Partai Allah Tapi Loyal Pada Orang Kafir Sesungguhnya Mereka Itu Hizbiyyah

Alhamdulilah

Washshalātu wassalāmu ‘alā rasūlillāh, wa ‘alā ālihi wa ash hābihi ajma’in

 

===

01. Para Da’i Jangan Sibuk Politik, Sibukan Diri Dengan Membina dan Mendidik Umat Di Atas Agama Yang Benar

02. Politik Praktis, Nasehat Para Ulama Agar Kaum Muslimin Menyibukan Dengan Ilmu & Menjauhi Obrolan Politik

03. Catatan Kecil & Rapor Merah” Dosa Kampanye Politik Praktis & Sistem Demokrasi Ditinjau Dari Hukum Islam

04.Catatan Ringkas : Caleg Non-Muslim

05.Kejujuran Salafi dan Kedustaan Hizbi,

 Mereka… HIZBIYYAH…! | Mengungkap Syubhat Hizbiyyah Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullahu ta’ala 

Untuk yg Mengaku Partai Allah-Ust.Sofyan Chalid Ruray

Ebook Koreksi Total Masalah Politik-Ulama Besar Arab Saudi

Politik Islam- (Abdul Hakim bin Amir Abdat)

Fanatik (Abu Umar Indra)

Sesatnya Hizbut Tahrir – Ustadz Abdurrahman Mubarak

Perang Antara Hizbullah vs Hizbusyaithon – Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Fenomena Hizbiyyah Dari Masa ke Masa (1)- Ustadz Muhammad Afifuddin

Fenomena Hizbiyyah Dari Masa ke Masa (2)

Bahaya Fanatisme Golongan dalam PandanganIslam – Syaikh Muhammad Ghalib

Mereka… HIZBIYYAH…! | Mengungkap Syubhat Hizbiyyah Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullahu ta’ala

Kita berada di zaman Fitnah, Yaitu yang sangatmencolok ialah syubuhat (Syubhat-syubhat). Syubhat.didalam agama. Yaitu didalam pemahaman dalam.agama. Karena semua atau umumnya firqah-firqah.sesat berdalil dengan Al-Qur’an dan Hadits, tidak ada.dari mereka firqah-firqah sesat itu yang mengatakan.bahwa mereka tidak berdalil dengan Al-Qur’an dan Hadits. Oleh karena itu menjadi samar bagi kaum.muslimin, Karena zhahirnya nampak haq, padahal.bathinnya bathil. Zhahir nya nampak rahmat, padahal bathin nya azab. Oleh karena itu inilah yang dinamakan dengan syubhat. Yang merupakan fitnah yang sedang.melanda kaum muslimin terhadap agama mereka.

Seperti pada zaman kita ini menjadi samar apa yang dinamakan dengan fitnah hizbiyyah. Mari kita simak keluasan dari penjelasan permasalahan ini bersama Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullahu ta’ala dalam menyingkap hakikat dari fitnah ini. Fitnah Hizbiyyah.

===

Haus kedudukan, menghancurkan agama seseorang. Betapa banyak orang yang shalih dan alim (berilmu) “terjun bebas” menjadi selevel dengan orang bejat dan jahil gara-gara mencari kedudukan. Demikian juga orang-orang yang kesibukan hariannya soal kedudukan dan menjadi pelayan para pencari kedudukan. Pun tidak jauh berbeda kondisinya. Benarlah sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

ﻣﺎ ﺫﺋﺒﺎﻥِ ﺟﺎﺋﻌﺎﻥِ ﺃُﺭﺳﻼ ﻓﻲ ﻏﻨﻢٍ، ﺑﺄﻓﺴﺪَ ﻟﻬﺎ ﻣﻦ ﺣﺮﺹِ ﺍﻟﻤﺮﺀِﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺎﻝِ ﻭﺍﻟﺸﺮﻑِ، ﻟﺪِﻳﻨﻪ

Dua ekor serigala yang dilepas kepada seekor kambing, tidak itu lebih merusak daripada ambisi manusia terhadap harta dan kedudukan, yang merusak agamanya” (HR. At Tirmidzi no. 2376, ia berkata:”hasan shahih”)

Yulian Purnama

===

➡ [1]- TERMASUK PENYIMPANGAN DALAM MANHAJ: BERGABUNG DENGAN KELOMPOK-KELOMPOK ATAU PARTAI-PARTAI

Celaan Terhadap Hizbiyyah dan Fanatik Golongan. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

