Catatan dan Nasehat Di Bulan RajabOleh Ustadz Abu Minhal, Lc

Alhamdulillah
1.Syarat agar amal ibadah diterima

https://bimbinganislam.com/agar-ibadah-kita-diterima/

2.Amal Ibadah Pelaku Bid’ah Tertolak

https://muslim.or.id/19507-apakah-bisa-suatu-amalan-itu-tertolak.html

3.Dampak Buruk Bid’ah amalnya Tertolak

https://rumaysho.com/895-mengenal-bidah-10-dampak-buruk-bidah.html

4. 2 Syarat Diterimanya Ibadah

https://rumaysho.com/832-dua-syarat-diterimanya-ibadah.html

Amalan bulan Rajab menurut ulama Syafi’iiyah (ustadz Zainal Abidin bin Syamsudin hafidzohullah)

Download Audio Kisah Isra mi’raj & Hukum Merayakan Isra-Mi’raj-Syaikh Abdullah Al Iryani

Sesi 1: 

Sesi 2: 

Ustadz Mizan Qudsiyah-Apa Syarat Amalan Diterima Allah?

Amalan Bid’ah Tertolak – Ustadz Ayip Syafruddin

Ustadz Abu Qatadah / Agar Amalan Tidak Berakhir Sia-sia (Kaidah-kaidah dalam Beramal Shalih)

Hadist ShahihTertolaknya Amalan Bid’ah &.Peringatan Agar Menjauhi Perkara Syubhat – Ustadz Usamah Mahri

Ustadz Ahmad Zainuddin-Syarat Diterimanya Amal Ibadah

Amalan Bid’ah Tidak Akan Diterima – Ustadz Abu Muhammad Rosyid

DOWNLOAD NASIHAT ULAMA: SYAIKH IBRAHIM AR- RUHAILI – SYARAT DITERIMANYA AMAL

Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili tentang “Syarat Diterimanya Amal ” dengan penerjamahan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Apa Syarat Amalan Diterima Allah? – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc. 

Yakin Ibadah Anda Diterima? – Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. 

Agar amalan tidak berakhir sia-sia – Ustadz Abu
 Qotadah  

____

Wahai Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hendaknya Dalam Ibadah Bukan Ikut tradisi yang terjadi di masyarakat saja, namun dalamnibadah perlu memenuhi dua syarat, yaitu Ikhlas maknanya memurnikah semua ibadah hanya untuk Allah dan Ittiba yaitu ada tuntunannya dari Rasulullah. Sehingga amalan yang kita lakukan bernilai ibadah dan diterima oleh Allah.

.

Catatan di Bulan Rajab

Rajab secara bahasa diambil dari lafadzﺭَﺟَﺐَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﺭَﺟَﺎﺑﺎَ , maknanya mengagungkan dan memuliakan. Rajab adalah salah satu dinatara nama bulan. Disebut dengan Rajab, sebab orang di zaman Jahiliyyah sangan mengagungkan bulan ini, yaitu dengan tidak membolehkan perang di bulan tersebut. (Qamuush al-, I/65) . Allah Ta’ala berfirman,

ﺇِﻥَّ ﻋِﺪَّﺓَ ﺍﻟﺸُّﻬُﻮﺭِ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ﻓِﻲﻛِﺘَﺎﺏِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻣِﻨْﻬَﺎﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌ ﺣُﺮُﻡٌ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟﺪِّﻳﻦُ ﺍﻟْﻘَﻴِّﻢُ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻈْﻠِﻤُﻮﺍ ﻓِﻴﻬِﻦَّﺃَﻧْﻔُﺴَﻜُﻢْ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah 9: 36).

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa bulan Rajab termasuk bulan yang memiliki keutamaan, yaitu bahwa diharamkan berperang di bulan Rajab, supaya memudahkan orang-orang yang berada di pinggir jazirah arab untuk mengadakan perjalanan umrah atau berziarah ke Baitullah, dan mereka dapat kembali ke negerinya dengan aman. (Tafsir Ibnu Katsir, IV/148).

Bulan Rajab termasuk bulan haram . Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ ﻗَﺪِ ﺍﺳْﺘَﺪَﺍﺭَ ﻛَﻬَﻴْﺌَﺘِﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِﻭَﺍﻷَﺭْﺽَ ، ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﺍﺛْﻨَﺎ ﻋَﺸَﺮَ ﺷَﻬْﺮًﺍ ، ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٌﺣُﺮُﻡٌ ، ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻣُﺘَﻮَﺍﻟِﻴَﺎﺕٌ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘَﻌْﺪَﺓِ ﻭَﺫُﻭ ﺍﻟْﺤِﺠَّﺔِﻭَﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻡُ ، ﻭَﺭَﺟَﺐُ ﻣُﻀَﺮَ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺑَﻴْﻦَ ﺟُﻤَﺎﺩَﻯﻭَﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ

“ Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu Tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679).

Dari keempat bulan haram di atas, para ulama berbeda perndapat mana yang lebih utama di antara bulan-bulan haram tersebut.

Ibnu Rajab merinci pendapat ulama dalam kitab Lathaif Al-Ma’arif halaman 203 menjadi tiga pendapat sebagai berikut:

Pertama, pendapat Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa bulan Rajab adalah bulan yang paling utama dibandingkan bulan haram yang lainnya, meskipun Imam An-Nawawi melemahkan pendapat ini.

