Asal Usul Syirik,Antara Berhala dan Wali, Thawaf Di Kuburan, Syirik Zaman Old dan Now & Syirik Tetap Syirik Walau Pelakunya Para Tokoh

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 1. Perbedaan Wali Allah Dan Wali Syaitan

2. Bahaya Syirik

3. Modifikasi Kesyirikan

4. Said Agil Siraj Memperbolehkan Mapag Dewi Sri dan Nyadran Sukuran Laut Padahal Itu Syirik

5. Sujud dan Thawaf di Kuburan, Apakah Kafir?

6. Pengagungan Kubur Dalam Pandangan Kaum Sufi. Tidak Udzur Kejahilan Bagi Mereka. Sesungguhnya Itu Perbuatan Syirik

7.Sesungguhnya Mengusap dan Mencium,Ngalap Berkah,Thawaf Di Kuburan Adalah Syirik

Fitnah Kuburan-Ust Mizan Qudsiyah 11Mb
Ust Lalu Ahmad Yani-Wajibnya Takut Berbuat Syirik 10Mb
Mungkinkah Umat Islam Syirik-Ust Mizan Qudsiyah 6Mb
Ust Ahmad Zainuddin-Mengambil Berkah Di Kuburan Keramat 15Mb

Ustadz · Mizan Qudsiyah · Syirik Zaman Old VS Zaman Now

Ust Mizan Qudsiyah-Akan Ada Dari Umat Islam yang Menyembah Berhala Sesi 1 11Mb

Ust Mizan Qudsiyah-Akan Ada Dari Umat Islam yang Menyembah Berhala Sesi 2 10Mb

Ust Mizan Qudsiyah-Akan Ada Dari Umat Islam yang Menyembah Berhala Sesi 3 13Mb

Ust Muhammad A Tuasikal- Umat Islam Masih Ada yang Menyembah Berhala 5mb

Ceramah Agama: Wajibnya Takut Berbuat Syirik -Ustadz Lalu Ahmad Yani, Lc.

Ceramah Agama : Mungkinkah Umat Islam Syirik? – Ustadz Mizan Qudsiyah, Lc.

Ada Umat yang Menyembah Berhala – Ustadz Dr.Ali Musri Semjan Putra, MA

===

 

ANTARA BERHALA DAN KUBURAN WALI

Zaman sekarang—zaman yang penuh dengan syubhat (kerusakan ilmu/keraguan-AHSI) dan syahwat (nafsu menyelisihi kebenaran)—melazimkan (mengharuskan) setiap pencari kebenaran harus disertai dengan dalil dari Kitab dan Sunah. Jika ternyata kebenaran datang dari golongan Ahlus Sunnah yang dimusuhi oleh banyak kalangan maka diterima dan sebaliknya jika kebatilan datang dari golongan kita maka ditolak sebab kita mencari rida Allah عزّوجلّ bukan rida manusia.

Perkara akidah yang benar sejak zaman dahulu hingga sekarang—khususnya dalam barisan umat Islam yang terpecah menjadi 73 golongan—perkara agama yang benar menjadi pertempuran sengit. Masing-masing mengklaim dirinya yang benar dan lainnya salah. Di sisi lain, ada yang meneriakkan untuk menghapus perselisihan dan mencari persamaan.

Harus dipahami bahwa sebelum kita saling toleran dalam perselisihan, terlebih dahulu kita menyamakan pokok-pokok akidah dan keyakinan karena ada perbedaan yang tidak boleh bertoleransi di dalamnya.

Apabila ada yang menegakkan tauhid dan ada yang menegakkan kesyirikan atau ada yang menunaikan shalat dan ada yang meninggalkannya maka perkara ini tidak boleh toleran padanya. Yang boleh adalah berbeda pada masalah ijtihad dalam memahami dalil bukan berbeda karena pemahaman yang menyelisihi dalil.

ANTARA BUDAYA DAN AGAMA

Budaya yang menyelisihi syariat semakin hari semakin baru dan bertambah, sedangkan orang jarang mengingkarinya, jarang ada yang menganggapnya sebagai ajaran baru. Sementara itu, dalam waktu yang sama, tatkala ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم dihidupkan atau ada segolongan yang mengajak kembali kepada ajaran Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mereka mengingkari dan berkata “ini ajaran baru”.Subhanallah, adat istiadat dan budaya sesat yang datang setiap saat tidak dikatakan sebagai ajaran baru, tetapi agama Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang dihidupkan dikatakan agama baru.

Akhlak dan peradaban Barat dikatakan kemajuan, sedang kembali kepada agama Rasulullah صلى الله عليه وسلم dianggap sebagai kemunduran. Berpegang teguh pada agama Allah sebagai sebuah kemunduran dan berpaling darinya sebagai kemajuan. Di manakah kemajuan Fir’aun dan bala tentaranya? Di manakah kemajuan Barat, negara adidaya, Uni Sovyet, Amerika, dan sekutunya? Namun, jika hawa nafsu yang berkuasa maka mata dan telinga menjadi buta dan tuli serta hati tertutup.

