Menyorot Pandangan Tengku Zulkarnain Tentang Iman Bahwa Amal Bukan Syarat Sah Iman & Iman Menurut Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah



Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Tengkuzulkarnain Berkata Amal Perbuatan Bukan Syarat Iman

note: Awas Syubhat. Ana Berlepas Diri Jika Ada yang Terkena Syubhat Setelah Membaca Link Diatas
2. 5 (Lima) Perkara yang Dapat Meningkatkan Iman Seseorang

Keyakinan Iman Menurut Ahlus Sunnah

4. Iman mencakup ucapan lisan, keyakinan di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan (anggota tubuh).

5. Tengku Dzulkarnain Meyakini Allah diatas Arsy sama dengan keyakinan Yahudi dan Nasrani?Menyebut Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat dengan sebutan bodat (monyet). mami, babi, sun go kong…

==

Cabang-Cabang Keimanan-Syaikh ProfDR Abdur Rozzaq Al Badr12Mb

Cabang-Cabang Keimanan 01-Syaikh ProfDR Abdur Rozzaq Al Badr9Mb

Cabang-Cabang Keimanan 01-Syaikh ProfDR Abdur Rozzaq Al Badr7Mb

Kajian Hakikat Keimanan- Syaikh ProfDR Abdur Rozzaq Al Badr20Mb

Ust. Ahmad Zainudin-Konsekuensi Dari Keimanan

Kiat Meningkatkan Keimanan-Ust. Firanda Andirja

Ust. Mizan Qudsiyah-Pengaruh Maksiat Terhadap Keimanan

==

Iman Menurut Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Dalam keyakinan yang benar yaitu keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang sesuai pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat, iman itu tidak cukup keyakinan dalam hati, tetapi harus diucapkan di lisan dan dibuktikan dalam amal perbuatan anggota badan. Jadi, ada tiga komponen di dalam iman. Jika seseorang mengucapkan laa ilaha illallah, namun tiada amalan dalam hidupnya, seperti enggan untuk shalat sama sekali, maka pengakuannya sebagai muslim hanyalah pengakuan yang dusta.

Dalam hadits dari Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ ﺃَﻭْ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭَﺳِﺘُّﻮﻥَ ﺷُﻌْﺒَﺔًﻓَﺄَﻓْﻀَﻠُﻬَﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺃَﺩْﻧَﺎﻫَﺎ ﺇِﻣَﺎﻃَﺔُ ﺍﻷَﺫَﻯ ﻋَﻦِﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺀُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻹِﻳﻤَﺎﻥِ

Iman itu ada 70 atau 60 sekian cabang. Yangpaling tinggi adalah perkataan ‘laa ilaha illallah’ (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah), yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, dan sifat malu merupakan bagian dari iman .” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35).

Dalil yang menunjukkan keyakinan ahlus sunnah adalah hadits Abu Hurairah yang telah disebutkan di atas. Perkataan ‘laa ilaha illallah’ menunjukkan bahwa iman harus dengan ucapan di lisan. Menyingkirkan duri dari jalanan menunjukkan bahwa iman harus dengan amalan anggota badan. Sedangkan sifat malu menunjukkan bahwa iman harus dengan keyakinan dalam hati, karena sifat malu itu di hati. Inilah dalil yang menunjukkan keyakinan ahlu sunnah di atas. Sehingga iman yang benar jika terdapat tiga komponen di dalamnya yaitu (1) keyakinan dalam hati, (2) ucapan di lisan, dan (3) amalan dengan anggota badan.

==

MENYOROT PANDANGAN TENGKU ZULKARNAIN TENTANG IMAN

Tulisan Ini Sebagai bentuk nasehat kepada umat agar mereka tidak terjerumus dalam kesalahan beliau._
_Muhammad ibn Bundar pernah berkata kepada al-Imam Ahmad : “Wahai Abu Abdillah, sesungguhnya saya merasa berat hati untuk mengatakan ‘si fulan pendusta!!’.” Ahmad menjawab : “Seandainya kamu diam dan saya juga diam, lantas.kapan orang yang jahil mengetahui mana yang benar dan mana yang salah?!! (Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah al-Baghdadi hlm. 63 , al- Abathil wal Manakir al-Jauzaqani 1/133, al-Maudhu’at Ibnul Jauzi 1/43, Syarh ’Ilal Tirmidzi Ibnu Rajab hlm. 88)._

