Hadist Batil Tapi Populer

Alhamdulillah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

1. Fatwa Hadits Batil Populer

2. Hadist Palsu Nur Muhammad

3. Nur Muhammad Hadist Palsu Kaum Sufi

4. Hadist Palsu tentang Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina

5. Hadist Palsu Menuntut Ilmu Ke Negeri Cina

6. Hadist Palsu Perbedaan Adalah Rahmat

7. Hadist Palsu Ikthilaf Adalah Rahmat 2

Hadits Palsu tetapi Populer : Nur Muhammad – Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A. 3Mb 17Mnit

Hadits Palsu tetapi Populer : Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina – Ustadz Dr. Sofyan Baswedan. 1 Mb 8 mnit

Hadits Palsu tetapi Populer : Perselisihan Umatku adalah Rahmat – Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A. 600Kb 4 mnit

Hadits Batil/Palsu Namun Populer : Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A. 23 Mb 2 jam 13 mnit

Hadits Batil/Palsu Namun Populer : Ustadz Dr. Sofyan Baswedan, M.A. 

Fatwa Hadits Batil Populer 700Kb PDF 

==

FATWA DEWAN FATWA PERHIMPUNAN AL-IRSYAD NO : 007/DFPA/VII/1439 TENTANG HADITS-HADITS BATIL YANG POPULER DI MASYARAKAT

Latar Belakang

Di tengah masyarakat banyak beredar hadits-hadits yang palsu atau batil. Bahkan -sangat disayangkan- hadits-hadits tersebut dipopulerkan oleh sebagian penceramah dan khatib di podium-podium. Terkadang tujuan mereka mungkin baik yaitu untuk menyatukan umat, atau untuk mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau tujuan-tujuan lainnya, akan tetapi banyak dari hadits-hadits palsu tersebut memiliki kandungan makna yang batil dan justru bertentangan dengan syari‟at yang sempurna ini. Dan bagaimanapun kondisinya hadits batil ataupun palsu tidak boleh disebarkan di kalangan masyarakat. Terlebih lagi Nabi shallallahu’ alaihi wasallam telah bersabda tentang hadits palsu : Siapa yang berdusta atas namaku maka siapkanlah tempatnya di neraka” (HR Al-Bukhari no 107, yang hadits ini adalah hadits mutawatir) Berikut ini adalah beberapa hadits populer yang sudah diteliti sanad dan matannya oleh Dewan Fatwa Perhimpunan Al Irsyad dan kami rangkum serta jelaskan sebab kebatilannya:

➡ 1. Hadist Pertama

 ﺇِﺧْﺘِﻼَﻑُ ﺃُﻣَّﺘِﻲْ ﺭَﺣْﻤَﺔٌ

Ikhtilaf Umatku Adalah Rahmat”

Hadits ini akan kita kaji dari dua sisi

Pertama: Validitas Sanadnya )

Salah satu pakar hadits dari madzhab Syafi‟i yang bernama Al Hafizh Sirajuddin Ibnul Mulaqqin (w. 804 H), yang merupakan gurunya Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani, mengatakan: “Hadits ini tidak kutemukan siapa yang meriwayatkannya secara marfu‟ setelah kucari mati-matian.”1

Artinya, tidak ada satu literatur (kitab) hadits pun yang menyebutkan lafal seperti ini dengan sanad yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam. Yang ada ialah kitab-kitab yang sekedar memuat lafal hadits tersebut tanpa sanad. Tentunya, hadits seperti ini sama sekali tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebab tidak memiliki asal usul sama sekali. Dari pengamatan Dewan Fatwa terhadap buku-buku rujukan dalam permasalahan ini, dapat disimpulkan bahwa pendapat Ibnu Mulaqqin memang benar.

