Tidak Ada Istilah WAHABI di Negeri Nabi Ini & Ahlussunnah Wajib Meyakini Tingginy DzatAllah

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Aqidah Al-Imaam Asy-Syafi’iy.rahimahullah vs Aqidah Mu’aththilah( (para penolaksifat) Ustadz Abdul Somad Tentang AllahTa’ala punya Wajah,Tangan dan Kaki.

Kufur Defini dan Jenisnya

1.Wahabi adalah Golongan Musyabbihahdan Mujassimah

2. (Ahlus Sunnah) adalah pertengahan dalam masalah Sifat-Sifat Allah antara golongan Jahmiyyah dan Musyabbihah.

3. Di manakah Allah (1), Keyakinan yang Benar Mengenai Sifat Allah

4. Di Manakah Allah (2), 1000 Dalil Menunjukkan Allah Di Atas Seluruh.Makhluk-Nya

5. Di Manakah Allah (3), Para Sahabat dan Tabi’in Menyatakan Allah Di Atas Seluruh Makhluk-Nya

6.Di Manakah Allah (4), Empat Imam Madzhab Sepakat Bahwa Allah Berada di Atas Langit

7.Di Manakah Allah (5), Siapa yang TidakMeyakini Allah Di Atas Langit, DialahJahmiyah

8. Di Manakah Allah (6), Ilmu Allah Di Mana-Mana, Bukan Dzat Allah

9.Di Manakah Allah (7), Tauhid Tidaklah SahSampai Meyakini Allah di Atas Langit

10. Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai Maka Hati Hatilah Kalian yg Mengatakan Allah Dimana-Mana, Jahmiah,mu’athilah(Orang yg Menolak Sifat Allah)menolak sifat tangan, wajah, dan sifat lainnya.

11.Di Manakah Allah (8), Syubhat Allah AdaTanpa Tempat

12. Di Manakah Allah (9), Ketinggian danKedekatan Allah

Ahlussunnah Wajib Meyakini Tingginya DzatAllah – Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Tautan: http://rodja.id/1rj 24Mb 1jm 22mnt

Dalil-Dalil Yang Menjelaskan Ketinggian Allahdiatas Seluruh MakhlukNya – Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan,M.A.)

Tautan: http://rodja.id/1qz 22Mb 1jm20mnt

Aqidah Ahlussunnah Tentang Sifat Allah Al-Istiwa –Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A.)

Tautan: http://rodja.id/1qy 29mb 1jm30mnt

AqidahAhlussunnah Tentang Dua Tangan Allah –Kitab Al-Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad NurIhsan, M.A.)

Tautan: http://rodja.id/1rl 22mb 1jm 17mnt

Bolehkah Menanyakan Dimanan Allah? – Kitab Al- Ibanah (Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan,M.A.)

Tautan: http://rodja.id/1rk 33Mb 1jm 26mnt

Kitab Al- Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah karya Syaikh Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari rahimahullah atau terkenal dengan sebutan Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah .

==

Aqidah Kaum Muslimin Meyakini Tingginya Dzat Allah Siapa yang Mengingkari Maka Dia Kufur Maka Terhapus Seluruh Amalannya

Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah , selain menyebutkan dalil-dalil didalam Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ketinggian Allah di atas makhluknya. Bersamaan dengan itu, beliau membantah dan menjelaskan kebatilan hujjah atau argumentasi yang dijadikan oleh ahlul kalam untuk mengingkari sifat ketinggian tersebut.

Membantah keyakinan orang-orang yang mengatakan Allah berada dimana-mana. Atau Allah bertempat dimakhluknya atau juga Allah menyatu dengan makhluknya. Yang demikian itu adalah aqidah yang batil. Kekufuran yang bertentangan dengan aqidah kaum muslimin yang meyakini ketinggian Allah subhanahu wa ta’ala .

Suatu hal yang batil dan merupakanpernyataan yang kufur (MENGELUARKAN pelakunya dari AGAMA ISLAM dan MENGHAPUSKAN PAHALA AMALNYA, Juga menjadikan PELAKUNYA KEKAL DI NERAKA , serta menjadikan HALAL DARAH PELAKUNYA DAN HARTANYA ) ketika ada yangmengatakan, “Allah dimana-mana” “Allah Bertempat di MakhlukNya” “Allah menyatu denganmakhlukNya”. Maha Suci Allah dari aqidahwihdatul wujud . Oleh karena itu wajib bagikita meyakini tingginya dzat Allah, itu adalahaqidah ahlussunnah wal jama’ah. AqidahImam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah dan aqidah imam-imam sebelum beliau danyang datang setelah beliau.

