Manhaj Salaf Dalam Menyikapi Ikhtilaf Bag(1)

Alhamdulillah

Bismillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

Ust. Mizan Qudsiyah-Termasuk Syirik Akbar Taat Pada Guru Kiyai Ustadz Ulama yg Menyelisih Al-Qur’an dan Sunnah

KAJIAN KITAB TAUHID: BAB 38

siapa mentaati ulama dan umara dalam mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau Menghalalkan apa yang diharamkan Allah berarti dia telah menjadikan mereka Tuhan selain Allah alias SYIRIK AKBAR

Ustadz Abdul Basith,Lc -Hafizhahullah- 24 MB 1Jam 42Mnit

Link download : http://bit.ly/2DFXM0y

MANHAJ SALAF DALAM MENYIKAPI IKHTILAF: Ustadz Abu Ubaidah as-Sidawie Hafizhahullah- 36,4 MB 2jam 3mnit

Link download : http://bit.ly/2qkA1ra

Fiqih Ikhtilaf, Indahnya Persatuan BuruknyaPerpecahan (Anas Burhanuddin, MA)

Adab Dalam Ikhtilaf (DR. Firanda Andirja, MA)


Adab dalam Ikhtilaf Oleh Ustadz Firanda Andirja,MA

==

APABILA ULAMA BERSELISIH

Perbedaan yang terjadi di kalangan ulama disikapi beragam oleh manusia. Ada yang bersikap adil, ada pula yang bersikap ghuluw.

Agar kita tidak salah dalam menyikapi khilaf, dan jangan sampai khilaf menjadi alasan seseorang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar, atau bahkan berlindung dibalik khilaf untuk mencari-cari rukhsoh sebagaimanaperbuatan Zindiq, maka pahamilah beberapa poin berikut.

➡ [1] PERINTAH UNTUK BERSATU

Berselisih memang sudah menjadi sunnatullah yang berjalan pada manusia. Namun demikian, syariat telah memerintahkan kepada kita agar bersatu dan tidak bercerai berai. Ada banyak ayat dan hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan demikian, di antaranya adalah: firman Allah ta’ala:

(( ﻭَﺍﻋْﺘَﺼِﻤُﻮﺍ ﺑِﺤَﺒْﻞِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻭَﻻ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮﺍ ))

berpegang teguhlah kalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah” (Ali Imron: 103)

Dan hadis Nabi ﷺ :

( ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻋَﺔُ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ، ﻭَﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺔُ ﻋَﺬَﺍﺏٌ )

berjamaah (bersatu) adalah rahmat dan bercerai berainadalah azab” lihat silsilah ash-shohihah (II/276 no.667) Serta hadis Nabi ﷺ yang memerintahkan kita agar berpegang teguh dengan sunah Nabi dan Khulafaurrosyidin setelah beliau ﷺ menjelaskan bahwa sepeninggalnya akan terjadi perselisihan yang banyak.

ﻓَﺈِﻧَّﻪُ ﻣَﻦْ ﻳَﻌِﺶْ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﻓَﺴَﻴَﺮَﻯ ﺍﺧْﺘِﻼﻓًﺎ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ، ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺴُﻨَّﺘِﻲﻭَﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺑَﻌْﺪِﻱ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳﻦَ ﺍﻟْﻤَﻬْﺪِﻳِّﻴﻦَ، ﻭَﻋَﻀُّﻮﺍ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎﺑِﺎﻟﻨَّﻮَﺍﺟِﺬِ، ﻭَﺇِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﻭَﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺕِ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ، ﻓَﺈِﻥَّ ﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼﻟَﺔٌ .”ﻭﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ : “ﻭﻛﻞ ﺿﻼﻟﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ”

Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang masih hidup maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajiblah bagi kalian berpegang kepada sunahku dan sunahkhulafaur rosyidin yang diberikan petunjuk!

Gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hati terhadap perkara yang baru (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.” Dalam riwayat lainnya,”dan setiap kesesatan berada dalam neraka” H.R. Abu Daud (4607) Tirmidzi (2676) Ibnu Majah (43-44) lihat ash shohihah (2735)

➡ [2] APABILA TERJADI PERSELISIHAN MAKA BEDAKAN ANTARA KHILAF TANAWWU’ DAN KHILAF TADHOD

Imam ath-Thohawi berkata: “kemudian sesungguhnya macam-macam perpecahan dan ikhtilaf secara asal terbagi kepada dua macam: ikhtilaf tanawwu’ dan ikhtilaf tadhod.