_Bangkitlah wahai jiwa untuk membela agama Allah, walau akan banyak komen negatif yang akan kau hadapi._

_Pernah ada seorang berkata kepada Yahya bin Main : ” Apakah engkau tidak khawatir bila orang-orang yang engkau kritik tersebut kelak menjadi musuhmu di hari kiamat ?.
Beliau menjawab : “Bila mereka yang menjadi musuhku jauh lebih kusenangi daripada Nabi yang menjadi musuhku, tatkala.beliau bertanya padaku: ” Mengapa kamu tidak membela sunnahku dari kedustaan?!!! “.(Al-Kifayah fi Ilmi Riwayah, al-Khathib al Baghdadi hal. 6)._

_Alangkah indahnya ucapan al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berikut dalam Nuniyyah-nya (196–200),_

_Tegarlah dengan ucapan Rasul dan janganlah khawatir Karena sedikitnya kawan dan teman Allah Penolong agama-Nya dan kitab-Nya Allah Menjamin keamanan bagi hamba-Nya Janganlah takut tipu daya musuh dan makar mereka Karena senjata mereka hanyalah tuduhan dan kedustaan_
_Pasukan pengikut Rasul adalah para malaikat Adapun pasukan mereka adalah bala tentara setan Alangkah jauh perbedaan antara dua pasukan tersebut Barang siapa mundur maka hendaknya melihat dua pasukan tersebut_
Semoga Allah menjadikan tulisan ini ikhlas murni hanya mengharapkan wajah Allah dan bermanfaat bagi hamba-hamba Allah. Amin

Kemarin pagi saya dikagetkan dengan sebuah tulisan yang dikirimkan seorang teman melalui whatsapp. Tulisan ini dibuat oleh seseorang yang cukup ditokohkan, yaitu tentang permasalahan iman. Pada tulisan itu penulisnya mengkritik orang-orang yang menurutnya telah melakukan kesalahan dalam persoalan iman dengan menjadikan amalan sebagai syarat sah keimanan. Namun pada kritikannya itu penulis tidak menempuh jalan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam menjelaskan hakikat iman, tapi sebaliknya malah membahayakan ummat dengan menambah kerancuan dan pengkaburan. Dan yang paling berbahaya menurut saya adalah penegasannya bahwa keimanan cukup dengan ucapan dan keyakinan. Adapun amalan perbuatan selain syahadatain tidak berpengaruh terhadap keabsahan iman selagi seseorang tidak melakukan kesyirikan atau kemurtadan!!

Dan agar tidak dituduh mengada-ada kami kutip perkataan penulis disini seperlunya;

Ia berkata menjelaskan ucapan Imam Abu Hanifah dan Asy-Syafi’i,“Tegasnya, dalam pandangan mereka, walaupun amal itu sendiri adalah bagian dari iman, tetapi bukan syarat bagi sahnya iman seseorang. Kalaupun ada tuntutan perlu ada amal dulu agar iman menjadi sah, tentu yang dimaksudkan amal disini adalah ‘amalan lidah’ ketika mengucapkan syahadat itu, bukan amalan lain!”

Ia juga mengatakan, “Selanjutnya, dalam akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah diyakini pula bahwa perbuatan dosa tidak menyebabkan iman seseorang menjadi batal. Artinya, orang tersebut akan tetap dalam golongan orang beriman walaupun telah berbuat banyak dosa, bahkan jika berbuat dosa besar sekalipun. Kecuali dosa syirik dan murtad saja yang akan menyebabkan iman seseorang batal dan butuh pembaharuan lagi.”