Setinggi apa pun budaya dan adat istiadat yang menyelisihi syariat tetaplah ia batil dan tidak mungkin menggantikan syariat. Sekalipun seluruh manusia sepakat dalam budaya dan adat istiadat, hal itu tidak akan membahagiakan dan menjamin keselamatan mereka.

Budaya syirik, bidah, maksiat, partai, demonstrasi, kerusakan moral dan akhlak, perlombaan pada kemegahan dunia dan lalai dari akhirat; semuanya akan semakin menambah kegelisahan, problematik, dan kesengsaraan hidup manusia.

Allah عزّوجلّ membuka mata dan hati manusia bahwa jabatan, harta, dan seluruh kenikmatan dunia tidak mampu memperbaiki manusia. Di antara manusia ada yang memiliki jabatan, harta banyak, sekolah tinggi, tetapi dia mengeluhkan kedurhakaan anak-anak mereka, mengeluhkan tidak bahagia. mengeluhkan semakin banyaknya permasalahan hidup yang harus dihadapi dan diselesaikan tetapi mustahil terselesaikan.

Ini adalah bukti bahwa agamalah satu-satunya yang membahagiakan manusia. Ini adalah seruan agar manusia kembali kepada Islam, mempelajari dan mengamalkannya untuk menggapai kebahagiaan yang hakiki dunia dan akhirat. Adapun yang berpaling dan zalim, maka sesungguhnya Allah tidak lalai terhadap orang-orang zalim.

ASAL-USUL SYIRIK

Pada asalnya, Allah عزّوجلّ memakmurkan alam semesta dengan tauhid dan ibadah hanya kepada-Nya. Pada asalnya, tidak ada kesyirikan di permukaan bumi. Lalu setan memulai dan mengajak manusia kepada syirik.

Dengan demikian, dakwah kepada tauhid berarti mengembalikan manusia kepada asal fitrah mereka.

Asal-muasal kesyirikan adalah mengagungkan orang saleh secara tidak syar’i. Asal mula kesyirikan adalah mengeramatkan kuburan wali. Asal syirik yang paling mendasar adalah kejahilan terhadap tauhid yang dibawa oleh para rasul, sedang penyebab kejahilan adalah berpaling dan tidak mau mempelajari ajaran para nabi.

Tatkala manusia-sejak dahulu hingga sekarang baik kafir maupun muslim—tidak mempelajari warisan para nabi, jadilah mereka paling bodoh sekalipun mencapai gelar paling tinggi dalam dunia pendidikan.

Bangsa Arab ahli nasab dan ahli syair. Bangsa Romawi, Persia, Yunani, Yahudi, Nasrani ahli Taurat dan Injil, ahli filsafat, falak, mantik, sihir, perdukunan ahli nujum (perbintangan), ahli matematika, ahli kedokteran, ahli teknik dan segala peradaban mereka pada saat itu disebut jahiliah karena jauh dari ajaran para nabi.

Warisan Aristoteles dianggap sebagai jahiliah sebab berasal dari otak manusia jahil yang tidak paham agama Allah. Jika ini kedudukan ilmu orang dahulu, lalu bagaimana dengan kedudukan ilmu yang telah menyibukkan manusia pada hari ini?

Jika akhir dari tokoh dan sumber segala kejelekan (Iblis) adalah sesungguhnya dia takut kepada Allah Rabbulalamin, lalu bagaimana dengan ilmu para pengikutnya? Jika ilmu dan kekuasaan Fir’aun akhirnya mengaku beriman kepada Zat yang diimani oleh Bani Isra’il lalu bagaimana dengan ilmu Barat dan filsafat? Jika ilmu Qorun (Karun), Haman, kaum ‘Ad dan Samud akhirnya adalah kebinasaan dunia akhirat, lalu bagaimana dengan ilmunya Darwin, Sokrates, dan para filsuf Yunani?

ANTARA SYIRIK ZAMAN DAHULU DAN ZAMAN SEKARANG

Kisah kaum Nuh عليه السلام yang menyembah kuburan para wali menunjukkan betapa eratnya hubungan antara patung berhala dan kuburan wali. Bahkan, patung berhala tidak lain kecuali berasal dari kuburan wali dan pelakunya umat Islam yang jahil terhadap tauhid.

✅ Perhatikan firman Allah عزّوجلّ:

وَقَالُوا لا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلا سُوَاعًا وَلا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian tinggalkan tuhan-tuhan kalian dan jangan tinggalkan Wadd, Suwa’, Yagus, Ya’uq, dan Nasr.” (QS Nuh [71]: 23)

Dalam ayat ini terdapat pelajaran, di antaranya:

✅ 1. Mereka menyebut kuburan wali sebagai tuhan yang disembah, oleh karenanya mereka menyeru untuk istiqamah di atasnya tidak meninggalkannya.Seruan mereka atas reaksi dan pengingkaran terhadap dakwah Nabi Nuh عليه السلام yang mengajak kepada tauhid dan ibadah hanya kepada Allah saja dan yang mengilhamkan seruan ini adalah setan terkutuk.Karena sebagai tuhan dan telah merasuk dalam jiwa maka mereka menegaskan dan mengkhususkan dengan terperinci satu per satu nama tuhan agar menyentuh hati mereka.

Lanjut ke halaman 2