Dan ikhtilaf tanawwu’ ada beberapa macam, di antaranya;

[1] apa saja yang dua perkataan atau dua perbuatan yang semuanya benar dan disyariatkan (kita dibolehkan memilih-pent.) Sebagaimana dalam qiroaat (baca Qur’an) yang para sahabat berselisih (di dalamnya) sehingga dihardik oleh nabi shallallahu alaihi wasallam:

kalian berdua benar” dan yang semisal (qiroat) juga yaitu ikhtilaf tanawwu’ dalam sifat azan, iqomah, doa istiftah, tempat/kapan sujud sahwi, (bacaan) tasyahud, sifat sholat khouf, takbir sholat ied, dan yang selainnya. Di mana seluruhnya disyariatkan, walaupun sebagiannya lebih utama dan afdhol dibandingkan sebagian yang lain

[2] diantara khilaf ini; apa yang setiap dari dua pendapat semakna dengan pendapat yang lain, akan tetapi kedua ungkapannya berbeda (maksudnya: pada hakikatnya tidak ada perbedaan, yang beda hanya ungkapannya saja-pent.)… (syarh al-Aqidah ath-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi (II/778) tahqiq: Abdullah Atturki dan Syu’aib al- arnauth, cet. muassasah ar-Risalah

Khilaf semacam ini pada hakikatnya ini bukanlah perselisihan. dalam model pertama: syariat menjelaskan bahwa seseorang boleh memilih dari beberapa macam alternatif praktek amal ibadah. Oleh karena itu pada jenis inilah seseorang tidak boleh mengingkari orang lain yang melaksanakan model lain dalam ibadah. Dan dalam model kedua, perselisihan terletak dalam istilah saja, yang hakikatnya sama

✅ Kemudian Imam ath-Thohawi berkata:

Adapun ikhtilaf tadhod: dia adalah dua pendapat yang saling bertentangan, bisa terjadi dalam masalah ushul, dan bisa dalam masalah furu’ -menurut pendapat jumhur yang mengatakan: yang benar (dari para mujtahid yang berselisih) hanya satu pendapat.-….(syarh al-Aqidah ath-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi (II/779) )

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin – rahimahullaah- menjelaskan perbedaan keduanya: “atas.dasar itu maka ikhtilaf tadhod tidak mungkin digabungkan antara dua pendapat; tidak dalam jenisnya, tidak dalam macamnya, terlebih lagi dalam individunya. Dan ikhtilaf tanawwu’ maknanya adalah ikhtilaf ini bisa digabungkan antara dua pendapat dalamjenisnya akan tetapi berbeda dalam macamnya. Maka jenisnya disepakati akan tetapi macamnya yang berbeda. Oleh karena itu perkara ini bukanlah disebut ikhtilaf, karena masing-masing menyebutkan macamnseakan-akan sedang memberikan contoh.” (syarh muqoddimah tafsir Ibn Taimiyah, Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin, (hlm 30)

Oleh karena itu maka perselisihan dalam kaifiyat turun sujud, qunut subuh, adalah ikhtilaf yang saling bertolak belakang. Apabila anda berpendapat bahwa turun sujud harus mendahulukan tangan dibandingkan lutut berarti anda menganggap bahwa apabila seseorang mendahulukan lutut maka ia masuk dalam larangan Nabi ﷺ sholat seperti turunnya unta, dan begitu pula sebaliknya. Apabila anda berpendapat bahwa tidak disyariatkannya qunut subuh maka konsekuensinya adalah orang yang melakukan qunut subuh terjatuh.dalam perbuatan bid’ah. Dan tidak mungkin kalau digabungkan kedua pendapat tersebut. Karena akan menggabungkan dua hal yang saling bertolak belakang. Nanti akan di jelaskan dalam pasal khusus insya Allah.

➡ [3] APABILA TERJADI KHILAF TADHOD (PERSELISIHAN YANG KONTRADIKSI) MAKA … KEMBALIKANLAH KEPADA ALLAH DAN RASUL-NYA.

Apabila terjadi perselisihan di antara ulama, maka kita diperintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman:

(( ﻓَﺈِﻥْ ﺗَﻨَﺎﺯَﻋْﺘُﻢْ ﻓِﻲ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺮُﺩُّﻭﻩُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﺇِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ))

Apabila kalian berselisih dalam suatu permasalahan maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul apabila kalian beriman kepada Allah dan hari akhir” (an-Nisa: 59)

Bahkan Allah mengancam bagi mereka yang tidak mau tunduk kepada sunah Nabi dan tidak rela dengan keputusan Nabi dengan firmannya:

(( ﻓَﻠْﻴَﺤْﺬَﺭِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺨَﺎﻟِﻔُﻮﻥَ ﻋَﻦْ ﺃَﻣْﺮِﻩِ ﺃَﻥْ ﺗُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْ ﻓِﺘْﻨَﺔٌ ﺃَﻭْ ﻳُﺼِﻴﺒَﻬُﻢْﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺃَﻟِﻴﻢٌ ))

maka hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi perintahnya dari tertimpa fitnah atau tertimpa adab yang pedih” surat an-Nur: 63 Bahkan seluruh para Imam pun menyerukan agar manusia mengembalikan segala perselisihan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan melarang mengikuti mereka apabila bertentangan dengan dalil yang shohih.