Kedua , pendapat Al Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, pendapat ini dikuatkan oleh An-Nawawi.

Ketiga , Sa’id bin Jubair dan lainnya berpendapat bahwa bulan Dzulhijjah yang lebih utama. Ini adalah pendapat, juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab.

Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama , pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Zaadul Maysir, tafsir surat At Taubah ayat 36).

Amalan Khusus Bulan Rajab

Hal-hal yang berkaitan dengan Bulan Rajab:

✅[1] Ritual Shalat Raghaib. Pendapat Ulama tentang Shalat Raghaib.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaib sebanyak 12 raka’at yang dikerjakan antara Maghrib dan Isya pada malam Jum’at di awal bulan Rajab, serta malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 raka’at. Dua shalat ini termasuk Bid’ah Mungkar dan jelek! Jangan tertipu dengan disebutnya kedua shalat ini dalam kitab Quutul Qulub dan Ihya Ulumuddin dan jangan pula tertipu dengan disebutnya shalat tersebut dalam kedua kitab di atas. Sebab, seluruhnya merupakan kebathilan. ( Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab, II/379).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Setiap hadits yang menyebutkan tentang puasa di bulan Rajab , juga untuk mengerjakan shalat di sebagian malamnya, semuanya dusta .” ( Al-Manarul Munif ,hal. 96).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Hadits tentang Shalat Raghaib adalah palsu, didustakan atas nama Rasulullah. ( Al-Maudhuu’aat, II/125).

✅[2] Isra’ dan Mi’raj. Pendapat Ulama tentang Isra’ dan Mi’raj.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyebutkan adanya sepuluh pendapat para Ulama tentang waktu terjadinya Isra’ dan Mi’raj. Walaupun.kebanyakan manusia merayakannya pada tanggal.27 Rajab. ( Fathul Baari, VII/242).

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dari Az-Zuhri dan Urwah bin Jubair bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi setahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, yaitu pada bulan Rabi’ul Awwal.

Imam As-Suddi rahimahullah berpendapat bahwa waktunya adalah 16 bulan sebelum hijrahnya Nabi ke kota Madinah, yaitu pada bulan Dzul Qa’dah.

Adapun Al-Hafidz Abdul Ghani bin Surur Al-Maqdisi rahimahullah dalam kitab sirahnya membawakan sebuah hadits tentang keutamaan bulan Rajab bahwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi pada malam ke 27 bulan Rajab, namun sanad riwayat tersebut tidak shahih.

Ibnu Nuhhas rahimahullah berkata, “Sesungguhnya perayaan malam Isra’dan Mi’raj merupakan kebid’ahan yang besar dalam agama yang diada-adakan oleh saudara-saudaranya setan.” ( Tanbihul Ghafilin, hal. 379-380).

✅[3] Mengkhususkan Puasa.

Imam As-Suyuthi rahimahullah berkata : “Mengkhususkan bulan Rajab dengan berpuasa termasuk hal yang dibenci.” Beliau melanjutkan, “Aku membenci apabila seseorang menyempurnakan puasa sebulan penuh seperti puasa Rasulullah..Demikian pula mengkhususkan satu hari dari hari-hari lainnya…” ( Al-Amru bi Ittiba, hal. 174).

✅[4] Mengadakan Sembelihan Khusus di BulanRajab.

Di zaman Jahiliyah dahulu, orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10.Rajab, dan dinamakan ‘atiirah atau Rajabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiirah sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiirah sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam . Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻻَ ﻓَﺮَﻉَ ﻭَﻻَ ﻋَﺘِﻴﺮَﺓَ

Tidak ada lagi fara’ dan ‘atiirah.” (HR. Bukhari no. 5473 dan Muslim no. 1976).

Fara’ adalah anak pertama dari unta atau kambing, lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka.

Al-Hasan Al-Bashri mengatakan, “Tidak ada lagi‘atiirah dalam Islam. ‘Atiirah hanya ada di zamanJahiliyah. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiirah pada bulan tersebut. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis-manis atau semacamnya ketika itu.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied .

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Intinya, tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuknmenjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri, Idul Adha dan hari tasyriq . Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at.

Selain hari-hari tadi, jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan, maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah ).” ( Lathaif Al Ma’arif , 213).

Oleh karena itu bagi kaum muslimin dalam ibadah hanya bermodal semangat atau mengikuti tradisi yang terjadi di masyarakat saja, namun dalam ibadah perlu memenuhi dua syarat, yaitu Ikhlas maknanya memurnikah semua ibadah hanya untuk Allah dan Ittiba yaitu ada tuntunannya dari Rasulullah. Sehingga amalan yang kita lakukannbernilai ibadah dan diterima oleh Allah. Sangat disayangkan jika amalan yang sudah kita kerjakan dengan membutuhkan waktu dan kesempatan namun tidak bernilai ibadah, justru sebaliknya jatuh pada perkara-perkara bid’ah. Wallahu A’lam

Ditulis Oleh

Ustadz Abu Rufaydah, Lc., MA. ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

(Kontributor Bimbinganislam.com)

.(lanjut ke hal…2)