Kedua: Kandungan Matannya

Kata ‘Ikhtilaf‟ secara bahasa artinya perbedaan dan perselisihan. Hal ini tentunya dapat bermakna buruk bila dipahami secara mutlak. Sehingga banyak orang yang menggunakan hadits yang tidak ada asal-usulnya ini sebagai alasan untuk menoleransi setiap perbedaan pendapat dalam masalah agama, tanpa pandang bulu siapa yang berpendapat dan masalah apakah yang dibahas.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ

Andai Rabbmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia sebagai umat yang satu. Mereka akan senantiasa berselisih (berikhtilaf) kecuali orang-orang yang dirahmati Rabbmu…” (Hud: 118-119). )

Ayat ini jelas menunjukkan bahwa rahmat Allah berada pada persatuan, bukan berada pada perselisihan (ikhtilaf).

Kesimpulannya, hadits yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu’ alaihi wasallam ini adalah batil dari segi sanad maupun matannya.

➡ 2.Hadist Kedua

ﺍُﻃْﻠُﺒُﻮْﺍ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﻭَﻟَﻮْ ﻓﻲ ﺍﻟﺼِّﻴﻦِ

Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”

Menurut Imam As Sakhawi (w. 902 H) dalam kitab Al Maqashidul Hasanah2 hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqy, Al Khatib Al Baghdady, dan Ibnu ‘Abdil Barr dari jalur Abu ‘Atikah Thorif bin Salman, dari Anas bin Malik secara marfu‟.

Cacat hadits ini ialah pada Abu ‘Atikah yang dinyatakan oleh Imam Bukhari dan Ibnu Hibban sebagai perawi yang munkarul hadits. Sedangkan oleh Al’Uqaily dinyatakan matrukul hadits.3 Ada pula yang menganggapnya (haditsnya sangat lemah,) seperti Abu Hatim dan Abu Dawud. Bahkan ada pula yang jelas-jelas menyifatinya sebagai pemalsu hadits, seperti As Sulaimani 4. Singkatnya, mayoritas ulama hadits menganggap haditsnya sangat lemah.

Hanya saja, derajat matannya diperselisihkan oleh para ulama dan mereka terbagi menjadi tiga kelompok,

Pertama: Yang menganggapnya tidak memiliki asal-usul, alias batil/palsu. Ini dinyatakan oleh Imam Al Bazzar (w. 292 H), Ibnu Hibban (w.356 H), Ibnul Jauzy (w.597 H), Al Mu‟allimi (w.1386 H) dan Al Albani (w.1419 H).

Imam Al Bazzar Berkata Abu ‘Atikah ini tidak dikenal jati dirinya dan tidak diketahui darimana asalnya; sehingga hadist ini tidak memiliki asal-usul”5

Ibnu Hibban Mengatakan : Hadits ini batil, tidak ada asal-usulnya.”6

✅ Sedangkan Ibnul Jauzy memuatnya dalam kitab Al Maudhu’ at beliau 7 , yang berarti bahwa beliau menganggapnya sebagai hadits palsu.

Al Muallimi juga menguatkannya dan menegaskannya sebagai hadits palsu dan menolak kecenderungan Asy Syaukani yang mengingkari kepalsuannya.8

✅ Demikian pula Syaikh Al Albani yang menyatakannya sebagai hadits maudhu‟ (palsu)9

Ketiga : Pendapat Imam Al Mizzi (w. 742 H) yang mengatakan : “Hadist ini memiliki sejumlah jalur yang apabila digabungkan mungkindapat menjadi hasan.11

Akan tetapi, pendapat ketiga ini perlu ditinjau kembali, karena hadits ini diriwayatkan dengan lafal pendek dan panjang. Lafal panjangnya dilengkapi dengan kalimat: ( ﻃَﻠَﺐُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﻓَﺮِﻳﻀَﺔٌ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻣُﺴْﻠِﻢ ) yang artinya, “Karena sesungguhnya, menuntut ilmu itu kewajiban setiap muslim.” Kelanjutan hadits ini memang diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, bukan hanya Anas bin Malik. Sehingga maksud dari perkataan mereka yang menghasankannya ialah untuk bagian akhirnya, bukan bagian awalnya. Kesimpulannya: Hadits ini derajatnya batil dan tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

➡ 3. Hadist Ketiga

Sebagaimana yang kau perbuat, demikianlah kau akan dibalas”

Pembahasan hadits ini kami bagi menjadi dua,

Pertama: Dari sisi sanad

Menurut Imam As Sakhawi dan Al’Ajluni, hadits ini diriwayatkan melalui beberapa jalur, di antaranya ada yang derajatnya maudhu’ (palsu), ada pula yang sangat lemah, dan ada yang menisbatkannya kepada taurat/injil alias sebagai israiliyat 12, sedangkan yang paling ringan kedhai’fannya adalah riwayat Abdurrazzaq 13 dari Ma‟mar bin Rasyid dari Ayyub dari Abu Qilabah secara marfu’‟ dengan lafal yang lebih panjang.

