Mengungkap Kejahilan Dan Kedustaan Serta Bahaya Pemahaman Sesat Maher At Thuwailibi

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

Mengungkap Kejahilan Dan Kedustaan Abu Husein At-Thuwailibi

Berkata Benar dan Jangan Dusta• 

Bantahan Ilmiah Fatwa Ust.Abdul Somad bolehnya Adzan menggunakan Lafazh “Sayyiduna” ???1. 

2. Bantahan Ilmiah Boleh Isbal Asal.Tidak Sombong Kata Ustadz Abdul Somad & Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Menggunakan Pakaian di Atas Mata Kaki, Bahkan Hingga Di Tengah Betis

3. Aqidah Al-Imaam Asy-Syafi’iy rahimahullah vs Aqidah Mu’aththilah(PARA PENOLAK SIFAT)Ustadz Abdul Somad Tentang Allah Ta’ala Tidak punya Wajah,Tangan dan Kaki.
4. Antara Ust. Abdul Somad,Bidah hasanah,Kisah Bilal (pro Nabi, Sahabat,Imam Salaf)
5. Antara Ust. Abdul Somad, MA,Masalah Istiwaa,Aqidah Asy’ariyyah,Mu’tazilah, & Imam Abul Hasan al-Asy’ary (pro Nabi, Sahabat, serta Imam-Imam Salaf)
6. Antara Ust. Abdul Shomad, Hukum Mendengar Musik Metal, Allah & RasulNya, Para Salafush Shalih Membantah,Mengingatkan Fitnah Bahaya Musik

7. Mewaspadai Ustadz, Kiyai,Habib,Da’i Ruwaidah(Penyeru Kepada Neraka Jahanam)

8.
Antara Ustadz Adi Hidayat,Nabi
Sama Sekali Tidak Pernah Shalat
Tahiyyatul Masjid Seumur Hidup, Sifat
istiwa’ Allah di Atas
‘Arsy,Musik,Takdir,Sifat Nuzul
Allah,dll(Pro Nabi dan Sahabat)

==

Keadaan Orang- Orang Yang Menyelisihi Manhaj Salaf – Al-Ishbah(Ustadz Kurnaedi, Lc)10Mb 43mnit


Tautan: https://www.radiorodja.com/?p=30167

==

➡ Orang-orang yang menyelisihi manhaj salaf dalam beragama, mereka terjatuh dalam dua hal. Yaitu Al-Ghuluw dan Al-Irja’.

Ghuluw artinya berlebih-lebihan dan Al-Irja’ berarti berkurang-kurang.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

ﻗُﻞْ ﻳَﺎ ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺎ ﺗَﻐْﻠُﻮﺍ ﻓِﻲﺩِﻳﻨِﻜُﻢْ ﻏَﻴْﺮَ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻭَﻟَﺎ lﺗَﺘَّﺒِﻌُﻮﺍﺃَﻫْﻮَﺍﺀَ ﻗَﻮْﻡٍ ﻗَﺪْ ﺿَﻠُّﻮﺍ ﻣِﻦ ﻗَﺒْﻞُﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺿَﻠُّﻮﺍ ﻋَﻦ ﺳَﻮَﺍﺀِﺍﻟﺴَّﺒِﻴﻞِ ﴿٧٧﴾

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang- orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. ” (QS. Al-Maidah [5]: 77)

Pada ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkata kepada Ahli Kitab. Yaitu kepada Yaduhi dan Nasrani. Al-Kitab yang dimaksud di sini adalah Taurat dan Injil.

Syaikh Utsaimin menyebutkan beberapa faidah dari ayat di atas, yaitu:

Pertama, bahwa Ahli Kitab memiliki ghuluw. Yakni sikap berlebih-lebihan. Diantara sifat yang dicontohkan adalah dimana Yahudi menjadi Uzair sebagi anak Tuhan. Nasrani menjadikan Isa bin Maryam sebagai anak Allah juga. Kemudian diantara sikap ghuluw juga adalah mereka menjadikan rahib-rahib mereka sebagai tandingan-tandingan Allah subhanahu wa ta’ala .

Kedua, Allah subhanahu wa ta’ala melarang Ahli Kitab dari berbuat ghuluw. Tentunya ini juga merupakan larangan kepada kita kaum muslimin.

Ketiga, sikap ghuluw tidak dibenarkan dalam Islam. Islam berada dipertengahan.

Keempat, larangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tersesat.