Ini merupakan perkara yang merupakan konsesus ahlussunnah dan aqidah yang telah terpatri dalam hati setiap manusia yang masih lurus fitrah dan hatinya. Karena hal ini perkara yang merupakan fitrah yang Allah.ciptakan manusia diatas fitrah tersebut

 ==

Ketinggian Allah Di Atas Seluruh MakhlukNya

Arti dari Istiwa adalah Al ‘Uluw yaitu Maha Tinggi di atas ‘Arsy. Sifat istiwa adalah sifat yang berkaitan dengan masyiah (kehendak)

Allah subhanahu wa ta’ala . Sebelum penciptaan langit dan bumi, Allah belum ber- istiwa di atas ‘Arsy. Kendati sifat Allah yang selalu menyertai diri-Nya yaitu sifat dzatiyah , yaitu Maha Tinggi. Inilah aqidah ahlussunnah.

Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala baru berkehendak untuk berada di atas ‘Arsy-Nya tkala Allah telah menciptakan langit dan bumi.

ﺍﻟﻠَّـﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ ﻭَﻣَﺎ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻓِﻲ ﺳِﺘَّﺔِﺃَﻳَّﺎﻡٍ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯٰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ۖ …

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam.enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. … ” (QS. As-Sajdah[32]: 4)

Maka sifat Istiwa ini adalah sifat yang dimiliki oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan ini berkaitan dengan kehendak Allah subhanahu wa ta’ala karena sebelumnya Allah subhanahu wa ta’ala belum ber -istiwa di atas ‘Arsy-Nya.

Sifat Istiwa ini diimani oleh ahlussunnah wal jama’ah sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah. Hal ini sebagaimana prinsip aqidah ahlussunnah dalam mengimani sifat- sifat Allah. Bahwa tingginya Allah di atas‘Arsy , sesuai dengan kebesaran dan keagungan Allah. Dan Allah tidak membutuhkan kepada ‘Arsy . Bahkan ‘Arsy adalah makhluk yang paling besar. Tegaknya ‘Arsy , malaikat yang memikul ‘Arsy , semua itu hanya dengan izin Allah. Tanpa izin Allah subhanahu wa ta’ala , ‘Arsy tidak akan tegak dan juga malaikat tidak akan bisa memikul ‘Arsy tersebut

Jadi aqidah ahlussunnah dalam sifat.Istiwa yang artinya Maha Tinggi, tinggi di.atas ‘Arsy tanpa membutuhkan ‘Arsy.tersebut. Hal ini berbeda dengan manusia, makhluk bisa berada di atas kendaraan, kapal, kuda, atau di atas kursi, bila kursi jatuh maka dia akan jatuh juga. Bila kapal tenggelam, maka makhluk akan ikut tenggelam karena dia membutuhkan.

==

Allah Mempunyai Dua Tangan Jangan Di Ta’wil dengan Berilmu Seperti Kaum Nasrani

Kata Imam Abul Hasan al-Asy’ari setelah menjelaskan dalil tentang sifat wajah Allah dan juga kedua mata Allah, beliau menyebutkan bahwa kaum Jahmiyyah.mengingkari Allah memiliki wajah sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala . Selain itu, mereka juga mengingkari bahwa Allah memiliki pendengaran, penglihatan dan juga mata.

Perkataan sekte-sekte yang mengingkari sifat Allah itu sesuai dengan perkataan kaum.Nasrani. Orang Nasrani tidak menetapkan bagi Allah “Yang Maha Mendengar”, “Maha Melihat”, kecuali dengan makna bahwa Dia berilmu. Jadi mereka tidak membedakan antara berilmu dengan pendengaran dan penglihatan. Begitu juga kaum Jahmiyyah.

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa sumber dari kesesatan kaum Jahmiyyah dan.ahlul kalam adalah dari orang-orang filsafat. Bukan dari Islam.

Mengimani apa yang diimani didalam Al-Qur’an dan Sunnah. Adapun mereka telah.terpengaruh dengan pemikiran kaum filsafat Yunani dan kaum Jahmiyyah sehingga mereka.mengikuti pemikiran-pemikiran ahlul kalam.

Oleh karena itu mereka terjerumus kedalam aqidah yang menyimpang dari Al-Qur’an dan Sunnah. Jahmiyyah juga mengatakan bahwa Allah tidak memiliki ilmu, tidak juga memiliki kekuatan. Mereka mengingkari semua sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala .

