Dakwah Tauhid adalah Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam & Jaminan Keselamatan di Dunia dan Akhirat

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Pembagian Tauhid Menjadi Tiga Adalah Trinitas

https://www.firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas

2.Darimanakah Asal Usul Pembagian 3 Tauhid ? https://konsultasisyariah.com/911-darimanakah-asal-usul-pembagian-3-tauhid.html

3. Pembagian Tauhid Dalam Al Qur’an

https://muslimah.or.id/7017-pembagian-tauhid-dalam-al-quran.html

4.makna tauhid

https://muslim.or.id/6615-makna-tauhid.html

5. Tauhid, Jalan Menuju Keadilan Dan Kemakmuran (2)

https://almanhaj.or.id/3515-tauhid-jalan-menuju-keadilan-dan-kemakmuran-2.html

6.Tauhid, Jalan Menuju Keadilan Dan Kemakmuran (1)

https://almanhaj.or.id/3516-tauhid-jalan-menuju-keadilan-dan-kemakmuran-1.html

7.WASPADA, SYIRIK DI SEKITAR KITA!

https://almanhaj.or.id/2841-waspada-syirik-di-sekitar-kita.html

8. HINDARILAH SYIRIK … BERTAUHIDLAH!

https://almanhaj.or.id/2999-hindarilah-syirik-bertauhidlah.html

9.Tauhid Adalah Aqidah Bawaan Manusia

https://almanhaj.or.id/5613-tauhid-adalah-aqidah-bawaan-manusia.html

10. Keutamaan Dakwah Tauhid

https://almanhaj.or.id/2474-keutamaan-dakwah-tauhid.html

Dakwah Tauhid adalah Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Tabligh Akbar (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Kalimat Tauhid adalah Pemersatu Umat dan Syarat untuk Masuk Surga – Bagian ke-1(Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Kalimat Tauhid adalah Pemersatu Umat dan Syarat untuk Masuk Surga – Bagian ke-2(Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Ustadz Lalu Ahmad-Makna & Pembagian Tauhid Ustadz Lalu Ahmad-Keutamaan Tauhid Sebagai Penghapus Dosa

Ustadz Lalu Ahmad-Beruntungnya Orang yang Bertauhid

Ustadz Lalu Ahmad · Keuntungan Mengucapkan Laa Ilaha illallah

Tabligh Akbar(pilar-pilar Keamanan Negeri, Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad AsSubai’iy)

Ceramah Agama: Keuntungan Mengucapkan Laa Ilaha illallah – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc.

Ceramah Agama: Beruntungnya Orang yang Bertauhid – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc.

Ceramah Agama: Makna dan Pembagian Tauhid – Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc.

Dakwah Tauhid adalah Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam – Tabligh Akbar (Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas)

Tauhid untuk Anak – tingkat 1

Tauhid untuk Anak – tingkat 2

Tafsir Kalimat Tauhid – Syaikh Rabi bin Hadi

Kitab Tauhid, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab (matan & terjemahan)

___

RINGKASAN CERAMAH: DAKWAH TAUHID ADALAH DAKWAH RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

➡ Tujuan dakwah adalah agar tidak ada alasan lagi bagi manusia dihadapan Allah subhanahu wa ta’ala . Allah berfirman:

ﺭُّﺳُﻠًﺎ ﻣُّﺒَﺸِّﺮِﻳﻦَ ﻭَﻣُﻨﺬِﺭِﻳﻦَ ﻟِﺌَﻠَّﺎﻳَﻜُﻮﻥَ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّـﻪِ ﺣُﺠَّﺔٌ ﺑَﻌْﺪَﺍﻟﺮُّﺳُﻞِ ۚ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّـﻪُ ﻋَﺰِﻳﺰًﺍ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ ﴿١٦٥

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. ” (QS. An- Nisa’ [4]: 165)

Maka dalam dakwah itu ada memberikan kabar gembira dengan surga bagi orang-orang yang mentauhidkan Allah, beriman kepada Allah dan RasulNya beserta yang lainnya, bagi orang-orang yang melakukan amal-amal shaleh. Berdakwah juga memberikan ancaman kepada manusia dari perbuatan syirik, bid’ah, maksiat.

Sesudah wafatnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada Khulafaur Rasyidin, setelah itu para Tabi’in, kemudian para Imam dan sekarang para da’i. Mereka semua menyampaikan hujjah kepada manusia. Dan hujjah pertama kali yang disampaikan adalah tentang tauhid. Karena dosa yang paling besar dan kemungkaran yang paling mungkar adalah syirik. Tidak akan diampuni dosanya jika dia tidak bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala .

➡ Tujuan dakwah yang kedua adalah untuk memberikan hidayah kepada manusia. Sehingga ketika pulang dari majelis ilmu,.seorang muslim mempunyai bekal dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…ﻭَﺇِﻧَّﻚَ ﻟَﺘَﻬْﺪِﻱ ﺇِﻟَﻰٰ ﺻِﺮَﺍﻁٍﻣُّﺴْﺘَﻘِﻴﻢٍ ﴿٥٢﴾

“…Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. ” (QS. Asy-Syura [42]: 52)

Maksud jalan yang lurus ini adalah bahwa yang paling pokok adalah tentang bagaimana manusia beribadah kepada Allah, mentauhidkan Allah. Penjelasan tentang jalan yang lurus ini ada beberapa ayat dalam Al- Qur’an. Salah satunya adalah dalam surat Ali-Imran ayat ke-51:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ﺭَﺑِّﻲ ﻭَﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻓَﺎﻋْﺒُﺪُﻭﻩُ ۗﻫَـٰﺬَﺍ ﺻِﺮَﺍﻁٌ ﻣُّﺴْﺘَﻘِﻴﻢٌ ﴿٥١﴾

Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” . (QS. Ali-Imran [3]: 51)

Disamping memberikan hidayah kepada manusia, juga mengeluarkan manusia dari kegelapan. Dulu sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus sebagai Rasul, orang- orang jahiliyah berada dalam kegelapan kesyirikan, kegelapan kebodohan. Maka dakwah ini bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari kesyirikan, dari kebodohan, dari segala macam pemahaman yang rusak dan sesat kepada hidayah. Allah berfirman:

ﺍﻟﺮ ۚ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺃَﻧﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ ﻟِﺘُﺨْﺮِﺝَﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﺇِﻟَﻰٰ ﺻِﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻌَﺰِﻳﺰِﺍﻟْﺤَﻤِﻴﺪِ ﴿١﴾

“Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ” (QS.Ibrahim [14]: 1)

Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an bahwa dakwah para anbiya wa rusul (nabi-nabi dan rasul-rasul) ‘alaihimush shalatu was salam, mereka mulai dakwahnya dengan tauhid, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Tauhid ,

Allah berfirman:

ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺑَﻌَﺜْﻨَﺎ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺃُﻣَّﺔٍ ﺭَّﺳُﻮﻟًﺎ ﺃَﻥِﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ﻭَﺍﺟْﺘَﻨِﺒُﻮﺍ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕَ ۖ… ﴿ﺍﻟﻨﺤﻞ : ٣٦﴾

Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu,” …” (QS An-Nahl [16]: 36)

Dalam Surat Al-A’raf di ayat ke-59, Allah berfirman:

ﻟَﻘَﺪْ ﺃَﺭْﺳَﻠْﻨَﺎ ﻧُﻮﺣًﺎ ﺇِﻟَﻰٰ ﻗَﻮْﻣِﻪِ ﻓَﻘَﺎﻝَﻳَﺎ ﻗَﻮْﻡِ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ﻣَﺎ ﻟَﻜُﻢ ﻣِّﻦْﺇِﻟَـٰﻪٍ ﻏَﻴْﺮُﻩُ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺧَﺎﻑُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْﻋَﺬَﺍﺏَ ﻳَﻮْﻡٍ ﻋَﻈِﻴﻢٍ ﴿ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ :٥٩﴾

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata, “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar.(kiamat).” (QS Al-A’raf [7]: 95)

Jadi, Allah menyebutkan satu-persatu dalam surat Al-A’raf tentang dakwah Nabi Nuh ‘alaihish shalatu was salam kemudian nabi- nabi yang lain, Nabi Hud, Nabi Syu’aib dan lainnya, semuanya mendakwahkan tauhid.

