Syarah Hadits Arba’in AnNawawi- Hadist 5: Bid’ah

Alhamdulillah..

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

beberapa Artikel
1. Bid’ah Hasanah Hujjah Ahlul Bid’ah & Bid’ah Mahmudah

2. Ahlul Bid’ah Mendahulukan Akal & Hawa Nafsunya Dari Pada Dalil. Mereka Itu Munafik. Lihatlah Saat Mereka Ditanya Malaikat Di Kuburan. Mereka Tidak Akan Bisa Menjawab

3. Keburukan Pelaku Bid’ah 

4. Keburukan Pelaku Bid’ah 2

5. Memahami dan Menyelami Makna Bid’ah

6. Kerusakan yang Timbul Akibat Bid’ah

7. Kaidah Dalam Memahami Bid’ah

8. Adakah Bid’ah Hasanah,Beda Bid’ah Hasanah & Sayyi’ah

9. Bantahan Terhadap Syubhat Pendapat yang Menyatakan Adanya Bid’ah Hasanah

10. Bid’ah Hasanah yang Dimaksud,Imam Syafi’i, Umar bin Khatab, Imam An Nawawi,shalafush Shalih, &Apakah para Sahabat tidak tahu bid’ah hasanah ?

Bid’ah : Kupas Tuntas Bid’ah (Hadits ke-5) – Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, M.A. – Syarah Arba’in Plus 16Mb 1Jam 30Menit

Ust. Mizan Qudsiyah-Syarah Hadits Arba’in An Nawawi Hadist 5: Bid’ah

Ust. Abdil Muhsin Firanda Andirja ·Arbain An Nawawi Hadist 5 Bid’ah

Ust. Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi · Arbain Nawawi Hadist 5 Bid’ah

Ust.Muhammad Abduh Tuasikal · Hadits Arbain Jamiul Ulum wal Hikam

Hadist 5-Pengertian Bid’ah

Hadist 5-Kaidah Memahami Bid’ah 1

Hadist 5-Kaidah Memahami Bid’ah 2

Hadist 5- Bid’ah Dalam Ibadah

Hadist 5- Bid’ah dalam Ibadah dan Muamalah 

Bid’ah : Kupas Tuntas Bid’ah (Hadits ke-5) –Ustadz Dr. Sufyan Baswedan, M.A. – Syarah Arba’in Plus

Al-I’tisham adalah kitab manhaj ahlussunnah yang ditulis oleh Imam Syathibi (w. 790 H/1388 M). [2] Kitab ini merupakan kitab rujukan yang dianggap sebagai salah satu kitab terbaik dalam pembahasan rinci seputar bid’ah dalam perkara agama. PDF 965 Halaman Download

Materi pembahasan yang diulas dalam kitab ini:

Bab 1 : Definisi, penjelasan arti dan pengambilan kata bid’ah dari segi lafadzhnya

Bab 2 : Tercelanya bid’ah dan buruknya tempat kembali bagi para pelaku bid’ah

Bab 3 : Tentang umumnya celaan terhadap bid’ah dan hal-hal baru dalam agama

Bab 4 : Sumber pengambilan Ahli Bid’ah dalam berdalil

Bab 5 : Hukum bid’ah hakikiyah dan idhafiyyah serta perbedaan keduanya

Bab 6 : Hukum-hukum bid’ah tidak hanya satu.macam.

Bab 7 : Bid’ah masuk dalam perkara adat atauhanya perkara ibadah

Bab 8 : Perbedaan antara bid’ah, Al-Maslahat al-Mursalah dan Istihsan

Bab 9 : Sebab-sebab perpecahan kelompok yang membuat bidah di kalangan umat Islam

Bab10 : Penjelasan makna “Shirathal Mustaqim” yang diselewengkan oleh Ahli Bidah kemudian mereka tersesat setelah adanya petunjuk yang jelas.

___

 ➡Bahaya Bid’ah

Hadits Arbain #05: Peringatan Bahaya Bid’ah

Mau tahu hadits tentang bid’ah dan bahayanya yang membuat amalan tertolak?

