khusus pada bulan Rajab.

Di bawah ini akan saya berikan contoh hadits-hadits palsu tentang keutamaan shalat dan puasa di bulan Rajab.

1   Zaadul Ma’aad (I/375) cet. Muassasah ar-Risalah

………

HADITS PERTAMA

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ

Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku.

Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” (Lihat Maudhu’atush Shaghani I/61, no. 129).

Hadits tersebut mempunyai matan yang panjang, lanjutan hadits itu ada lafazh:

لاَ تَغْفُلُوْا عَنْ أَوَّلِ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ فَإِنَّهَا لَيْلَةٌ تُسَمِّيْهَا الْمَلاَئِكَةُ الرَّغَائِبَ…

Janganlah kalian lalai dari (beribadah) pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab, karena malam itu Malaikat menamakannya Raghaa-ib…”

Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): “Hadits ini di-riwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid ath-Thawil dari Anas, secara marfu’. (Al-Manaarul Muniif fish Shahih wa dh Dha’if no. 168-169).

Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” (Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy).

Imam adz-Dzahaby berkata: “ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits.”

Kata para ulama lainnya: “Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa-ib.” (Periksa: Mizaanul I’tidal III/142-143, no. 5879).

HADITS KEDUA

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.”

Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.”

Lihat al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H).

HADITS KETIGA

مَنْ صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’”

Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).”

Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).

HADITS KEEMPAT

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ

Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati).

Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’

Kata Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” (Al-Maudhu’at (II/123-124).

Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. (Lihat Taqriibut Tahdziib I/663 no. 4518).

(Lanjut ke halm…2)