ﻭَﺇِﻥَّ ﻫٰﺬِﻩِ ﺃُﻣَّﺘُﻜُﻢْ ﺃُﻣَّﺔً ﻭَﺍﺣِﺪَﺓً ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮْﻥِ * ﻓَﺘَﻘَﻄَّﻌُﻮْﺍﺃَﻣْﺮَﻫُﻢْ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺯُﺑُــﺮًﺍ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍ ﺑِـﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْ ﻓَﺮِﺣُﻮْﻥَ

Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecah-belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mu’minuun: 52-53)

✅ Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮْﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ * ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻓَﺮَّﻗُﻮﺍ ﺩِﻳْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮْﺍﺷِﻴَـﻌًﺎ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍ ﺑِـﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْ ﻓَﺮِﺣُﻮْﻥَ

“…Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Al-Hizb” secara bahasa adalah: golongan (kumpulan) dari manusia, berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemaslahatan yang menyeluruh…

Bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi orang yang berakal bahwa: setiap “Hizb” mempunyai: prinsip- prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern, dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok “Hizb”, meskipun sebagianmereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang…

Maka undang-undang itu adalah asas wala’ (kesetiaan/ loyalitas) dan bara’ (permusuhan), (asas) persatuan dan perpecahan, (asas) kepedulian dan ketidakpedulian.

Atas pertimbangan yang demikian; maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua “Hizb”, yaitu: Hizb Allah dan Hizb setan, yang menang dan yang kalah, yang muslim dan yang kafir.

Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) yang lain ke dalam hizb Allah, maka dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah -Ta’aalaa-.SEORANG MUSLIM WAJIB UNTUK MENINGGALKAN DAN MENANGGALKAN SEMUA BENTUK HIZBIYYAH yang sempit dan terkutuk YANG TELAH MELEMAHKAN HIZB ALLAH dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/ golongan/jama’ah. Supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah. [Lihat: “Ad-Da’wah Ilallaah Baina At-Tajammu’ Hizbiyy Wa At-Ta’aawun Asy-Syar’iyy” (hlm. 53-55), oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari hafizhahullaah-]

✅ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata: “Barangsiapa mengangkat pemimpin -siapa pun orangnya- lalu wala’ dan bara’-nya menurut persetujuan.perkataan/perbuatannya, maka ia termasuk:

ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻓَﺮَّﻗُﻮْﺍ ﺩِﻳْﻨَﻬُﻢْ ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺷِﻴَﻌًﺎ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍ ﺑِـﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْﻓَﺮِﺣُﻮْﻥَ

orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan…” (QS. Ar-Ruum: 32)[“Majmuu’ Fataawaa” (XX/8)]

Beliau juga berkata: “Barangsiapa bergabung (berjanji setia) bersama orang tertentu untuk memberikan loyalitas kepada orang yang loyal kepadanya dan memusuhi orang yang memusuhinya, maka ia serupa dengan bangsa Tatar yang berperang di jalan setan. Dan yang seperti ini bukanlah termasuk orang yang berjuang di jalan Allah, tidak pula termasuk tentara kaum Muslimin, bahkan mereka lebih pantas menjadi bala tentara setan.”[“Majmuu’ Fataawaa” (XXVIII/20-21)]-dinukil secara ringkas dari: “Mulia Dengan ManhajSalaf” (361-364- cet. ke-12), karya Fadhilatul Ustadz

Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

➡ [2]- TIDAK BOLEH BERKUMPUL DENGAN AHLUL BID’AH, KARENA AKAN HILANG AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

✅ Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid’ah

ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﻳَـﺨُﻮْﺿُﻮْﻥَ ﻓِـﻲْ ﺁﻳَـﺎﺗِــﻨَﺎ ﻓَﺄَﻋْﺮِﺽْ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﺣَﺘَّﻰﻳَـﺨُﻮْﺿُﻮْﺍ ﻓِـﻲْ ﺣَﺪِﻳْﺚٍ ﻏَﻴْﺮِﻩِ ﻭَﺇِﻣَّﺎ ﻳُﻨْﺴِﻴَﻨَّﻚَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻓَﻠَﺎ ﺗَﻘْﻌُﺪﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟﺬِّﻛْﺮَﻯ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴْﻦَ

Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika syaitan menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-An’aam: 68)

Imam Asy-Syaukani -rahimahullaah- (wafat th. 1250 H) berkata: “Dalam ayat ini terdapat nasihat yang agung bagi orang yang masih memperbolehkan untuk duduk bersama ahli bid’ah; yang mereka itu mengubah Kalam.Allah, dan mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Maka sesungguhnya jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak dapat mengubah keadaan mereka, maka minimalnya (paling tidak) ia harus meninggalkan duduk dengan mereka, dan yang demikian itu mudah baginya dan tidak sulit.

