Aqidah Shahihah (‘Aqidah Yang Benar) & Prinsip-Prinsipnya Bag(1)
 

Alhamdulilah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

1. Iman kepada Malaikat

2. Iman Kepada Allah

3. Tauhid Rububiyah

4. Pengertian Tauhid

5. Kesalahan Dalam Beraqidah

6. Iman Kepada Kitabullah

7. Prinsip-Prinsipnya Aqidah Shahihah

8. Belajar Mana Dulu? Jelas Akidah Dulu

Syarah Aqidah Salaf (Bag-1) (Abdul Hakim bin Amir Abdat)32 Mb 2jm 23mnit

Syarah Aqidah Salaf (Bag-2) (Abdul Hakim bin Amir Abdat)19Mb 1jm 23mnit

Syarh Hadits Arbain Tentang Manhaj dan Aqidah (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Syarah Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah(Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Pentingnya Aqidah Bagi Pribadi Muslim(Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Pokok-Pokok Aqidah Islam (DR. Ali Musri Semjan Putra, MA)

Pokok-Pokok Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah(Abdullah Taslim, MA)

Aqidah Imam Syafi’i (Abdurrahman Thoyyib, Lc)

Pentingnya Mempelajari Aqidah (Abdullah Roy, MA)

Ebook Landasan-Landasan Imam Di Bawah Cahaya Al-Qur’an dan As-Sunnah

Penyusunan buku ini adalah: Dr. Shaleh bin
Sa’ad as Suhaimy, Prof. Dr. Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin al-‘Abbad dan Dr. Ibrahim bin ’Amir ar Ruhaily. Sedangkan tim muraja’ah -nya: Prof. Dr. Ali.bin Nasher Faqihy dan Prof. Dr. Ahmad bin ‘Athiyah al Ghamidy. 

Penerjemah buku ini ke dalam bahasa Indonesia adalah Dr. Dasman Yahya Ma’aly, dan yang merevisi.( muraja’ah ) dan mentashih terjemahan ini Dr. Aspri Rahmat Azai dan Dr. Muhammad Arifin bin Badri, -semoga Allah menjaga mereka semua-

Download PDF 37Mb or link kedua

Daftar Isi dan Mukodimah buku bisa dibaca disini 

==

➡ ‘AQIDAH SHAHIHAH (‘AQIDAH YANG BENAR) DAN PRINSIP-PRINSIPNYA

Syaikh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullaah berkata:
Tatkala ‘Aqidah Shahihah adalah pondasi dan asas agama Islam; maka saya menginginkan agar (masalah ‘Aqidah ini) menjadi tema ceramah saya (pada hari ini).

Dan telah diketahui dengan dalil-dalil syar’i -dari Al-Qur’an dan As-Sunnah- bahwa: segala amal dan ucapan tidak akan sah dan tidak akan diterima kecuali jika muncul dari ‘Aqidah Shahihah. Jika ‘Aqidah seseorang itu tidak benar; maka akan gugur segala cabangnya; berupa amalan dan ucapan; sebagaimana friman Allah Ta’aalaa:

{…وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيْـمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِـي الآخِرَةِ مِنَ الْـخَاسِرِيْـنَ}

“…Barangsiapa kafir setelah beriman; maka sungguh, hapuslah amalannya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang rugi.” (QS. Al-Maa-idah: 5)

✅ Dan Allah Ta’aalaa berfirman:

{وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَـتَكُونَنَّ مِنَ الْـخَاسِرِيْنَ}

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Sungguh, jika kamu mempersekutukan (Allah); niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi”.”(QS. Az-Zumar: 65)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur’an tentang masalah ini.

✅ Dan Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menunjukkan bahwa ‘Aqidah Shahihah teringkas dalam: Iman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan Takdir yang baik maupun yang buruk. Maka enam perkara ini adalah Ushuul (Prinsip-Prinsip) dari ‘Aqidah Shahihah; yang dengannya Al-Qur’an turun, dan dengannya Allah mengutus Rasulnya: Muhammad ‘alaihish shalaatu was salaam. Dan akan bercabang dari (enam) prinsip ini: segala hal yang wajib diimani dari perkara-perkara ghaib dan seluruh apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dan dalil-dalil tentang enam prinsip ini sangatlah banyak di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, di antaranya adalah firman Allah Subhaanahu:

{لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ قِـبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالـنَّـــبِــيِّــيْـنَ…}

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, dan Nabi-Nabi …” (QS. Al-Baqarah: 177)

✅ Dan firman Allah:

آمَنَ الرَّسُوْلُ بِـمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّــهِ وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُـفَـرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُـلِهِ…

Rasul (Muhammad) beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka berkata): “Kami tidak membeda-bedakan seseorang pun dari rasul rasul-Nya”,…” (QS. Al-Baqarah: 285)

✅ Allah Ta’aalaa berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا آمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَــزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيْ أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَـعِـيْدًا

Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan Hari Akhir; maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisaa’: 136)

✅ Dan Allah Ta’aalaa berfirman (tentang Takdir):

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِـي السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّ ذٰلِكَ فِيـ كِتَابٍ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللهِ يَــسِـــيْرٌ

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Adapun Hadits-Hadits Shahih yang menunjukkan atas prinsip-prinsip ini; maka sangatlah banyak. Di antaranya adalah Hadits terkenal yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shahih-nya (no. 8), dari Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Jibril ‘alaihis salaam bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang Iman; maka beliau menjawab: “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman kepada Takdir yang baik dan yang buruk.” Dan Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 50) dan Muslim (no. 9) dari Abu Hurairah.

