Renungan Dan Nasehat Salaf 2

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Renungan Dan Nasehat Salaf 1

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/03/19/10-beberapa-renungan-dan-nasehat/

1.Jika Sudah DP, Apakah Sudah Pindah Hak Milik?

Jika Sudah DP, Apakah Sudah Pindah Hak Milik?

2.Sifat Sabar Sebagai Penolong Orang Yang Beriman

https://almanhaj.or.id/8702-sifat-sabar-sebagai-penolong-orang-yang-beriman-2.html

3. Teladan Dalam Kesabaran

Teladan dalam Kesabaran

4. Ternyata Tai Ayam Tidak Najis

Ternyata Tai Ayam Tidak Najis

5. Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Berinteraksi Sosial

6. Rasûlullâh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Berinteraksi Sosial

https://almanhaj.or.id/8672-raslullh-shallallahu-alaihi-wa-sallam-berinteraksi-sosial.html

7.Wanita Pemakan Jantung (Aklatul Akbad)

Wanita Pemakan Jantung (Aklatul Akbad)

8.Ketika Benda Mati dan Binatang Buas.Berbicara

Ketika Benda Mati dan Binatang Buas Berbicara

9. Nafkah Keluarga Tanggungan Suami

https://almanhaj.or.id/8658-nafkah-keluarga-tanggungan-suami-2.html

10.Faedah Surat Yasin: Matahari Beredar Mengelilingi Bumi

Faedah Surat Yasin: Matahari Beredar Mengelilingi Bumi

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc.M.HI-Hafizhahullah-Munculnya Perkara Baru ukuran file 20,9 MB Durasi 1 jam 31 menit 05 detik

Ustadz Abu Ammar al-Ghoyamiy Hafizhahullah- HAK-HAK SUAMI ISTRI DALAM ISLAM ukuran file 26 MB Durasi 1 Jam 52 menit 58 detik 

Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron,Lc -Hafizhahullah-AL-QUR’AN ADALAH OBAT UNTUK KAUM MUKMININ Ukuran 26 MB durasi 1 jam 51 menit 21 detik

Dosa-Dosa Besar

ke-31 : Tidak bersuci dari air kencing padahal itu adalah syi’ar kaum Nasrani & Siksa Kubur Yang Paling Banyak Dialami Kaum Muslimin Adalah Tidak Bersuci Dari Air Kencing

Ke-32 : Melakukan pungutan liar

Ke-33 : Riya’ termasuk bentuk kemunafikan Orang Munafik Kekal di Neraka

Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc.M.HI-Hafizha hullah-ukuran file 26 MB Durasi 1 jam 50 menit 55 detik

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal -Hafizhahullah- PINTU REZEKIMU BELUM DI BUKA

ukuran file 20 MB Durasi 1 Jam 26 menit 07 detik 

Ustadz Abdullah Taslim,Lc.MA -LIHATLAH DARI SIAPA KAU MENGAMBIL ILMU AGAMA!!


Bahaya Yang Akan Menimpa Umat di Akhir Zaman-Ust. Mizan Qudsiyah Lc MA

Apakah Percaya Zodiak Itu Syirik? -Ustadz Abu Yahya Badru Salam, Lc.

Ta‘aruf yang Wajib – Ustadz Johan Saputra Halim, M.Hi

 ……

Pemerintah Suka Utang Karena Rakyat Juga Gemar Utang Jadi Pemimpin Cerminan Rakyatnya

Gregetan kan mendengar utang Pemerintah hampir mencapai Rp 4.000 trilyun ?. Lebih pening lagi setelah mendengar ulasan INDEF nilainya membengkak menjadi Rp 7.000 trilyun.

Dasar, rezim korup, doyan utang !”, umpat sebagian teman.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakannya itu. Tapi coba refleksikan pada diri kita masing-masing. Ternyata setelah direnungi, kita – bangsa Indonesia -juga punya karakter yang sama : gemar utang. Rumah utang, kendaraan utang, perkakas utang, baju utang,.hingga beli kolor pun ada yang utang. SK dan ijazah banyak yang ‘disekolahkan’ di bank. Iya apa iya ?

Perilaku masyarakat Indonesia semakin konsumtif. Sebagai informasi, market size Indonesia menurut laporan World Economics Forum (WEF) tahun lalu menempati urutan ke-9 di dunia dengan rincian : domestic market size index meningkat, foreign market Size index menurun. Kita minim produktivitas. Di sisi lain, daya beli masyarakat semakin menurun. Kalau boleh dikatakan dengan bahasa rumah tangga : nafsu belanja (semakin) besar, dompet semakin tipis. Akhirnya, hutang (kredit) jadi solusi.

Jika dikatakan Pemimpin adalah cerminan rakyatnya, Tidak salah. Mereka (pemimpin) seakan-akan menjadi.etalase perilaku masyarakat kita. Jika kita (bangsa Indonesia) tidak merubah mindset kehidupan gemar berutang, maka selama itu pula negara kita punya kegemaran yang sama. Riba pulak. Mereka adalah bagian dari kita. Produk budaya kita. Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy rahimahulah mengatakan:

ﻓﺈﺫﺍ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﺮﻋﻴﺔ ﺃﻥ ﻳﺘﺨﻠﺼﻮﺍ ﻣﻦ ﻇﻠﻢ ﺍﻷﻣﻴﺮ ﺍﻟﻈﺎﻟﻢ ، ﻓﻠﻴﺘﺮﻛﻮﺍﺍﻟﻈﻠﻢ

Maka, apabila rakyat ingin mengakhiri/melepaskan diri dari kedhaliman pemimpin yang dhalim, hendaklah mereka meninggalkan kedhaliman (yang mereka perbuat)” [Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah hal 370].