BISA JADI PARA AHLI BID’AH MEMANFAATKAN HADIRNYA SESEORANG DI MAJLIS MEREKA, MESKIPUN IA TERHINDAR DARI SYUBHAT YANG MEREKA LONTARKAN, TETAPI MEREKA DAPAT MENGABURKAN DENGAN SYUBHAT TERSEBUT KEPADA ORANG-ORANG AWAM, maka hadirnya seseorang dalam majlis ahli bid’ah merupakan kerusakan yang lebih besar daripada sekedar kerusakan berupa mendengarkan kemungkaran.

Dan kami telah melihat di majelis-majelis yang terlaknat ini yang jumlahnya banyak sekali, dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebathilan semampu kami, dan mencapai kepada puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syari’at yang suci ini dengan yang sebenar-benarnya, maka dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan ahlul bid’ah kerusakannya lebih besar (berlipat ganda) dibandingkan bermajlis dengan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang diharamkan, lebih-lebihlagi bagi orang yang belum mapan ilmunya tentang Al- Qur’an dan As-Sunnah, maka ia mungkin sekali terpengaruh dengan kedustaan mereka berupa kebathilan yang jelas sekali, lalu kebathilan tersebut akan tergores di dalam hatinya sehingga sangat sulit sekali mencari penyembuh dan pengobatannya, maka dia pun mengamalkannya sepanjang umurnya. Dan ia akan menemui Allah dengan kebathilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu merupakan sebesar-besar kebathilan dan sebesar-besar kemunkaran.” [“Faidhul Qadiir” (II/128-129, cet. Daarul Fikr, th. 1393H)]-dinukil dari: “Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah WalJama’ah” (hlm. 521-523- cet. ke-15), karya FadhilatulUstadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

-Ahmad Hendrix-

===

UNTUK YANG MENGAKU PARTAI ALLAH

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ﻟَﺎ ﺗَﺠِﺪُ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻳُﻮَﺍﺩُّﻭﻥَ ﻣَﻦْ ﺣَﺎﺩَّ ﺍﻟﻠَّﻪَﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺁﺑَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺃَﺑْﻨَﺎﺀَﻫُﻢْ ﺃَﻭْ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧَﻬُﻢْ ﺃَﻭْ ﻋَﺸِﻴﺮَﺗَﻬُﻢْﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻛَﺘَﺐَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥَ ﻭَﺃَﻳَّﺪَﻫُﻢْ ﺑِﺮُﻭﺡٍ ﻣِﻨْﻪُ ۖ ﻭَﻳُﺪْﺧِﻠُﻬُﻢْﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺗَﺤْﺘِﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ ۚ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ۚ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﺣِﺰْﺏُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ۚ ﺃَﻟَﺎ ﺇِﻥَّ ﺣِﺰْﺏَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,.sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak.atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang telah Allah tetapkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka.dengan pertolongan dari-Nya. Dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka, dan merekapun ridho kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itu adalah orang-orang yang beruntung.” [Al-Mujadilah: 22]

Ayat yang mulia ini menjelaskan kepada kita bahwa golongan Allah adalah yang memusuhi orang-orang kafir, karena setiap orang kafir telah memusuhi Allah dan Rasul-Nya dengan kekafiran mereka. Bagaimana mungkin termasuk golongan Allah tapi masih bersikap loyal kepada orang kafir…!?