Dan dari enam prinsip ini: bercabang segala yang wajib diyakini oleh setiap Muslim tentang hak Allah Subhaanahu, tentang perkara Hari Kiamat, dan perkara-perkara ghaib yang lainnya.”
[“Al-‘Aqiidah ash-Shahiihah Wa Maa Yudhaadduhaa” (hlm. 2-3)]

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix-

Bekal Setiap Muslim dan Muslimah

Oleh: Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullaah

➡ Pembahasan 1

Definisi dan Pengertian Aqidah

Menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah[1]

✅ A. Definisi ‘Aqidah

‘Aqiidah (اَلْـعَــقِــيْــدَةُ) menurut bahasa Arab (etimologi) berasal dari kata al-‘aqdu ((اَلْــعَــقْـــدُ yang berarti ikatan, at-tautsiiqu (اَلــتَّــوثِــيْــقُ) yang berarti menguatkan, al-ihkaamu(اَلْإِحْـــكَامُ) yang artinya mengokohkan atau menetapkan, dan ar-rabthu biquwwah (اَلــرَّبْــطُ بِــقُــوَّةٍ) yang artinya mengikat dengan kuat.

Sedangkan menurut istilah (terminologi): ‘Aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya.

Jadi, ‘Aqidah Islammiyah adalah: keimanan yang teguh dan bersifat pasti kepada Allah Subhanahu wa Ta’aalaa -beserta apa-apa yang wajib bagi-Nya; berupa:  bertauhid[2] dan taat kepada-Nya-, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, Hari Akhir, serta takdir baik dan buruk, dan mengimani seluruh apa-apa yang telah shahih tentang Prinsip-prinsip Agama (Ushuluddin), perkara-perkara yang ghaib, beriman kepada apa yang menjadi ijma’ (konsensus) dari Salafush Shalih, serta seluruh berita-berita qath’i (pasti), baik secara ilmiah maupun secara amaliah yang ditetapkan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih serta ijma’ Salafush Shahih.

➡ B. Definisi ‘Aqidah Salaf

Menurut bahasa (etimologi), Salaf(الــسَّــلَــفُ) artinya yang terdahulu (nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama[3]. Salaf berarti para pendahulu. Jika dikatakan salaf seseorang, maksudnya: kedua orang tua yang telah mendahuluinya.

Menurut istilah (terminologi), kata Salaf berarti: generasi pertama dan terbaik dari umat (Islam) ini, yang terdiri dari: para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para Imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/masa) pertama yang dimuliakan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, Sebagaimana sabda Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِـيْ، ثُـمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ، ثُـمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ…

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’in), kemudian yang sesudahnya (masa Tabi’ut Tabi’in).”[4]

Semua (orang) yang menyeru kepada apa yang diserukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para Shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; maka ia berada di atas manhaj (cara beragama) para Salaf. Maka setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj meraka -disepanjang masa-; mereka ini disebut Salafi, karena dinisbatkan kepada Salaf.

Jadi, ‘Aqidah Salaf adalah: ‘Aqidah yang mengikuti manhaj (jalan) para Salafush Shalih.

➡ C. Definisi ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah: mereka yang menempuh seperti apa yang pernah ditempuh oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatradhiyallaahu ‘anhum. Disebut Ahlus Sunnah, karena kuatnya (mereka) berpegang dan ber-ittibaa’(mengikuti) Sunnah Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya radhiyallaahu ‘anhum.

As-Sunnah menurut bahasa (etimologi) adalah: jalan/cara, apakah jalan itu baik atau buruk. Sedangkan menurut ulama ‘aqidah (terminologi), As-Sunnah adalah: petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya, baik tentang ilmu, i’tiqaad (keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikutinya akan dipuji dan orang yang menyalahinya akan dicela.

Disebut Al-Jama’ah, karena mereka bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kepemimpinan para imam (yang berpegang kepada) al-haqq(kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka, dan mengikuti apa yang telah menjadi kesepakatanSalaful Ummah.

Jadi, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang-orang yang ittibaa’(mengikuti) Sunnah Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti Atsar (jejak Salaful Ummah), maka mereka juga disebut Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, dan Ahlul Ittiba’. Di samping itu, mereka juga dikatakan sebagai ath-Thaaifah al-Manshuurah (golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah (golongan yang selamat), dan al-Ghurabaa’ (orang-orang yang asing).

Lanjut ke halaman 2

Iklan