Tanggapan saya terhadap perkataan ini sebagai berikut;

Iman Menurut Akidah Ahlussunnah Wal Jama’ah

Para ulama salaf sepakat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan (amal). Ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati, lisan dan anggota badan. Dari definisi ini mereka memasukkan amalan/perbuatan kedalam pengertian iman dan sebagai bagian dari iman. Kemudian disamping itu mereka juga mengatakan bahwa keimanan seseorang tidak sah dengan hanya mencukupkan satu bagian dari tiga bagian iman saja tanpa mendatangkan yang lainnya semuanya. Demikian yang kami dapati dari perkataan Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (w. 204 H).Beliau rahimahullah berkata;

وكان الإجماع من الصحابة والتابعين من بعدهم ومن أدركناهم يقولون : الإيمان قول وعمل ونية لا يجزئ واحد من الثلاث إلا بالآخر

Para shahabat dan tabi’in setelahnya dan orang-orang yang kami temui sepakat mengatakan; “Iman adalah ucapan dan perbuatan dan niat, tidak sah salah satu dari ketiga bagian ini tanpa disertai yang lainnya.” Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlis-Sunnah (5/957) no. 1593. Cetakan ke delapan Daar Thaybah.

Menurut teks ucapan Al Imam Asy-Syafi’i rahimahullah ini keimanan tidak dianggap sah hanya dengan ucapan saja tanpa diikuti dengan perbuatan  dan niat (keyakinan), atau hanya dengan perbuatan saja tanpa ucapan dan niat dan begitu seterusnya sampai seseorang mendatangkan ketiga-tiganya.

Dari sini terlihat teranglah perbedaan penulis dengan Al Imam Asy-Syafi’i dalam pendefinisian hakikat iman.

Point lainnya penulis mengatakan bahwa dimasukkannya amalan ke dalam pengertian iman adalah amalan lisan bukan anggota badan. Ia berkata; “Kalaupun ada tuntutan perlu ada amal dulu agar iman menjadi sah, tentu yang dimaksudkan amal disini adalah ‘amalan lidah’ ketika mengucapkan syahadat itu, bukan amalan lain!”

Padahal salaf seluruhnya memasukkan (menggolongkan) perbuatan/amalan sebagai bagian dari iman, perbuatan lisan dan anggota badan. Sedangkan diatas terang-terangan penulis justru mengeluarkan perbuatan anggota badan dari hakikat iman.

Berikut saya kutip beberapa perkataan ulama terdahulu yang berbicara tentang iman menurut akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, agar jelas dihadapan pembaca perbedaan iman menurut penulis dengan iman menurut ulama salaf.

Perbuatan/amalan adalah rukun dan bagian yang tidak terpisah dari iman

✅ 1- Al Imam Al Muzani rahimahullah (w. 264 H) murid Al Imam Asy Syafi’irahimahullah berkata;

والإيمان قول وعمل وهما سيان ونظامان وقرينان، لا نفرق بينهما، لا إيمان إلا بعمل، ولا عمل إلا بإيمان

Dan iman adalah ucapan dan perbuatan/amalan. Keduanya merupakan dua bagian dan bangunan dan saling bersandingan. Kami tidak memisahkan antara keduanya. Tidak ada iman kecuali dengan perbuatan/amalan. Dan tidak ada perbuatan kecuali dengan iman.” Syarah Sunnah Al Muzani (halaman 83) Cetakan pertama Maktabah Daar Al Minhaj, tahun 1430 H

✅ 2- Al Imam Ibnu Abi Hatim Ar-Razirahimahullah (w. 327 H) berkata;

Saya bertanya kepada bapakku (Al Imam Abu Hatim Ar-Razi rahimahullah) (w. 277 H) dan (Al Imam) Abu Zur’ah (w. 264 H) tentang mazhab-mazhab Ahlussunnah berkenaan dengan pokok-pokok agama dan yang mereka berdua dapati dari para ulama di semua negeri dan apa yang mereka berdua yakini tentang persoalan ini. Kedua mereka berkata;

أدركنا العلماء في جميع الأمصار حجازا وعراقا ومصرا وشاما ويمنا فكان من مذهبهم أن الإيمان قول وعمل يزد وينقص

Kami dapati para ulama di semua negeri Hijaz, Iraq, Mesir, Syam, Yaman semua berpendapat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan/amalan, bertambah dan berkurang.”  Ushul As-Sunnah wa’tiqadud-Diin, halaman 131 Cetakan Dar Al Kotob Al Ilmiyah

Perbuatan/amalan mencakup perbuatan lisan dan perbuatan anggota badan

✅ 3- Al Imam Abu Bakr Al Aajurryrahimahullah (w. 360 H) berkata;