Al-Imam Al-Mufassir Al-Baghowi rahimahullah berkata,

ﺃﺧﺒﺮ ﺃﻥ ﺇﻳﻤﺎﻥ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﻔﺴﺪ ﺑﻤﻮﺍﺩﺓ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻳﻦ ﻭﺃﻥ ﻣﻦ ﻛﺎﻥﻣﺆﻣﻨﺎ ﻻ ﻳﻮﺍﻟﻲ ﻣﻦ ﻛﻔﺮ ، ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ ﻋﺸﻴﺮﺗﻪ

Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan dalam ayat.ini bahwa imannya kaum mukminin menjadi rusak.apabila mereka bersikap loyal kepada orang-orang kafir..Dan bahwa orang yang beriman tidak bersikap loyal.kepada orang yang kafir, walaupun keluarganya.sendiri.” [Tafsir Al-Baghowi, 5/50]

Asy-Syaikh Al-Mufassir As-Sa’di rahimahullah berkata,

ﻭﺃﻣﺎ ﻣﻦ ﻳﺰﻋﻢ ﺃﻧﻪ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻵﺧﺮ، ﻭﻫﻮ ﻣﻊ ﺫﻟﻚ ﻣﻮﺍﺩﻷﻋﺪﺍﺀ ﺍﻟﻠﻪ، ﻣﺤﺐ ﻟﻤﻦ ﺗﺮﻙ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭﺭﺍﺀ ﻇﻬﺮﻩ، ﻓﺈﻥ ﻫﺬﺍ ﺇﻳﻤﺎﺯﻋﻤﻲ ﻻ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﻟﻪ

Adapun orang yang mengira dirinya beriman kepada Allah dan hari akhir, tapi dia berkasih sayang dengan musuh-musuh Allah serta mencintai orang yang tidak beriman, maka imannya itu hanya sangkaan belaka,.tidak nyata.” [Tafsir As-Sa’di, hal. 848]

Sumber: https://web.facebook.com/sofyanruray.info/videos/983006065182209/

===

Partai Allah Namun Berkolaborasi Dengan Partai Syaitan

Berjuanglah membela Islam dengan menegakkan tauhid seperti yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ dan para Shahabat bukan justru mencampuradukkan al-haq dengan kebathilan menggunakan istilah ‘Partai Allah’ dengan ‘Partai Syaithan’ namun disisi yang lain partai tersebut bisa berkolaborasi menjadi satu.

Sementara Allah ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ berfirman :

Dan janganlah kamu campuradukan yang haq dengan.yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2] : 42)

Politik itu menipu, musuh bisa menjadi kawan apabila satu tujuan dan kepentingan, begitu pun sebaliknya kawan bisa menjadi musuh apabila tidak satu tujuan dan kepentingan. Maka, berjuanglah dengan tulus ikhlas dengan menda’wahkan al-haq di atas ‘aqidah SalafushShalih, Ahlus Sunnah wal Jama’ah karena inilah yanh diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ kemudian diikuti oleh para Shahabat ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻬﻢ ﺍﺟﻤﻌﻴﻦ hingga para ‘ulamaa dari masa ke masa, zaman ke zaman.

✅ Allah ﷻ berfirman : “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum engkau (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah (tuhan yang berhak diibadahi dengan benar) selain Aku (Allah), maka beribadahlah kepada-Ku.”

(QS. Al-Anbiyaa’ [21] : 25)

✅ Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻬﻤﺎ , iaberkata,.”Ketika Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal ﺭﺿﻲﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰٰ ﻋﻨﻪ ke Yaman, beliau ﷺ bersabda kepadanya : ‘Sesungguhnya kamu akan mendatangi satu kaum dari ahli kitab (kaum Yahudi dan Nasrani), maka itu hendaklah yang pertama kali kamu da’wahkan (sampaikan) kepada mereka ialah agar supaya mereka mentauhidkan Allah. Apabila mereka telah mengetahui (mentaati) yang hal itu, maka beritahukanlah.(sampaikanlah) kepada mereka sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Maka apabila mereka telah mentaati hal itu, maka beritahukanlah (sampaikanlah) kepada mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas mereka zakat pada harta-harta mereka, yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang faqir di antara mereka. Maka, apabila mereka telah mentaati (mengetahui, mengakui dan menetapkan) hal itu, maka jauhkanlah dirimu (janganlah mengambil) dari harta terbaik yang dimuliakan (disayangi) oleh mereka.” (Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 1395, 1458, 1496, 2448,4347, 4371, 7371, 7372, Muslim, no. 19 [29], 31, AbuDawud, no. 1584, at-Tirmidzi, no. 625, an-Nasaa-i,V/55, no. 2435, dan Ibnu Majah, no. 1783)

(Lanjut ke halaman 2)