Sepintas, riwayat ini para perawinya memang tsiqah (terpercaya) semua. Akan tetapi ada cacat tersembunyi dalam hadits ini yang dijelaskan oleh Al Ghumari dalam Kitab Al Mudawi 14, yang intinya ialah bahwa hadits ini poros periwayatannya adalah pada Abdurrazzaq bin Hammam Ash Shan’ani, dan yang meriwayatkan dari Abdurrazzaq ada 3 orang:

Pertama: Ishaq Ad Dabary. 15

Kedua: Ahmad bin Manshur. 16

Ketiga: Imam Ahmad bin Hanbal. 17

Ad Dabary dan Ahmad bin Manshur menisbatkannya kepada Nabi namun sanadnya mursal, artinya ada perantara yang tidak disebutkan antara Tabiin dengan Nabi shallallahu’ alaihi wasallam. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkannya sebagai ucapan Abu Darda‟ (mauquf), bukan sebagai ucapan Nabi shallallahu’alaihi wasallam, itupun dengan sanad yang terputus (munqathi’)

Menurut Al Ghumari, kemungkinannya hanya dua: hadits ini memang diriwayatkan dalam dua versi (marfu‟-mursal dan mauquf-munqathi‟), atau salah satu versinya keliru.18

Jadi, dari berbagai kemungkinan di atas, status riwayat ini tetap saja dha‟if karena sanadnya terputus. Sebab Abu Qilabah adalah Tabi‟in yang tidak mungkin mendengar langsung dari Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam dan tidak juga mendengar langsung dari Abu Darda‟.19

Diantara yang memursalkan hadits ini -atau menganggap sanadnya terputus- adalah Al Baihaqy, Ibnu Hajar, Al Ghumari, dan Al Albani.20

Kesimpulannya: Hadits ini tidak sah dinisbatkan kepada Nabi shallallahu’ alaihi wasallam karena berdasarkan jalur periwayatan yang paling ringan kedha’ifannya, sanadnya masih terputus.

Kedua: Dari sisi matan

Makna ungkapan ini menurut Al Munawi Adalah: Yang artinya bahwa perbuatanmu akan dibalas dengan balasan yang setimpal dan sejenis.21

Makna ungkapan ini memang benar dan cukup banyak ayat Al Qur‟an maupun hadits Nabi shallallahu’ alaihi wasallam yang menguatkannya. Di antaranya:

Allah Ta’ala Berfirman

 ۗ مَنْ يَّعْمَلْ سُوْٓءًا يُّجْزَ بِهٖ ۙ

Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 123)

Allah Ta’ala berfirman:

هَلْ جَزَآءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُ

Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 60)

Allah Ta’ala berfirman:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 7)

Nabi Muhammad Shalllahu ‘Alaihi Wa sallam Bersabda:“Barangsiapa meringankan satu musibah besar yang menimpa seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan salah satu musibah besar yang menimpanya pada hari kiamat. Barangsiapa melonggarkan orang yang kesulitan melunasi hutangnya, Allah akan  melonggarkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambanya selagi hamba tersebut menolong saudaranya… Al hadits.”22. HR. Muslim No. 2699

➡ 4. Hadits Keempat:

Makanlah Tatkala Lapar dan Berhentilah Sebelum Kenyang”

Teks di atas lebih tepat disebut sebagai hikmah (kata-kata bijak) daripada disebut sebagai hadits. Sebab hadits yang .lafalnya seperti ini tidak dijumpai dalam kitab hadits Manapun.“ Syaikh Al Albani mengatakan(tidak atau asal-usulnya”)23 atau tidak diketemukan Sanadnya.