Kita memahami makhluk dengan segala kekurangan dan keterbatasan mereka bahwa tidak ada satupun yang diciptakan oleh Allah kecuali memiliki sifat. Berbeda sifat mereka yang satu dengan sifat mereka yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan Allah sang pencipta dan maha sempurna kemudian Dia tidak memiliki sifat? Adakah pernyataan perkataan yang lebih dahsyat yang menghinakan, menyamakan dan merendahkan Allah lebih dari makhluk. Kalau makhluk yang lemah saja dengan segala keterbatasan dalam sifat mereka, mereka tetap memiliki pendengaran, pandangan dan juga ilmu. Kendati pendengaran, pandangan dan ilmu kita terbatas, kemudian Allah yang menganugerahkan sifat tersebut kepada makhluknya tidak memiliki Sifat

==

Menanyakan Dimana Allah Boleh Karena Berkaitan dgn Iman dan Aqidah

Beliau menutup pembahasan tentang ketinggian Allah subhanahu wa ta’ala dengan hadits pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang budak wanita. Dan dengan jawabannya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghukumi bahwa seorang budak wanita tersebut adalah seorang mukminah.

Hadits tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu ta’ala . Mu’awiah bin Hakam memiliki seorang budak yang menggembalakan kambingnya di sekitar gunung Uhud. Pada suatu hari beliau datang memantau kondisi budak tersebut. Ternyata dia mendapatkan seekor kambing telah dimakan srigala. Maka dia marah kepada budak tersebut dan ingin memerdekakannya.

Akan tetapi dia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengadukan hal tersebut. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta Mu’awiah bin Hakam untuk membawa budak tersebut menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala budak tersebut sampai di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya.

Pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah pertanyaan yang berkaitan dengan aqidah. Yang dengan jawabannya, terbukti bahwa budak tersebut adalah seorang yang mukmin.

Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari rahimahullahu ta’ala menjelaskan hal ini, para ulama telah meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa seorang budak wanita yang hitam. Lalu dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya.. Rasulullah, aku ingin memerdekakannya sebagai kafarat. Apakah boleh aku memerdekakannya? ” Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada budak wanita tersebut,” Dimana Allah? “. Budak wanita itu menjawab, “Di langit “. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa aku? “. Ia menjawab, “Engkau Rasulullah “. Lalu Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Merdekakan budak tersebut. Sesungguhnya dia adalah seorang budak wanita yang mukminah”.

Perhatikanlah, kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya “dimana Allah” kepada.budak tersebut? Kemudian kenapa jawaban

budak tersebut “Di langit”?. Hal ini.menunjukkan kepada kita bahwa ternyata pertanyaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.“dimana Allah” adalah pertanyaan yang benar, pertanyaan yang berkaitan dengan iman dan.aqidah. Jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum dan berbicara dengan wahyu, menanyakan hal ini kepada budak.tersebut. Kemudian menjadikan jawabannya sebagai bukti keimanannya, maka hal ini menunjukkan kepada kita tanpa ada keraguan Sedikitpun. Bahwa menanyakan tentang Allah.dengan pertanyaan “dimana”, itulah pertanyaan yang benar. Pertanyaan yang syar’i, bukan pertanyaan yang diharamkan

==

SIAPA YANG RELA; NEGRI NABI NYA DIHINA

( hanya SYIAH rafidhoh yang berani mencaci nabi )

Sudah pasti Allah mengetahui di mana Nabi Nya di utus dan siapa sahabat Nya serta di tanah mana Dia di kuburkan. Itu semua bukan sekedar kebetulan, tetapi ada skenario indah dari Allah azza wa jalla yang sudah tersedia dari duhulu kala..Saudi Arabia secara umum dan makkah madinah secara khusus adalah kota di mana sang Baginada mengukir sejarah perjuangan dan pengorbanan yang tiada duanya. Cukup lah sejarah yang membuktian kepada kita betapa Allah memilih Nabi Nya di negri tersebut sebagai ajang dakwah.

Bahkan Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam senentiasa merindukan negri kelahiran dan negri hijrah Nya tersebut. Tetapi sayang seribu sayang, masih ada kaum muslimin.yang kurang pandai mencintai dan menghormati Nabinya. Kita mencintai dan menghormati Nabi serta mencintai apa-apa yang di cintai Nabi, dan Nabi mencintai negrimNya, maka kita pun mencintai negri yang Nabi cintai. Bukan kan itu sebuah bentuk kecintaan dan penghormatan ???.

Tetapi masih kita dengar :

Negri Nabi dibilang WAHABI

Negri Nabi dibilang ANTEK YAHUDI

Negri Nabi budak AMERIKA dan lain sebagainya.

Semoga Allah mengampuni dan mengumpulkan kita bersama para Nabi, ulama, syuhada dan orang-orang sholeh.

Oleh Ariful Bahri

(Lanjut di halaman 2)