Kelima, yang mendorong orang memasuki kesesatan adalah hawa nafsu. Orang yang memperturutkan hawa nafsunya, adalah orang-orang yang tersesat

===

➡ Kerusakan Akidah dan Akhlak Al Kadzdzab Al Wasikh Maher At Thuwailibi

Tulisan Ini Sebagai bentuk nasehat kepada umat agar mereka tidak terjerumus dalam kesalahan beliau._
_Muhammad ibn Bundar pernah berkata kepada al-Imam Ahmad : “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya saya merasa berat hati untuk mengatakan ‘si fulan pendusta!!’.” Ahmad menjawab : “Seandainya kamu diam dan saya juga diam, lantas.kapan orang yang jahil mengetahui mana yang benar dan mana yang salah?!! (Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah al-Baghdadi hlm. 63 , al- Abathil wal Manakir al-Jauzaqani 1/133, al-Maudhu’at Ibnul Jauzi 1/43, Syarh ’Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab hlm. 88)._
_Bangkitlah wahai jiwa untuk membela agama Allah, walau akan banyak komen negatif yang akan kau hadapi._

_Pernah ada seorang berkata kepada Yahya bin Main : ” Apakah engkau tidak khawatir bila orang-orang yangnengkau kritik tersebut kelak menjadi musuhmu di hari kiamat ?.

Beliau menjawab : “Bila mereka yang menjadi musuhku jauh lebih kusenangi daripada Nabi yang menjadi musuhku, tatkala.beliau bertanya padaku: ” Mengapa kamu tidak membela sunnahku dari kedustaan?!!! “.(Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah, al-Khathib al Baghdadi hal. 6)._

_Alangkah indahnya ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berikut dalam Nuniyyah-nya (196–200),_

_Tegarlah dengan ucapan Rasul dan janganlah khawatir Karena sedikitnya kawan dan teman Allah Penolong agama-Nya dan kitab-Nya Allah Menjamin keamanan bagi hamba-Nya Janganlah takut tipu daya musuh dan makar mereka Karena senjata mereka hanyalah tuduhan dan kedustaan_

_Pasukan pengikut Rasul adalah para malaikat Adapun pasukan mereka adalah bala tentara setan Alangkah jauh perbedaan antara dua pasukan tersebut Barang siapa mundur maka hendaknya melihat dua pasukan tersebut_
Semoga Allah menjadikan tulisan ini ikhlas murni hanya mengharapkan wajah Allah dan bermanfaat bagi hamba-hamba Allah. Amin

Nasehat ini saya tujukan kepada kaum Muslimin para pengagum Al Kadzdzab Al Wasikh Maher At Thuwailibi, agar kiranya menjadi pertimbangan dalam mencari teman atau tempat menimba ilmu agama. Karena berapa banyak orang celaka karena teman atau guru. Dan melalui tulisan ini saya berusaha menumpahkan kasih sayangku kepada kaum Muslimin dari bahaya pemahaman sesat Maher At Thuwailibi yang akan merusakkan aqidah dan akhlaq kalian bila kalian dekat dengan orang ini.

➡ Kerusakan parah yang ada pada aqidah dan akhlaqnya ialah :
➡ 1. Dia melakukan gerakan anti terhadap Da’wah Salafiyah dengan menggelari orang-orang yang berusaha mengikuti jejak Salafus Shaleh dengan TALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BINASA). Sedangkan SALAFI (ARTINYA : ORANG YANG BERUSAHA MENGIKUTI JEJAK PARA SAFUS SHALEH).
Wahai sekalian Kaum Muslimin, SALAFI itu sesungguhnya adalah simbul perjuangan atau target perjuangan. Jadi kalau ada orang yang menggelari dirinya SALAFI, bukan berarti bahwa dia telah mengikuti seratus persen jejak hidup para Salafus Shaleh. Jadi makanya SALAFI itu ada yang baru sedikit mengikuti jejak para Salafus Shaleh, dan akhlaqnya masih terbawa oleh tabiat asalnya yang jelek. Namun aqidahnya sudah berpegang dengan prinsip AL WALA’ WAL BARA (Cinta Kepada Tauhid Dan Ahlut Tauhid Serta Benci Kepada Syirik Dan Ahlus Syirik, Cinta Kepada Sunnah Dan Ahlus Sunnah Serta Benci Kepada Bid’ah Dan Ahlul Bid’ah). Semoga dengan bertambahnya ilmu tentang Salafus Shaleh, mereka akan terus memperbaiki peri hidup mereka dalam upaya meneladani peri hidup para Salafus Shaleh.

Namun Al Kadzdzab al Waskh Maher At Thuwailibi ketika melihat kesalaha- kesalahan mereka, langsung saja mencap mereka sebaga TALAFI. Dan dia tidak bisa menyembunyikan kebenciannya kepada SALAFI , ketika dia menyataka bahwa SALAFI itu singkatan dari SAhabat LAma FIr’aun. Padahal SALAFI itu dengan berbagai kekurangannya, tetap lebih baik daripada KHALAFI (ORANG YANG MENYELISIHI PARA SALFUS SHALEH).

Karena SALAFI adalah orang-orang yang berusaha mewarisi ilmu dan amal para Salafus Shaleh. Walaupun diantara mereka itu ada yang dzalim dan ada pula yang sedang semangatnya dalam mengikuti jejak para Salafus Shaleh dan ada pula darl mereka yang semangatnya penuh untuk mengikuti dan menggali ilmu dan amal para Salafus Saleh. Maka kalian sangat besar dosanya bila menganggap mereka dengan emosi kemarahan kalian sebagai TALAFI atau SAHABAT LAMA FIRAUN.

