Mengalah” Dalam Debat Yang Tidak Bermanfaat & Jangan Bergaul/Berdebat Dengan Ahlul Bid’ah

Alhamdulillah. Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

.1 Debat Singkat Muslim dengan Nasrani 

https://konsultasisyariah.com/28548-debat-singkat-muslim-dengan-nasrani.html

2.Ingin Berkah Ilmu, Tinggalkan Debat

https://rumaysho.com/13513-ingin-berkah-ilmu-tinggalkan-debat.html

3. Nasihat Para Ulama Salaf Agar Menjauhi Ahlul Bid’ah

https://almanhaj.or.id/1588-nasihat-para-ulama-salaf-agar-menjauhi-ahlul-bidah.html

4.aplikasi *Radio Rodja 756 AM* 

http://play.google.com/store/apps/details?id=com.radio.rodja

-42 – Larangan Debat Kusir (Bag-3) (Aqidah Imam Ahlul Hadits)

Ke 40 – Larangan Debat Kusir (Aqidah Imam Ahlul Hadits)

Pendapatku Benar, Namun Boleh Jadi Salah (DR. Muhammad Arifin Baderi, MA)

Sikap Bijak Ketika Beda Pendapat (DR. Syafiq Reza Basalamah, MA)

Adab Berbeda Pendapat – Ustadz.Firanda Andirja, MA

Ustad Abdul Hakim Amir Abdat-Tentang Ber debat Tanpa Ilmu Atau Ber debat Dengan Orang Awam

Ustadz Muhtarom-Utamakan Perkataan Allah dan Rasul daripada Pendapat Kita

Tabligh Akbar – SIKAP BIJAK KETIKA BEDA PENDAPAT | Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA

Kajian Islam: Pendapatku Benar, Namun Boleh Jadi Salah – Dr. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Adab Berbeda Pendapat – Ustadz.Firanda Andirja, MA

___

KERUGIAN YANG AKAN DITERIMA

.

Bismillah wa shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du. Dibaca hingga selesai untuk dipahami dengan baik

.

Bergaul dengan Ahli Bid’ah, duduk satu madjelis dengan.Ahli Bid’ah atau menjadikan Ahli Bid’ah sebagai teman menyebabkan 2 kerugian,

.

Kerugian Pertama adalah mendengarkan kemungkaran dan kebidahan mereka, dan Kerugian Kedua yang menambahkan kerugian pertama yaitu membuat mereka perlahan-lahan memasukan Syubhat ke dalam hati kaum Muslimin yang masih mudah tertipu, masih dangkal limunya dan masih awam.

.

Karena itu jika kalian masih memiliki teman, baik di kehidupan nyata,di dunia maya dan di jejaring sosial, yang masih berkutat dengan bid’ah-bid’ahnya maka jauhkanlah mereka dari ruang lingkup kehidupan nyata kalian,dan unfriend mereka di jejaring sosial untuk menyelamatkan aqidah kalian. Fokuslah belajar dan berilmu karena jangan sampai kalian wafat di atas aqidah yang salah.

.

Ambillah pelajaran dari banyak orang yang awalnya teguh di atas Sunnah dan Manhaj Salaf namun ia dapat.berpaling karena bergaul dengan Ahli Bid’ah, duduk satu madjelis dengan Ahli Bid’ah atau menjadikan Ahli Bid’ah sebagai teman. Telah banyak Para Ulama Salaf menasehati kita untuk menjauhkan Ahli Bid’ah, tidak menjadikan mereka sebagai teman bergaul dan tidak duduk satu madjelis dengan para penyeru, pelaku dan Ahli Bid’ah.

.

Ingatlah bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan)bbagimu di dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa apabila kamubmendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain.Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulahnkamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam.”- QS. An-Nisa [4] : 140

Al-Qurthubi rahimahullah (wafat 671 H) berkata, “Ini menunjukkan wajibnya menghindari pelaku maksiat jika nampak darinya kemungkaran, karena bagi yang tidak menghindarinya berarti meridhai kemungkaran mereka, dan keridhaan terhadap kekufuran adalah kufur.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman “Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupabdengan mereka” Maka setiap orang yang ikut dalam kumpulan orang-orang maksiat tapi tidak maunmengingkari mereka, maka ia mendapat dosa yang sama dengan mereka. Maka hendaknya ia mengingkari mereka jika mengucapkan kemaksiatan atau melakukannya. JIKA TIDAK MAMPU MENGINGKARI MEREKA, hendaknya ia meninggalkan mereka sehingga ia tidak menjadi orang yang disebut dalam ayat itu. Jika perintah untuk menghindari para pelaku maksiat sudah jelas sebagaimana disebutkan diatas, MAKA MENGHINDARI PARA PELAKU BID’AH DAN HAWA NAFSU LEBIH UTAMA. Mayoritas Ahli Tafsir mengatakan bahwa ayat itu Muhkamah (hokum). Juwaibir meriwayatkan dari adh-Dhahhak bahwa ia berkata “Setiap orang yang melakukan Bid’ah dalam agama masuk ke dalam ayat ini hingga hari kiamat.”- Al-Jami li Ahkamil Qur’an, V/415

Atha bin Yussuf

____

Fiqih Khilaf

Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Utsaimin berkata: “Termasuk di antara pokok-pokok Ahli Sunnah WalnJama’ah dalam masalah khilafiyah adalah apabila perselisihan tersebut bersumber dari ijtihad dan masalah tersebut memungkinkan untuk ijtihad, maka mereka saling toleransi, tidak saling dengki, bermusuhan atau lainnya, bahkan mereka bersaudara sekalipun ada perbedaan pendapat di antara mereka.

Adapun masalah-masalah yang tidak ada ruang untuk berselisih di dalamnya, yaitu masalah-masalah yang bertentangan dengan jalan para shahabat dan tabi’in,nseperti masalah aqidah yang telah yang telah tersesat di dalamnya orang yang tersesat dan tidak dikenal perselisihan tersebut kecuali setelah generasi utama, maka orang yang menyelisihi shahabat dan tabiin tadi tidak dianggap perselisihannya”.

(Syarh Al-ushul As-Sittah hal.155-156).

Abu Ubaidah As Sidawi

____

➡ “Mengalah” Dalam Debat Yang Tidak Bermanfaat

Maksud “mengalah” pada judul adalah segera meninggalkan debat kusir tersebut. Dunia internet dan media sosial merupakan sarana yang mudah untuk berdebat. Perlu diketahui bahwa berdebat khususnya debat kusir sangat merugikan apabila kita lakukan. Terutama di media sosial, walaupun kita sudah berniat berdiskusi dengan baik akan tetapi diskusi di internet dan media sosial tetap sangat sulit dilakukan.

Mengalah dari debat kusir, karena “kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab“.

Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan:

وما جادلني جاهلٌ إلا وغلبني

Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah”

Berdebat (apalagi di media sosial) menimbulkan banyak kerugian:

Pertama, Membuang-buang waktu yang berharga

Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya.

Kedua, Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ، الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”. [1]

Ketiga, Berdebat akan menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin, padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara se-iman.

Nabi Sulaiman ‘alaihis sallam berkata kepada anaknya,

يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

Wahai anakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” [2] (lanjut ke hal..2)