اعلموا رحمنا الله تعالى وإياكم: أن الذي عليه علماء المسلمين أن الإيمان واجب على جميع الخلق، وهو تصديق بالقلب، وإقرار باللسان، وعمل بالجوارح.ثم اعلموا أنه لا تجزيء المعرفة بالقلب والتصديق إلا أن يكون معه الإيمان باللسان نطقا، ولا تجزيء معرفة بالقلب ونطق باللسان حتى يكون عمل بالجوارح، فإذا كملت فيه هذه الثلاث الخصال كان مؤمنا. دل على ذلك الكتاب والسنة وقول علماء المسلمين

Ketahuilah, semoga Allah merahmati kita; Yang menjadi pegangan ulama muslimin adalah bahwa keimanan itu wajib atas setiap makhluk. Yaitu membenarkan dengan hati, mengakui dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Kemudian ketahuilah bahwa pengenalan dengan hati dan pembenaran tidak mencukupi (tidak sah) kecuali apabila disertai dengan keimanan dengan lisan yaitu mengucapkan (syahadatain). Dan pengenalan hati serta pengucapan lisan tidak mencukupi (tidak sah)sampai diiringi dengan perbuatan/amalan anggota badan.Kapan ketiga bagian ini terpenuhi maka dia orang beriman. Dalil akan hal ini Al Kitab dan As-Sunnah dan ucapan ulama muslimin.” Asy-Syari’ah (2/611) cetakan kedua 1420 H, Daar Al Wathan.

Maka jelaslah bahwa perbuatan/amalan yang merupakan tuntutan iman menurut Ahlussunnah wal Jama’ah bukan semata-mata perbuatan lisan seperti yang disangkakan penulis, tapi juga mencakup perbuatan anggota badan disamping mengucapkan syahadatain. Inilah akidah Ahlussunnah wal Jama’ah sejak generasi pertama para salafusshalih hingga zaman kita sekarang bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan/amalan. Ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati, lisan dan anggota badan.

Karena itu lima abad setelah berlalu generasi salaf tepatnya pada abad ke delapan hijriyah, Ahmad bin Abdul Halim, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) menegaskan kembali akidah salafusshalih dalam persoalan iman. Beliau berkata;

ومن أصول أهل السنة والجماعة أن الدين والإيمان قول وعمل، قول القلب واللسان وعمل القلب واللسان والجوارح

Dan diantara pokok-pokok (ajaran) Ahlussunnah bahwa agama dan iman adalah ucapan dan perbuatan/amalan. Ucapan hati dan lisan, dan perbuatan hati, lisan dan anggota badan.” Al Aqidah Al Washitiyah (halaman 234) Cetakan kedua tahun 2007, Maktabah Ibnu Taimiyah, Yaman.

Lalu pada abad ke 12 hijriyah, yaitu empat abad setelah zaman Ibnu Taimiyah, Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kembali menegaskan akidah seperti yang telah ditegaskan oleh para pendahulunya dari ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan beliau menukil ijma’ ummat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan/amalan. Beliau berkata;

لا خلاف بين الأمة أن التوحيد : لابد أن يكون بالقلب ، الذي هو العلم ؛ واللسان الذي هو القول ، والعمل الذي هو تنفيذ الأوامر والنواهي ، فإن أخل بشيء من هذا ، لم يكن الرجل مسلما. فإن أقر بالتوحيد ، ولم يعمل به ، فهو كافر معاند ، كفرعون وإبليس. وإن عمل بالتوحيد ظاهراً ، وهو لا يعتقده باطناً ، فهو منافق خالصاً ، أشر من الكافر والله أعلم.

Tidak ada perbedaan diantara ummat bahwa tauhid harus terdapat di dalam hati yaitu mengilmui (memahami), dan lisan yaitu mengucapkan, dan perbuatan/amalan yaitu mengaplikasikan perintah-perintah dan larangan-larangan. Maka apabila melalaikan salah satunya, seseorang belum muslim. Dan apabila menerima tauhid tapi tidak mengerjakannya maka dia kafir mu’aanid (yang membangkang) seperti Fir’aun dan Iblis. Dan apabila dia mengerjakan tauhid secara lahir, dan batinnya tidak meyakininya maka dia seorang munafik murni, keadaannya lebih jelek dari orang kafir. Wallahua’lam.” Ad-Durar As-Sanniyyah(2/124) (lanjut ke halaman 2)