Allah Ta’ala membagi tingkatan orang-orang Yang mewarisi kitab dalam tiga golongan :

ثم أورثنا الكتاب الذين اصطفينا من عبادنا فمنهم ظالم لنفسه ومنهم مقتصد ومنهم سابق بالخيرات بإذن الله ذالك هو فضل الكبير. – فاطر 32.

Kemudian Kami wariskan kitab ini kepada orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami, maka dari mereka ada yang dzalim terhadap diri mereka sendiri dan ada pula dari mereka yang sederhana dalam amalannya dan dari mereka ada yang melampaui yang lainya dalam kebaikan dengan izin Allah, yang demikian itu adalah keutamaan yang sangat besar”. (QS. Fathir 32).
Maka Ahlul Istifa’ (orang yang dipilih oleh Allah untuk mewarisi kitabNya) ada tiga golongan yaitu : a. Dzalimun linafsihi (yang dzalim terhadap dirinya dengan berbuat dosa)- b. Muqtashid (yang sederhana dalam mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah)- c. Sabiqun bilkhairat (yang melampaui lainnya dalam kebaikan).
➡ 2. Si Al Kadzdzab Al Waskh ini pandai bermain kata atau karena bodohnya dia dalam memahami apa yang saya terangkan dalam ta’lim saya itu. Sesungguhnya saya menyatakan : Adanya orang-orang yang terganggu dengan semakin luasnya da’wah Salafiyah, sehingga membangkitkan para Mutakallimin (Ahli Ilmu Kalam) yang menolak untuk beriman kepada sifat-sifat Allah dan para penentang Da’wah Salafiyah.
Jadi ada dua golongan yang terusik dengan semakin meluasnya da’wah Salafiyah, yaitu para Mutakallimun dan para penentang Da’wah Salafiyah. Sedangkan yang saya katagorikan para Mutakallimun yang menolak sifat Allah adalah Tengku Dzulqarnain dan Ustadz Abdus Shamad dan Habib Rizieq Syihab. Adapun yang saya katakan penentang Da’wah Salafiyah adalah Maher At Thuwailibi Al Kadzdzab Al Waskh.
Saya memang tahu bahwa orang ini pernah belajar Salaf di beberapa Ma’had Salaf dan kemudian diusir dari ma’had-ma’had itu karena berbuat kotor. Kemudian dia tampil sekarang, secara terang-terangan menyatakan kebenciannya kepada Da’wah Salafiyah.
➡ 3. Al Kadzdzab Al Waskh ini menganggap ringan atau menganggap remeh perbuatan mengingkari adanya sifat-sifat Allah, yaitu sifat ULUW (BERADA DI ATAS ) yaitu bahwa Allah berda di atas ArsNya. Dan ArsyNya berada diatas langit ke tujuh. Dia juga menganggap remeh perbuatan mengingkari sifat Allah : NUZUL (TURUN) yakni Allah Ta’ala turun dari ArsNya ke langit dunia di setiap sepertiga terakhir malam. Bahkan dia bangga sekali ketika dia bisa berteman dekat dengan orang-orang yang menentang sifat-sifat Allah Ta’ala itu. Apakah yang demikian ini bisa dikatagorikan sebagai pengikut jejak Salafus Shaleh ? Kalla wa haasyaa… Tidak mungkin dan jauh panggang dari api…

➡ 4. Al Kadzdzab AlWaskh ini menganggap bahwa menemui Abdus Shamad dan Tengku Dzulqarnaindan Habib Rizieq lebih penting dari pada meladeni sapaan ramah Kapolri Tito Karnafian. Kalian perlu tahu wahai kaum Muslimin bahwa meladeni dengan ramah sapaan pejabat tinggi Negara itu adalah “Afdhalul Jihad”, sebagaimana telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi waalihi wasallam :

أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر – رواه ابن ماجه في سننه ( الحديث رقم 4011) عن ابي سعيد الخدري. 

Seutama-utama jihad adalah kalimat yang benar yang diucapkan kepada penguasa yang dzalim”. Hr. Ibnu Majah (Al Hadits nomer 4011) dari Abi Sa’id Al Khudri radhiyallahu anhu. 
Meladeni sapaan penguasa dengan dan lemah lembut , adalah amalan yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala walaupun terhadap Fir’aun (sedzalim-dzalim penguasa) :

فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى – طه 44.

Maka katakanlah oleh kalian berdua (Musa dan Harun alaihimas salam) kepadanya (yakni kepada Fir’aun) dengan kata-kata yang lembut, semoga dengan kelembutan itu dia mengingat Allah atau takut kepada Allah”. (Thaha 44).

 Apakah mendatangi para penentang sifat-sifat Allah itu lebih penting dari pada menyambut sapaan hangat Kapolri dan kemudian berbincang dengannya ? Apakah berbincang dengan Kapolri itu dalam agama dianggap sebagai pertanda bahwa Ja’far Umar Thalib itu bermain di “dua kaki” ? Kalla wa haasya…..

(Lanjut ke halaman 2)