Aqidah Shahihah (‘Aqidah Yang Benar) & Prinsip-Prinsipnya Bag (2)

 

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in
1.Iman Kepada Takdir

2.Iman Kepada Hari Akhir

3.Iman Kepada Rasul

4. Tauhid Asma Wa Sifat

5. Tauhid Uluhiyah

6. Pentingnya Manhaj & CaraBeragama Yang Benar

7. Prinsip Hidup & BeragamaSeorang Muslim

Syarah Aqidah Salaf (Bag-3) (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Syarah Aqidah Salaf (Bag-4) (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Penjelasan Aqidah Salaf (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Penjelasan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah(Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Pentingnya Aqidah Bagi Pribadi Muslim (Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Dari Mana Engkau Ambil Aqidahmu (DR. Firanda Andirja, MA)

Ebook Aqidah Shohihah VS Aqidah BathilahPenulis: Syaikh Abdul Aziz binAbdullah bin Baz ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪPDF 1.7Mb 


Nama eBook: Faktor-faktor.Penopang Mantapnya AqidahPenulis: Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin al-Badr ﺧﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ

Ebook Aqidah Imam Ibnu Abi Zaid al-Qairawani al-Maliki(Malik Kecil)

Aqidah Wasithiyyah Karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. (Matan & Terjemah)

==

➡ ‘AQIDAH SHAHIHAH (‘AQIDAH YANG BENAR) DAN PRINSIP-PRINSIPNYA
2

Keempat: Iman kepada para Rasul

Ahlus Sunnah beriman kepada Rasul-rasul yang diutus Allah kepada setiap kaumnya. Ar-Rusul (اَلــرُّسُــلُ) bentuk jamak dari kata rasul (رَسُــوْلٌ) yang berarti orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud “rasul” di sini adalah orang diberi wahyu untuk disampaikan kepada ummat.

Rasul yang pertama adalah Nabiyyullah Nuh ‘alaihis salaam, dan yang terakhir adalah Nabiyyullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setiap ummat tidak pernah sunyi dari Nabi yang diutus AllahSubhanahu wa Ta’aalaa yang membawa syari’at khusus untuk kaumnya atau dengan membawa syari’at sebelumnya yang diperbaharui.         

Para Rasul adalah manuasia biasa, makhluk Allah yang tidak mempunyai sedikitpun keistimewaan Rububiyyah dan Uluhiyyah serta mereka pun tidak mengetahui perkara yang ghaib. Para Rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan; seperti : sakit, mati, membutuhkan makan dan minum, dan lain sebagainya.

Iman kepada para Rasul mengandung empat unsur:

✅ 1. Mengimani bahwasanya risalah mereka benar-benar dari AllahTa’aalaa.

✅ 2. Mengimani nama-nama Rasul yang sudah kita kenali, yang Allah sebutkan dalam Al-Qur-an dan Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallamsebutkan dalam As-Sunnah yang shahih.

✅ 3. Membenarkan berita-berita mereka yang shahih riwayatnya.

✅ 4. Mengamalkan syari’at Rasul yang diutus kepada kita. Dia adalah Nabi terakhir: Muhammadshallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang diutus Allah Ta’aalaa kepada seluruh manusia.

Kelima: Iman kepada Hari Akhir

Hukum beriman kepada Hari Akhir adalah wajib.

Allah dan Rasul-Nya sering menyebutkan tentang iman kepada Allah dan Hari Akhir, hal ini menunjukkan pentingnya beriman kepada Hari Akhir. Orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir; berarti ia tidak beriman kepada tempat kembali. Orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir berarti ia tidak beriman kepada Allah.

Termasuk iman kepada Hari Akhir, yaitu: mengimani tentang adanya fitnah kubur, adzab kubur, nikmat kubur, dikumpulkannya manusia di padang Mahsyar, ditegakkannya Mizan (timbangan), dibukakannya catatan-catatan amal, adanya Hisab, Al-Haudh (telaga), Shirath (jembatan), Syafa’at, serta Surga dan Neraka.

Keenam: Iman kepada Qadar (Takdir Baik dan Buruk)

Golongan yang selamat, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman kepada Qadar yang baik maupun buruk. Iman kepada Qadar meliputi iman kepada setiap nash tentang qadar serta tingkatannya. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak ketetapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Iman kepada qadar memiliki empat tingkatan:

Pertama: Al-‘Ilmu (Ilmu), yaitu mengimani bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu, Dia mengetahui segala sesuatu.