Hanya Saja, Dalam Kitab Al Siroh Halabiyyah24 Tulisan Halaby Al Burhanuddin disebutkan Sebagai Berikut:

Muqawqis (raja Mesir kala itu) pernah mengirim hadiah dan seorang tabib kepada Nabi shallallahu’ alaihi wasallam. Akan tetapi Nabi shallallahu’ alaihi wasallam justru berkata kepada si tabib, “Kembalilah kepada keluargamu. Kami adalah kaum yang tidak makan hingga kami lapar dan bila kami makan maka tidak sampai kenyang.”

Akan tetapi, riwayat ini jelas tidak dapat divalidasi karena tidak ada sanadnya. Sedangkan dhahir matannya juga tidak mutlak benar, terutama bagian akhirnya yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam (dan para sahabat beliau) kalau makan tidak sampai kenyang.

Justru ada sejumlah hadits yang menunjukkan bahwa dalam beberapa kesempatan mereka makan sampai kenyang. Seperti haditsnya Abu Hurairah yang disuruh minum susu oleh Nabi shallallahu’alaihi wasallam berkali-kali hingga ia bersumpah bahwa perutnya tidak dapat diisi lagi.25

Demikian pula saat Nabi shallallahu’alaihi wasallam menikahi Zainab, beliau mengundang sahabatnya untuk makan roti dan daging hingga mereka kenyang dan meninggalkan makanan tersebut, jumlah mereka kala itu sekitar 300 orang.26

Dalam peristiwa perang Khandaq, Nabi shallallahu’alaihi wasallam mendapat undangan makan dari Jabir untuk beliau dan beberapa sahabatnya. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru memanggil kaum Muhajirin dan Anshar yang jumlahnya mencapai 1000 orang, lalu mereka makan sampai kenyang.27

Nabi shallallahu’ alaihi wasallam juga pernah dibuatkan makanan oleh Ummu Sulaim, lalu beliau memanggil seluruh Ashabus shuffah yang jumlahnya 80-an orang dan mereka semua ikut makan sampai kenyang.28

Jadi bisa disimpulkan bahwa dari sejumlah hadits shahih ini, jelaslah bahwa apa yang dinisbatkan kepada Nabi shallallahu’ alaihi wasallam dan para sahabatnya bahwa mereka kalau makan tidak sampai kenyang, tidaklah bersifat mutlak, bahkan mereka beberapa kali makan hingga kenyang namun tidak sampai berlebihan dan mubadzir dalam hal ini.

Kendati pun makan sampai kenyang –asalkan tidak berlebihan dan mubadzir- tidaklah dilarang, yang lebih baik adalah makan sekedar untuk menegakkan badan saja.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh sahabat Miqdam bin Ma‟dikarib, bahwa Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

Tidaklah manusia memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perut. Cukuplah bagi manusia beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika dia tidak kuat menahan nafsu makannya, maka sepertiga perutnya untuk makanan,sepertiganya lagi untuk minuman, dan sepertiga sisanya untuk bernafas (udara).”29

Hadits ini dinyatakan hasan shahih oleh Imam At Tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Al Albani.

Adapun hadits yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia yang paling sering kenyang di dunia, adalah yang paling lama kelaparan pada hari kiamat.”30

Maka hadits ini derajatnya dha‟if karena poros periwayatannya adalah Sa‟id bin Muhammad Al Warraq yang derajatnya dha‟if. Andaipun hadits ini dianggap benar, maka maksudnya ialah makruhnya terlalu sering makan hingga kekenyangan, karena biasanya hal itu diikuti dengan banyak menguap dan mengantuk, sehingga semangat seseorang untuk beribadah jadi menurun dan banyak amal shalih yang terbengkalai karenanya, sehingga pada hari kiamat dia akan kesusahan.31

Kesimpulannya: Hadits makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang‟ bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun bila yang dimaksud adalah agar seseorang makan sekedarnya saja dan tidak memenuhi perutnya dengan makanan, maka ini dianjurkan oleh Nabi shallallahu’ alaihi wasallam. Dibolehkan pula untuk sesekali makan sampai kenyang. .Wallaahu a‟lam.

(Lanjut ke halaman 2)