Pelajaran & Hikmah dari Kisah Isra’ dan Mi’raj 
 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

1. Ulama Sepakat Peringatan Isra’ Mi’raj adalah Bid’ah

https://konsultasisyariah.com/5373-peringatan-isra-mi’raj.html

2. Para Salafush Shalih Tidak Pernah Merayakan Isra’ Mi’raj

https://muslim.or.id/25540-perayaan-isra-miraj-siapa-bilang-tidak-boleh.html

3. Isra Miraj Adalah Bid’ah Menurut Para Salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) Mereka Tidak Melaksakannya

https://muslim.or.id/6470-perayaan-isra-miraj.html

4. Peristiwa Isra’ Miraj 1

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/03/05/14-peristiwa-isra-miraj1/

5. Peristiwa Isra’ Miraj 2

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/03/06/15-peristiwa-isra-miraj2/

6. Peristiwa Isra’ Miraj 3

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/03/14/16-peristiwa-isra-miraj3-rasulullah-di-langit-ketujuh-sidratul-muntaha/

7. Peristiwa Isra’ Miraj 4

https://assunahsalafushshalih.wordpress.com/2018/03/14/17-peristiwa-isra-miraj4-apakah-rasululah-melihat-allah-tiba-di-surga/

Alhamdulillah

(KEAJAIBAN PERISTIWA ISRA’MI’RAJ, Ustadz Abu Ubaidah as Sidawie Hafizhahullah), 14Mb 1 Jam

(SIFAT PENGUKIR SEJARAH DI ANTARA UMAT”, Fadhilatusy Syaikh Prof. Dr. Adil bin Muhammad AsSubai’iy hafizhahullah), 33Mb 2 Jam

MEMPELAJARI HADITS NABI- Ustadz Ahmad Sabiq, Lc -Hafizhahullah-11 Mb 48Mnit


https://drive.google.com/file/d/1ZeuMEJdnk0D3z6fqDuPq30V3VMzDF3-N/view

ISLAM RAHMATAN LIL’ALAMIN-: Ustadz Abu Ammar Al-Ghoyammi -Hafizhahullah- 28Mb 1 Jam 48 Mnit


https://drive.google.com/file/d/15Up2SRCxU3np0dAwO5Fx2BjEXWbX9zGm/view

PERKARA-PERKARA HARAM DALAM BUANG HAJAT: Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali,AM Hafizhahullah-13Mb 58 Mnit.


https://drive.google.com/file/d/13-552_X2flAzN7qUC3H1dhwa9tt1kOix/view

Serial Wasiat Nabi Ke-94:Bid’ah

……

Definisi Isra’ dan Mi’raj

Isra secara bahasa berasal dari kata ‘saro’ (سرى) bermakna perjalanan di malam hari. Sedangkan secara istilah, Isra bermakna perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersama Jibril dari Mekah ke Baitul Maqdis (Palestina) pada malam hari dengan mengendarai Buraq.

Mi’raj secara bahasa isim alat (kata yang menunjukkan alat/sarana untuk melakukan sesuatu) dari kata ‘aroja’ (عرج) yang berarti naik menuju ke atas. Sehingga maknanya secara bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik, baik berupa tangga maupun yang lainnya. Adapun secara istilah, mi’raj bermakna tangga khusus yang digunakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam naik pada malam hari dari Baitul Maqdis ke langit.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau berkata, “Maka saya mendapati 2 tangga, salah satunya dari emas dan yang lainnya dari perak”. Wallahu a’lam

Catatan:

Mi’raj adalah alat yang berperan sebagaimana tangga, namun tidak diketahui bagaimana bentuknya. Hukumnya sama seperti perkara gaib lainnya, wajib kita imani tanpa sibuk membicarakan dan mengkhayalkan bentuknya.

(Lihat: Mu’jam Alfazhil Qur`an, karya Ar-Raghib Al-Ashfahany, Syarh Lum’atil I’tiqod, hal. 102 karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, dan Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyah, hal. 223 karya Ibnu Abil ‘Izz)

Isra’ dan Mi’raj dengan Jasad dan Ruh

Mayoritas ulama berpendapat bahwa isra’ mi’raj yang dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terjadi dengan jasad dan ruh beliau, serta dalam kondisi terjaga (tidak tidur). Inilah pendapat yang paling kuat di kalangan para ulama.

Allah  Ta’ala  berfirman:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

Kata ‘hamba’ menunjukkan bahwa itu terjadi dengan ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang shahih, sebagaima disebutkan dalam hadis-hadis Bukhari dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam, yang menegaskan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan isra dan mi’raj dengan jasad beliau.

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata dalam Lum’atul I’tiqod, “… Contohnya hadis isra’ dan mi’raj, beliau dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur, karena (kafir) Quraisy mengingkari dan bersombong terhadap peristiwa itu, padahal mereka tidak mengingkari mimpi”.

Hal yang sama juga disampaikan Imam Ath-Thohawy rahimahullah, dalam bukunya tentang Aqidah, beliau menyatakan;

Mi’raj adalah benar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah melakukan isra dan mi’raj dengan jasad beliau, dan dalam keadaan tidak tidur, ke atas langit …”

(Lihat pembahasan selengkapnya dalam Syarh Ath-Thohawiyah karya Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah atau syarah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Ar-Rojihy dan Syaikh Sholih bin ‘Abdil ‘Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahumallah)

Kisah Perjalanan Isra’ dan Mi’raj

Secara umum, kisah yang menakjubkan ini seperti yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra : 1)

Allah juga berfirman:

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى.

Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”(QS. An-Najm : 1-18)

Catatan:

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rojihy hafizhahullah berkata dalam Syarh Ath-Thohawiyah, “Barangsiapa yang mengingkari isra, maka dia kafir. Karena dia berarti menganggap Allah berdusta. Barangsiapa yang mengingkari mi’raj, maka tidak langsung dikafirkan sampai disampaikan dalil kepadanya serta dijelaskan padanya kebenaran”.

Sebagian ulama mengumpulkan berbagai riwayat tentang isra mi’raj dalam buku khusus. Di antara ulama yang mencurahkan ilmunya untuk karya ini adalah Imam Muhammad Nasiruddin Al-Albani, dalam bukunya: Al-Isra’ wal Mi’raj. Dalam karya ilmiyah ini, beliau menyebutkan hadis mengenai peristiwa isra mi’raj yang diriwayatkan dari 16 sahabat. Di antaranya; Umar, Ali bin Abi Thalib, Ibn Mas’ud, Ibn Umar, Anas bin Malik, Abu Dzar, Ibnu ‘Abbas, Jabir, Abu Hurairah, Ubay bin Ka’ab radhiallahu ‘anhum, dll.

Berikut terjemahan kisahnya, disarikan dari Shahih Bukhari dan Shahih Muslim,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda menceritakan perihal malam isra’ mi’raj:

Atap rumahku terbelah ketika saya berada di Mekah dalam keadaan antara tidur dan terjaga, lalu turunlah Jibril ‘alaihis salam dan membelah dadaku. Kemudian dia mencucinya dengan air zamzam, lalu dia datang dengan membawa sebuah baskom dari emas yang penuh berisi hikmah dan iman, lalu menuangkannya ke dalam dadaku, kemudian dia menutupnya (dadaku). Kemudian didatangkan kepadaku Buraq, hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghol (peranakan kuda dengan keledai). Buraq mampu meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya. Maka saya pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat para nabi mengikat (tunggangan). Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar.

(Lanjut ke hal..2)