Allah ta’ala berfirman:

ﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺣَﺴَﻨَﺔٍ ﻓَﻤِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺔٍ ﻓَﻤِﻦْﻧَﻔْﺴِﻚَ.

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka darim(kesalahan) dirimu sendiri” [QS. An-Nisaa’ : 79].

NB : Saya tahu ada sebagian Pembaca bosan ikut disalahkan karena kebobrokan rezim.

(Repost dari Ust Dony Arif Wibowo )

SIAPA MENANGGUNG DOSA RIBA HUTANG NEGARA? Pemerintah dan Orang Yang Setuju Hutang Riba

.Oleh: Ustadz Firly Ferdiansyah

Negara berideologi Kapitalis membangun negerinya dengan hutang. Tak terkecuali yang berpenduduk muslim. Sementara, lazim pula bahwa hutang itu berbunga atau berRiba.

Sedangkan dosa satu dirham riba, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali. Jika hutang negara beribu triliun dengan bunganberratus triliun, maka berapa dosa riba yang harusnditanggung?

Siapa yang akan menanggungnya di hadapan Allah dinyaumul hisab? “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba (pemberi hutang), orang yang menyerahkan riba (penghutang), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau/mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim).

Maka pihak pertama penanggung dosa riba adalah pihak pemberi hutang yang menikmati hasil riba. Pihak ke dua adalah pembayar riba.

Hutang negara (termasuk bunganya) biasa dibayar dengan pajak.

Sedangkan pembayar pajak adalah seluruh rakyat.Maka pada hakikatnya, seluruh rakyat terkena debu riba.

Namun pada dasarnya, amal manusia yang akan dihisab adalah amal yang berada di dalam kekuasaannya. Sedangkan yang di luar kekuasaannya tidak. Keputusan untuk mengambil hutang negara adalah keputusan penyelenggara negara, maka pengambil keputusan inilah yang paling bertanggung jawab. Bagaimana dengan rakyat yang turut serta membayar riba melalui pajak?

✅Faktanya, rakyat terbagi dua; 1) setuju hutang riba dan 2) menentang hutang riba.

Maka seluruh rakyat yang setuju sejatinya turut serta menanggung dosanya.

Sedangkan rakyat yang tidak setuju, sejatinya dia hanya dipaksa untuk turut serta membayar riba. Maka yang terpaksa seperti ini tidak akan turut menanggung.dosanya.

Rakyat yang terpaksa ini pun terbagi dua: 1) turut mendukung atau 2) tidak mendukung penguasa pengambil riba. Tentu semua ada hisabnya. Begitu pula, berbeda hisab antara rakyat yang turut berdakwah menentang riba negara, dengan rakyat yang diam saja dan tak peduli menyaksikan riba merejalela, hingga debu-debunya mengotori semua manusia akhir zaman.

.

Allahu a’lam.

Jangan Mencela Saudara Yang Terperosok Dalam Dosa & Kesalahan, Nasehati dan Doa’kan Agar Mendapat Hidayah

Halo saudaraku wong Jowo! Adakah yang tahu artinya “Keweleh” dalam bahasa Indonesia?

Di saat anda mencibirkan sesuatu yang tidak layak dicibirkan, terutama bila diiringi dengan perasaan bahwananda lebih hebat dibanding dia, maka biasanya cepat atau lambat anda akan “keweleh”, alias terpaksa menjilat ludah sendiri.

Anda menghina orang miskin, biasanya cepat atau lambat anda akan ditimpa kemiskinan, anda menghina pelaku maksiat, biasanya tidak lama anda akan terjerembab pada perbuatan serupa atau bahkan lebih.

Mengapa demikian sobat? karena anda selamat dari dosa, atau mendapat kekayaan bukan karena kehebatan anda, sehingga tidak layak berbangga diri. Semua itu murni karena kemurahan Allah Ta’ala, bukan karena kehebatan anda.

Sebagaimana saudaramu yang saat ini sedang terperosok dalam kesalahan atau dosa bisa jadi sedang menjalani proses mendapat hidayah, sehingga esok hari ia menyesali perbuatannya dan kemudian bertaubat dan berkobar semangatnya untuk beribadah, sehingga ia lebih bertaqwa dibanding anda.

Sedang anda, karena telah merasa jagoan dan mendapat tiket masuk surga, bisa jadi tanpa sadar terus mengalami kemunduran dan tertipu oleh kesombongan, dan akhirnya anda terjerembab dalam kubang maksiat.

Sobat! Jangan cibirkan saudara anda yang saat inisedang berdosa, atau terjerembab dalam kesalahan, namun nasehatilah dia, minimal doakan agar esok ia mendapat hidayah seperti halnya anda yang saat ini telah terlebih dahulu mendapat hidayah.

Jangan girang bila anda menemukan kesalahan pada diri saudara anda, namun bersedihlah dan segera berupaya untuk mengobatinya. Demikianlah seyogyanya anda bersikap, karena persaudaraan sesama ummat Islam bagaikan satu tubuh, sehingga bila ada yang terluka maka luka itu adalah derita bagi semua.

Adanya rasa girang karena berhasil menemukan atau membuktikan kesalahan atau kekurangan saudara itu cermin buruknya iman dan persaudaraan anda.

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu berduka bila mendapatkan ada orang yang enggan untuk beriman, bukan malah girang. Allah Ta’ala berfirman:

ﻟَﻌَﻠَّﻚَ ﺑَﺎﺧِﻊٌ ﻧَّﻔْﺴَﻚَ ﺃَﻟَّﺎ ﻳَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﻣُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ

Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. (As Syu’ara 3)

(lanjut ke hal..2)