Imam Asy-Syafi’I -rahimahullaah- berkata:

ﺃَﺟْﻤَﻊَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﺍﺳْﺘَﺒَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ ﺳُﻨَّﺔُ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ -ﺻَﻠَّﻰﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ- ؛ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺪَﻋَﻬَﺎ ﻟِﻘَﻮْﻝِ ﺃَﺣَﺪٍ

Para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa barangsiapa yang jelas sunah Rasulullah -shallallaahu alaihi wa salam- baginya; maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan Sunnah tersebut dikarenakan mengikuti perkataan seseorang.”

✅ Dan perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah:

ﻻَ ﺗُﻘَﻠِﺪْﻧِﻲْ، ﻭَﻻَ ﺗُﻘَﻠِّﺪْ ﻣَﺎﻟِﻜًﺎ، ﻭَﻻَ ﺍﻟﺸَّﺎﻓِﻌِﻲَّ، ﻭَﻻَ ﺍﻷَﻭْﺯَﺍﻋِﻲَّ، ﻭَﻻَﺍﻟﺜَّﻮْﺭِﻱَّ ! ﻭَﺧُﺬْ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﺃَﺧَﺬُﻭْﺍ !!

Janganlah engkau taqlid kepadaku, jangan pula kepada Malik, Asy-Syafi’i, Al-Auza’i, ataupun Ats-Tsauri! Ambillah (hukum) dari sumber yang mereka mengambil darinya (yakni: dalil-dalil)!!” [Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabi, karya Imam Al-Albani -rahimahullaah- hlm. 45,47]

Para ulama bukan manusia ma’shum yang selalu benar dan tidak pernah terjatuh ke dalam kesalahan. Terkadang masing-masing dari mereka berpendapat dengan pendapat yang salah karena bertentangan dengan dalil. Mereka terkadang tergelincir dalam kesalahan.

Imam Malik -rahimahullaah- berkata:

ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺃَﻧَﺎ ﺑَﺸَﺮٌ ﺃُﺧْﻄِﺊُ ﻭَﺃُﺻِﻴْﺐُ، ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭْﺍ ﻓِﻲْ ﺭَﺃْﻳِﻲْ؛ ﻓَﻜُﻞُ ﻣَﺎ ﻭَﺍﻓَﻖَﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ؛ ﻓَﺨُﺬُﻭْﻩُ، ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻮَﺍﻓِﻖِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔَ؛ﻓَﺎﺗْﺮُﻛُﻮْﻩُ

Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, setiap yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah; maka ambillah. Dan setiap yang tidak sesuai dengan Al- Qur’an dan As-Sunnah; maka tinggalkanlah..”[Lihat: Muqaddimah Shifatush Shalaatin Nabi, karya Imam Al-Albani -rahimahullaah- hlm. 44]

Di era sekarang, banyak sekali spesies yang menolak sunah nabi ﷺ dengan alasan bahwa ada perbedaan pendapat, ada ulama yang berpendapat lain, ini kan masalah khilaf, dan perkataan yang semisalnya. Tidak lain mereka menolak sunah ini kecuali didominasi oleh hawa nafsunya. Yang kita takutkan kalau spesies ini masuk dalam sebuah permasalahan yang dijelaskan dalam kitabut tauhid: “bab: barang siapa yang mentaati ulama dan pemimpin dalam mengharamkan apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan apa yang diharamkan Allah maka ia telah menjadikan mereka tuhan-tuhan tandingan selain Allah”

Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab membawakan atsar dari Ibnu Abbas: “hampir saja kalian dihujani batu dari langit, aku berkata: Rasulullah bersabda, sedangkan kalian berkata: “telah berkata Abu bakar dan Umar?” Syaikh Abdurahman bin Hasan berkata: “dalam perkataan Ibnu Abbas ada faedah yang menunjukkan bahwa siapa saja yang telah sampai dalil kepadanya dan tidak menerimanya karena taklid kepada imamnya MAKA WAJIB DIINGKARI DENGAN KERAS karena menyelisihi dalil.” (Fathul majid (hlm. 453) tahqiq Dr. Al-Walid alu Furoyyan) (lanjut di hal2)