Dari Ummul Mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 20 dan Muslim, no. 1718]

Dalam riwayat Muslim, disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim, no. 1718]

➡Faedah Hadits

Syarat diterimanya amalan itu ada dua yaitu ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan). Syarat ikhlas ini yang dibahas dalam hadits pertama dalam Al-Arba’in An-Nawawiyah “innamal a’maalu bin niyaat”. Sedangkan ittiba’ ini yang dibahas dalam hadits kali ini. Hadits “innamal a’maalu bin niyaat” adalah timbangan untuk amalan batin, sedangkan hadits nomor lima kali ini adalah timbangan untuk amalan lahiriyah.

Mengamalkan amalan yang tidak ada tuntunannya, maka amalan tersebut mardudun (tertolak), tidak diterima di sisi Allah.

Kalimat “man ahdatsa” berarti mengadakan amalan yang baru dalam agama.

Kalimat “fii amrinaa” bermakna dalam agama.

Dari dalil ini dapat disimpulkan bahwa semua bid’ah itu madzmumah (tercela), tidak diterima di sisi Allah. Sehingga pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah atau membaginya menjadi lima sesuai dengan hukum taklif (wajib, sunnah, haram, makruh, dan mubah) tidaklah tepat. Ditambah lagi dalam hadits disebutkan celaan pada setiap macam bid’ah di mana disebut “kullu bid’atin dholalah”, setiap bid’ah itu sesat. Kata “kullu” di sini maknanya umum, artinya semua bid’ah itu tercela.

Amalan bid’ah itu ada beberapa macam:

1. ada yang bid’ahnya pada pokok amalan artinya ia mengamalkan amalan yang asalnya tidak ada tuntunan, maka amalan tersebut tidak diterima;

2. ada yang bid’ahnya pada tambahan namun amalan pokoknya tetap disyari’atkan, maka amalan tambahan ini tertolak, adapun amalan pokoknya diterima jika memang tidak dirusak dengan amalan tambahan;

3. pokok amalan asalnya ada tuntunan, namun seseorang mengerjakannya menyelisihi ketentuan syari’at, amalan tersebut tidak diterima; seperti berpuasa dari berbicara, maka tidak ada tuntunan;

4. sudah sesuai dengan ketentuan pokok syari’at dan caranya, namun jumlahnya yang berbeda dengan ketentuan; seperti mengamalkan dzikir pagi petang dibaca seribu kali untuk bacaan istighfar, maka ini menyelisihi ketentuan;

5. amalannya disyari’atkan namun menyelisihi dalam hal mengistimewakan hari dan tempat, seperti berpuasa pada hari Selasa karena dianggap sebagai hari lahirnya, maka amalan tersebut tidak diterima.

6. Jika ada yang melakukan ibadah dengan cara yang terlarang yang tidak disyari’atkan apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak, perlu dirinci:

8. jika larangan yang dilakukan di luar dari ibadah seperti berhaji dengan harta haram atau berwudhu dari bejana yang terbuat dari emas, ibadahnya sah, namun berdosa karena melakukan yang haram;

9. jika larangan tersebut mausk dalam ibadah, misalnya shalat di rumah hasil rampasan, maka yang dilakukan adalah perbuatan yang haram dan pelakunya berdosa. Namun jumhur ulama menyatakan tetap mendapatkan pahala. Sedangkan Imam Ahmad menganggap shalatnya tidaklah sah.

 ➡Dampak Buruk Bid’ah

Pertama: Bid’ah semakin menjauhkan pelakunya dari Allah

Ayyub As-Sikhtiyani -salah seorang tokoh tabi’in- berkata,

مَا ازْدَادَ صَاحِبُ بِدْعَةٍ اِجْتِهَاداً، إِلاَّ ازْدَادَ مِنَ اللهِ بُعْداً

Semakin giat pelaku bid’ah dalam beribadah, semakin jauh pula ia dari Allah.” (Hilyah Al-Auliya’, 1:392)

Apa yang dikatakan oleh tokoh tabi’in di atas, kebenarannya didukung oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyifati orang-orang Khawarij,

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Akan muncul di antara kalian suatu kaum yang kalian akan meremehkan shalat kalian (para sahabat), puasa kalian, dan amal kalian di samping shalat mereka, puasa mereka, dan amal mereka. Mereka rajin membaca Al Qur’an akan tetapi (pengaruhnya) tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang keluar menembus sasarannya.” (HR. Bukhari, no. 5058, 6931; Muslim, no. 1064)

Perhatikan, bagaimana mulanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai kaum yang amat giat beribadah, lalu menjelaskan betapa jauhnya mereka dari Allah.

(Lanjut ke halaman 2)