Agama Islam merupakan agama yang haq, agama yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala . Dan agama ini sumbernya adalah Al- Qur’an dan Sunnah. Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengaitkan tentang petunjuk / hidayah dengan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Allah menyebutkan dalam Surat Thaha:

… ﻓَﻤَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﻫُﺪَﺍﻱَ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻀِﻞُّ ﻭَﻟَﺎﻳَﺸْﻘَﻰٰ ﴿ﻃﻪ : ١٢٣﴾

“… Lalu barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS Thaha [20]: 123)

➡ Yang kita ikuti Al-Qur’an dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dasarnya pertama Al-Qur’an, Al-Qur’an memerintahkan untuk mengikuti dalil. Dalil yang lain dari Al-Qur’an juga yang menyeru mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman dalam Surat Al-Hasyr, surat ke-59, ayat ke-7:

… ﻭَﻣَﺎ ﺁﺗَﺎﻛُﻢُ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝُ ﻓَﺨُﺬُﻭﻩُ ﻭَﻣَﺎﻧَﻬَﺎﻛُﻢْ ﻋَﻨْﻪُ ﻓَﺎﻧﺘَﻬُﻮﺍ ۚ ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ۖﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّـﻪَ ﺷَﺪِﻳﺪُ ﺍﻟْﻌِﻘَﺎﺏِ ﴿ﺍﻟﺤﺸﺮ :٧﴾

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al-Hasyr [59]: 7)

TAUHID ADALAH JAMINAN KESELAMATAN DI DUNIA DAN AKHIRAT

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤئِكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ

allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa`ika lahumul-amnu wa hum muhtaduun

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 82)

➡ 1. Siapakah Orang yang Beriman?

Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan di dalam ayat yang mulia ini bahwa orang yang beriman adalah yang benar-benar mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala , yaitu tidak melakukan kezaliman sedikit pun, dan kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini adalah kesyirikan, sebagaimana ditafsirkan sendiri oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat berikut, Sahabat yang Mulia Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

“Ketika turun ayat, ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang- orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al An’aam: 82). Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, ‘Wahai Rasulullah, siapakah diantara kami ini orang yang tidak menzalimi dirinya?’ Maka beliau menjawab, ‘Sesungguhnya maksud ayat itu bukanlah sebagaimana yang kalian sangka. Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan seorang hamba yang shalih, ‘Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezaliman yang sangat besar.’ (QS. Luqman: 13). Yang dimaksud dengan zalim dalam ayat itu adalah syirik.’” (HR. Al Bukhari (32), Muslim (124), Imam Ahmad (6/69/3589) cet. Ar Risalah, dikutip dari Ibthaalu Tandiid , hal.19-20).

Al-Imam Al-Mufassir Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : } ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻠْﺒِﺴُﻮﺍ ﺇِﻳﻤَﺎﻧَﻬُﻢْ ﺑِﻈُﻠْﻢٍ ﺃُﻭﻟَﺌِﻚَﻟَﻬُﻢُ ﺍﻷﻣْﻦُ ﻭَﻫُﻢْ ﻣُﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ { ﺃَﻱْ : ﻫَﺆُﻟَﺎﺀِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺧْﻠَﺼُﻮﺍ ﺍﻟْﻌِﺒَﺎﺩَﺓَ ﻟِﻠَّﻪِﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻟَﺎ ﺷَﺮِﻳﻚَ، ﻟَﻪُ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺂﻣِﻨُﻮﻥَ ﻳَﻮْﻡَﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ، ﺍﻟْﻤُﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﺂﺧِﺮَﺓِ .

“Firman Allah ta’ala, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman” maknanya: Mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah yang satu saja, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, merekalah yang akan mendapatkan keamanan di hari kiamat dan hidayah di dunia dan akhirat.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/294, Fathul Majid, hal. 32]

➡ 2. Keutamaan Terbesar untuk Orang yang Mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala

Ayat yang mulia ini menerangkan tentang keutamaan terbesar yang akan diraih oleh orang yang mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan men- jauhi kesyirikan adalah keamanan dan hidayah, yang mencakup di dunia dan akhirat (lihat Al-Qoulul Mufid, 1/63);

✅ •Keamanan di dunia dan akhirat; yaitu dari azab Allah subhanahu wa ta’ala, baik di dunia, di kubur, di hari kebangkitan dan keamanan dari azab neraka, namun dengan syarat istiqomah diatas tauhid dan sunnah sampai akhir hayat.

✅ •Hidayah mencakup dua macam hidayah kepada ilmu dan hidayah kepada amalan, yaitu taufiq dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk senantiasa menuntut ilmu dan mengamalkannya. Dan tidak diragukan lagi, ilmu dan amal adalah syarat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

➡ 3. Macam-macam Kezaliman dan Bahayanya

Ayat yang mulia ini memperingatan bahwa semua bentuk kezaliman dapat memberikan pengaruh terhadap keamanan dan hidayah bagi seorang hamba, dan kezaliman itu ada tiga bentuk (lihat Al-Qoulul Mufid,1/61-62);

(Lanjut ke hal…2)