✅ Kedua: Al-Kitaabah (Penulisan), yaitu mengimani bahwa Allah telah mencatat seluruh Takdir makhluk di Lauh Mahfuuzh.

✅ Ketiga: Al-Masyii-ah (Kehendak), yaitu mengimani bahwa apa yang dikehendaki Allah; pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki Allah; tidak akan terjadi.

✅ Keempat: Al-Khalq (Penciptaan), yaitu mengimani bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu.

➡ Pembahasan 6

Perusak-perusak Aqidah[11]

Pertama: Al-Istighatsah (meminta tolong dikala sulit) kepada selain Allah.

Seperti Istighatsah kepada: Jin, orang yang sudah meninggal (apakah orang yang meninggal itu Nabi, wali, habib, atau lainnya), pohon, batu, jimat-jimat, dan sebagainya.

Kedua: Mengada-adakan ritual-ritual tertentu kepada selain Allah.

Hal ini dilakukan dengan beragam bentuk seperti: thalab al-madad (meminta bantuan), menyembelih hewan sebagai persembahan, bernadzar dan memohon syafa’at (pertolongan) kepada selain Allah, thawaf pada selain Ka’bah, mengusap-usap/Mencium kuburan, ruku’ kepada selain Allah, dan sebagainya.

Ketiga: Memiliki keyakinan-keyakinan tertentu yang tidak ada dasarnya dari syari’at AllahTa’aalaa.

Seperti berkeyakinan bahwa orang mati terbunuh pada suatu tempat; maka pada tempat itu pula ruh orang tersebut keluar gentayangan pada malam hari untuk menakut-nakuti manusia, takut kepada orang mati, selalu mengucapkan: “Maaf wahai penguasa, saya akan lewat tempat ini!” dan sebagainya.

Keempat: Memiliki keyakinan-keyakinan tentang hari-hari tertentu tanpa dalil.

Misalnya berkeyakinan bahwa hari Jum’at dan Selasa adalah hari yang (naas) sial.

Kelima: Memiliki keyakinan-keyakinan yang salah tentang Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Misalnya berkeyakinan tentang adanya Nur Nabi Muhammadshallallaahu ‘alaihi wa sallam yang berpindah-pindah dari tulang sulbi para Nabi, bahwa nama Nabishallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat menjaga anak-anak, berkeyakinan bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk Allah yang pertama, Nabi datang ketika dibacakan maulid, dan semacamnya.

Keenam: Memiliki keyakinan-keyakinan tentang benda-benda tertentu tanpa dalil.

Seperti memiliki keyakinan tertentu yang berhubungan dengan batu-batu keramat, batu cincin, pohon keramat, jimat, tali penolak bala, gelang, daging, ikan, dan sebagainya.

Ketujuh: Memiliki keyakinan tentang organ-organ makhluk tanpa dalil.

Seperti memiliki keyakinan tertentu yang berhubungan dengan plasenta (ari-ari), tulang, darah, dan selainnya.

Kedelapan: Mempercayai kata-kata dukun dan paranormal.

Termasuk juga berkeyakinan bahwa syaithan dapat menumbuhkan sebagian tumbuhan, memohon perlindungan bagi dua pengantin dangan cara-cara tertentu.

Kesembilan: Memiliki keyakinan-keyakinan yang salah tentang benda-benda langit.

Misalnya memiliki keyakinan tertentu tentang matahari, rasi bintang, ramalan nasib, turunnya hujan, batu, meteor, dan sebagainya.

Kesepuluh: Keyakinan-keyakinan salah seputar kehidupan rumah tangga.

Seperti berkeyakinan bahwa jika sebuah wadah pecah berarti akan membawa kejelekan, tidak merasa senang jika dikaruniai seorang anak perempuan, beranggapan sial karena banyak tertawa, beranggapan sial dengan padamnya lampu saat seseorang datang ke rumahnya, mencium uang, mencium roti ketika menemukannya di tanah, keyakinan tertentu tentang gunting, peniti, dan cermin, keyakinan tertentu tentang menyapu rumah, seperti: berkeyakinan bahwa menyapu rumah pada malam hari dapat mewariskan kefakiran, dan sebagainya.

Lanjut ke halaman 2